Diana terlihat lebih mendominasi 'pergumulan' itu sedangkan Nina lebih tampak sebagai objek pemuas. Tangan Diana tampak begitu rakus dan liar menjelajahi setiap lekuk tubuh Nina. Dua pasang tangan yang halus dan lentik terlihat tergesa-gesa saling mencopot pakaian bagian atas pasangan masing-masing.

Sepasang bibir yang sama-sama mengenakan lipstik tampak sangat tidak wajar saling menempel lekat seperti itu. Bahkan bayanganku tentang hubungan lesbian selama ini tidak se'seram' kenyataan yang terlihat gamblang di depan mataku. Aku menarik nafas panjang dan sejenak berusaha menerima fakta di depanku bahwa gosip si Hendra benar dan cerita Bramanto si satpam juga benar adanya. Tapi mengapa harus Diana? mengapa harus teman yang telah kukenal sejak pertama kali aku kerja disini dan mulai cukup dekat dua tahun terakhir ini.

Aku tidak menyebut akrab karena hubunganku dengannya memang hanya sebatas hubungan kantor dan di acara-acara luar kantor yang melibatkan orang-orang dari kantor (such as ultah-nya semalam). Tapi kuakui selama dua tahun terakhir ini kita berdua cukup intens dalam berhubungan. Diana cukup sering menelpon dan bercerita banyak hal denganku. Memang belum sampai dalam taraf curhat sih soalnya kami berdua seperti-nya tipe wanita yang lebih suka menyimpan hal-hal pribadi dan hanya menikmati percakapan yang bersifat umum dan populer saja.

Oh iya Diana adalah wanita yang telah berumah tangga, usianya 30 tahun wajahnya menarik dan memiliki pesona kematangan seorang wanita yang pastinya sangat sexy khususnya di mata pria berpendidikan yang suka dengan wanita yang memiliki intelektualitas dan mandiri. Nina sendiri masih terlihat sangat muda, mungkin sekitar 22-23 tahun umurnya. Kulitnya kuning langsat dan wajahnya khas mojang Priangan dengan kecantikan yang lumayan.

Kulitnya tampak kencang dengan payudara dan bagian pantat yang cukup montok. Tubuhnya lumayan jangkung dan jujur saja membuatku iri (padahal tinggi badanku yang 162 cm ini menurut teman-teman sudah cukup tinggi). Tapi tetap saja aku iri dengan tinggi badannya titik. Saling bergantian kedua wanita itu melepaskan nafsu mereka meremas, dan kemudian menghisap, menjilat (etc.. Etc segala jenisnya) payudara pasangannya.

Kemudian tubuh Nina yang langsing itu tampak beranjak duduk diatas wastafel. Diana dengan sigap menarik celana dalam pasangannya sampai lepas hingga tersangkut di sebelah kakinya lalu melakukan oral. YUKS!! agak mual aku membayangkan bila aku yang harus melakukan itu. Adakah kenikmatan yang didapatkan dengan mencumbui kemaluan dari sesama wanita?? Setidaknya itu yang ada di pikiranku pada awalnya.

Tubuh Diana dalam posisi berlutut. Kepalanya tepat berada diantara paha milik Nina yang kadang-kadang menutup mengejang menahan geli. Kuperhatikan wajah Nina yang sangat 'ekspresif' menterjemahkan tiap kenikmatan yang dirasakannya. Matanya yang sayu terbius kenikmatan kadang agak mendelik dan kadang terpejam dalam waktu lama seiring galombang kenikmatan yang datang menerpanya bagaikan ombak memecah pantai silih berganti. Kedua telapak tangannya yang halus itupun seperti mengikuti irama yang sama dengan ekspresi wajahnya menjelajahi tiap bagian dadanya sendiri. Terkadang tangannya membelai, kadang seperti menggaruk dan memelintir kedua ujung payudaranya sendiri. Dia menikmati itu semua serasa dia hanya sendiri diruangan ini.

Kedua pasangan itu tampak seperti menikmati permainan mereka dengan cara sendiri-sendiri. Kurasakan detak jantungku kian berdentang kencang dan nefasku kian berat. Lambat tapi pasti fantasi memenuhi kepalaku. Aku membayangkan kenikmatan saat aku melakukan masturbasi tadi siang. Posisiku yang sedang mengintip menimbulkan semacam sense of privacy yang membuatku makin tenggelam dalam permainan panas yang disuguhkan dua insan sejenis di depan mataku.

