Lust in Broken Home 3
8 Januari 2009

Carline

Hari demi hari berlalu dengan lambatnya, bentuk tubuhku sekarang agak berubah, ukuran bra yang semula 32 menjadi 34, pangkal pahaku mulai sedikit membesar. Banyak yang bilang tubuhku sekarang menjadi agak montok, tapi kulitku malah terlihat lebih bagus (putih cerah berkilat), kadang aku suka membandingkan dengan kulit Evelyn adikku, ternyata sudah mendekati kulitnya. Tekstur kulit Evelyn bagiku terlalu lembut untuk ditiru, karena nyaris tanpa terlihat pori-porinya.Dia memang rajin sekali perawatan kulit sejak duduk dibangku SMP, sedangkan aku dan cici mulai merawat kulit mulai SMU.
 
Tapi pada dasarnya kami bertiga mempunyai kulit yang bagus, putih mulus tanpa noda sedikitpun, kecuali tahi lalat didada yang turun temurun diwarisi oleh anak wanita di keluargaku. Kami bertiga mempunyai wajah yang lebih mirip gadis Jepang modern daripada wajah Chinesse, mungkin dari darah mama yang konon ada turunan Jepangnya, tapi entahlah. Keluargaku sangat tertutup, terutama terhadap orang-orang pribumi, tapi papa sengaja memilih tinggal dilingkungan kumuh seperti ini karena semua buruh diambil dari orang-orang di daerah kumuh ini, tentu saja agar papa tidak perlu lagi memberi uang transport, untuk buruh yang asalnya jauhpun papa menyediakan mess dibelakang rumah kami, papa memang sangat hemat dalam masalah uang. Tentu saja rumahku adalah yang terbesar dan termewah didaerah kami, karena selain rumah tinggal rumah kami juga dipakai papa sebagai pabrik garment homeindustri yang meskipun kecil-kecilan tapi omzetnya lumayan lancar. Akibatnya kami, ketiga putri papa harus sering merasa ketakutan terutama jika kebetulan sedang keluar rumah ataupun didalam rumah karena seringkali mendapat godaan ataupun pelecehan dari para penduduk pria di sekitar atau buruh-buruh yang kerja di rumahku.
Keluargaku mulai retak setelah mamaku selingkuh dengan sopirnya, parahnya papaku diam saja karena ternyata dia penderita impoten akut. Kami bertiga sudah tau hal itu, bahkan semua buruhkupun mengetahuinya. Benar-benar aib dalam keluarga. Mungkin karena itu pula buruh-buruh itu semakin berani pada kami, karena meraka tahu kelemahan papa dan mama. Tidak jarang mereka mencolek-colekku atau ciciku ataupun adikku dengan amat kurang ajarnya. Tapi lami cuma bisa melotot tanpa dapat melakukan apapun, karena posisiku yang memang hanya sebagai putri bos yang sering ditinggal papa yang sibuk keluar kota ataupun mama yang sibuk di luar dengan mang Nurdin entah apa yang mereka lakukan. Sampai akhirnya akupun ikut terhanyut dalam suasana birahi mamaku, karena aku selalu dibuat penasaran dengan berita tentang mama, akupun jadi rajin mengintip kejadian dikamar mama dengan nurdin yang sedang bersetubuh. Aku sering mendengar mama merintih-rintih dibawah tindihan Nurdin yang umurnya terpaut 10 tahun dengan mama. Sesuatu yang tidak pernah kudengar kalau mama bersama papa sebelum papa impotent. Memang konon sejak kecil Nurdin kerja di kungkung (ortu mama) dan gosipnya sejak dulu Nurdin menyukai mama, tapi mama menolaknya karena ortunya yidak mengizinkan mama didapatkan oleh pria pribumi seperti Nurdin.
Aku jadi semakin terobsesi dengan pria pribumi jantan yang selama ini selalu dipojokkan oleh keluargaku.Tubuhku mulai merasakan birahi pertama sebagai gadis yang baru dewasa. Aku ingin memecahkan paradigma bahwa kami anak gadis dari keluarga keturunan Chinesse bebas menentukan pasangan sendiri. Aku ingin memberontak pada tradisi keluarga dengan cara berhubungan dengan pria-pria pribumi yang notabene selama ini kami dilarang untuk berhubungan. Dan suatu saat aku menyerahkan keperawananku pada buruh-buruhku sendiri diiringi oleh pelecehan total mereka padaku sebagai putri majikannya (baca lust in broken home 1). Itulah titik balik kehidupanku dan keluargaku.



Tak kukira ternyata dalam hati mereka begitu tidak sukanya pada orang-orang Chinesse kaya seperti papa dan ternyata mereka juga punya hasrat terpendam dengan anak-anak gadis berkulit putih dan berwajah oriental sepertiku. Aku sempat dibuat kaget oleh pengakuan Oman, sopir pengantar barang keluargaku disuatu sore saat dia kebetulan menjemputku dari kampus karena mobilku sedang diperbaiki di bengkel. Oman mengaku bahwa dia sejak lama sudah menyukai ciciku (kalau tidak salah dengar sejak ciciku smu), tapi Oman tidak berani karena merasa derajatnya berbeda dan lagi umurnya yang memang terpaut 10 tahun dari ciciku (mirip kisah hidup mama dengan Nurdin). Saat itu aku memang telah akrab dengan para buruh di rumahku karena mereka sering sekali menggauliku hingga dalam hatikupun telah ada ikatan emosional dengan mereka, meskipun mereka sering melecehkanku, aku malah bisa senyum-senyum menikmati kelainan emosi ku yang sejak semula senang dilecehkan. Malah aku pernah ditelanjangi di dalam rumah dengan semua pintu kamar terkunci lalu aku disuruh masak untuk para buruh itu dalam keadaan bugil, lalu digilir sampai mereka puas. Aku mendukung Oman untuk mendekati ciciku, kalau mamaku saja bisa dengan Nurdin kenapa Oman tidak bisa mendapatkan ciciku. Meskipun Oman sering ikut menikmati tubuhku, aku rela kalau ciciku bisa menikah dengannya, ciciku pasti puas karena dalam urusan sex, Oman memang jenis pejantan tangguh dengan penis yang lumayan besar meskipun tidak sebesar penis Dulah. Oman meminta bantuanku untuk mendapatkan cici dengan cara apapun.
"Boleh aja koq bang, Fei mah setuju saja asal cici ga ngerasa terpaksa, pasti saya bantuin, tapi gimana caranya?" tanyaku disela obrolan kami, aku bingung karena ciciku itu terkenal rasis dan juga jutek pada cowok apalagi kalau belum kenal lama.

"Saya punya caranya neng, tapi cuma neng Carline yang bisa bantu, kakak neng itukan benci sekali sama kita-kita, saya tau itu, tapi saya ga seperti si Dulah dan teman-temannya yang sering mengolok-olok kalian, karena itu neng Carline harus bantu, nanti kan kita jadi saudara ipar." Oman menatapku sambil cengar-cengir.



Bah, pikirku di depan kami bertiga memang si Oman ini terlihat jinak, tapi di luaran aku tahu dari dia ini provokator pelecehan di belakangku, bahkan pernah menyebarkan foto evelyn adikku dengan pose sexy ke preman terminal yang terdiri dari anak-anak punk dan para gank motor sampai-sampai Evelyn menangis karena diganggu anak-anak punk waktu pulang sekolah dan mobilnya lecet-lecet, tapi aku diam saja pura-pura tidak tahu. Mungkin ini akibat kedekatanku dengan mereka hingga buruh-buruh ini makin memandang sebelah mata pada adikku, mungkin pikir mereka akan bisa mendapatkan adikku juga semudah mendapatkanku.

"iya bang, tapi bagaimana caranya? Fei masih belum ngerti" kataku memang tidak mengerti rencana Oman.

"Kalau neng Carline mikir, kenapa mama neng bisa ada main sama mang Nurdin, atau kenapa neng jadi ketagihan kita entotin?"

Deg, hatiku berdebar-debar, ini pertanyaan hatiku selama ini, banyak dugaan yang aku pikirkan tentang hal ini, dan sekarang Oman malah dengan enteng membicarakannya denganku, tentu saja aku sangat antusias mendengarnya.

"Memang kenapa gitu bang? Kalau Fei mah memang suka dengan perlakuan kalian, mungkin Fei ada kelainan ya bang, tapi kalau mama, Fei juga ga tahu koq bisa ya, padahal mama juga agak rasis sama kalian"

Tiba-tiba Usep yang sejak tadi tidur di sebelahku bangun, rupanya dia mendengar pembicaraan kami sejak tadi.

