Note:

Cerita ini merupakan remake dari cerita lawas berjudul sama, The Orgy Club. Terima kasih pada sang penulis asli yang membuat cerita ini. Saya tertarik membuat ulang cerita ini karena tertarik dengan konsepnya yang bagus, namun sayangnya prosesnya terkesan grusa-grusu. Nah di sini lah saya bermaksud menyempurnakan tulisan ini dengan plot yang lebih mengalir halus, adegan seks yang lebih detil dan hot, serta menambahkan unsur BB tentunya yang menjadi tema di situs kesayangan kita ini. Dimohon masukan dari mupengers sekalian, bila sambutannya hangat saya berencana untuk membuat sekuelnya.

-------------------------------------------------

Hany

Namaku Rico (20 tahun), seorang mahasiswa perantauan yang kuliah di ibukota. Aku mau bercerita tentang pengalaman gilaku di sebuah kost-kostan mahasiswa. Kost-kostan itu untuk campur pria dan wanita, beberapa dari penghuninya mahasiswa seperti aku dan beberapa lainnya karyawan. Sebulan pertama segalanya nampak normal-normal saja, tapi beberapa hari setelah bulan kedua barulah aku tahu rahasia seram (atau seru? tergantung dari mana melihatnya) di tempat itu. Hari itu aku sedang bersiap-siap mau berangkat kuliah siang ketika kulihat dari seberang kamar Hany (19 tahun), gadis cantik di kamar seberang yang berpayudara montok, keluar dari kamarnya ke kamar mandi tanpa memakai apapun kecuali sandal jepit. Handuk saja cuma ditenteng dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya menenteng peralatan mandinya.
Kulitnya yang putih mulus ditambah bodinya yang langsing dengan tinggi badan yang termasuk sedang serta bongkahan pantatnya yang bulat indah langsung membuatku menelan ludah melihatnya. Aku yang masih pria normal terang saja terangsang disuguhi pemandangan tak terduga ini dan langsung terkena komplikasi mata-jantung-kemaluan. Mataku melotot melihat tubuh telanjangnya, jantungku langsung berdegup kencang, dan darahku langsung mengalir ke bawah mengisi pembuluh darah di penisku hingga menegang. Setelah masuk ke kamar mandi, entah sengaja atau tidak, Hany sedikit menutup pintu untuk menggantungkan handuk dan pandangan matanya bertemu dengan pelototan mataku. Anehnya ia tidak terlihat kaget, malah tersenyum menggoda dan sedikit meremas payudaranya sendiri. Yang lebih membuat jantungku semakin berdebar-debar, tanpa terlebih dulu menutup pintu kamar mandi ia mengarahkan gagang shower ke tubuhnya dan mengguyur badannya dengan santai-santai saja seakan aku yang menonton dia mandi adalah hal yang normal. Beberapa saat setelah membilas tubuhnya untuk membersihkan sabun di badannya ia menoleh ke belakang dan tersenyum nakal melihat padaku yang daritadi terbengong di depan pintu kamarku. Kuliah langsung terlupakan begitu dia menggunakan jemari telunjuk kanannya untuk mengajakku ke kamar mandi. Langsung saja aku melemparkan diktat kuliahku ke kamar dan melepas seluruh bajuku, termasuk CD-ku, sehingga burungku yang sudah bangkit dari tadi langsung seperti terbebas dari sangkarnya. Lalu aku berjalan dengan agak pelan ke kamar mandi bersama itu. Tanpa malu-malu Hany menyambutku dalam keadaan tanpa busana seperti itu. Saat aku masuk ke kamar mandi ia cuma tersenyum.

"Eh Rico...lu belum pernah mandi bareng cewek ya?"

"Pernah sih sama mantan gua dulu, tapi kalau yang seseksi kamu belum" jawabku sambil mengagumi keindahan tubuhnya yang menggiurkan dalam keadaan basah seperti ini, terutama bagian payudara dan pinggulnya yang semok itu.



Ia memutar tubuhnya hingga memunggungiku dan diraihnya kedua tanganku dan menggiring keduanya ke payudaranya yang bulat itu. Aku lalu meremas puting gumpalan kenyal itu sambil sedikit mengusap-usap dengan gerakan melingkar yang lembut. Bibirnya yang indah mengeluarkan desahan yang membuat birahiku semakin membara.

"Aaahh.. eemmhh.. eemmhh.." saat ia sedikit menoleh ke samping, langsung saja kulumat bibirnya itu.

Desahannya sedikit tertahan dan bercampur dengan lenguhanku. Lalu tangan kiriku mulai mencari klitorisnya dan mulai menggesek-gesekkan jariku ke daging sensitif itu dengan lembut. Desahannya semakin menggema di dalam mulutku dan dipantulkan oleh dinding kamar mandi. Aku sudah tak sabar lagi memasukkan penisku ke vaginanya. Maka setelah lima menitan ber-french kiss dan grepe-grepe, aku membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arahku. Tapi ia menolak sambil melepas pagutanku.

Sambil sedikit mendesah ia bilang, "Gini aja, lebih kerasa sodokannya!" seraya menunggingkan pantatnya ke arahku dan menyandarkan lengannya ke tembok.

Oke deh, pikirku sambil mendorong punggungnya supaya ia lebih menunduk. Tangan kananku memegang batang penisku dan mengarahkan ke vaginanya yang telah siap menanti. Setelah menempel pas di bibir vaginanya, langsung saja kutekan batang kemaluanku yang sudah tegang hingga amblas ke dalamnya dengan perlahan.

"Aaarrgghh..!!" Hany mengerang panjang

"Kenapa Han? Sakit?" tanyaku sambil meremas payudaranya

"Agak sih....tapi enak...banget Ric.. uuhh.. aargghh.."

Memang batang kemaluanku terjepit cukup ketat di antara dinding vaginanya yang berdenyut-denyut sehingga terasa seperti dipijat. Sekali lagi Hany mengerang lumayan keras waktu aku mulai mendorong pinggulku maju mundur. Vaginanya makin becek sehingga penisku semakin enak keluar-masuk liang senggamanya itu. Sensasi yang kuperoleh pun rasanya luar biasa sekali membuatku juga mulai mendesah-desah keenakan. Aku memegangi pantat seksinya dan sesekali menamparnya dengan gemas. Lalu kutempelkan dadaku ke punggungnya dan mulai meremas-remas payudara montoknya yang menggantung berat. Pasti teman-temanku tidak percaya kalau aku berhasil bercinta dengan Hany, the most wanted girl in campus to sex with! Sungguh gadis satu ini benar-benar menggairahkan.



