Showing posts with label Pemaksaan. Show all posts
Showing posts with label Pemaksaan. Show all posts

[Image]"kemari kau pelacur! berjalan merangkak seperti anjing" perintahnya, sambil tertawa menghinaku, "baik nyonya" jawabku patuh atas perintahnya. "Aku tidak mengerti telah melihat penis yang kecil seperti milikmu. Kamu seharusnya lahir sebagai seorang gadis, tapi jangan khawatir pelacur, aku punya rencana untuk membuat apa yang seharusnya kamu harus dilahirkan, untuk menjadi pembersih vagina nyonyamu, mematuhi seperti yang nyonyamu inginkan. Berdiri!, aku ingin memeriksa lagi tubuhmu".

Nyonya berjalan sambil membawa tabung hair remover, jadi aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. "Pakai ini untuk seluruh tubuhmu dari leher ke bawah. Perhatikan daerah kemaluan dan kaki. pelacur harus punya kulit halus", ia berkata sambil tersenyum. Setelah memakai di mana-mana, bahkan sampai selangkanan anusku tapi, aku harus tetap berdiri sampai aku diberi izin untuk membilasnya. Hampir setengah jam lamanya hingga kulitku terasa terbakar, membuatku menangis.kini dia sudah tidak melihat adanya bulu ditubuh saya lagi.

Setelah diijinkan membilas, nyonya memberiku sebotol krim badan yang wangi dan mengatakan untuk memakainya setiap malam sebelum tidur. "Besok kamu akan mulai menjadi seorang wanita.
 Aku juga ingin kamu berlatih berbicara dengan suara feminin. Kamu tidak cukup jantan memiliki suara laki-laki dengan tubuh kecil girly dan penis kecilmu. Ketika aku pulang, aku mau kau menyambutku di pintu mengenakan pakaian girlymu dengan kepala menunduk ke bawah, untuk menunjukkan Mistressmu adalah satu-satunya hal yang penting dalam hidupmu yang tak berharga."

Setiap aku membuat kesalahan, nyonya akan menghukum saya dengan menyuruh saya berdiri di sudut dan memberi beberapa cambukan. Dia punya dua teman wanita pada hari Jumat malam, dan aku diberitahu bahwa aku akan menjadi hiburan untuk mereka. Aku disuruh mengenakan baju pelayan lengkap dengan stocking dan sepatu hak tinggi, dan melayani mereka minum dengan berlutut di depan mereka menunggu perintah berikutnya.

Ketika mereka telah banyak minum, nyonya menyuruhku untuk berdiri dan menanggalkan pakaianku. Dia ingin teman-temannya untuk melihat penis kecil budaknya. Aku melakukan apa yang dia katakan, dengan air mata mengalir di wajahku terhadap penghinaan yang mereka lakukan padaku. Mereka semua tertawa, mengatakan mereka belum pernah melihat penis kecil pada seseorang seusia saya. nyonya mengatakan mulai sekarang aku harus menyebut anusku sebagai vagina .

Setelah aku berlutut, aku disuruh untuk menjilat kaki mereka dengan lidahku. Aku harus membersihkan berulang kali atau aku akan dihukum berat. Pada saat tamunya pulang dan nyonya pergi tidur. aku harus membersihkan rumah, mencuci peralatan minum .sebelum aku pergi tidur aku mengatur alarm agar aku bangun sebelum majikanku, hingga punya waktu mandi, berdadan seperti pelayan dengan riasan sederhana dan menyiapkan sarapannya.

"kamu sudah melakukan pekerjaan yang kuperintahkan tadi malam" tanya nyonya, aku mennganguk sambil memberikan dia pedicure dan mempolis kukunya. "Aku akan pergi keluar nanti malam, dan aku berharap kamu berpakaian yang rapi sebagai wanita pelayan, ketika aku pulang. Sekarang kamu istirahat karena kita akan memiliki malam panjang" Sambil menyuruhku masuk ke kandang yang mirip kandang anjing, saya hanya memikirkan seperti apa perlakuannya lagi..

Sekitar jam 12:30 malam. nyonya tiba tapi aku terkejut ia didampingi oleh seorang wanita yang tinggi besar kulitnya gelap dan sedikit berotot yang menunjukkan dia adalah orang yang harus dipatuhi. "Dia adalah tamuku yang juga harus kamu patuhi dan kamu boleh berbicara ketika ditanya atau kalau tidak dia akan menyumpal mulutmu dengan kaos kakinya yang telah dipakai 2 harian. Buatkan kami masing-masing minuman dan berlutut di depan Mistressmu," perintahnya.

Ketika aku kembali dengan minuman, teman nyonya meraba celana dalamku, mengatakan ia belum pernah melihat pelacur sepertiku. "Angkat pakaianmu dan biarkan aku melihat clit diselangkangan kakimu." Ketika aku melakukannya, dia tertawa sama dengan gadis-gadis yang ada di sini semalam. "Berbalik buka mulutmu dan menungging supaya aku bisa melihat vaginamu.sambil mengelus anusku dia berkata. "Aku sudah menyiapkan penis buatan yang jauh lebih besar dari penismu,"

Setelah selesai mereka minum, aku disuruh mengikuti mereka ke kamar tidur nyonya. Ketika mereka duduk di tempat tidur, nyonya memintaku untuk mengganti pakaianku, nyonya memberiku kaos kaki putih selutut, bra warna pink yang berendra dan Lingerie pink yang transnparan. nyonya memoleskan make up yang agak tebal bulu, mata palsu. entah mengapa selama memakai perlengkapan wanita, penisku selalu tegang. "kini kamu tampak cantik sekali lonte, kita akan bersenang senang denganmu malam ini" Aku disuruh membuka celana teman nyonyaku. Ketika aku membuka celananya, aku melihat penis palsu hitam besar yang terpakai seperti celana dalam yang terikat dipingggang. Sambil menamparkan penis palsu itu di wajahku, nyonya menertawakan dan menghinaku, mengatakan bahwa penis itu seperti ini. Bukan penis kecil seperti budak pelacur sepertimu.