"Itu namanya kalian tuh cewek munafik, kalau udah ngerasain enak baru nyerah sampai diapain juga mau, tapi memek lu memang enak koq moy, gua jadi ketagihan nih" Usep dengan kasar mencubit pahaku seenaknya.

"Auuu, iiih pura-pura tidur ya, sakit tau!" teriakku kaget.

"hahaha, sakit tapi enak ya, biar gua yang kasi tau lu rahasia kita selama ini, boleh kan Kang?" 

"Yah bolehlah tapi jangan kasar sama calon adik ipar gua donk" kata Oman sambil juga tangannya mengelus pahaku yang bekas dicubit..



"Huuuh, dasar sopir sama kernetnya sama saja, mesum" umpatku dalam hati.

"lu sama mama lu tuh udah kita pellet, lu inget kan air yang lu minum, itu udah bercampur sperma kita semua yang udah dimantera, kata gurunya si Ahmed cewek manapun pasti bertekuk lutut kalau udah minum tuh sperma, makanya lu betah kita entotin, wong spermanya udah lu minum... hahaha kaget ya! Mama lu juga sama, kita semua kan saudara seperguruan dalam memelet cewek cantik kayak lu, anak bos lagi... hahaha ga nyesel kan?" Kedua orang itu sontak tertawa-tawa penuh kemenangan.. "Haaah? Pantas saja air yang kuminum dikamarku waktu itu rasanya beda, rupanya telah diracik dengan campuran sperma mereka semua." Lemaslah kakiku mendengar pengakuan ini, namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur, kegadisanku sudah hancur, namakupun mungkin sudah tersebar di sekitar rumahku dan dengan adanya video rekaman itu benar-benar membuatku tidak bisa berkutik selain menuruti kemauan mereka, dan lagi ingatanku akan gairah kenikmatan itu membuatku semakin hanyut dalam permainan mereka, entah sampai kapan, bayangan Albertpun semakin menjauh dari pikiranku apalagi setelah melihat kejadian beberapa waktu lalu, kejantanan mereka jauh diatas Albert. Aku tertunduk, mukaku terasa memerah panas, aku malu mengakui telah kena pelet buruh-buruhku, perasaan menyesal bercampur aduk. "makanya Neng, jadi cewek jangan sombong, dulu Neng kan yang sering menghina kita ke semua teman-teman Neng"
"Udah deh, sekarang lu nikmatin aja kontol kita-kita, toh kalau cowok lain belum tentu mau sama lu apalagi kalau nonton rekaman party kita hahaha" Usep setengah mengancam, namun dia benar juga, ooohh masa depanku sudah hancur.

"hahahaha begitu rupanya kalian mempermainkan mama, tapi Fei ga nyesel koq, Fei juga udah kalian puasin sampe ketagihan kayak gini, kalau gak, mana mau Fei diraba-raba orang macam kalian." Kataku berusaha menutupi rasa sesalku. Memang sesal tidak ada gunanya, kepalang basah mending kuteruskan saja permainan ini, toh akupun senang.



"Nah, nanti sore, neng Carline harus bantu masukkin cairan sperma aku ke minuman kakak neng, sampai tujuh kali minum nanti kita lihat reaksinya" Oman menyodorkan sebotol kecil cairan keputihan namun encer kehadapanku.

"Ini cuma sperma abang aja kan?" tanyaku takut semua buruh memasukkan spermanya, nanti malah ciciku dipakai mereka bersama lagi.

"Iya dong neng, masa calon istri dibagi-bagi sama orang" Kata-kata Oman ini agak menyinggung harga diriku. Tapi betul juga, bagaimana dengan masa depanku, akupun ingin menjadi istri seseorang, tapi koq malah jadi piala bergilir.

"Ahh persetan, dengan fisik sepertiku aku pasti mudah mendapatkan suami, kalau perlu aku akan mengikuti jejak mama, bersuamikan buruhkupun tidak apa" kataku dalam hati "Iya deh bang, nanti Fei atur cairan ini bisa masuk keminumannya cici, Fei juga mau tahu reaksi cici gimana, pokoknya Fei dukung kalau abang bisa dapetin cici, mumpung lagi putus sama pacarnya tuh"

Deg tiba-tiba aku ingat pengakuan cici bahwa dia sudah tidak perawan lagi, waduh, gimana kalau Oman sampai tahu, tapi biarlah dia mengetahuinya dari ciciku sendiri. "Baguslah kalau gitu, neng Carline memang baek sekali ternyata ya Sep" seru Oman kegirangan. "Sebagai hadiahnya nanti kita bikin non amoy ini puas diranjangnya malam ini, okeh kan non! Usep pun kegirangan tapi wajahnya tetap saja mesum.

Aku tersenyum pada mereka. "Aku harus memikirkan cara supaya mereka tidak selalu memerasku begini" kataku membatin. Biarpun aku menyukai permainan mereka, tapi pantang bagiku kalau harus dikendalikan oleh para bawahan papaku ini, tapi untuk saat ini belum terpikir caranya, namun aku yakin pasti suatu saat kutemukan. Aku mengangguk lemah merespon ajakan mereka yang setengah memerintah itu.



"O iya nanti malam lu yang harus datang ke mess kita, masa kita terus yang ke kamar lu, dan ingat, pakai baju yang sesexy mungkin karena ada kejutan buat lu!" Usep sambil melirik kearah Oman. Oman menimpali sambil tersenyum penuh arti

"Yah, jangan dibilang sekarang atuh jang, nanti buka kejutan lagi, pokoknya neng Carline harus dating jam 9 malam atau menyesal"

"Ada apa gitu bang? Kejutan apa?" aku penasaran sekali

"makanya lu datang aja, jangan banyak bacot, pokoknya enak"

aku akhirnya harus mengalah menunggu kejutan yang entah apa telah mereka siapkan untukku. Sorenya, sebagaimana telah direncanakan, aku mencampur minuman susu coklat kegemaran ci Christine dengan ramuan sperma Oman, katanya butuh tujuh kali pencampuran untuk dapat melihat dampaknya. Aku memang penasaran sekali mencoba resep pelet dari gurunya Ahmed ini yang katanya telah berhasil memelet aku dan mama. Akupun ingin menghibur ciciku agar tidak terlalu sedih memikirkan mantan pacarnya, kuharap ciciku bisa lebih bersenang-senang seperti aku dan mama. Gairah pemberontakan terhadap tradisi keluargapun kembali muncul, apa salahnya kalau aku atau ciciku memberikan tubuhnya untuk dinikmati oleh golongan bawah seperti mereka, aku benci kemunafikan mama yang selalu melarangku bergaul tapi mama sendiri malah rela jadi budak nafsu buruhnya sendiri. Tak lama kemudian ciciku pun pulang dari kuliahnya, sengaja aku mengikutinya sampai ke kamar sambil bergurau.

"Ci, cape yah, koq sore amat pulangnya?"

"Biasa juga jam segini koq, kamu saja yang jarang perhatian sama cici, perhatiannya sama Albert terus sich" sindir ci Christine.

"ah cici mah suka gitu, aku sama Albert lagi break koq, bosen nih ci, pengen ganti suasana baru, cici punya temen cowok yang masih jomblo ga? Kenalin donk, lumayan tambah-tambah teman, siapa tau aja ada yang cocok" kataku tersenyum berusaha cari kesempatan.



"wow.. koq bisa bosen gitu? Kalian kurang komunikasi kali?" Cici langsung menjatuhkan dirinya ke kasurnya

"yah entahlah ci, pokoknya akunya lagi bosen tuh"

"Yah sudahlah, cici ga akan bahas, tapi cici gak punya teman dekat cowok yang masih jomblo tuh, semua rata-rata sudah ada monyetnya, nantilah cici cari info dulu, mungkin ada tapi cici gak tau, eh tolong ambilin minuman cici diatas meja dong, haus nih!" kata ci Christin sambil menunjuk minumannya yang telah kuberi ramuan diatas mejanya.

Segera aku mengambil dan memberikannya pada cici, dalam hitungan detik seluruh minuman itu telah pindah keperutnya.

"Wah haus yah Ci, koq rakus amat minumnya?" "Iya nih, di luar tadi panas banget, sengaja tiap hari cici siapin dulu minuman diatas meja biar bisa langsung minum kalau pulang"
"ooooh sama dong Ci, aku juga suka gitu koq" Kataku sambil memperhatikan mungkin ada perubahan pada Ci Christin setelah minum, ternyata tidak ada yang berubah, mungkin cici saking hausnya tidak memperhatikan ada yang sedikit beda dari rasa minumannya atau mungkin rasanya sama saja?entahlah, yang jelas minuman berisi ramuan Oman pertama telah masuk dalam tubuh ci Christin, tinggal menunggu 6 hari lagi sebelum aku bisa melihat efek pellet Oman.