"Uuuhh.. aahh.." desahku ditimpali pekikan Hany.

Tiba-tiba aku merasa ada cairan hangat mulai menjalar ke ujung kepala batang kemaluanku. Tanpa sempat kutahan, air maniku pun keluar sebagian di dalam vagina Hany karena belum sempat kecabut keluar, sedangkan sebagian lainnya bercipratan di pantat Hany. Pada semburan berikutnya Hany sempat berputar dengan cepat, berlutut di depanku dan menerima semprotan air maniku di wajah cantiknya. Ia membuka mulutnya menerima spermaku yang menyemprot semakin lemah. Setelah itu ia mulai menjilati seluruh cairan putihku di wajahnya dan mengusap-usap pantatnya untuk menyeka maniku yang ada di punggung dan pantatnya lalu itu dijilatnya sampai habis. Aku merasa agak lemas setelah orgasme tapi sangat puas dan parahnya aku kepingin lagi, hehehe...so pasti lah! Hany yang mengetahui pikiranku berkata,

"Ric lanjutin saja di kamar aja yuk, dingin nih disini"

"Ok...kamar gua atau kamar lu Han?"

"Kamar gua ajalah. Kamarlu kan berantakan!" jawabnya tersenyum nakal

Aku nyengir malu. Lalu tiba-tiba aku mengangkat tubuhnya dan kugendong dia ke kamarnya. Tubuhnya yang masih sedikit basah dengan air semakin membuatnya tampak menggairahkan karena nampak berkilauan di bawah sinar matahari. Sesampainya di kamarnya aku rebahkan dia di ranjangnya dan aku mulai menjilati semua sisa-sisa air yang menempel di tubuhnya. Dia mulai mendesah-desah lagi saat kujilati puting coklatnya yang sudah kembali mengeras. Ia lalu meraih kepalaku dan menekannya sehingga aku terbenam dalam-dalam ke payudaranya. Aku yang sudah konak berat mulai mengenyot dan mengigiti putingnya dan sambil meremasinya. Desah kenikmatan Hany pun mengisi kamar berukuran sedang itu. Setelah merasa puas menyusu payudaranya, aku mulai mengarahkan batang kemaluanku yang sudah keras lagi ke dalam vaginanya. Dia memekik kaget saat penetrasi dan langsung kugenjot habis-habisan. Jepitan dinding vaginanya benar-benar legit sampai aku mengerang-erang nikmat sekali dan ia sendiri menjerit-jerit keenakan. Lalu aku melumat bibir tipisnya dan dia juga membalas dengan bergairah. Dada kami bergesekan dan sensasi yang ditimbulkan benar-benar aduhai. Lalu selang beberapa menit kemudian aku keluar lagi tanpa sempat kutahan.



"Han.. eemmhh.. keeluuaar.. dii.. daaleemm.. nniihh.." kata-kataku terputus-putus oleh erang nikmat dan sensasi orgasme.

"Nnggakk.. papa.. kooqq.." rupanya dia juga mengalami sensasi yang sama.

Lalu aku ambruk di sampingnya untuk istirahat. Hany juga lelah kelihatannya.

"Rico.."

"Ya?"

"Welcome to the club!" katanya membuatku heran.

"Apa...what club?"

"The Orgy Club! Gini lho di sini, di kost-kostan ini, sex is totally free. Sama cewek manapun di kost ini, kamu boleh main semaumu. Dan kalau ceweknya tidak mau, kamu boleh perkosa dia. Di sini ceweknya adalah budak seks. Aku, Angeline, Amel, sama Sabrina yang indo bule itu adalah budak-budak seks cowok di sini. Terus Alex, Leo, Anton, Joko, Mario, Indra, bahkan Om Deddy yang punya kos plus istrinya, Mbak Eva, lalu Pak Kasimun si penjaga kost ini, dan sekarang kamu berhak merkosa kita berempat.Tapi kami juga boleh minta main kalau kepingin. Pokoknya totally free deh!"

Tentu saja aku agak kaget dan terperangah mendengarnya.

"Semua orang?" tanyaku.

"Pokoknya syaratnya adalah kamu orang kost di sini. Benernya kamu diajak Indra kost ke sini bukan cuma untuk menghibur kamu yang baru putus sama mantanmu tapi karena dia juga denger kamu orang yang asyik soal seks. selama sebulan ini kami sudah menyelidiki kamu apakah kamu pantas atau nggak masuk klub ini, dan ternyata kamu cocok, selamat ya!" katanya sambil mencium bibirku

Perasaanku campur aduk, bingung, kaget juga senang. Ternyata Indra punya tujuan lain mengajakku ngekost di sini. Dia ingin aku dapat melupakan Sarah yang selingkuh dan mengenalkan dunia sex yang lebih bebas. Wah thank's Ndra! Lu emang sobat mesum yang baik

"Jadi gua berhak main dengan kalian cewek berempat walaupun kalian tidak mau?"

"Yup! Selain itu ada juga anggota dari luar kost yang sudah kita seleksi untuk meramaikan klub?" jawab Hany dengan tersenyum.

“O gitu? Misalnya...?”

“Ada si Melinda, pacarnya Leo itu, terus Bang Obar si tukang anter galon air, Pak Somad, tukang nasi goreng keliling langganan anak-anak di sini, terus Mbak Tari sama Mbak Mirna, mereka juga available loh!”

“Mbak Tari? Mbak Mirna yang mana?”

“O iya dasar cowok, itu karyawati yang kerja di butik #### deket kampus, itu kan punya Mbak Eva”

“Pantes gua ga tau, ga pernah main ke butik, kalau tau gitu, tar kapan-kapan main ke sana juga ah hehehehe!” kataku, “ckk...ckkkk...gua baru tau ada perkumpulan segila ini, maklum anak kota kecil hehehe...eh tapi apa aman Han, kalau kena grebek aparat kan berabe tuh?”



“Tenang...Om Deddy punya temen di kepolisian yang jadi backing kita, Pak Usno, itu tuh kan lagi kapan tuh kita lagi main PS3 di ruang tengah, ada bapak agak gemuk yang datang itu”

“Ooo...itu jadi dia itu polisi ya?”