Nyonya berbaring di tempat tidur menyuruhku menjilati vaginanya. Aku hanya bisa menuruti perintahnya, aku tidak ingin tubuhku jadi sasaran cambuk nyonyaku lagi. Aku merasa lidahku basah oleh cairan yang kekuar dari vaginanya. Setelah itu teman nyonyaku memasukkan penisnya kedalam vaginanya mereka melakukan adegan lesbian tampak mereka begitu menikmatinya sampai nyonyaku medesah desah dan ...dia menjerit dengan kenikmatanya .mereka tampak saling berpelukan sesaat.kini mereka bangkit dan menatapku. Giliranmu sekarang pelacur murahan "berlutut dilantai!" perintahnya. Nyonyaku berjalan ke arah lemari seperti mengambil sesuatu .tampak dia mengeluarkan tali dan dildo ikat pinggang seperti punya temannya dengan ukuran yang lebih kecil. Tanpa berkata dia mengikat erat tanganku kebelakang dan teman nya mulai memasukkan penis palsu yang masih basah oleh cairan nyonya kemulutku "bersihkan ini pelacur!". Diikuti nyonya yang ikut ikutan menjejalkan penisnya kemulutku sesekali mereka memencet hidungku hingga aku sulit bernafas karena mulutku pun penuh dengan dua penis membuatku mau muntah. Aku merasa begitu terhina atas perlakuan mereka yang mengubahku sebagai wanita pelacur dengan paksa, aku tahu itu yang diinginkan nyonya.

Nyonya mendesah menumpahkan air kencing ke dalam mulutku.kini nyonya memerintahku untuk naik ketempat tidur dengan posissi nungging, aku merasa ada cairan yang dioleskan ke anusku "tenang pelacurku, aku akan memberikan kenikmatan untuk vagina barumu ini" perlahan dia memasukkan penisnya kedalam anusku yang makin lama makin masuk kedalam lalu menariknya kembali, ia lakukan berulang ulang .Sementara nyonya sibuk memompa anusku, temannya menjambak rambutku dan memasukan penisnya lagi kedalam mulutku .Mereka berdua sangat sibuk memommpa anus dan mulutku. Tiba tiba nyonya berhenti dan pindah kedepan "jilat dan bersihkan ini" sambil menjambak rambutku hingga kepalaku tedongak keatas .Aku sangat jijik untuk melakukannya, tapi nyonya tampaknya tahu itu dan plaaaak...tamparan mendarat dipipiku, aku terpaksa menuruti kemauanya.

Setelah aku menjilati penisnya dia menyuruh temannya untuk memasukkan penisnya ke anusku, dengan kasar dia menarik tubuhku yag lebih kecil ke posisi nungging lagi. Tampaknya dia lebih kasar dari nyonyaku dia langsung menusukan penis itu keanusku yang membuat aku spontan menjerit karena aku mersa kesakitan dengan ukuran yang lebih besar dari nyonyaku. Tampaknya mereka tidak senang dengan jeritanku tadi, nyonya mengambil kaos kaki temannya dan menyumpalkan kemulutku, membuka sebelah kaos kakiku sebagai pengikatnya. Mulutku penuh dengan kaos kaki tebal yang aku bisa cium baunya setelah terpakai belum tercuci. Kini aku begitu tak berdaya dengan tangan terikat dan mulut tersumpal mereka bebas bermain dengan anusku, hanya air mata yang bisa mengurangi sedikit rasa perih di anusku.

Setelah mereka bosan dengan anusku dengan kasar mereka membawaku kelantai, aku dibaringkan dilantai telingaku disumbat, mataku ditutup dengan alat mirip perban aku dililit dari kaki hingga kepala, aku hanya merasa mulut, hidung dan area penisku yang masih terbuka. Aku membayangkan diriku pasti mirip mummi. Aku merasa mereka memainkan penisku, terasa penisku masuk ke mulut mereka dan dihisap, mungkin mereka melakukan sambil tertawa aku tak tahu, karena aku tidak dapat melihat dan mendengar. Beberapa saat kemudian cairan sperma pun muncrat dari penisku, tubuhku menggeliat menahan kenikmatan yang aku rasakan, dengan senyum di wajah aku ingin melayani nyonyaku selamanya.

Tamat

Cerita ngentot | Cerita dewasa | Cerita dewasa hot sebelumnya : Cerita ngewe di Perkosa Supir Pribadi | Bab 2

“Ouh.. jadi kamu sudah merencanakannya, sialan kamu Jo!!!!” ucapku dengan terkejut, ternyata diam-diam supirku sudah lama merencanakannya.
“Bagaimana Bu Tari..?”
“Bagaimana apanya? Sekarang kamu lepasin saya Jo..” kataku masih dengan nada kesal dan gemas.
“Maksudnya, tadi waktu di Entotin enak kan?” tanyanya lagi sambil membelai rambutku.
Wajahku langsung merah padam mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh supirku, namun dalam hati kecilku tidak dapat kupungkiri walaupun tadi dia sudah memperkosa dan menjatuhkan derajatku sebagai majikannya, namun aku sendiri turut menikmatinya bahkan aku sendiri merasakan organsime dua kali.

“Kok ngak dijawab sich!” tanya supirku lagi.
“Iya..iya, tapi sekarang lepasin talinya dong Jo!” kataku dengan menggerutu karena tanganku sudah pegal dan kaku.
“Nanti saja yach! Sekarang kita mandi dulu!” ucapnya sambil langsung menggendong tubuhku dan membawa ke kamar mandi yang berada di samping tempat ranjangku.

Tubuhku yang masih lemah lunglai dengan kedua tangan dan kakiku yang masih terikat itu diletakkan di atas lantai keramik berwarna krem muda yang dingin tepat di bawah pancuran shower yang tergantung di dinding. Setelah itu supirku menyalakan lampu kamar mandiku dan menyalakan kran air hingga tubuhku basah oleh guyuran air dingin yang turun dari atas pancuran shower itu. Melihat tubuhku yang sudah basah dan terlihat mengkilat oleh pantulan lampu kamar mandi lalu Bejo supirku berjongkok dekatku dan kemudian duduk di sampingku hingga tubuhnya pun turut basah oleh air yang turun dari atas.