"Ci, aku mau mandi dulu ya, udah sore nih"

"Iya sana mandi tapi di kamar sendiri ya, jangan di sini soalnya cici juga mau mandi"

Aku segera pergi dari kamar ciciku menuju kamarku sendiri untuk mandi. Kamarku memang ada kamar mandinya sendiri. Aku sengaja mandi pakai air dingin, biar tubuhku terasa lebih segar untuk malam nanti, tak lupa aku keramas dan luluran badanku. Dalam kaca besar di kamar mandiku aku memperhatikan bentuk tubuhku sendiri.. "HHmmm memang putih banget, dan memang ada sedikit yang berubah tapi aku belum tau apa itu, mungkin ukuran dada atau pinggul yang jelas aku bangga punya tubuh sexy seperti ini dan aku berniat akan terus merawat tubuhku sesexy mungkin, dengan senam atau yoga.Tak terasa sudah setengah jam lamanya aku mandi berendam dalam air, segar sekali rasanya. Segera aku mengeringkan badan, aku tak mau sakit gara-gara masuk angin.



Tak terasa pula sudah jam 20.30, aku malah menyibukkan diri main computer, hahhh aku harus ganti baju. Koleksi baju sexy ku banyak sekali karena sejak lama aku memang gemar memakai baju-baju modis seperti itu. Dulu papa sering melarangku memakai baju seperti itu, tapi aku tetap membeli dengan uangku sendiri sampai papapun kehabisan kata-kata, apalagi ternyata cici dan adikku pun punya kesenangan yang sama. Aku memilih baju tanktop pink dengan tali yang dihubungkan ke punggung yang agak terbuka, untuk bawahan, aku memilih rok mini cream kesayanganku yang 10 cm diatas lutut. Pokoknya malam ini aku harus mendapatkan kepuasan, aku kangen pada rasa orgasme setelah satu minggu kemarin aku mendapat haid jadi tidak berhubungan sex.. huuh rasanya lama sekali, baru malam ini aku serasa bebas dari darah bulanan di vaginaku..
Tanpa menemui kesulitan yang berarti, aku berhasil keluar rumah tapi aku terlambat 30 menit dari yang dijanjikan gara-gara tadi memilih baju.. Buru-buru aku memutar ke belakang rumahku lewat tikungan sekitar 10 meter dari rumah menuju mess karyawan. Di atas tanah seluas 150 meter persegi itu dulu papa membangun mess karyawan yang terdiri dari 5 kamar tidur karena dari dulu karyawan papa memang tidak terlalu banyak, maklum usaha kecil-kecilan, 2 kamar mandi dan 1 ruang TV bersama.. Aku termenung di depan mess, kotor sekali mess ini, jauh beda dengan rumahku. Pelan-pelan aku masuk lalu kututup gerbang mess, senyap sekali, penasaran aku masuk ke dalam rumah, sayup namun jelas kudengar suara perempuan sedang berbicara dengan sekumpulan pria. Aku tidak langsung masuk menemui buruh-buruh itu, tapi aku sengaja mendengarkan pembicaraan mereka.

"Ini anak kita kang, aku sudah hamil 2 bulan" kata si perempuan.

"Darimana aku tahu itu anakku? Cici kan pernah juga main sama si Abdul, Somad dan Tirta waktu kita ke Jakarta kan waktunya juga tepat" terdengar suara si pria dengan datar.

"tapi waktu itu kang Nurdin yang pertama, kan sudah kubilang aku lagi masa subur, mana tanggung jawabmu, dulu kang Nurdin mau tanggung jawab kalau ada apa-apa denganku, termasuk waktu sama Abdul, bukankah kang Nurdin yang memaksaku?" senyap sejenak setelah wanita itu bicara.



Hatiku berdebar keras, Nurdin? Suara wanita itupun kukenal sekali...mama!? Hamil?! Kepalaku terasa panas dan berputar-putar sejenak.

"Akibat permainan itu aku hamil sekarang, aku tidak mau tau anak siapapun ini, pokoknya kang Nurdin yang harus tanggung jawab" mama setengah teriak karena emosi. "Jangan teriak Ci, siapa tau itu anak aku juga, kenapa gak sama aku aja?" suara pria lainnya terdengar

"gak mau, kamu itu siapa? cuma preman Jakarta yang kelainan!" teriak mamaku menimpalinya.

"hahahaha si enci ini bisanya teriak-teriak, kenapa emang kalau sama preman, dulu juga kamu malah merintih rintih keenakan waktu kita double" pria lain terdengar malah bercanda.

"pokoknya gak mau, Nurdin, kamu harus tanggung jawab, inikan yang kamu mau dari aku sejak dulu?"

"Iya ci, memang sejak dulu aku ingin memperistrimu, tapi orangtuamu itu kelewatan sekali sombongnya, tapi bagaimana dengan suamimu sekarang, cici cerai dulu saja, tapi jangan bilang kalau cici hamil, nanti saya bisa masuk bui" suara Nurdin melemah.

"Aku tahu itu kang, aku sudah bilang suamiku sejak minggu lalu, tapi dia sibuk sekali, aku tidak tahu dia sudah mengurusnya atau belum" mamaku terdengar lega mendengarnya.

"Din, lu yakin mau kawin sama si enci ini, jadiin gundik aja, jadi kita juga bisa nyicipin..hehehehe lu suka juga kan ci?" kurang ajar sekali orang itu sama mama.

"Aku sih terserah si cicinya aja, kalau mau main sama kalian ya terserah, toh dulupun sudah pernah main, masa aku larang, suami macam apa aku ini kalau melarang kesukaan istrinya" Nurdin berkata tak kalah kurang ajarnya.

"koq kang Nurdin gitu sih, masa istrimu sendiri kau berikan pada teman-temanmu?" suara mama terdengar tajam.

"maaf ya ci, aku memang kelainan, tapi ini semua aku, Abdul, Somad dan Tirta lakukan atas persetujuan bersama, akupun pernah main sama istri Somad di kampungnya koq, nah sebagai istri yang baik cici harus biasa nurut sama suami" Nurdin akhirnya mempunyai alasan.



Mama terdiam, pasti mama terpukul mendengar itu, sesama wanita aku bisa merasakannya..

"Din, gua lagi kepingin lagi nih liat muka calon bini lu, bikin kontol gua ngaceng....." tiba-tiba ada tangan dingin memegang tengkukku.

"Ssssshhh jangan berisik non, hehehe lagi asik dengerin mama ya, kita ke ruang sebelah yu, semua udah pada kumpul tuh nungguin non Carline" suara bisikan Odet terdengar dekat di telingaku.

"Nanti bang, aku mau tau mamaku dulu" sahutku.

"Dikamar sebelah juga suaranya jelas non, lagian gak baik nguping ombrolan orang, mending kita ngewe yuk, enakkkk" bisik Odet sambil menarik tanganku ke kamar terdekat.

Rupanya ini kejutan dari buruhku, ternyata mama ada disini.. Dalam kamar ternyata sudah lengkap ketujuh buruh itu tampak sudah bertelanjang dada, siap mempermainkanku malam ini.

"bang semuanya, bisa gak acaranya ditunda sampai besok, Fei lagi banyak pikiran nih, lagian ada mama di sebelah, gawat kalau ketauan" kataku setengah berbisik, maklum antara aku dan mama hanya terpisah 1 kamar kosong.

Bisa celaka kalau aku ketauan mama ada main dengan para buruh ini. Bagiku juga 7 orang pria terlalu banyak, tak terbayang kalau aku harus melayani mereka semua, aku bisa pingsan, lebih baik kutunda saja hasratku ini untuk besok. Pikiranku memang sedang kalut memikirkan pembicaraan mama tadi, mama hamil! Mau cerai! HAMIL!CERAI! dua kata itu menghantui pikiranku.

"Yah tanggung neng, kita semua udah siap-siap gini, barang si Ahmed udah kita borong nih buat kita main malam ini, neng pasti puas, gak bakal hamil koq, kita udah beliin kapsulnya" Suhe tampak sedikit kecewa.



Tiba-tiba diluar terdengar suara petir, keras sekali disusul oleh suara air hujan gerimis mengenai genting mess.

"Nah kan, di luar udah hujan lagi non, mending kita hangat-hangatan disini bareng aa semua!" Arman bersemangat sekali mendengar suara hujan.

Tiba-tiba Dulah mengangkat tubuhku "Udah kalian jangan banyak omong, ni amoy banyak alesan, tapi sebenernya mau, coba nanti liat memeknya pasti udah basah, gua berani taruhan"

Aku dengan kasar dibaringkan di dipan mereka.