“Iya, sebagai balas jasanya dia juga dapet jatah dari kita cewek-cewek di sini”, terangnya, “terus, satu lagi ini pasti lu suka Ric!”

“Wah apa lagi nih?” aku semakin penasaran dibuatnya.

“Klub kita ini, setiap bulan weekend pertama ngadain orgy di rumahnya Om Deddy. Di sana acaranya seru deh, ada game-game nakal, tuker-tukeran pasangan, ujung-ujungnya ya orgy party lah!”

Aku benar-benar kehabisan kata-kata, percaya tidak percaya, tapi aku benar-benar telah di klub ini dan mengalaminya sendiri. Sungguh dalam hidup ini banyak hal yang di luar dugaan dan pengetahuan kita.

“Ooo..., jadi waktu kapan itu gua balik ke sini sampe malem ga ada siapa-siapa selain Pak Kasimun, ternyata lu orang lagi party ya? Pantes besok paginya gua liat muka lu orang pada lemes gitu”

Hany mengangguk mengiyakan

"Emm.. weekend kan tiga hari lagi nih. Kali ini gua boleh dateng dong?"

"Like i Just said to you, lu kan udah anggota klub ini sekarang. Jadi lu berhak ke sana."

“Wah sik, asyik....asyik...beneran nih? ga sabar gua nunggunya!” aku kegirangan mendengarnya, seperti mimpi saja, tapi semuanya nyata, aku baru saja mengalaminya sendiri dengan teman sekampusku ini.

Angeline


"Well...well, jadi calon member baru ini udah lolos seleksi ya!" tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.

Kami menoleh ke arah pintu yang lupa kututup. Ternyata Angeline sudah berdiri di ambang pintu. Angel (24 tahun) adalah seorang pramugari sebuah maskapai penerbangan lokal, maka tidak heran ia memiliki tubuh yang ideal, tinggi 172cm dengan paha jenjang yang indah, ditambah wajahnya yang cantik dengan rambut sebahu. Dia berdiri di depan pintu dengan seragam merah pramugarinya sambil menarik koper kecil berodanya. Sepertinya ia baru saja bebas tugas setelah kira-kira seminggu lamanya tidak berada di kost karena tugas di luar.

"Eh Kak Angel, baru pulang nih?"

"Iya cape sih butuh istirahat sebenarnya, tapi mergokin lu orang lagi ngentot gua juga jadi gatel nih" jawab Angel sambil menyandarkan bahunya ke kusen pintu, “Ric, welcome to the club ya!

“Hehehe...iya Kak, omong-omong sekarang Kak Angel kepengen sama saya nih?” godaku

"Why not, sapa takut?" jawab Angel sambil wajahnya memerah menahan nafsunya.

"Tapi bentar ya, break dulu nih, cape baru garap si Hany nih!"

"Nih pake ini dong!" kata Hany sambil menarik laci di bufet sebelah ranjangnya dan mengeluarkan sesatchet Irex lalu menyodorkannya padaku.

Langsung kusambar Irex itu dan kuminum dengan semangat. Kemudian aku turun dari ranjang dan menghampirinya. Kudorong tubuhnya ke dinding dan kupagut bibirnya yang disambutnya dengan panas. Sambil bercumbu, tangan kami saling raba tubuh pasangan masing-masing. Aku menggerayangi tubuhnya, roknya kusingkap dan kedua tanganku meremas bongkahan pantatnya yang montok yang masih terbungkus pantyhouse hitamnya. Selang beberapa menit kemudian pengaruh Irex tadi mulai terasa, tubuhku berangsur-angsur segar dan siap memulai pertempuran berikutnya.

“Wow....udah keras lagi bo!” kata Angel yang memijat penisku yang mengeras perlahan-lahan dalam genggamannya

Kemudian ia langsung berjongkok di depanku, tanpa basa-basi dicaploknya batang kemaluanku. Setelah mengusap-usap batang penisku yang di dalam mulutnya dengan lidahnya, dia mulai mengocok-ngocokku dengan memaju-mundurkan kepalanya. Kadang-kadang lidahnya menyusuri bagian bawah batang kemaluanku dan mengemut buah zakarku.



"Aahh.. yaahh.. teruss.. terus...gituin Kak!" aku mendesah-desah, tidak kuat menahan birahi dan aktivitas itu berlangsung agak lama.

Aku yang tidak sabar lagi segera menarik tubuh Angel dan mendudukkannya di tepi meja di dekat pintu kamar, kuposisikan diriku di antara kedua belah paha jenjangnya.

"Kak Angel, saya udah gak tahan nih!" pintaku di tengah kecupan-kecupan liar kami.

"Aku juga Ric! Cepat kerjai memekku!" balas Angeline dengan tatapan sayu memelas penuh nafsu.

"Hmm...Kakak bener-bener konak berat ya?" godaku sambil menciumi telinga dan lehernya.

"Nnngghh.. Give me that Rico! Please.." pinta Angeline

Aku memagut kembali bibirnya, sambil berciuman kupeloroti panty house hitam beserta celana dalamnya, lalu kurenggangkan posisi kakinya agar mengangkang lebar. Terlihatlah kini di hadapanku vagina vagina pramugari cantik yang merekah merah segar, kontras dengan kulitnya yang putih. Bulu-bulu di sekitar vaginanya terpotong rapi, menandakan bahwa ia memang cukup telaten merawat organ kewanitaannya tersebut. Pemandangan itu semakin membuatku tak henti-hentinya menelan ludah. Aku duduk di kursi dan membenamkan wajahku ke selangkangan Angel dan mulai menjilati liang kenikmatannya sambil kepalaku terus dipegang dan dijambakinya. Sementara itu tanganku menyusup ke bawah kemejanya yang masih belum terbuka, sampai di dadanya tanganku terus menyusup ke balik branya, akhirnya kupegang dan kuremas payudaranya yang indah dan berkulit halus, putingnya kupermainkan hingga terasa makin keras. Tak lama kemudian, kurasakan daerah vagina Angel bergetar dan makin lama getarannya makin hebat, hingga tak akhirnya saat aku sedang menggigit-gigit kecil klitorisnya, Angel pun mengerang panjang disertai tubuhnya mengejang.