Mata supirku yang memandangiku seperti terlihat lain dari biasanya, dia mulai mengusap rambutku yang basah ke belakang dengan penuh sayang seperti sedang menyayang seorang anak kecil. Lalu diambilnya sabun Lux cair yang ada di dalam botol dan menumpahkan pada tubuhku lalu dia mulai menggosok-gosok tubuhku dengan telapak tangannya. Pinggulku, perutku lalu naik ke atas lagi ke Toket ku kiri dan kemudian ke Toket ku yang kanan. Tangannya yang terasa kasar itu terus menggosok dan menggosok sambil bergerak berputar seperti sedang memoles mobil dengan cairan kits. Sesekali dia meremas dengan lembut buah dada dan punting susuku hingga aku merasa geli dibuatnya, lalu naik lagi di atas Toket ku, pundakku, leherku lalu ke bahuku, kemudian turun lagi ke lenganku.

“Ah.. mas..” pekikku ketika tangannya kembali turun dan turun lagi hingga telapak tangannya menutup bibir Memek ku.
Kurasakan telapak tangannya menggosok-gosok bibir Memek ku naik turun dan kemudian membelah bibir Memek ku dengan jemari tangannya yang lincah dan cekatan dan kembali menggosok-gosokkannya hingga sabun Lux cair itu menjadi semakin berbusa.

Setelah memandikan tubuhku lalu dia pun membasuh tubuhnya sendiri sambil membiarkan tubuhku tetap bersandar di bawah pancuran shower. Usai membersihkan badan, supirku lalu menggendongku keluar kamar mandi dan menghempaskan tubuhku yang masih basah itu ke atas kasur tanpa melap tubuhku terlebih dahulu.
“Saya akan bawakan makanan ke sini yach!” ucapnya sambil supirku melilit handuk yang biasa kupakai kepinggangnya lalu ngeloyor ke luar kamarku tanpa sempat untuk aku berbicara. Sudah tiga tahun lebih aku tidak pernah merasakan kehangatan yang demikian memuncak, karena keegoisan suamiku yang selalu sibuk dengan pekerjaan. Memang dalam hal keuangan aku tidak pernah kekurangan. Apapun yang aku mau pasti kudapatkan, namun untuk urusan kewajiban suami terhadap istrinya sudah lama tidak kudapatkan lagi.

Entah mengapa perasaanku saat ini seperti ada rasa sedang, gembira atau.. entah apalah namanya. Yang pasti hatiku yang selama ini terasa berat dan bosan hilang begitu saja walaupun dalam hati kecilku juga merasa malu, benci, sebal dan kesal. Supirku cukup lama meninggalkan diriku sendirian, namun waktu kembali rupanya dia membawakan masakan nasi goreng dengan telor yang masih hangat serta segelas minuman kesukaanku. Lalu tubuhku disandarkan pada teralis ranjang.

“Biar saya yang suapin Bu Tari yach!” ucapnya sambil menyodorkan sesendok nasi goreng yang dibuatnya.
“Kamu yang masak Jo!” tanyaku ingin tahu.
“Iya, lalu siapa lagi yang masak kalau bukan saya, kan di rumah cuma tinggal kita berdua, si Wati kan udah saya suruh pulang duluan sebelum hujan tadi turun!” kata supirku.
“Ayo dicicipi!” katanya lagi.

Mulanya aku ragu untuk mencicipi nasi goreng buatannya, namun perutku yang memang sudah terasa lapar, akhirnya kumakan juga sesendok demi sesendok. Tidak kusangka nasi goreng buatannya cukup lumanyan juga rupanya. Tanpa terasa nasi goreng di piring dapat kuhabisi juga.
“Bolehkan saya memanggil Bu Tari dengan sebutan mbak?” tanyanya sambil membasuh mulutku dengan tissue.
“Boleh saja, memang kenapa?” tanyaku.
“Engga apa-apa, biar enak aja kedengaran di kupingnya.”

Kalau saya boleh manggil Mbak Tari, berarti Bu Tari eh.. salah maksudnya Mbak Tari, panggil saya Bang aja yach!” celetuknya meminta.
“Terserah kamu saja ” kataku.
“Sudah nggak capai lagi kan Mbak Tari!” sahut supirku.
“Memang kenapa!?” tanyaku.
“Masih kuatkan?” tanyanya lagi dengan senyum binal sambil mulai meraba-raba tubuhku kembali.
Aku tidak memberi jawaban lagi, hanya menunduk malu, tadi saja aku diperkosanya malah membuatku puas disetubuhinya apalagi untuk babak yang kedua kataku dalam hati. Sejujurnya aku tidak rela tubuhku diperkosanya namun aku tidak mampu untuk menolak permintaannya yang membuat tubuhku dapat melayang-layang di udara seperti dulu saat aku pertama kali menikah dengan suamiku.

Cerita ngewe di Perkosa Supir Pribadi, TAMAT!!

Cerita Dewasa nafsu birahi sebelumnya : Cerita ngewe di Perkosa Supir Pribadi

“Tapi malam ini Bu Tari harus mau melayani saya,” katanya sambil terus mendengus-denguskan hidungnya di seputar telingaku hingga tubuhku merinding dan geli.
Setelah supirku melepas pakaiannya sendiri lalu tubuhku dibaliknya hingga telentang. Aku dapat melihat tubuh polosnya itu. Tidak lama kemudian supirku menarik kakiku sampai pahaku melekat pada perutku lalu mengikatkan tali lagi pada perutku. Tubuhku kemudian digendongnya dan dibawanya ke pojok bagian kepala ranjang lalu dipangkunya di atas kedua kaki yang diselonjorkan, mirip anak perempuan yang tubuhnya sedang dipeluk ayahnya. Tangan kirinya menahan pundakku sehingga kepalaku bersandar pada dadanya yang bidang dan terlihat otot dadanya berbentuk dan kencang sedangkan tangan kanannya meremasi kulit pinggul, pahaku dan pantatku yang kencang dan putih bersih itu.

“Bejo.. jangan Jo.. jangan!” ucapku berulang-ulang dengan nada terbata-bata mencoba mengingatkan pikirannya.
Namun Bejo, supirku tidak memperdulikan perkataanku sebaliknya dengan senyum penuh nafsu terus saja meraba-raba pahaku.