"Koq tegang gitu Neng, tenang aja, mama Neng ga bakalan kesini, dia juga lagi asik entotan sama mang Nurdin dan temennya, asal Neng jangan teriak keras aja, nanti kita ketauan, lagian diluar hujannya sudah lumayan besar, ayo Neng, mamang buka bajunya yah" tangan Komar sudah siap-siap akan membuka bajuku.

Tiba-tiba terdengar tepat diluar kamarku suara mama "Jangan sekarang kang, aku lagi hamil muda, nanti bisa keguguran kalau dipaksa, nanti saja 3 bulan lagi baru boleh kalau kandungannya sudah kuat"

Lirih memang suara mama karena diluar suara hujan mengalahkan suara mama. Namun sayup-sayup kedengar suara paksaan dari para pria itu, entah apalagi yang mereka bicarakan, tapi rupanya mereka sudah pindah ke kamar sebelah kamarku, sekali-sekali terdengar suara tawa Abdul, preman botak yang dulu pernah ikut menyetubuhiku. Rupanya aku terlena mendengar suara mama dikamar sebelah, waktu aku tersadar, baju atasku sudah berserakan dibawah dipan, tampak pula Oman dan Usep sedang masturbasi sambil menontonku dikerumuni Komar, Odet, Dulah, Armand dan Suhe.

"Bang jangan sekarang!!" aku meronta sekali lagi, tapi waktu aku meronta, rok yang kupakai malah terlepas,

Dulah tertawa senang, "gua horny banget kalau lagi telanjangin ni cewek, badan lu koq makin bagus aja moy, makin cantik dan sexy kalau lagi ditelanjangin gini" rupanya daritadi ia sudah melepas kancing rokku, jelas saja sekali aku meronta, malah rokku yang lepas dari pinggangku.



"Hei, Fei gak mood hari ini!" teriakku ditengah suara petir.

"Man, cepet lu lepas roknya sekalian celana dalamnya juga" Odet dan Dulah malah memegangi tangan dan kakiku, sementara Armand dan Suhe sibuk melepas rok dan celana dalamku.

Aku kalah tenaga tentunya, dalam waktu tidak kurang dari satu menit aku sudah telanjang bulat di tengah dipan. Dalam ketakutan gairahku mulai timbul kembali, buruh-buruh bejat ini memang pandai sekali membangkitkan gairahku. Ciuman di mulutku, cupangan di leherku, sedotan di payudaraku, juga jilatan di vagina dan pahaku terasa sekali dilakukan oleh kelima buruhku. Lidah Mang Komar bermain-main di mulutku, menghisap cairan mulutku tanpa sungkan, aku terpejam, diam-diam kunikmati saat ada jari yang mulai mengorek vaginaku dan mengocoknya, tak lama kemudian aku orgasme dibuatnya, nikmat sekali.

"hehehe gimana neng, enak kan? Mau diterusin?" Suhe berbisik di belakang telingaku, rupanya dia yang menyupang leherku.

Seperti peristiwa sebelumnya, lagi-lagi aku menyerah pada nafsuku sendiri. Sementara di luar kamarku tak terdengar suara apapun, mungkin mama sudah pulang atau malah sedang dikerjai Nurdin, entahlah, yang jelas hujan bertambah deras di luar sana, tapi di kamar ini malah panas oleh gairah buruhku yang menggebu. Aku mengangguk mengiyakan supaya permainan ini diteruskan.

"Kita bikin undian yuk, siapa yang dapet jatah duluan, Sep, lu jangan coli terus, nikmatin nih memek anak bos kita"

"Udah siapa sajalah yang penting giliran, jadi semua kebagian, jaga jangan sampai ada yang ngacret duluan, nanti kita ngecrot sama-sama" entah siapa yang bicara aku sudah tidak memperhatikannya lagi.

Vaginaku terasa sudah banjir oleh cairan mani yang tadi aku keluarkan, sementara buruh-buruh itu mulai menbuka bajunya, tinggallah tujuh orang pria bugil mengerubungiku.



"Neng, sini naik keatas" Odet nerkata sambil telentang diatas dipan menyuruhku menaikinya, Dulah membantu mengangkatku, lalu mendudukan aku di atas badan Odet. Odet yang sedari tadi memegangi penisnya mengarahkannya pada vaginaku. Sedikit demi sedikit penisnya masuk dalam vaginaku, pinggul Odet naik turun membuat tubuhkupun ikut naik turun berirama, makin lama makin cepat.

"nih non kulum kontol aa" Suhe mendekatkan penisnya kewajahku, penis berukuran sedang, namun kepalanya telah berkilat oleh cairan pelumas pertanda Suhe telah terangsang.

Pelan-pelan aku menjilat kepala penis Suhe, terasa aroma penis di lidahku. Suhe dengan sendirinya memasukkan penisnya dalam mulutku.

"Ayo non, semuanya aja di kulum masa cuma kepalanya" perintah Suhe.

Dengan tubuh bergetar menahan gejolak nafsu, aku bergerak naik turun seperti naik kuda sambil mulutku menyedot-nyedot penis suhe. Arman kini sedang mengagumi keindahan pahaku yang jenjang dan mulus diatas tubuh Odet yang coklat tua, tangannya tak henti-hentinya mengelusi pahaku.

"Neng, pahanya mulus amat...putih lagi" puji Arman sambil menjilatnya, tentu saja ini menimbulkan sensasi tersendiri bagiku.
Dulah sibuk mengenyot payudara kananku. Tangannya membimbing tanganku untuk memegang penisnya yang telah tegak sempurna. Aku menengadah dengan mata terpejam, mulut mengap-mengap mengeluarkan desahan sambil menikmati asinnya penis Suhe. Saat itu aku telah mabuk birahi, tubuhku menggelinjang saat Dulah sedikit menggigit bagian bawah payudaraku. Jantungku berdebar-debar dan mataku terpejam menikmati perlakuan itu. Dulah mencium dan menjilat leherku sambil meremas-remas payudara satunya lagi, lalu ciumannya bergerak ke atas menggelikitik kupingku menyebabkan aku hamper saja menggigit penis Suhe yang masih maju mundur dimulutku. Aku sudah tidak merasa risih lagi dengan para buruh ini, yang kurasakan sekarang adalah birahi yang menggebu-gebu.



Aku mulai aktif mengocok penis Dulah, Penis yang hitam berurat itu terlihat besar sekali dengan cairan pelumas yang mulai menetes dari kepala penis yang mirip jamur itu.
Arman masih menjilati kedua pahaku, kini kedua kakiku ditariknya hingga aku menduduki Odet secara total, penis Odet otomatis terlepas dari vaginaku.

"Sekarang gentian Det, gua yang ngentot si non" Arman menarik kakiku hingga kebahunya lalu dia mencoblos vaginaku dari bawah.

Odet yang masih di bawahku memeluk perutku dari bawah, lalu membantu Arman mengangkat kedua kakiku. Dulah agaknya masih belum puas bermain-main dengan tubuhku. Sekarang dia sedang membelai-belai kedua pahaku yang sedang naik diagonal ke bahu Arman. Dia mengangkat paha kiriku, lalu menciumi mulai lutut sampai pantatku. Sementara Komar setelah tadi ber-kissing denganku menunggu gilirannya sambil mengocok-ngocok penisnya bersama dengan Oman dan Usep. Mereka tentunya sedang enak nonton live-show sambil ngocok. Kini Aku menjilati secara bergantian penis Dulah dan Suhe sementara Arman menetralkan kakiku di atas dipan sambil terus menggenjotku. Odet yang betah ditindih sesekali membuka kedua pahaku yang kadang tanpa kusadari tertutup.

"hehehe enak ya neng ya rame-rame gini" bisik Odet ditelingaku.

"Hmmmmmh..." desahku
Tak lama kemudian kami berganti posisi, sekarang giliran Komar yang sedari tadi ngocok mulai meminta jatahnya. Dulah menghentikan jilatannya dan merentangkan pahaku lebih lebar.

"wah, memeknya becek amat, lu keenakan ya moy, tuh mar, sekarang giliran lu, ingat jangan sampe ngacret di dalem."

Aku menghentikan sejenak oral seksnya, menatap penis komar yang makin mendekati bibir vaginaku dengan deg-degan. Nampaknya Mang Komar tidak mengalami kesulitan memasukkan penisnya ke dalam vaginaku karena selain ukurannya yang standar, vaginakupun telah licin oleh cairanku sendiri, maka dia lakukan itu dengan gerakan tarik-dorong.



"Aakkhh...nggghhh...!" rintihku menahan rasa nikmat karena penis itu sudah masuk seluruhnya
"Kalau ibu lu di sebelah tau anaknya udah kita jadiin lonte, dia pasti pingsan. Hehehe tapi sayangnya ibu lu juga mungkin lagi merintih-rintih mirip lu sekarang" Dulah masih saja menghinaku sambil terus meremas-remas payudaraku.