"Ooghh iiyyaahh.. Terrusshh.. Mmmppffhh.. Ghhaahh.." desah Angel mengeluarkan cairan orgasme dari vaginanya

Wajahku langsung tersembur oleh cairan bening yang hangat dari liang sorgawi Angel. Dengan lahapnya aku menyeruput lelehan lendir kenikmatan yang tak henti-hentinya meleleh dari dalam vagina Angel. Hal ini tentunya membuat Angel yang baru saja mencapai orgasme dilanda rasa geli yang amat sangat.



"Hhhaahh ssttoopp!! Sttoopp!! Ghiillaahh.. Ohh Sttoopp Sshh.." erang Angel sambil berusaha menjauhkan selangkangannya dari wajahku.

Tetapi aku justru tak mau memindahkan mulut dan jilatannya sedikit pun dari vagina yang sedang dibanjiri cairan nikmat itu. Aku tidak mau melewati setetespun cairan gurih itu. Mulut dan wajahku pun belepotan oleh lendirnya. Baru setelah kurasakan vaginanya telah bersih, aku beranjak ke bibirnya. Dengan masih mengulum lendir dari vaginanya itu aku menyuapkannya ke bibir indah di hadapanku. Angel langsung mengerti apa yang akan kuperbuat terhadapnya. Ia pun langsung membuka mulutnya seraya berkata,

"Ludahin! Ludahin ke aku Ric!" pintanya dengan tatapan sayu menggairahkan sambil meremas-remas lembut payudaranya sendiri.

Aku langsung meludahkannya ke dalam mulut pramugari cantik itu dan langsung disambutnya dengan desahan bergairah.

"Mmmhh...enakkhh!" bisik Angeline setelah menelan lendir kenikmatannya sendiri.

Aku yang semakin terbakar gairahnya melihat adegan itu melucuti pakaian atasnya yang masih tersisa. Setelan luar, kemeja, dan bra-nya pun berceceran di atas maupun meja kamar Hany hingga Angel pun telanjang di hadapanku. Tubuh molek Angel membuatku melongo, sama indahnya dengan Hany, namun lebih tinggi, dan payudaranya lebih kecil sedikit. Pemandangan indah itu membuatku tak sabar lagi untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Aku pun lalu menempelkan tubuhku ke tubuhnya yang terduduk di tepi meja sambil menggesekkan penisku yang sejak tadi telah menegang penuh di vaginanya.

"Woow...kerasnya!" kagum Angel sambil menggenggam penisku.

"Aaahh.. Kak Angel.." lenguhku saat jemari lentiknya menggenggam dan meremas lembut penisku.

Angel langsung mengocok penis di genggaman tangan kanannya itu dengan penuh kelembutan. Sementara itu tangan kirinya mengusap-usap vaginanya sendiri yang mulai basah kembali. Rupanya ia pun tak sabar ingin segera disetubuhi. Dipindahkannya tangan kirinya yang sudah dibasahi lendir kenikmatannya ke penisku dan dibalurinya penisku itu dengan lendirnya.



"Eeemmmh...anget Kak, enak!" bisikku sambil memejamkan matanya.

"Hhhmm?? Anget? Aku punya yang panas Ric!" tantang Angel sambil menempelkan penisku ke bibir vaginanya. "Cepat Ric! Masukin kontol lu, aku nggak sabar! Please.." katanya dekat telingaku

"Ooowwhh.. Mmmhh.." desahnya ketika kudorong penisku membelah bibir vaginanya.

Angel mendongak sambil memejamkan matanya menikmati penetrasi yang kulakukan. Tanpa buang waktu lagi aku mulai menggoyangkan pinggulku menghujam-hujam vaginanya. Penisku terasa seperti ditarik dan diremas bersamaan karena seretnya vagina itu. Payudara Angel yang berukuran sedang itu berguncang-guncang di hadapanku seolah mengundangku melumatnya. Aku pun menyambar putingnya dengan gigiku dan menggigitnya tanpa berhenti menggenjotnya. Beberapa barang seperti buku dan alat tulis di atas meja Hany berjatuhan ke bawah karena tersenggol tangan Angel yang sedang seperti cacing kepanasan.

"Sshh... enak Ric, enak bangethhh!!" ujar Angel mendesis.

Bagaikan kuda liar, Angel juga aktif menggoyangkan pinggulnya sampai meja di bawahnya ikut bergoyang dan berderit. Keringat menetes dengan di kening dan dadanya. Wajahnya yang cantik terlihat semakin cantik meluapkan gairah di dalam dirinya.

"Ooohh.. Iyaahh terusshh Kak... Ssshh!" aku pun semakin meracau tak karuan.

Angel memelukku dengan erat, kuku-kuku di jarinya kadang menggores punggungku dan kakinya melingkar di pinggang saya merapatkannya sehingga penisku terasa semakin rapat di vaginanya. Tak henti-hentinya mulutnya mengeluarkan desahan nikmat. Sembari menggenjot penisku dalam vaginanya, tangan kananku meremasi payudaranya. Aroma parfum berkelas yang masih terasa pada tubuhnya menambah sensasi erotis persetubuhan kami. Beberapa lama kemudian kami mencapai puncak berbarengan, aku ejakulasi dalam vagina Angel, spermaku muncrat mengisi liang vaginanya. Sementara Angel memekik keras sambil mencengkeram pundakku, wajahnya terlihat sangat menikmati orgasme yang baru saja dialaminya.

"Aaahh...aaahhh" ternyata masih terdengar suara desahan lain dari belakangku.

Wah, saking asyiknya dengan pramugari cantik ini, aku sampai lupa dengan Hany. Ternyata dari tadi ia menonton kami sambil masturbasi dengan vibratornya hingga orgasme. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku mengangkat tubuh Angel yang sudah lemas ke ranjang. Setelahnya aku membaringkan tubuhku di samping kedua wanita itu.

“Gimana? Puas ga?” tanya Hany

“Whew...puas banget, gua ga nyangka bisa masuk klub seperti ini, gua kirain yang ginian cuma ada di negara-negara Eropa” jawabku sambil geleng-geleng kepala

“Kurang update lu Ric, jauh-jauh amat ke luar negeri, di Jakarta sekarang juga udah ada kok” kata Angel, “kamu pernah baca Jakarta Undercover ga?” aku mengangguk, “klub kita masih skala menengah atau malah kecil lah kalau dibanding yang diliput di sana, banyak yang lebih gila lagi”



Saat itu Amelia (20 tahun) lewat depan kamarnya Hany. Dia berhenti sejenak dan mengerenyitkan dahi melihat kami bertiga bugil di ranjang lalu meneruskan langkahnya ke kamarnya.