“Ouh.. zzt.. Euh..” desisku panjang dengan tubuh menegang menahan geli serta seperti terkena setrum saat kurasakan tangannya melintasi belahan kedua pahaku.
Apalagi telapak dan jemari tangannya berhenti tepat di tengah-tengah lipatan pahaku.
“Mass.. Eee” rintihku lebih panjang lagi dengan bergetar sambil memejapkan mata ketika kurasakan jemarinya mulai mengusap-usap belahan bibir Memek ku. Tangan Mas Bejo terus menyentuh dan bergerak dari bawah ke atas lalu kembali turun lagi dan kembali ke atas lagi dengan perlahan sampai beberapa kali. Lalu mulai sedikit menekan hingga ujung telunjuknya tenggelam dalam lipatan bibir Memek ku yang mulai terasa berdenyut-denyut, gatal dan geli.


Tangannya yang terus meraba dan menggelitik-gelitik bagian dalam bibir Memek ku membuat birahiku jadi naik dengan cepatnya, apalagi sudah cukup lama tubuhku tidak pernah mendapatkan kehangatan lagi dari suamiku yang selalu sibuk dan sibuk. Entah siapa yang memulai duluan saat pikiranku sedang melayang kurasakan bibirku sudah beradu dengan bibirnya saling berpagut mesra, menjilat, mengecup, menghisap liur yang keluar dari dalam mulut masing-masing.
“Ouh.. Tari.. wajahmu cukup merangsang sekali Tari..!” ucapnya dengan nafasnya yang semakin memburu itu.

Setelah berkata begitu tubuhku ditarik hingga Toket ku yang menantang itu tepat pada mukanya dan kemudian, “Ouh.. mas..” rintihku panjang dengan kepala menengadah kebelakan menahan geli bercampur nikmat yang tiada henti setelah mulutnya dengan langsung memagut Toket ku yang ranum itu. Kurasakan mulutnya menyedot, memagut, bahkan menggigit-gigit kecil punting susuku sambil sekali-kali menarik-narik dengan giginya.

Entah mengapa perasaanku saat itu seperti takut, ngeri bahkan sebal bercampur aduk di dalam hati, namun ada perasaan nikmat yang luar biasa sekali seakan-akan ada sesuatu yang pernah lama hilang kini kembali datang merasuki tubuhku yang sedang dalam keadaan tidak berdaya dan pasrah. “Bruk..” tiba-tiba tangan Mas Bejo melepaskan tubuhku yang sedang asyik-asyiknya aku menikmati sedalam-dalamnya tubuhku yang sedang melambung dan melayang-layang itu hingga tubuhku terjatuh di atas ranjang tidurku. Tidak berapa lama kemudian kurasakan bagian bibir Memek ku dilumat dengan buas seperti orang yang kelaparan. Mendapat serangan seperti itu tubuhku langsung menggelinjang-gelinjang dan rintihan serta erangan suaraku semakin meninggi menahan geli bercampur nikmat sampai-sampai kepalaku bergerak menggeleng ke kanan dan ke kiri berulang-ulang. Cukup lama mulutnya mencumbu dan melumati bibir Memek ku terlebih-lebih pada bagian atas lubang Memek ku yang paling sensitif itu.

“Bejo.. sudah.. sudah.. ouh.. ampun Aar.. Jo..” rintihku panjang dengan tubuh yang mengejang-ngejang menahan geli yang menggelitik bercampur nikmat yang luar biasa rasanya saat itu. Lalu kurasakan tangannya pun mulai rebutan dengan bibirnya. Kurasakan jarinya dicelup ke dalam lorong kecil Memek ku dan mengorek-ngorek isi dalamnya.
“Ouh.. Jo..” desisku menikmati alur permainannya yang terus terang belum pernah kudapatkan bahkan dengan suamiku sendiri.
“Sabar Tar.., saya suka sekali dengan lendirmu sayang!” suara supirku yang setengah bergumam sambil terus menjilat dan menghisap-hisap tanpa hentinya sampai beberapa menit lagi lamanya.
Setelah puas mulutnya bermain dan berkenalan dengan bibir Memek ku yang montok itu si Bejo lalu mendekati wajahku sambil meremas-remas Toket ku yang ranum dan kenyal itu.
“Bu Tari.., saya entot sekarang ya.. sayang..” bisiknya lebih pelan lagi dengan nafas yang sudah mendesah-desah. “Eee..” pekikku begitu kurasakan di belahan pangkal pahaku ada benda yang cukup keras dan besar mendesak-desak setengah memaksa masuk belahan bibir Memek ku.
“Tenang sayang.. tenang.. dikit lagi.. dikit lagi..”
“Aah.. sak.. kiit..!” jeritku keras-keras menahan ngilu yang amat sangat sampai-sampai terasa duburku berdenyut-denyut menahan ngilunya. Akhirnya batang kontol supirku tenggelam hingga dalam dibalut oleh lorong Memek ku dan terhimpit oleh bibir Memek ku.

Beberapa saat lamanya, supirku dengan sengaja, Kontol nya hanya didiamkan saja tidak bergerak lalu beberapa saat lagi mulai terasa di dalam liang Memek ku Kontol nya ditarik keluar perlahan-lahan dan setelah itu didorong masuk lagi, juga dengan perlahan-lahan sekali seakan-akan ingin menikmati gesekan-gesekan pada dinding-dinding lorong yang rapat dan terasa bergerenjal-gerenjal itu. Makin lama gerakannya semakin cepat dan cepat sehingga tubuhku semakin berguncang dengan hebatnya sampai, “Ouhh..”
Tiba-tiba suara supirku dan suaraku sama-sama beradu nyaring sekali dan panjang lengkingannya dengan diikuti tubuhku yang kaku dan langsung lemas bagaikan tanpa tulang rasanya. Begitu pula dengan tubuh supirku yang langsung terhempas kesamping tubuhku.

“Sialan kamu Jo!” ucapku memecah kesunyian dengan nada geram.
Setelah beberapa lama aku melepas lelah dan nafasku sudah mulai tenang dan teratur kembali.
“Kamu gila Jo, kamu telah memperkosa istri majikanmu sendiri, tau!” ucapku lagi sambil memandang tubuhnya yang masih terkulai di samping sisiku.
“Bagaimana kalau aku hamil nanti?” ucapku lagi dengan nada kesal.
“Tenang Bu Tari.., saya masih punya pil anti hamil, Bu Tari.” ucapnya dengan tenang.
“Iya.. tapi kan udah telat!” balasku dengan sinis dan ketus.
“Tenang bu.. tenang.. setiap pagi ibu kan selalu minum air putih dan selama dua hari sebelumnya saya selalu mencampurkan dengan obatnya jadi Bu Tari enggak usah khawatir bakalan hamil bu,” ucapnya malah lebih tenang lagi.