"si Neng ini koq memeknya kecil terus ya, padahal udah sering kita entotin, apa rahasianya neng?" tanya Mang Komar cengengesan.

Dulah dengan mulutnya yang lebar menelan seluruh susu kananku yang disedot dan dikulum dengan rakus. Arman menelusuri tubuhku dengan lidahnya, bagian-bagian sensitif tubuhkupun tidak luput dari jilatannya. Aku mendesah-desah tak karuan sambil menggeleng-gelengkan kepala, tubuhku menggelinjang hebat, dan aku kembali orgasme dibuatnya. Badanku menegang dan menekuk ke atas namun Mang Komar masih belum keluar. Melihatku orgasme, Komar manarik penisnya.

"Saatnya gentian ya Neng, sekarang giliran bang Dulah" dia menyuruhku menungging sambil meregangkan kedua kakiku.

Dengan sekali genjot penis Dulah terasa melesak dalam vaginaku dengan gaya dogy, dia memacu tubuhnya makin cepat sampai menimbulkan bunyi kecipak dalam vaginaku, sementara Suhe menunggu giliran mencicipi vaginaku. Mula-mula dia mendekati kepalaku lalu kembali penisnya minta aku kulum, setelah dikulum sebentar Suhe mulai bergerak maju-mundur didepan mulutku. Aku yang memang suka penis Dulah menaik turunkan pinggangku sendiri. Tentu saja melihat ini Dulah tertawa dan kembali melecehkanku

" anjrit, lu kayaknya keenakan ya gua entotin, demen ya sama kontol gua?"gairahkupun semakin berkobar, apalagi setelah terasa suatu kenikmatan yang tiada tara di dalam rahimku yang seakan meledak-ledak minta terus disodok.
Dulah tiba-tiba menggulingkan tubuhnya sehingga aku ikut terguling menyamping. Dia lalu mengaduk-aduk vaginaku dengan gaya menyamping. Kulihat matanya merem-melek dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat. Keringat telah membasahi tubuhnya, menempel di dadanya yang bertatoo.



Aku tidak kuat menahan gelembung kenikmatan dalam rahimku, kembali vaginaku orgasme untuk yang kesekian kalinya.

"Sekarang giliran lu" Dulah menyerahkan aku begitu saja pada Suhe yang penisnya masih ada dalam mulutku.

Suhe segera melepaskan penisnya dari mulutku, lalu ia segera memompa vaginaku dengan gaya standar, tapi tak lama kemudian

"Gilaaa gua gak kuat, mau keluar nihh" teriaknya.

Diapun segera melepas kembali penisnya. Sementara di luar masih hujan dengan derasnya, menambah tinggi tensi birahiku.

"Man, sep, kalian gak mau coba ngentotin non Carline ini? Tuh dia masih mau ditusuk-tusuk lho" Komar bertanya pada Oman dan Usep yang sejak tadi hanya mengocok-ngocok penisnya saja.

Akupun heran tapi tak ambil peduli karena meskipun mereka tidak ikut, tetap saja ada yang menyetubuhiku.

"Gak ah, gua lagi bayangin lagi ngentotin kakaknya, gak nahannn" Oman tetap mengocok penisnya.

"Hahaha beritanya lu naksir kakaknya ya... padahal nikmatin dulu saja adiknya, tapi terserah kalian lah".

"Sekarang saatnya kita ngecrot sama-sama, ayo pilih sendiri mau keluarin dimana" Suhe yang nampak tidak sabar menuntaskan birahinya.

Mereka masing-masing menempati posisi pilihannya, kali ini Odet memilih dalam vaginaku, Dulah di payudaraku, Komar memilih dalam mulutku, Arman mengurut penisnya di depan wajahku sementara Suhe berniat keluar di perut atau pahaku. Merekapun melancarkan aksinya, Odet menggenjotku dalam sekali, sementara Komar menjejelkan penisnya dalam mulutku, Dulah mengangkangiku untuk menjepitkan penisnya di kedua payudaraku, dan Suhe menggesek-gesekkan penisnya di pahaku yang putih.



Beberapa menit kemudian berbagai jenis sperma menyembur masing-masing di tempatnya, agak kaget aku menerimanya, namun nikmat sekali, dimulai dengan Arman yang menyemburkan spermanya di wajahku, belum tuntas kagetku melihat cairan putih kental mengenai wajahku, Suhe menuntaskan hasratnya di pahaku, terasa basah dan hangat, lalu penis Dulah yang sengaja dijepit dipayudaraku meluncurkan spermanya hingga muncrat sampai ke daguku. Kekagetanku disusul adanya cairan hambar berbau khas di lidahku, membuatku gelagapan.

"Telen aja non, sekalian bersihin ya" Komar malah menyuruhku menelannya

Dengan sedikit tercekat, perlahan aku menelannya sedikit demi sedikit sampai habis, lalu aku menjilati penis komar sampai bersih, selagi aku menjilatinya, terasa lagi rasa hangat menjalariku, kali ini Odet yang menyemprotkan spermanya dalam rahimku sambil terus mengenjotku sampai terasa penisnya mengecil, baru Odet mencabutnya.

"Uuuhh... Neng, enak yaa...mmm !" desah Odet sehabis melepas hajatnya dalam tubuhku.

Aku yang masih terhanyut dalam lautan birahi tidak malu-malu lagi mengemuti semua sisa-sisa sperma pada masing-masing penis buruhku. Akhirnya Oman dan Usep secara bersamaan menumpahkan spermanya di atas kepalaku dan di luar vaginaku. Di ruangan itu kami bertumpang tindih melepas sisa kenikmatan. Tubuhku belepotan oleh sperma-sperma, dari vaginakupun setelah kukorek baru mengalir sperma kental milik Odet. Saat kami semua melepas lelah, tiba-tiba pintu terbuka dengan kerasnya, tampak mama dalam keadaan acak-acakan, matanya sembab merah. Aku hampir pingsan dibuatnya, tidak ada jalan untuk sembunyi, aku hanya bisa menutupi tubuhku dengan kedua tanganku seadanya..

"Fei Chen, mama sudah lihat semuanya!! Bisa-bisanya kamu lakukan ini semua, teganya kalian berbuat ini pada anakku!" teriak mama.

Anehnya semua buruhku tampak santai-santai saja, biasanya mereka panik kalau tau bakal kena marah mama. Lemaslah sekujur tubuhku, kini mama sudah tau seluruh perbuatanku, apa yang harus kulakukan.



Aku terdiam, tak terasa airmataku mulai menggenang dipelupuk mataku.

"Maafin Fei Chen ma..." hanya itu yang terlontar dari mulutku, lidahku serasa tercekat, tak mampu bicara banyak.

Di belakang mamaku muncullah 4 orang pria setengah baya, yang dua kukenal sebagai Nurdin dan si Abdul botak, tapi dua lagi aku tidak mengenalnya.

"hahahaha apa kabarmu moy, udah puas belum entotannya? Oya ini gua kembaliin celana dalam lu yang waktu itu lu tinggaalin" Abdul melemparkan celana dalamku yang minggu lalu diambilnya, hatiku perih sekali saat itu.

"Tuh ci, jangan marah gitu, anakmu inikan mirip cici waktu muda dulu, anak kan ga akan beda jauh dari induknya" Nurdin bicara dengan dingin

"Kalian semua, pakai baju kalian, permainan sudah selesai" Abdul berteriak pada para buruhku yang dengan patuh langsung memakai kembali bajunya masing-masing, sementara bajuku tergeletak jauh dari jangkauanku, untuk mencapainya tentu aku harus berjalan mendekati dua pria yang tak kukenal itu, itu tak mungkin kulakukan karena tubuhku dalam keadaan polos. Mamaku tampak terpukul berat melihat keadaanku.

"Buset, Dul, badannya mulus banget, ini amoy yang lu ceritain itu?"

"Iya, putihnya mirip ibunya ya, ini malah lebih putih karena mash muda, ayo Mad, lu jangan bengong gitu, beresin semua kamera di kamar ini, jangan sampe ada yang ketinggalan"

Somad lalu mendatangi tiap pojok kamar dan mengambil benda hitam bercahaya merah yang rupanya adalah kamera tersembunyi..

"Astaga, jangan-jangan....." desahku dalam hati.

Mama mendekatiku, sambil terisak dia menamparku

"Anak gak tau diri, mama lahirin kamu bukan untuk jadi pelacur! Semua perbuatan kalian tadi mama lihat! Mama gak nyangka kamu sudah begini! " teriak mamaku.