“Ehhh....!” refleks aku jadi salah tingkah dan meraih guling menutupi tubuh telanjangku

Melihat reaksiku Hany dan Angeline malah tertawa.

“Hihihi...kita maklum kok, kan pendatang baru...masih malu-malu, kita dulu juga gitu, ya ga Han?” kata Angel menyikut pelan ke Hany

“Iya lah, biasa aja...tar ke sana pasti ga bakal malu-malu lagi, yang ada mungkin malu-maluin!” timpal Hany lalu keduanya tertawa renyah berbarengan.

“Iya ya hehehe...kan ini orgy club ya, jadi si Amel juga bisa dipake dong?” tanyaku setelah baru sadar aku sudah jadi anggota klub,

“Kan gua udah jelasin tadi Ric, Amel juga gua sebut tadi” kata Hany

“Bener nih? Dia itu kan good girl di kampus, lu orang ga main-main kan?” aku makin penasaran dan antusias

“Ah...lu aja ga tau, si Amel emang di luaran ja’im Ric, tapi kalau udah aaahh....aaahhh...aahhh...ganas loh dia hihihii!” sahut Angel

“Jadi gua bisa entotin dia? Terus katanya ada aturan kalau ga mau boleh diperkosa kan Han?” tanyaku meyakinkan

"Yoi man! Rape her as the way you like it!" Hany memberiku semangat.

Aku segera keluar dari kamar Hany meninggalkannya dan Angel untuk mencari Amel tanpa memakai apa-apa, hanya sandal jepit. Seperti juga Hany, Amel adalah teman kampusku, bedanya Amel sefakultas denganku sedangkan Hany berbeda. Ia lebih tua empat bulan dariku dan terpaut satu angkatan di atasku. Kami pernah sekelas dalam dua mata kuliah, dari situlah aku mengenalnya walau tidak dekat. Maka ketika pertama kali masuk ke kost ini, ia adalah orang yang kukenal selain Indra. Dari situ kami semakin dekat karena aku kadang bertanya tentang kuliah dan juga pernah meminjam diktat darinya. Selama ini aku menganggapnya cewek baik-baik karena baik di kampus maupun di kost ia berpakaian biasa saja, tidak terbilang seksi, paling kalau malam pakai celana pendek atau kaos tanpa lengan, yang menurutku sih wajar. Memang aku pernah agak heran ketika suatu hari tidak sengaja aku melihat Bang Obar, si tukang air, keluar dari kamar Amel yang sebelumnya tertutup. Waktu itu sih tidak ada pikiran negatif, mungkin baru membantu Amel memperbaiki dispenser atau apa mungkin. Tidak kusangka ternyata ia anggota orgy club, yang berarti bisa dipakai. Amel memiliki wajah yang manis dengan postur sedang, sedikit lebih jangkung dari Hany. Payudaranya lumayan besar sehingga kalau sedang memakai kaos ketat akan tampak sangat menantang.


Amelia

Kulihat pintu kamar Amel setengah terbuka, tapi ia tidak ada di dalam. Hmmm...mungkin dia ke lantai atas untuk menjemur baju. Segera aku menaiki tangga ke atas. Benar saja Amel sedang mencuci. Saat kudatangi ia dalam posisi berjongkok membelakangiku dan memasukkan cucian ke dalam mesin cuci.

“Hah...Rico, mau apa?” ia membalik kaget begitu mendengar aku masuk dan menutup pintu.

"Hehehe...pura-pura ga tau ah lu Mel, kan aturan orgy club: setiap cewek jadi budak seks. kalau gak mau boleh diperkosa. Ya kan?" tanyaku berjalan mendekatinya

“Ehh...iya tapi...gak sekarang please...gua lagi ga pengen!” Amel terlihat panik sambil melangkah mundur.

“Makanya Mel, gua bikin lu kepengen deh, ketagihan malah hehehe!” aku semakin mendekatinya

Ketika Amel mundur untuk menghindar, dia langsung kepepet pada tembok di belakangnya. Saat itu dengan sigap kupeluk badannya yang ramping dan kudekap ke tubuhku.

“Jangan Ric...gila lu...jangan!!” Amel meronta berusaha lepas dariku.

Sementara aku melanjutkan aksiku. Tangaku menyingkap rok denimnya sehingga paha mulusnya terekspos, kuraba dan kurasakan kemulusannya hingga akhirnya tanganku menyentuh wilayah segitiga emasnya yang masih terbungkus celana dalam. Jariku dengan liar mengelus-elus wilayah sensitif itu, sebentar saja sudah terasa basah menembus celana dalamnya.

"Kok panik Mel? Lu juga kan anggota klub. Budak seks dong artinya!" kataku menggodanya.

"Ehh...tapi...eeemmm" belum sempat kalimatnya selesai bibirnya sudah kulumat.

Dia menggeleng-gelengkan kepala berusaha melepaskan bibirku dari bibirnya dan menjauhkan tanganku dari tubuhnya namun tidak berhasil karena aku lebih kuat. Kudesak dia ke dinding sambil terus melumat bibirnya, mulutnya masih terkatup belum mau membuka. Dia memberontak dan secara tiba-tiba dia berhasil lepas dari cengkeramanku. Namun dengan sigap aku berhasil meraih pergelangan tangannya, kudorong dan kuhimpit dia ke arah mesin cuci.

“Aaawww...sakit!!” erangnya saat kutelikung tangannya ke belakang.

Tanganku yang satu menyusup lewat bagian atas celana dalamnya dan mulai mengobok-obok di dalamnya. Aku merasakan bulu-bulu kemaluannya yang sangat lebat, di antara kerimbunan bulunya jariku segera mengarah ke belahannya dan menyeruak masuk.



“Aaahhh Ric!!” erangnya ketika kugesek-gesekkan jariku pada bibir vaginanya yang sudah becek.