Seumur hidupku belum pernah aku melihat langsung wanita yang sedang berhubungan sex (jelas karena selain bukan lesbi aku juga belum pernah melakukan orgy or threesom). Ketika masih kuliah beberapa kali aku pernah berkencan di motel kelas 'mahasiswa' yang full cermin sampai ke plafon hingga aku bisa melihat diriku bagai dalam aquarium. Tapi berbeda menyaksikan diriku sendiri bercinta dengan menyaksikan wanita lain yang memiliki tubuh yang lekuknya tidak kukenal. Aku merasakan ada suatu pesona unik dalam tiap geliat tubuhnya itu. Pesona yang kuyakin diliat juga oleh partner sex-ku dalam diriku. Setidaknya ini akan menambah percaya diriku apabila ber-intercourse kelak.

'Widya.. What are u doing honey!!' suara itu tiba-tiba membuyarkan konsentrasiku. Si peri baik lagi.. Ah selalu tepat disaat-saat tidak dibutuhkan' keluhku dalam hati. 'Kamu harus malu sama diri kamu sendiri' suaranya tajam menusuk persaanku. Betul juga sih.. Untuk apa aku mengintip seperti ini? aku jadi malu sendiri. 'Hah abis harus gimana lagi dong khan kamu terjebak disini' uh itu si peri nakal membela-ku kali ini. Iya betul aku khan nggak sengaja. Lagian khan lebih tidak menyenangkan kalau saat ini aku keluar dan mengganggu 'permainan' mereka. Bukannya aku setuju dengan perbuatan mereka, tapi bagaimana caranya? Apakah aku harus keluar lalu menyapa 'hai diana, hai Nina' terus berlalu? Jelas nggak mungkin dong!

Sebersit perasaan bersalah muncul dalam hatiku. Kenapa tidak sejak awal aku keluar dari bilik ini saat mereka masuk pertama kali. Mungkin hal itu akan membatalkan niat mereka. Tapi kembali kupikir bahwa disini atau ditempat lain sama saja. The point is: Diana dan Nina itu betul-betul Lesbian! dan mereka pasti akan melakukan perbuatan itu walau tidak disini!

Segera aku mengusir rasa bersalah itu jauh-jauh. Kutinggalkan peri nakal dan peri baik saling bertengkar dan kembali aku memusatkan perhatian kepada sepasang wanita yang sedang mabuk oleh hasrat 'panas' masing-masing. Sekarang Diana sudah duduk di tepi wastafel disamping Nina mereka berciuman sejenak lalu keduanya merogoh tas memsing-masing dan mengeluarkan masing-masing mengeluarkan benda panjang dan lonjong yang sudah sangat aku kenal.. Dildo!

'My God.. Mereka pasti sudah merencanakan ini' aku terkejut melihat 'peralatan' mereka yang cukup lengkap itu (jelas menunjukan niat mereka). Kedua dildo itu berwarna biru muda dan memiliki ukuran panjang sekitar 20 cm (sepertinya dibeli bersamaan di satu tempat melihat model dan warnanya seragam). Aku cukup akrab dengan 'mainan' itu karena aku memiliki 'koleksi-nya' dirumah.

Aku sebut koleksi karena aku sama sekali tidak pernah menggunakannya dan belum terpikir untuk mencobanya karena bagiku fantasy abstrak dan sentuhan alami lebih dapat dinikmati daripada sentuhan stimulasi kasar dari benda yang cukup 'imajiner' bentuknya itu. Aku memiliki dua buah alat stimulasi sejenis. Sebuah Dual-dildo (dildo yang memiliki dua 'kepala' sehingga bisa digunakan bersamaan dengan arah yang berlawanan), dan satu vibrator jenis standar yaitu dildo yang mampu bergetar dengan tenaga batere dengan tiga tingkatan kecepatan yang dapat diganti-ganti.