Nurdin kembali menengahi kami " Sudahlah ci, ingat sebelum kawin sama suamimu dulu kita juga pernah kayak gini, gak usah marah-marah, terima saja anakmu ini, gini-gini juga ini calon anakku juga" katanya mengelus punggung mama.

Mama kembali terisak, dia terdiam mendengar kata-kata Nurdin.

"Fei, siapa yang pertama kali berbuat ini?" tanya mama padaku.

"Maksud mama apa?" tanyaku bingung harus menjawab apa.

"Siapa yang pertama kali berbuat sama kmu?" mama mengulanginya lagi.
 

Aku terdiam sesaat, apa yang harus kujawab, aku sendiri tidak tahu siapa yang menyetubuhiku pertama kali, mataku ditutup kain waktu itu terjadi.

"Fei gak tau ma, waktu itu mata Fei ditutup, jadi gat au siapa yang duluan, mama tanya sama mereka aja"

Aku melihat mama hamper histeris mendengarnya, lalu dia memandang buruh itu satu persatu,

"Siapa yang pertama kali menyentuh anakku?" tanyanya datar.

Aku melirik Dulah karena aku merasa dia yang mengambil keperawananku dulu.

"Wah ci, kami waktu itu lagi teler, jadi gak inget siapa yang berbuat, lagian non Carlinenya juga mau koq kami gilir" Komar mengajukan pembelaannya.

"Pokoknya salah satu dari kalian harus bertanggung jawab kalau sampai anakku hamil, atau aku akan tuntut kalian semua." Para buruhku saling pandang lalu Nurdin berkata pada mama

"Sebaiknya kita tanya saja baik-baik mereka, jangan kasar begitu, tanya juga anakmu"
 

"Kalian, siapa yang mau tanggung jawab? Harus ada salah satu yang mau mengawini Carline" Mama malah seakan menawarkan aku pada para buruhku..



Aku mengerling pada Dulah, dalam hatiku aku tahu dia yang harus bertanggung jawab.

"Wah ci, ga bisa gitu dong, kita semua sudah punya istri di kampung, gimana kalau kita jadiin simpenan aja? Boleh gak? Iya gak teman-teman?" Dulah memberi komando.

"Iya ci, begitu ajalah tanggung jawab dari kita mah, kan kejadiannya juga atas dasar suka sama suka, iyakan neng?" Odet menimpali sambil memandangku.

Aku tidak bergeming, sungguh harga diriku sudah hancur. Mamaku sendiri seakan menjualku pada buruh-buruh ini.

"Dia tidak akan hamil koq ci, kita sudah kasih obat pelunturnya koq, tapi kalau hamil biar aku yang tanggung jawab deh, aku bersedia koq kawin sama non Carline" Bergidik aku mendengar kata-kata Odet itu, sementara Dulah malah tertawa-tawa puas diikuti yang lainnya termasuk Odet sendiri.

"Baiklah kalau begitu, ingat kata-katamu itu, yang lain jadi saksi! Kalau suatu saat anakku hamil oleh perbuatan kalian, kamu yang harus bertanggungjawab!" Mama memberikan pengumumannya sambil menunjuk Odet yang tentu saja terlihat senang sekali.

"Beres ci, kalau neng Carline ini hamil, saya yang tanggung jawab, asal neng Carlinenya mau dijadiin istri ketiga saja, gimana?"tawar Odet. Mama termenung lalu dia berkata

"ga bisa, masa anakku jadi istri ketiga, kamu harus ceraikan dulu semua istrimu!"

"Yehh si cici ini malah ngatur, disini kita yang bikin aturannya ci, masih untung anakmu ada yang mau tanggung jawab, kalau sama gua sih dijadiin gundik aja atau sekalian gua jadiin pecun didaerah terminal, toh anak enci aja malah seneng diewe rame-rame, iya ga?"

Dulah malah mendekatiku lalu dengan kasar dia membuka lubang vaginaku di depan semua orang termasuk mama "Tuh ci, liat sendiri memek anak enci malah banjir, artinya dia masih mau dientot,,hahhahaa"

semua pria diruangan itu tertawa kesenangan, aku tertunduk malu sekali tidak bisa mengontrol cairan dalam vaginaku yang sudah bercampur sperma ini. Pandangan mata mama terlihat jijik sekali melihatku seperti itu.



"kalau dia mau seperti itu, ya terserah kalian lah, masa bodo dengan kalian, Fei chen, kalau kamu ga suka, bilang sekarang!" bentak mama berharap kepastian dariku.

Aku tidak menyadari hal ini, malah terus menunduk, aku tak mampu menjawab mama, perasaan bersalah, malu, menyesal, takut bercampur jadi satu hingga aku benar-benar diam seribu bahasa.

"Udah ci, relain aja anak lu jadi gundik anak-anak disini, anak juga kan gimana ibunya, toh lu juga gundik kita meskipun nanti lu dikawin sama si Nurdin ini." Pria bertato yang bernama Somad tiba-tiba angkat bicara, dan rupanya omongannya ini sangat mengena dihati mama, akupun sempat kaget mendengarnya meskipun sudah kuduga sebelumnya. Sebelum mama berkata sesuatu, Abdul mendahuluinya

"Tuh, karena anak lu juga diam, berarti setuju usulan si Odet itu, Sudahlah ci, ga usah disesali punya anak pecun kayak lu, lu harusnya bangga anak lu tu digemari kita-kita, artinya anak lu tu enak buat dientot, nah, sekarang daripada kita rebut-ribut, masalahnya kan udah selesai, mending lita kasih kesempatan anak lu nerusin entotannya, kasian tuh memeknya keliatan ngacai terus minta disodok, belum puas kan neng?" Dengan kurang ajarnya Abdul berkata begitu sambil mencium dada mama sambil menurunkan baju atasan mama sampai payudaranya terlihat jelas.

Tentu saja mama teriak marah, tapi apa daya dia tidak bisa lagi membetulkan bajunya karena Somad pun malah membantu Abdul melucuti pakaian mama, sementara Nurdin menontonnya sambil tersenyum

"Jangan di sini Mad, di kamar sebelah aja, kita terusin lagi permainan kita"

Akhirnya mama dipanggul ke kamar sebelah, dan selanjutnya aku tidak tahu lagi apa yang terjadi disebelah, aku hanya mendengar teriakan mama memarahi Nurdin lalu suaranya berubah pelan dan lama-lama menjadi rintihan, suaranya cukup jelas karena diluar hujan sudah berhenti.
Sepeninggal mama dan keempat pria itu, terdengar riuh sekali diruanganku, sesekali tawa buruh-buruh itu meledak.

"Gilaa, gua bisa juga ngawinin amoy majikan kita.. hahhaha biarpun memeknya udah kalian cicipin juga, tapi gua ga nyesel" Odet dengan senangnya berceloteh

"Jangan seneng dulu det, itukan kalo neng Carline hamil, mana mau dia kita hamilin, apalagi udah tau bakal lu kawinin, dia pasti minta pelunturnya ke si Ahmed hehehehe jangan mimpi lu" Suhe mengingatkan Odet.

Tanpa sadar Suhe mengingatkan aku akan Ahmed, yaa tentu saja aku tidak mau sembarangan dihamili mereka, aku masih punya Ahmed dengan anti hamilnya yang mujarab itu. Hati dan pikirankupun menjadi lebih tenang, kini satu-satunya yang mengganggu pikiranku hanya masalah mama, bagaimana sikapnya padaku setelah tahu masalah ini?

"Nih moy, lu pake baju lu sekarang, udah cukup malaem ini, kita udah puas, kecuali kalau lu masih mau lagi, lu boleh telanjang disini semaleman, kita semua mau minum-minum dulu di depan rumah sambil main gapleh, siapa tau gua kepingin lagi" Dulah melemparkan pakaianku yang tadinya tergeletak diujung kamar.

"Non Carline sebaiknya jangan pulang dulu, hari udah larut malam, nanti di luar ada yang ngentotin lagi kan cape, itung-itung nunggu mama non yang lagi keenakan di ruang sebelah, tuh udah kita siapin nasi goreng kalo non lapar, kalau mau mandi, non masak air panas sendiri ya, disini gak ada pembantu kayak di rumah non" Arman orang tersopan di antara semua buruh-buruhku.

Aku mengangguk kelelahan sambil cepat-cepat berpakaian. Selesai berpakaian ketujuh buruhku sudah tak terlihat diruanganku, tapi suaranya masih terdengar ramai di beranda mess ini, memang mereka sering nongkrong didepan mess sambil merokok, main gitar, main kartu atau malah mabuk, inilah contoh kebiasaan masyarakat kumuh disekitar rumahku yang sangat membuat kami sekeluarga tidak berani keluar rumah karena banyak tindak kriminal yang terjadi didaerah ini.