Kuintensifkan serangan jariku pada vaginanya untuk menjinakkannya. Tubuhnya menggeliat-geliat menahan sensasi itu. Beberapa saat kemudian setelah merasa ia tidak terlalu memberontak lagi, aku melepaskan tangannya dan beralih menyingkap kaosnya sehingga kelihatan dada montoknya yang masih tertutup bra berwarna pink bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya. Kemudian kutarik ke atas cup branya dan terpampanglah kedua gunung kembar Amel yang indah dengan putingnya yang kemerahan tegang naik turun dengan cepat karena nafasnya sudah yang tidak teratur.

“Mel, gua entot sekarang ya, udah basah gini, lu juga konak kan wakaka!” sahutku sambil memeloroti celana dalamnya hingga ke lutut dan kutempelkan kepala penisku ke bibir vaginanya.

"Ooohh.., oohh.., jaanggaann.., jaannggaann!" tolaknya namun dengan suara mendesah

"Ssttt...jangan ribut Mel...tar kedengeran orang di luar, kita lagi outdoor loh, mendingan enjoy my cock, wether you like it or not!"

“Aaaaahh!” sebuah desahan panjang terlontar dari mulutnya saat kutekan penisku hingga amblas ke vaginanya.

Setelah semakin lama semakin penisku semakin lancar keluar masuk ke vaginanya karena daerah itu semakin berlendir. Aku dapat merasakan penisku masuk hingga menyentuh ke dalam rahimnya. Aku menyetubuhinya dengan tempo sedang sambil memberikan sentuhan-sentuhan erotis pada tubuhnya dengan lembut. Lama-lama dia pun terhanyut dalam permainan yang kupimpin dan mulai mengikuti iramanya. Kedua puting payudaranya kupilin-pilin sampai terasa semakin keras di tanganku. Kuperhatikan roman wajahnya yang manis itu semakin merah dan semakin menggairahkan kalau lagi horny begitu.

"Ooohh.. Mmmhh.." desah Amel mengiringi persetubuhan kami.

"Mel... Ssshh...asoy Mel!!" lenguhku, “lu suka kan dientotin gini?”

"Ngaco...siapa yang enjoy?" sahut Amel sewot

Hhhmmm...masih jaim juga nih cewek, akan kukerjai dia sampai takluk. Maka di tengah genjotan tiba-tiba aku berhenti dan kucabut perlahan penisku.



“Loh kok?” Amel membalik dan menatapku heran, terlihat sekali ia merasa kekecewa dan tanggung, ia pasti masih menginginkan penisku berada dalam relung kewanitaannya dan mengobok-oboknya dengan ganas.

“Loh kok apa Mel, kan katanya siapa yang enjoy?” kataku dengan senyum menggoda

Kupandangi wajah kecewa Amel sambil tetap meremas-remas payudaranya.

"Please...Ric!" ucapnya pelan.

“Please apa? Ngomong dong!” kataku terus menggodanya.

Jarinya bergerak menggantikan penisku bermain di sekitar kemaluannya. Digosok-gosoknya vaginanya yang sudah benar-benar becek itu. Ia benar-benar menginginkan penis ku terus mengobok-obok vaginanya. Sambil mengelus-elus dan mengeluar masukkan jari tangan kanannya ke dalam vaginanya, ia menggelinjang dan merintih. Sementara itu tangan kirinya mulai meremas-remas payudaranya sendiri.

"Please...perkosa guaa...entot gua...aahhh...perlakukan aku sesukamu Ric! " racau Amel tanpa malu-malu lagi.

Tidak pernah kusangka Amel yang terlihat seperti gadis alim itu bisa memohon seperti orang haus seks seperti ini. Penampilan memang seringkali menipu. Aku masih terus menggodanya, kupegang selangkangannya dan jariku bergerak mengocoki vaginanya menyebabkan ia semakin terbakar birahi dan semakin mendesis-desis serta menggeliat tak karuan. Kuangkat dagunya lalu aku mulai mencium mulutnya, kumainkan lidahnya. Sambil terus berciuman dan mendekap tubuhnya, aku menurunkan tubuhku hingga terduduk di sebelah mesin cuci dan bersandar ke tembok sementara Amel kini di pangkuanku. Mulutku turun ke dadanya dan menciumi payudaranya, kukenyot-kenyot kedua payudaranya bergantian sampai basah kuyup karena keringat dan juga air liurku.

“Naik sini Mel!” kataku sambil memegang penisku.

Tanpa buang-buang waktu, Amel pun menaiki batang kejantananku hingga benda itu terbenam dalam vaginanya.

"Aahh.. aahh..!" erangannya menahan nikmat.



Amel mulai menaik-turunkan tubuhnya dari tempo lambat berangsur-angsur naik dan cepat sekali sampai terdengar suara becek seiring dengan suara benturan alat kelamin kami. Slep.. slep...cplok.. cplok...demikian kira-kira bunyinya.Ekspresi wajahnya yang sedang menikmati genjotan penisku dalam vaginanya benar-benar seksi. Kedua payudaranya yang bergoyang-goyang di depan wajahku kembali kuhisap sekaligus kuhirup aroma tubuhnya yang berkeringat bercampur wangi parfumnya, membuat gairahku bertambah. Wajah Amel menengadah ke atas sambil terus mendesah, leher jenjangnya basah dengan keringat. Gerakan pinggul nya semakin tak beraturan, kadang berputar kadang naik-turun. Penisku pun makin basah oleh cairan yang keluar dari liang kemaluannya. Sambil terus bergerak naik-turun, ia meremasi rambutku dan menekan wajahku ke payudaranya

“Isepin Ric, isep yang kuat....aahhh enak!!” desahnya lirih.

Akupun mengenyot payudaranya semakin liar, tanganku juga terus menggerangi bagian tubuh lainnya.

Tak lama kemudian Amel merintih, "Ooh...Ric, gua mau keluar...uuhhhhh...".

Dengan menahan sekuat tenaga agar tidak orgasme duluan, aku yang tadinya pasif, kini menggerakkan pinggul menyambut genjotan dalam vaginanya. Dan....

"Arrggghhh....keluar Ric!!", Amel mendesah panjang seperti melepaskan suatu beban berat dalam dirinya.

Sedangkan aku hanya bisa menambah 2-3 sentakan lagi sebelum kutarik keluar penisku. Aku ingin keluar di mulutnya dan merasakan teknik oralnya.

“Isepin Mel!” kataku seraya menurunkan dia dari pangkuanku

Aku lalu berdiri sementara Amel berlutut di hadapanku meraih penisku yang sudah basah. Ia membuka mulutnya dan mengarahkan senjataku ke sana, dan....