Cerita ngewe di Perkosa Supir Pribadi | Bab 2 Bersambung...

Cerita ngewe di Perkosa Supir Pribadi | Bab 1 :

Namaku Tari, umurku sudah tiga puluh lima tahun dengan dua orang anak yang sudah beranjak dewasa. Waktu menikah umurku masih sembilanbelas tahun dan sekarang anakku yang paling tua sudah berumur limabelas tahun sedang yang bungsu berumur tigabelas tahun. Kedua buah hatiku disekolahkan di luar negeri semua sehingga di rumah hanya aku dan suami serta dua orang pembantu yang hanya bekerja untuk membersihkan perabot rumah serta kebun, sementara menjelang senja mereka pulang.

Suamiku sebagai seorang usahawan memiliki beberapa usaha di dalam dan luar negri. Kesibukannya membuat suamiku selalu jarang berada di rumah. Bila suamiku berada di rumah hanya untuk istirahat dan tidur sedang pagi-pagi sekali dia sudah kembali leyap dalam pandangan mataku. Hari-hariku sebelum anakku yang bungsu menyusul kakaknya yang sudah lebih dulu menuntut ilmu di luar negeri terasa menyenangkan karena ada saja yang dapat kukerjakan, entah itu untuk mengantarkannya ke sekolah ataupun membantunya dalam pelajaran. Namun semenjak tiga bulan setelah anakku berada di luar negeri hari-hariku terasa sepi dan membosankan. Terlebih lagi bila suamiku sedang pergi dengan urusan bisnisnya yang berada di luar negeri, bisa meninggalkan aku sampai dua mingguan lamanya.

Aku tidak pernah ikut campur urusan bisnisnya itu sehingga hari-hariku kuisi dengan jalan-jalan ke mall ataupun pergi ke salon dan terkadang melakukan senam. Sampai suatu hari kesepianku berubah total karena supirku. Suatu hari setibanya di rumah dari tempatku senam supirku tanpa kuduga memperkosaku.



Seperti biasanya begitu aku tiba di dalam rumah, aku langsung membuka pintu mobil dan langsung masuk ke dalam rumah dan melangkahkan kakiku menaiki anak tangga yang melingkar menuju lantai dua dimana kamar utama berada. Begitu kubuka pintu kamar, aku langsung melemparkan tasku ke bangku yang ada di dekat pintu masuk dan aku langsung melepas pakaian senamku yang berwarna hitam hingga tinggal kutang dan kancut saja yang masih melekat pada tubuhku. Saat aku berjalan hendak memasuki ruang kamar mandi aku melewati tempat rias kaca milikku. Sesaat aku melihat tubuhku ke cermin dan melihat tubuhku sendiri, kulihat betisku yang masih kencang dan berbentuk mirip perut padi, lalu mataku mulai beralih melihat pinggulku yang besar seperti bentuk gitar dengan pinggang yang kecil kemudian aku menyampingkan tubuhku hingga pantatku terlihat masih menonjol dengan kencangnya.

Kemudian kuperhatikan bagian atas tubuhku, Toket ku yang masih diselimuti Kutang terlihat jelas lipatan bagian tengah, terlihat cukup padat berisi serta, “Ouh.. ngapain kamu di sini!” sedikit terkejut ketika aku sedang asyik-asyiknya memandangi kemolekan tubuhku sendiri tiba-tiba saja kulihat dari cermin ada kepalanya supirku yang rupanya sedang berdiri di bibir pintu kamarku yang tadi lupa kututup.
“Jangan ngeliatin.. sana cepet keluar!” bentakku dengan marah sambil menutupi bagian tubuhku yang terbuka.
Tetapi supirku bukannya mematuhi perintahku malah kakinya melangkah maju satu demi satu masuk kedalam kamar tidurku.
“Bejo.. Saya sudah bilang cepat keluar!” bentakku lagi dengan mata melotot.
“silakan ibu teriak sekuatnya, hujan di luar akan melenyapkan suara ibu!” ucapnya dengan matanya menatap tajam padaku.
Sepintas kulihat celah jendela yang berada di sampingku dan ternyata memang hujan sedang turun dengan lebat, memang ruang kamar tidurku cukup rapat jendela-jendelanya hingga hujan turun pun takkan terdengar hanya saja di luar sana kulihat dedaunan dan ranting pohon bergoyang tertiup angin kesana kemari.

Detik demi detik tubuh supirku semakin dekat dan terus melangkah menghampiriku. Terasa jantungku semakin berdetak kencang dan tubuhku semakin menggigil karenanya. Aku pun mulai mundur teratur selangkah demi selangkah, aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu sampai akhirnya kakiku terpojok oleh bibir ranjang tidurku.
“Mas.. jangan!” kataku dengan suara gemetar.
“Hua.. ha.. ha.. ha..!” suara tawa supirku saat melihatku mulai kepepet.
“Jangan..!” jeritku, begitu supirku yang sudah berjarak satu meteran dariku menerjang tubuhku hingga tubuhku langsung terpental jatuh di atas ranjang dan dalam beberapa detik kemudian tubuh supirku langsung menyusul jatuh menindih tubuhku yang telentang.
Aku terus berusaha meronta saat supirku mulai menggerayangi tubuhku dalam himpitannya. Perlawananku yang terus-menerus dengan menggunakan kedua tangan dan kedua kakiku untuk menendang-nendangnya terus membuat supirku juga kewalahan hingga sulit untuk berusaha menciumi aku sampai aku berhasil lepas dari himpitan tubuhnya yang besar dan kekar itu. Begitu aku mendapat kesempatan untuk mundur dan menjauh dengan membalikkan tubuhku dan berusaha merangkak namun aku masih kalah cepat dengannya, supirku berhasil menangkap celana kancut ku sambil menariknya hingga tubuhku pun jatuh terseret ke pinggir ranjang kembali dan celana dalam putihku tertarik hingga bongkahan pantatku terbuka. Namun aku terus berusaha kembali merangkak ke tengah ranjang untuk menjauhinya. Lagi-lagi aku kalah cepat dengan supirku, dia berhasil menangkap tubuhku kembali namun belum sempat aku bangkit dan berusaha merangkak lagi, tiba-tiba saja pinggulku terasa kejatuhan benda berat hingga tidak dapat bergerak lagi.