Aku merasa sendiri terkurung dalam mess papaku, aku tidak berani pulang karena takut para preman yang mungkin sedang berkeliaran, tapi aku juga tidak nyaman dalam mess karena mama ada disini bersama Nurdin dan teman-temannya. Aku memasak air panas untuk mandi, badanku terasa lelah sekali, sementara mataku malah penasaran ingin melihat apa yang mama lakukan di kamar itu, benar-benar kebiasaan yang sulit dihentikan. Akupun mandi dengan penuh rasa ingin tahu keadaan mama, aku berniat mengintipnya setelah mandi nanti... Lagi asik-asik mandi membersihkan badan, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, padahal rasanya sudah kukunci.

"Bener Dul, anaknya lebih mulus dari ibunya euy, hehehe lagi mandi ya neng" Seringai pria yang bernama Tirta.

"Iya udah gua bilang, kalau ibunya lagi ga bisa, sekalian aja kita kerjain anaknya juga, biar lu ga penasaran, gua sih udah coba, wuih, enak banget, Yuk kita bawa ke kamar bareng mamanya, ayo neng kita ngamar lagi nemenin mama lu" aku tidak sempat menutupi tubuhku karena bajuku di gantung dibalik pintu kamar mandi, sementara sekarang pintunya malah terbuka, otomatis bajuku tertutup pintu yang menuju tembok.

"Jangan Pak, aku capek" ringisku sambil berusaha menutupi kemaluanku dengan tangan kiri dan dadaku dengan tangan kanan, tapi kedua orang itu malah menerobos ke dalam kamar mandi

"Ga apa neng, nanti juga semanget lagi, kita two in one yuk, udah pernah belum? Mama neng suka sekali gaya ini" Abdul berkata sambil tangannya memondongku, aneh sekali, tubuhku malah menjadi lemas tanpa tenaga waktu tangannya menyentuhku.

Dengan sekali hentakan, akupun dibopongnya diikuti oleh Tirta yang bersiul kurang ajar.

Hatiku dagdigdug tak karuan saat pintu kamar dibuka dari dalam. Terlihat mamaku dalam keadaan telanjang bulat sedang mengoral Nurdin yang telentang di ranjangnya. Somad tampak gembira melihatku dibopong masuk

"Weleh-weleh anaknyapun mau ikutan, bakalan asik nih, ayo Dul, cepat bawa masuk, taruh aja di sebelah ibunya, tar kita gilir lagi."

Abdul meletakanku disamping mama yang sedang berlutut mengoral Nurdin, melihatku dia tampak kaget.

"Lho, koq anakku dibawa kesini bang?" Tanya mama pada Somad.

"Ya gapapa dong ci, kan status anak lu sama dengan lu, gundik juga, jadi kita semua bebas pake, lagian gua penasaran sama anak lu ini, boleh kan Din?" Tirta yang rupanya menginginkanku balik bertanya pada Nurdin.

Pria setengah baya itu tampak nanar menatapku, penisnya masih terlihat basah sehabis dioral mama.

"I..iya tentu boleh, aduh ci, mirip kamu waktu muda yaaa.., mulus banget, gua juga jadi kepingin nyicipin" Nurdin seakan tanpa sadar berkata demikian..

Mama langsung bangun dari ranjang, dia segera mengambil bajunya, namun tindakannya itu dihalangi Somad yang langsung menindihnya di sampingku.

"Udah ci, kita ngentot sama sama aja, kalian punya bakat yang sama koq, ga usah malu sama anak sendiri" Kata-katanya membuatku bergidik, namun tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali.. hanya mataku saja memandang mama dengan takut. Akhirnya mamapun terlihat lemas laagi disampingku setelah Nurdin mengisap vaginanya. Kini kami berdua tergolek di ranjang yang sama sementara empat pasang mata memperhatikan sekujur tubuh kami dengan mata melotot.

"Ci, kulit anak lu lebih kencang ya, lebih putih lagi, putingnya lebih merah, cuma susunya lebih kecil " Nurdin kembali dioral mama, sementara vagina mama dijilati Abdul, Somad dan Tirta mengerubutiku, giliran Titra yang minta kuoral, dan Somad menjilati vaginaku.



Beberapa saat kemudian, mama terdengar sedang mengalami orgasme.

"Ibunya udah muncrat nih Din, gua entot aja ya, gak nahan nih" Abdul meminta persetujuan Nurdin.

"Eh, jangan dul, diakan lagi hamil, biar aja bayinya lahir dulu atau tunggu hamil tua, tuh anaknya aja lu kerjain lagi, lumayankan daun muda!" cegah Nurdin spontan.

"belum tentu juga itu anak lu Din, masa sama temen lu tega demi anak haram dia"Abdul tetap memaksa.

"Gak apa bang, saya juga gak terlalu kepingin punya anak lagi, siapa tau bisa langsung gugur" mama berkata disela pembicaraan mereka.

"Tuhkan Din si encinya juga udah kepingin dientot gini"

"Jangan! Nanti suaminya gak bakal mau cerai, bisa batal rencana gua ngawinin dia, kita kan teman, harus bagi senang atau susah bersama, nanti juga gua bagi lagi koq, siapa tau itu anak lu juga" Nurdin rupanya tak ingin kandungan mama gagal.

"Udahlah dul, lu demen amat sama si enci sih? Nih kan ada anaknya, lebih ranum juga lagi, lu ngalah dulu dah, demi temen, kita garap aja anaknya rame-rame sampe hamil, kan asik..hahahaha" Somad menengahi perdebatan itu.

"Wuah, bosen gua sama amoy ABG gini, stok gua udah banyak di Jakarta, terakhir tuh si Lingling anak toko emas yang pernah kita rampok, sampe sekarang masih betah kita culik sampe gak mau pulang, giliran kita juga yang repot ngentotin dia mulu kan? Sampe bosen guanya juga"kata Abdul pada semuanya.

"hahaha rupanya teman kita ini lagi bosen amoy yaa, padahal kan si Lingling itu bulan lalu udah lu jual ke Batam ketempatnya si Romli" Somad malah mengumumkan rahasia mereka.

"Yee gua jual juga karena kita semua udah bosen kan, daripada gua balikin ke tokonya mending gua jual, Ya sudahlah gua ewe juga ni amoy anak lu ci,"



"Jangan bang, sama aku saja, kasian a Chen"mama memandangku dengan mata memelas, akupun jadi tidak tega membiarkan mama yang sedang hamil harus melayani mereka berempat, ternyata dari tadi sore mereka hanya bercumbu dan oral sex, pantas saja begitu melihatku seakan singa mendapat mangsa.

"Biar aja ma, mama istirahat aja, biar saya yang lakuin buat mama" kataku memberanikan diri.

"Ternyata anak lu baik juga ci, demi mamanya rela dientot, hehehe atau sifat lonte anak lu udah parah ya.. hahaha, biar deh kita nyicip memeknya ya" Somad semangat sekali sekaligus melecehkanku, untung aku sudah sering dilecehkan jadi biasa saja bagiku, namun karena ada mama aku jadi sedikit merasa segan dan malu.

"Biar gua yang pertama, neng lu nungging sekarang! "perintah Tirta.

Setelah posisiku sesuai permintaannya, serta merta penisnya yang telah berpengalaman itu di jejalkan dalam vaginaku dengan gaya dogy, aku merasakan sensasi yang lain dengan yang pernah kurasakan, Sementara ketiga penis lainnya telah tampak teracung mengkilat-kilat kehitaman. Somad mempunyai penis yang terbesar dari yang pernah kulihat, mereka bertiga termasuk Nurdin menyuruhku mengoral penis mereka sambil vaginaku diaduk-aduk penis Tirta. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk orgasme, rongga vaginaku sudah licin dan basah oleh cairan orgasmeku.

"Hei ci, liat sini dong, masa baliknya kearah tembok begitu, ayo liat aja anak cici nih lagi keenakan, kalian memang mirip kalau lagi gini.." Abdul membalikkan tubuh mama yang rupanya tidak tega melihatku dikerjai mereka, ajaib sekali, mama langsung menurut saja begitu abdul menepuk punggungnya.

Begitu mama berbalik Tirta yang sehabis mengaduk vaginaku dan melihatku orgasme, mencabut penisnya lalu menyuruh mamaku untuk menjilati penisnya. Posisi sekarang berganti, Somad telah berbaring diranjang dan menyuruhku menduduki penisnya yang tegak teracung itu, agak bergidik juga aku meihat ukuran penis Somad, namun gairah membuatku menuruti semuanya, dengan posisi duduk aku disetubuhi Somad dari bawah,



Nurdin membantu tubuhku supaya dapat naik turun dengan nyaman.