Benda-benda 'kinky' itu adalah oleh-oleh dari Caroline-gadis Singapura yang pernah jadi roommate-ku ketika studi pasca serjana di Aussie. Dua tahun lalu dia liburan ke jakarta dan menghadiahi aku 'mainan' itu. Biar aku tetap inget masa gila-gilaan kita berdua di Aussie katanya. Well.. I do have a good time waktu itu (mungkin akan aku ceritakan di kisahku yang lain). Ups, aku malahngelantur mikirin yang lain. Ok back to the 'love' scene lagi deh.. Diana dan Nina duduk bersandar pada cermin diatas wastafel.

Kini giliran Nina yang gencar mencumbui leher Diana yang tampak mengkilat bersimbah peluh. Keduanya menggenggam dildo masing-masing dengan pegangan yang begitu mesra serasa seperti memegang sesuatu yang lain. Sesuatu yang dengan jelas dan eksplisit direpresentasikan oleh bentuk dildo itu. Sekitar 10 menit kemudian ruangan toilet itu di penuhi suara nafas dan lenguh kenikmatan tatkala sepasang wanita cantik itu mulai menggunakan 'mainan' mereka sesuai dengan kegunaannya. Kakiku mulai terasa letih disaat Diana dan Nina mulai melenguh panjang dengan nafas yang menderu saling bersahutan. Makin liar mereka 'memainkan' dildo ditangan mereka yang tersembunyi di didalam rok kerja mereka.

Jelas terlihat guratan kenikmatan memenuhi ekspresi Diana. Sedangkan wajah Nina terlihat mulai 'blushing', merah padam. Sedetik kemudian tubuh mereka berdua mengejang menahan derasnya orgasme yang jelas terlihat menyelimuti getaran tubuh mereka berdua. Mereka bagai hendak menghujamkan dildo itu sampai tertelan semuanya dalam kewanitaan mereka dan tangan mereka yang bebas saling menggenggam erat.

Begitu eratnya sehingga baru terlepas perlahan sesaat setelah desahan nafas kenikmatan terakhir mereka berlalu. Aku merasa sudah cukup melihat semuanya. Lebih dari cukup buatku menyaksikan suatu pemandangan yang membuatku cukup shock sekaligus membawa sensasi kenikmatan dan keindahan tertentu dalam diriku. Yang jelas aku seperti melihat sesuatu yang baru dalam diri kaumku sendiri-Lesbian itu nyata adanya! Aku terduduk lemas di atas tutup closet. Terasa peluh di bagian leherku mengalir hingga ke dadaku. Aku terus diam sampai mereka berdua meninggalkan ruangan dengan hanya memperdengarkan suara pintu yang ditutup perlahan. Lega rasanya bebas setelah terjebak dalam toilet akibat ulah sepasang wanita yang dimabuk 'cinta'tadi. Bagiku kata mabuk saja lebih cocok dibanding kata cinta.

My God! dalam keadaan mabuk berat sekalipun aku masih cukup waras untuk tidak bercumbu dengan pasangan sejenis. Segera aku keluar dan ketika melewati deretan wastafel aku menyempatkan diri merapikan diri di depan cermin (always) Tentunya aku tidak bercermin di deretan wastafel tempat Diana dan Nina tadi karena ada semacam perasaan 'emoh menyentuh ataupun mendekati bekas tempat mereka 'bermain' tadi. Bahkan aku masih merasakan sisa aura mereka di bagian itu.

Aku meraih HP-ku dan segera men-dial no telepon Hendra. Tidak sabar aku ingin mendengar komentarnya akan apa yang baru saja aku alami disini. Biasalah dalam keadaan seperti ini aku tidak dapat menahan keinginan-ku untuk segera bergosip (panggilan jiwa!! Nggak salah khan?).

Tiba-tiba aku tersentak dan memekik tertahan mendengar bunyi ponsel yang suaranya cukup menyolok pendengaran (karena suasana sedang hening) dan berasal dari salah satu bilik toilet yang dipintunya terpampang sign rusak tadi! Suara itu diikuti suara hentakan sepatu dan bunyi benturan di pintu bilik itu.

"Siapa disitu!" dengan spontan aku menegur dengan hati ciut.

Karena kaget aku segera mematikan ponselku dan menanti jawaban dari balik pintu. Sesaat kemudian pintu itu terbuka dan betapa terkejutnya aku melihat wajah Hendra asisten-ku muncul dari balik pintu kedua toilet! Lho..! kata-kata itu hampir bersamaan keluar dari mulut kita berdua dengan penuh rasa terkejut.

Bersambung . . . .