“Bejo.. Jangan.. jangan.. JO!!!..” kataku berulang-ulang sambil terisak nangis.
Rupanya supirku sudah kesurupan dan lupa siapa yang sedang ditindihnya. Setelah melihat tubuhku yang sudah mulai kecapaian dan kehabisan tenaga lalu supirku dengan sigapnya menggenggam lengan kananku dan menelikungnya kebelakan tubuhku begitu pula lengan kiriku yang kemudian dia mengikat kedua tanganku kuat-kuat, entah dengan apa dia mengikatnya. Setelah itu tubuhnya yang masih berada di atas tubuhku berputar menghadap kakiku. Kurasakan betis kananku digenggamnya kuat-kuat lalu ditariknya hingga menekuk. Lalu kurasakan pergelangan kaki kananku dililitnya dengan tali. Setelah itu kaki kiriku yang mendapat giliran diikatkannya bersama dengan kaki kananku.

“Saya ingin mencicipi ibu..” bisiknya dekat telingaku.
“Sejak pertama kali saya melamar jadi supir ibu, saya sudah menginginkan mendapatkan kesempatan seperti sekarang ini.” katanya lagi dengan suara nafas yang sudah memburu.

“Tapi saya majikan kamu JO..” kataku mencoba mengingatkan.
“Memang betul bu.. tapi itu waktu jam kerja, sekarang sudah pukul 7 malam berarti saya sudah bebas tugas..” balasnya sambil melepas ikatan tali kutang yang kukenakan.
“Hhh mm uuhh,” desah nafasnya memenuhi telingaku.

Cerita ngewe di Perkosa Supir Pribadi | Bab 1 bersambung...

Awalnya aku tak terlalu tertarik dengan pasangan suami-istri muda yang baru tinggal di samping rumahku itu. Suaminya yang bernama Bram, berusia sekitar 32 tahun, merupakan seorang pria dengan wajah tirus dan dingin. Sangat mahal senyum. Sedang istrinya, seorang wanita 23 tahun, bertubuh sintal yang memiliki sepasang mata membola cantik, raut wajah khas wanita Jawa. Tak beda jauh dengan suaminya, dia juga terlihat kaku dan tertutup. Tapi watak itu, agaknya lebih disebabkan oleh sikap pendiam dan pemalunya.

Maryati
Sehari-harinya, dia selalu mengenakan pakaian kebaya. Latar belakang kehidupan pedesaan wanita berambut ikal panjang ini, terlihat masih cukup kental, Jakarta tak membuatnya berubah. Aku hanya sempat bicara dan bertemu lebih dekat dengan pasangan ini, dihari pertama mereka pindah. Saat mengangkat barang-barangnya, aku kebetulan baru pulang dari jogging dan lewat di depan pintu pagar halaman rumah yang mereka kontrak. Setelah itu, aku tak pernah lagi kontak dengan keduanya. Aku juga tak merasa perlu untuk mengurusi mereka.

Perasaan dan pikiranku mulai berubah, khususnya terhadap si Istri yang bernama Maryati, ketika suatu pagi bangun dari tidur aku duduk di balik jendela. Dari arah sana, secara kebetulan, juga melalui jendela kamarnya, aku menyaksikan si Istri sedang melayani suaminya dengan sangat telaten dan penuh kasih. Mulai menemani makan, mengenakan pakaian, memasang kaos kaki, sepatu, membetulkan letak baju, sampai ketika mencium suaminya yang sedang bersiap-siap untuk turun kerja, semua itu kusaksikan dengan jelas. Aku punya kesimpulan wanita lumayan cantik itu sangat mencintai pasangan
hidupnya yang berwajah dingin tersebut.

Entah mengapa, tiba-tiba saja muncul pertanyaan nakal di otakku. Apakah Istri seperti itu memang memiliki kesetiaan yang benar-benar tulus dan jauh dari pikiran macam-macam terhadap suaminya? Sebutlah misalnya berhayal pada suatu ketika bisa melakukan petualangan seksual dengan lelaki lain?

Apakah seorang istri seperti itu mampu bertahan dari godaan seks yang kuat, jika pada suatu ketika, dia terposisikan secara paksa kepada suatu kondisi yang memungkinkannya bermain seks dengan pria lain? Apakah dalam situasi seperti itu, dia akan melawan, menolak secara total meski keselamatannya terancam? Atau apakah dia justru melihatnya sebagai peluang untuk dimanfaatkan, dengan dalih ketidakberdayaan karena berada dibawah ancaman? Pertanyaan-pertanyaan itu, secara kuat menyelimuti otak dudaku yang memang kotor dan suka berhayal tentang penyimpangan seksual.

Sekaligus juga akhirnya melahirkan sebuah rencana biadab, yang jelas sarat dengan resiko dosa dan hukum yang berat. Aku ingin memperkosa Maryati! Wuah! Tapi itulah memang tekad yang terbangun kuat di otak binatangku. Sesuatu yang membuatmu mulai hari itu, secara diam-diam melakukan pengamatan dan penelitian intensif terhadap pasangan suami istri muda tersebut. Kuamati, kapan keduanya mulai bangun, mulai tidur, makan dan bercengkrama. Kapan saja si Suami bepergian ke luar kota lebih dari satu malam, karena tugas perusahaannya sebuah distributor peralatan elektronik yang cukup besar. Dengan kata lain, kapan Maryati, wanita dengan sepasang buah dada dan pinggul yang montok sintal itu tidur sendirian di rumahnya.

Untuk diketahui, pasangan ini tidak punya pembantu. Saat itulah yang bakal kupilih untuk momentum memperkosanya. Menikmati bangun dan lekuk-lekuk tubuhnya yang memancing gairah, sambil menguji daya tahan kesetiaannya sebagai istri yang bisa kukategorikan lumayan setia. Sebab setiap suaminya bepergian atau sedang keluar, wanita ini hanya mengunci diri di dalam rumahnya. Selama ini bahkan dia tak pernah kulihat meski hanya untuk duduk-duduk di terasnya yang besar. Itu ciri Ibu Rumah Tangga yang konservatif dan kukuh memegang tradisi sopan-santun budaya wanita timur yang sangat menghormati suami.