"Mad, bikin dia nungging dikit atuh, gua mau coba bool nya" Abdul sekarang berada di belakangku sambil meremas-remas payudaraku dan tanpa banyak bicara Somad memelukku kearahnya sehingga lubang anusku terpampang ke arah Abdul. Aku berontak, aku agak trauma dengan posisi ini sebab terakhir melakukannya semua badanku terasa sakit terutama anusku, tapi dengan tepukan di punggungku tanpa sadar aku berhenti memberontak malah memajukan lubang anusku ke arah penis Abdul. Dengan terkekeh-kekeh dia, memasukkan kepala penisnya keanusku.

"Sakit pak, jangan disitu" keluhku.

"Tenang aja non, gak akan sakit, malah enak, mama non aja hoby koq" Abdul sambil meludah ke anusku lalu pelan-pelan menjejalkan kepala penisnya, aneh tapi nyata, penis itu sedikit demi sedikit masuk dengan mulusnya tanpa terasa sakit sedikitpun. Tentu saja hal ini makin merangsang gairah birahiku, kedua lubang di tubuhku terasa penuh saling bergesekan berganti-ganti,

"ahhhh,...... oooowhhh" rintihku, sementara mama kulirik masih menjilati penis Tirta yang basah oleh cairan orgasmeku. Mama kulihat asyik sekali mengulum dan menjilati penis Tirta sambil sesekali matanya melihatku, ahh akhirnya aku dan mama sama-sama menikmati disetubuhi oleh buruh dan preman-preman temannya, aku yakin sekarang dan selanjutnya mama tidak akan bermasalah denganku dalam masalah ini. Satu hentakan Somad dirahimku membuatku melambung dalam kenikmatan yang tak dapat kutuliskan, disusul hentakan Abdul bergantian menghantarku pada orgasme berikutnya. Tubuhku mengejang, diam sesaat untuk membiarkan cairanku keluar.

"Enak ya neng, ayo sekarang sama Bapak, mumpung gua belum resmi jadi bapakmu" Nurdin meminta gilirannya padaku. Somad dan Abdul mengeluarkan penisnya masing-masing, sekarang aku terbaring telentang menunggu penis Nurdin yang mungkin nanti jadi bapak tiriku.



Mama terlihat akan mengatakan sesuatu pada Nurdin, tapi sesaat kemudian sperma Tirta muncrat memenuhi mulut mama sehingga untuk beberapa saat mama tidak dapat berkata-kata karena mulutnya masih dipenuhi penis Tirta dan spermanya juga.

"Telen aja ci, biar gak kotor kasurnya!" perintah Tirta, mamaku segera menelan sperma itu lalu dengan cepat dia berkata "Din, kalau mau harus pake kondom!" rupanya mama tidak mau aku hamil oleh Nurdin.

Hehehe rupanya mama tidak tahu aku bisa mendapatkan anti hamil kalau aku mau, tapi kubiarkan saja karena Nurdinpun tanpa mama suruh telah menyiapkan kondom. Akupun dikerjai Nurdin, agak riskan memang disetubuhi oleh calon bapak tiri, apalagi sambil ditonton mama yang mulutnya kembali dijejali penis Abdul dan Somad bergantian.. Nurdin dalam beberapa genjotan saja menghentikan genjotannya, rupanya dia telah orgasme didalam tubuhku, untunglah memakai kondom.

"Gila ci, anakmu ini rasanya mirip cici waktu muda dulu, enak bener, jadi inget lagi nih ci, gua jadi cepet ngacret dah!"teriak Nurdin disela-sela orgasmenya.

"Gak salah tuh anak-anak milih anak lu jadi gundik mereka." puji Nurdin padaku yang sekaligus membuat mukaku merah harga diriku kembali terinjak.

Kulihat Somad kembali padaku sambil mengocok-ngocok penisnya di depan wajahku, disusul Abdul yang juga mendekatkan penisnya kemulutku. Aku tahu keinginan mereka, tanganku mengocok penis besar Somad dan lidahku mengulum penis Abdul. Tak berapa lama kemudian merekapun menyemprotkan sperma ditempatnya masing-masing. Wajahku kembali belepotan sperma, kali ini mulutkupun dipenuhi sperma, dan sama seperti mama, merekapun ramai-ramai menyuruhku menelan sperma Abdul. Setelah kutelan selesailah permainan mereka denganku malam itu.



Kulihat sudah pukul 3 dinihari, mama memasak air untuk aku mandi, dan kamipun akhirnya mandi bersama. Mama memelukku "Chen, sekarang kamu sudah jadi wanita dewasa, mama harap kamu bisa ketemu jodohmu, kalau bisa jangan dengan buruh itu, kamu harus jaga jangan sampai hamil seperti mama" kata mama padaku"

"Iya ma, Fei tau koq, maafin Fei juga ma, Fei dulu kebawa nafsu sampai jatuh ketangan mereka" kataku juga.

"Iya sudahlah Chen, mama sudah ngerti, memang sex itu kebutuhan semua orang, kita wanita juga butuh kepuasan, mama gak akan nyalahin kamu koq, tapi for fun aja yah, jangan sampai kebablasan, mama gak mau punya menantu orang-orang semacam mereka"

"Iya ma, nasehat mama akan Fei ingat, tapi mama gak marah kan Fei main sama pak Nurdin?" tanyaku kuatir.

Mama tersenyum"kalau mama marah gimana?hehehe ya enggalah, namanya juga for fun, asal dia pake kondom aja, kalau gak nanti mama punya anak sekaligus cucu donk" mama tertawa kecil.

Aku mencubit mama"Iiih mama gitu, masa Fei mau punya anak dari pak Nurdin, amit-amit dehhhh, hihihi eh ma, sebentar lagi Fei punya adik lagi dong" kataku kemudian sambil mengelus perut mama yang masih belum membesar itu

"benerkan mama hamil?"tanyaku juga. Mama mengangguk, tampak wajahnya jadi kuatir.

"iya Fei, kemarin-kemarin mama sudah bilang papamu, dia marah besar, entahlah sampai sekarang dia belum mau bicara, mama sudah siap cerai koq, habis papamu tidak bisa memenuhi nafkah batin mama"

"Fei sudah tau cerita itu ma, tapi koq mama pilih Pak Nurdin? Apa gak ada pria lain?" tanyaku penasaran.

"Yah apa boleh buat, cuma dia yang dari dulu dampingin mama sebelum ketemu papa kamu, mama sempat lakuin seperti yang kamu lakuin sama pegawai kita, tapi mama cuma sama Nurdin aja" kata mama menatapku dengan mata nakal.



Kembali aku cubit paha mama " Idih mama gitu deh, Fei juga kan gara-gara mama yang hot banget sama Pak nurdin" belaku. "haahaha tapi enak kannnn??" goda mama kembali.

"Udahlah ma, jangan diungkit terus, Fei kan jadi malu" kataku mungkin dengan wajah merah.

Aku senang ternyata mama bisa menerimaku, mungkin karena kami senasib. Tiba-tiba terdengar Nurdin didepan pintu kamar mandi

"Ayo cici cepat mandinya, sudah 1 jam nih, nanti masuk angin!" aku dan mamapun cekikikan di dalam kamar mandi.
Pagi harinya aku dan mama diantar pulang oleh Nurdin menggunakan mobil mama. Pakaianku tampak lusuh sekali, begitu juga dengan mama. Sepanjang jalan aku melamun disamping mama yang sebelah tangannya memeluk bahuku. Aku teringat masalah Oman yang naksir cici Christine, apakah aku harus memberitahu mama? Juga masalah cairan yang harus rutin kuberikan pada minuman cici? Belum lagi masalah adiku Evelyn yang akhir-akhir ini sering digoda anak-anak punk, memang itu aku tahu gara-gara Oman atau Usep yang menyebarkan foto Evelyn secara sembunyi-sembunyi? Mungkin untuk saat ini belum mau kuungkap didepan mama, hari ini terlalu banyak kekagetan yang terjadi, meskipun semuanya berakhir dengan baik. Akupun saat itu masih menunggu kabar perceraian mama, pasti itu sangan mengganggu pikirannya, ditambah lagi dengan kehamilan mama diusianya yang ke 38 ini. Begitu banyak yang kupikirkan saat di perjalanan. Aku menghela nafas panjang, biarlah semuanya terjadi seperti apa adanya, yang penting tidak ada yang merasa dirugikan. Apakah ciciku dirugikan? Entahlah, itu tergantung tanggapannya dikemudian hari.. aku sebagai adiknya cuma membantu perjodohan cici, masalah jodoh sebenarnya kan rahasia Tuhan, Jadi apapun yang kulakukan, jodoh ciciku tak akan lari kemana-mana..hehehehe tunggu saja.......

By: Carline



© Karya Carline