"Aaakkhh.." erangku saat ia mulai mengulum kepala penisku.

"Eeemmmm.....mmhhh" gumam Amel saat mengulum penisku

Tangannya tidak diam saja, kadang mengocok, kadang membelai lembut batang penisku. Mataku setengah terpejam menikmati pelayanan mulut Amel terhadap penisku. Amel pun kelihatannya sangat menikmati mengoral penisku. Sensasi yang ditimbulkan akibat sapuan lidahnya pada kepala penisku membuatku tegang sehingga tanganku meremas rambut Amel. Tangan kananku meraih payudaranya dan memijatinya lembut, sementara tangan kiriku mengelusi kepalanya. Tidak sampai lima menit kemudian, spermaku muncrat di dalam mulutnya. Amel sempat kaget ketika penisku memuntahkan lahar putihnya karena aku tidak memberinya peringatan, tapi selanjutnya ia dapat menguasai semprotan-semprotan itu, tidak terlalu banyak memang karena sudah terkuras sebagian ketika bersama Hany dan Angeline sebelumnya. Mulutnya baru lepas ketika penisku berhenti ejakulasi dan menyusut. Setelah itu ia menelan semua sperma yang tersisa di mulutnya.



Setelah selesai, Amel bangkit, ia memungut bra dan celana dalamnya yang berceceran lalu dipakainya kembali dan merapikan kaos serta roknya yang telah tersingkap ke atas. Ia lalu memberikan kecupan ringan di bibirku

“Puas?” tanyanya
Aku hanya mengganguk kemudian memeluknya.

“Udah ah! Sekarang bantuin gua aja!” sahutnya melepaskan diri dari dekapanku.

Aku membantunya memasukkan cucian dalam ember ke mesin cuci sambil ngobrol-ngobrol santai menghilangkan kecanggungan diantara kita. Dia bercerita tentang awalnya masuk kost ‘gila’ ini, ternyata kasusnya mirip denganku, pacarnya diam-diam menduakannya dengan gadis lain setelah berhasil merebut keperawanannya. Seorang kakak kelas, yang dulu pernah kost disini tapi sudah keluar setelah lulus, yang mengajaknya ke sini. Di kost/ klub orgy ini Amel juga dapat melampiaskan sisi liar dalam dirinya, dimana ia merasa jenuh dengan imej cewek alim atau mahasiswi teladan. Status cewek alim tersebut juga memberinya nilai lebih karena lebih mewarnai kehidupan seks di klub ini. Ia juga mengaku sangat enjoy menjadi budak seks di klub ini, setidaknya untuk saat ini. Gilaaa....!! Dunia ini makin aneh aja.

“Jujur aja gua lebih suka diperkosa, langsung spontan gitu daripada dikasih rayuan-rayuan gombal, sok gentle ke gua yang ujung-ujungnya ngajak ML juga” demikian pengakuan Amel padaku, “di klub ini lah gua bisa menjadi diri gua yang lain selain sehari-hari yang membosankan itu”

Setelah memasukkan semua cucian ke mesin cuci lalu menyalakannya sambil ngobrol beberapa topik yang nggak jelas, aku mengajak Amel makan bareng karena memang sudah waktunya makan siang dan aku masih belum makan sejak bangun tadi, tentu perut keroncongan apalagi tenaga terkuras menggarap tiga wanita.

“Ih...ogah!” katanya sambil mengernyitkan dahi dan memandangku, “ntar gua dikira makan sama orang gila ga pake baju kaya gini!” lanjutnya sambil meremas penisku dan tersenyum.

“Eehhehe....ya gua pake baju dulu lah, yuk turun!” ajakku cengengesan

Bang Obar


Akhirnya kita turun bareng. Di bawah, sayup-sayup terdengar suara erangan dari kamar Angeline yang terletak dekat tangga, pintunya tidak tertutup benar sehingga suara itu semakin terdengar ketika kami makin mendekatinya.

“Wah Kak Angel keliatannya lagi asyik tuh Mel, padahal baru pulang dia!” kataku

“Liat aja kalau mau, ga usah malu-malu gitu!” kata Amel sambil dengan santainya mendorong pintu kamar Angeline hingga terbuka.

Aku langsung terpana melihat adegan di atas ranjang dimana Angel sedang berdogie-style dengan Bang Obar, si tukang air, sambil menjilati vagina Hany yang duduk bersandar pada kepala ranjang dengan mengakangkan kedua kakinya. Ketiganya hanya menoleh sebentar ke arah pintu dan melanjutkan pergumulan mereka ketika melihat yang datang adalah kami.

“Dah biasa kok di sini, asal liat situasi aja” kata Amel, “lu orang mau titip apa ga? Kita mau keluar makan nih” tanyanya pada Hany dan Angel yang sedang asyik berthreesome

“Emang mau pada kemana nih? Eeeemmmh!” tanya Hany yang sedang menikmati jilatan Angel pada vaginanya.

“Paling ke pujasera seberang warnet itu Han” jawabku

“Kalo gitu...titip pempek ya...aahh....dua kapal selam besar, yang pedes...aaahhh....iyah Kak, jilat lebih dalam!” desahnya sambil meremas rambut Angel

Sementara itu Angel masih ditunggangi oleh Bang Obar yang terus memompa lubang vaginanya dengan tusukan-tusukan yang keras sehingga tubuh telanjangnya tersentak-sentak dan terkadang bibir luar kemaluannya ikut melesak masuk karena kecepatan sodokan penis pria itu, ditambah lagi ukurannya lumayan besar. Payudara Angel yang indah itupun tak lepas dari sasaran Bang Obar, kedua daging kenyal itu diremas dengan penuh nafsu oleh si pengantar air tersebut dari belakang sembari sesekali meremas dan menampar pantatnya.

“Enak kan Non Angel? udah lama gak ketemu, Abang kangen banget nih” sahur Bang Obar, “Ayo ikutan aja sini daripada bengong gitu!” ajaknya pada kami.

“Ngga ah, laper, cape, lagian di dalem udah sempit gitu!” jawab Amel dengan santai, “gih...lu pake baju dulu Ric!” ia menyapukan pandangan

“Okay....tunggu ya Mel!”