Meski mungkin mereka sadar, seorang suami, yang terkesan sesetia apapun, jika punya peluang dan kesempatan untuk bermain gila, mudah terjebak ke sana. Aku tahu suaminya, si Bram selalu bepergian keluar kota satu atau dua malam, setiap hari Rabu. Apakah benar-benar untuk keperluan kantornya, atau bisa jadi menyambangi wanita simpanannya yang lain. Dan itu bukan urusanku. Yang penting, pada Rabu malam itulah aku akan melaksanakan aksi biadabku yang mendebarkan. Semua tahapan tindakan yang akan kulakukan terhadap wanita yang di mataku semakin menggairahkan itu, kususun dengan cermat.

Aku akan menyelinap ke rumahnya hanya dengan mengenakan celana training minus celana dalam, serta baju kaos ketat yang mengukir bentuk tubuh bidangku. Buat Anda ketahui, aku pria macho dengan penampilan menarik yang gampang memaksa wanita yang berpapasan denganku biasanya melirik. Momen yang kupilih, adalah pada saat Maryati akan tidur. Karena berdasarka hasil pengamatanku, hanya pada saat itu, dia tidak berkebaya, cuma mengenakan daster tipis yang (mungkin) tanpa kutang. Aku tak terlalu pasti soal ini, karena cuma bisa menyaksikannya sekelebat saja lewat cara mengintip dari balik kaca jendelanya dua hari lalu. Kalau Maryati cuma berdaster, berarti aku tak perlu disibukkan untuk melepaskan stagen, baju, kutang serta kain yang membalut tubuhnya kalau lagi berkebaya. Sedang mengapa aku cuma mengenakan training spack tanpa celana dalam, tahu sendirilah.

Aku menyelinap masuk ke dalam rumahnya lewat pintu dapur yang terbuka petang itu. Saat Maryati pergi mengambil jemuran di kebun belakangnya, aku cepat bersembunyi di balik tumpukan karton kemasan barang-barag elektronik yang terdapat di sudut ruangan dapurnya. Dari sana, dengan sabar dan terus berusaha untuk mengendalikan diri, wanita itu kuamati sebelum dia masuk ke kamar tidurnya. Dengan mengenakan daster tipis dan ternyata benar tanpa kutang kecuali celana dalam di baliknya.

Si Istri Setia itu memeriksa kunci-kunci jendela dan pintu rumahnya. Dari dalam kamarnya terdengar suara acara televisi cukup nyaring. Nah, pada saat dia akan masuk ke kamar tidurnya itulah, aku segera memasuki tahapan berikut dari strategi memperkosa wanita bertubuh sintal ini. Dia kusergap dari belakang, sebelah tanganku menutup mulutnya, sedang tangan yang lain secara kuat mengunci kedua tangannya. Maryati terlihat tersentak dengan mata terbeliak lebar karena terkejut sekaligus panik dan ketakutan. Dia berusaha meronta dengan keras. Tapi seperti adegan biasa di film-film yang memperagakan ulah para bajingan, aku cepat mengingatkannya untuk tetap diam dan tidak bertindak bodoh melakukan perlawanan. Hanya bedanya, aku juga mengutarakan permintaan maaf.

"Maafkan saya Mbak. Saya tidak tahan untuk tidak memeluk Mbak. Percayalah, saya tidak akan menyakiti Mbak. Dan saya bersumpah hanya melakukan ini sekali. Sekali saja," bisikku membujuk dengan nafas memburu akibat nafsu dan rasa tegang luar biasa.

Maryati tetap tidak peduli. Dia berusaha mengamuk, menendang-nendang saat kakiku menutup pintu kamarnya dan tubuhnya kepepetkan ke dinding.

"Kalau Mbak ribut, akan ketahuaan orang. Kita berdua bisa hancur karena malu dan aib. Semua ini tidak akan diketahui orang lain. Saya bersumpah merahasiakannya sampai mati, karena saya tidak mau diketahui orang lain sebagai pemerkosa," bisikku lagi dengan tetap mengunci seluruh gerakan tubuhnya.

Tahapan selanjutnya, adalah menciumi bagian leher belakang dan telinga wanita beraroma tubuh harum merangsang itu. Sedang senjataku yang keras, tegang, perkasa dan penuh urat-urat besar, kutekankan secara keras ke belahan pantatnya dengan gerakan memutar, membuat Maryati semakin terjepit di dinding. Dia mencoba semakin kalap melawan dan meronta, namun apalah artinya tenaga seorang wanita, di hadapan pria kekar yang sedang dikuasai nafsu binatang seperti diriku.

Aksi menciumi dan menekan pantat Maryati terus kulakukan sampai lebih kurang sepuluh menit. Setelah melihat ada peluang lebih baik, dengan gerakan secepat kilat, dasternya kusingkapkan. Celana dalamnya segera kutarik sampai sobek ke bawah, dan sebelum wanita ini tahu apa yang akan kulakukan, belahan pantatnya segera kubuka dan lubang anusnya kujilati secara buas. Maryati terpekik. Sebelah tanganku dengan gesit kemudian menyelinap masuk diantara selangkangannya dari belakang dan meraba serta meremas bagian luar kemaluannya, tapi membiarkan bagian dalamnya tak terjamah.

Strategiku mengingatkan belum waktunya sampai ke sana. Aksi menjilat dan meremas serta mengusap-usap ini kulakukan selama beberapa menit. Maryati terus berusaha melepaskan diri sambil memintaku menghentikan tindakan yang disebutnya jahanam itu. Dia berulang-ulang menyebutku binatang dan bajingan. Tak soal. Aku memang sudah jadi binatang bajingan. Dan sekarang sang bajingan sudah tanpa celana, telanjang sebagian.

"Akan kulaporkan ke suamiku," ancamnya kemudian dengan nafas terengah-engah.

Aku tak menyahut sambil bangkit berdiri serta menciumi pundaknya. Lalu menempelkan batang perkasaku yang besar, tegang dan panas diantara belahan pantatnya. Menekan dan memutar-mutarnya dengan kuat di sana. Sedang kedua tanganku menyusup ke depan, meraba, meremas dan memainkan puting buah dada besar serta montok wanita yang terus berjuang untuk meloloskan diri dari bencana itu.