Pak Kasimun


Aku buru-buru ke kamar untuk segera berpakaian. Setelah memakai baju dan celana kupastikan HP dan dompet sudah masuk ke celana, lalu aku masuk ke kamar mandi di kamarku untuk pipis dan merapikan rambut. Merasa sudah cukup berbenah diri, aku pun siap berangkat. Tapi sebelum aku melangkahkan kaki keluar kamar aku sudah tercekat melihat Pak Kasimun tengah mendekap tubuh Amel dari belakang sambil menciumi leher jenjangnya. Mata Amel setengah terpejam menikmati belaian Pak Kasimun pada tubuhnya, tangannya terlihat mengelus-elus selangkangan si penjaga kost itu dari luar celananya. Sementara tangan Pak Kasimun menyingkap rok denimnya dan mengelusi paha mulusnya, tangan satunya menyingkap kaos Amel hingga bra-nya terlihat lalu dengan lincah menyusup ke balik cup bra itu. Penasaran dan nafsu, aku menunda keluar dan terus mengintip dari jendela kamarku.

“Eeenngghh!” Amel mendesah lebih keras ketika tangan Pak Kasimun masuk ke balik celana dalamnya dan mengobok-obok di sana, “jangan sekarang Pak, mau keluar dulu nih!” erangnya lirih.

“Sebentar aja Non, kan Den Rico nya juga masih beres-beres di kamar tuh” jawab pria itu sambil melirik ke kamarku, namun tidak melihatku karena aku mengintip melalui celah antara tirai yang menutupi jendela kamar.

Aku terangsang dan penasaran untuk melihat tindakan mereka berdua lebih jauh tapi tidak tahu kenapa, kok saat itu ada rasa cemburu dalam diriku melihat Amel diperlakukan seperti itu, oleh penjaga kost bertampang di bawah standar itu pula. Apakah mulai timbul rasa suka pada Amel dalam hatiku? Padahal selama ini aku tidak pernah menaruh perasaan tersebut terhadapnya walau memang kuakui kecantikan dan prestasinya yang cukup lumayan di kampus. Namun saat ini aku memutuskan untuk terus menyaksikan mereka tanpa berusaha menghentikannya. Pak Kasimun mendorong tubuh Amel hingga terhimpit pada tembok di sebelah pintu kamar Angeline, kemudian tangannya dengan lincah menurunkan celana dalam Amel hingga ke lutut dan kakinya menggeser sedikit kedua kaki Amel agar lebih membuka. Setelahnya, pria itu dengan buru-buru membuka resleting celananya dan mengeluarkan penisnya. Wah benda itu lumayan gede juga dan masih ngaceng.

"Oghh.." kudengar lenguhan Pak Kasimun saat ujung penisnya melesak ke vagina Amel.

"Hkk.. Hh.. Shh.. Ouchh" Amel juga mendesis tercekat.

Pak Kasimun sepertinya agak kesulitan mendorong penisnya masuk ke dalam liang vagina Amel yang lumayan peret itu. Berkali-kali ia terus mendorong batang penisnya. Amel pun ikut membantunya dengan menggeser pantatnya hingga penis pria itu terdorong masuk. Tubuhku gemetar karena terangsang menonton adegan mereka



"Ouchh.. Hhahh.." desahan Amel semakin nyaring terdengar

Dengan pelan Pak Kasimun kembali menarik penisnya dari liang vagina Amel lalu didorongnya lagi hingga bertambah dalam batang itu menerobos masuk ke dalam vagina Amel yang sudah mulai bisa beradaptasi. Kini mulailah si penjaga kost itu bergerak maju mundur dengan cepat. Tangan Pak Kasimun yang tadinya berpegangan pada kedua sisi pinggul Amel mulai menyusup ke balik branya yang sudah tersingkap dan bergerak meremas kedua payudaranya. Tubuh Amel menggelinjang saat menikmati sodokan Pak Kasimun dengan tempo cepat itu ditambah remasan pada payudaranya. Sungguh pemandangan yang sexy. Posisi bersetubuhnya persis seperti ketika denganku di tempat jemuran tadi. Setelah kurang lebih lima menit menyaksikan adegan yang mendebarkan itu, perasaanku sungguh campur aduk antara horny dan juga cemburu.

"Aauw..aaauww...udah mau Pak!" erang Amel sambil mendongakkan kepalanya,

“Bapak juga Non...uuuhh enaknya memek Non!” sahut Pak Kasimun sambil mempercepat kocokan penisnya

Tak lama kemudian tampak tubuh Amel mengejang diiringi erangan panjangnya "Aahh.. aakkhh.. oohh keluaar Pak!" matanya membeliak-beliak dan mulutnya terbuka menganga lebar.

Kini aku pun keluar dari pengintaian menghampiri mereka. Kulihat mereka sepertinya biasa saja kupergoki dalam keadaan seperti itu,

"Ooppss...Den Rico" sapa Pak Kasimun "selamat yah Den, akhirnya masuk jadi anggota juga" katanya.

“Uuuhh...lama amat sih, jadi aja gua keburu dientot sama Pak Kasimun tuh” Amel sedikit mengomel sambil merapikan kembali pakaiannya, “Yuk buruan, gua laper nih!”

Di dalam kamar sana, pergumulan panas masih berlanjut, kini Hany sedang naik turun di atas penis Bang Obar sementara Angel berlutut di atas wajah si pengantar air itu berhadapan dengan Hany, keduanya berpelukan saling berpagutan bibir dan saling raba tubuh masing-masing. Bang Obar yang berbaring telentang di bawah kedua wanita itu sepertinya enjoy banget melumat dan mengorek-ngorek vagina Angel sambil menikmati penisnya dikocok-kocok oleh vagina Hany. Adegan selanjutnya terputus karena Amel menutup pintu kamar itu dan menarik lenganku agar segera beranjak dari situ.

“Ntar malem yah Non! Hehehe...bapak tunggu nih!” goda Pak Kasimun sambil meremas pantat Amel.

“Yah, asal saya udah selesai bikin tugas kuliah deh” jawab Amel asal

Kuraih tangan Amel dan berlalu dari situ. Saat kugenggam tangannya kurasakan jantungku berdegub lebih cepat, apakah memang benar mulai timbul rasa suka pada Amel? Aku belum bisa menjawabnya, biarlah semua berjalan secara alami saja. Yang pasti sekarang ini aku ingin makan dulu mengisi perut dan mereload tenagaku sebelum cerita ini berlanjut.

By: Caligula