"Tolong Mas Dartam, lepaskan aku. Kasihani aku," ratapnya.

Aku segera menciumi leher dan belakang telinganya sambil berbisik untuk membujuk, sekaligus memprovokasi.

"Kita akan sama-sama mendapat kepuasan Mbak. Tidak ada yang rugi, karena juga tidak akan ada yang tahu. Suamimu sedang keluar kota. Mungkin juga dia sedang bergulat dengan wanita lain. Apakah kau percaya dia setia seperti dirimu," bujukku mesra.

"Kau bajingan terkutuk," pekiknya dengan marah.

Sebagai jawabannya, tubuh putih yang montok dan harum itu (ciri yang sangat kusenangi) kali ini kupeluk kuat-kuat, lalu kuseret ke atas ranjang dan menjatuhnya di sana. Kemudian kubalik, kedua tangannya kurentangkan ke atas. Selanjutnya, ketiak yang berbulu halus dan basah oleh keringat milik wanita itu, mulai kuciumi. Dari sana, ciumanku meluncur ke sepasang buah dadanya. Menjilat, menggigit-gigit kecil, serta menyedot putingnya yang terasa mengeras tegang.

"Jangan Mas Darta. Jangan.. Tolong lepaskan aku."

Wanita itu menggeliat-geliat keras. Masih tetap berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi aku terus bertindak semakin jauh. Kali ini yang menjadi sasaranku adalah perutnya. Kujilat habis, sebelum pelan-pelan merosot turun lebih ke bawah lalu berputar-putar di bukit kemaluannya yang ternyata menggunung tinggi, mirip roti. Sementara tanganku meremas dan mempermainkan buah dadanya, kedua batang paha putih dan mulusnya yang menjepit rapat, berusaha kubuka.

Maryati dengan kalap berusaha bangun dan mendorong kepalaku. Kakinya menendang-nendang kasar. Aku cepat menjinakkannya, sebelum kaki dan dengkul yang liar itu secara telak membentur dua biji kejantannanku. Bisa celaka jika itu terjadi. Kalau aku semaput, wanita ini pasti lolos. Setelah berjuang cukup keras, kedua paha Maryati akhirnya berhasil kukuakkan. Kemudian dengan keahlian melakukan cunnilingus yang kumiliki dari hasil belajar, berteori dan berpraktek selama ini, lubang dan bibir kelamin wanita itu mulai menjadi sasaran lidah dan bibirku.

Tanpa sadar Maryati terpekik, saat kecupan dan permainan ujung lidahku menempel kuat di klitorisnya yang mengeras tegang. Kulakukan berbagai sapuan dan dorongan lidah ke bagian-bagian sangat sensitif di dalam liang senggamanya, sambil tanganku terus mengusap, meremas dan memijit-mijit kedua buah dadanya. Maryati menggeliat, terguncang dan tergetar, kadang menggigil, menahan dampak dari semua aksi itu. Kepalanya digeleng-gelengkan secara keras. Entah pernyataan menolak, atau apa.

Sambil melakukan hal itu, mataku berusaha memperhatikan permukaan perut si Istri Setia ini. Dari sana aku bisa mempelajari reaksi otot-otot tubuhnya, terhadap gerakan lidahku yang terus menyeruak masuk dalam ke dalam liang senggamanya. Dengan sentakan-sentakan dan gelombang di bagian atas perut itu, aku akan tahu, di titik dan bagian mana Maryati akan merasa lebih terangsang dan nikmat.

Gelombang rangsangan yang kuat itu kusadari mulai melanda Maryati secara fisik dan emosi, ketika perlawanannya melemah dan kaki serta kepalanya bergerak semakin resah. Tak ada suara yang keluar, karena wanita ini menutup bahkan menggigit bibirnya. Geliat tubuhnya bukan lagi refleksi dari penolakan, tetapi (mungkin) gambaran dari seseorang yang mati-matian sedang menahan kenikmatan. Berulang kali kurasakan kedua pahanya bergetar. Kemaluannya banjir membasah.

Ternyata benar analisa otak kotorku beberapa pekan lalu. Bahwa sesetia apapun seorang Istri, ada saat di mana benteng kesetiaan itu ambruk, oleh rangsangan seksual yang dilakukan dalam tempo relatif lama secara paksa, langsung, intensif serta tersembunyi oleh seorang pria ganteng yang ahli dalam masalah seks. Maryati telah menjadi contoh dari hal itu. Mungkin juga ketidakberdayaan yang telah membuatnya memilih untuk pasrah. Tetapi rasanya aku yakin lebih oleh gelora nafsu yang bangkit ingin mencari pelampiasan akibat rangsangan yang kulakukan secara intensif dan ahli di seluruh bagian sensitif tubuhnya.

Aksiku selanjutnya adalah dengan memutar tubuh, berada di atas Maryati, memposisikan batang kejantananku tepat di atas wajah wanita yang sudah mulai membara dibakar nafsu birahi itu. Aku ingin mengetahui, apa reaksinya jika terus kurangsang dengan batang perkasaku yang besar dan hangat tepat berada di depan mulutnya. Wajahku sendiri, masih berada diantara selangkangannyadengan lidah dan bibir terus menjilat serta menghisap klitoris dan liang kewanitaannya.

Paha Maryati sendiri, entah secara sadar atau tidak, semakin membuka lebar, sehingga memberikan kemudahan bagiku untuk menikmati kelaminnya yang sudah membanjir basah. Mulutnya berulangkali melontarkan jeritan kecil tertahan yang bercampur dengan desisan. Aksi itu kulakukan dengan intensif dan penuh nafsu, sehingga berulang kali kurasakan paha serta tubuh wanita cantik itu bergetar dan berkelojotan.

Beberapa menit kemudian mendadak kurasa sebuah benda basah yang panas menyapu batang kejantananku, membuatku jadi agak tersentak. Aha, apalagi itu kalau bukan lidah si Istri Setia ini. Berarti, selesailah sudah seluruh perlawanan yang dibangunnya demikian gigih dan habis-habisan tadi. Wanita ini telah menyerah. Namun sayang, jilatan yang dilakukannya tadi tidak diulanginya, meski batang kejantananku sudah kurendahkan sedemikian rupa, sehingga memungkinkan mulutnya untuk menelan bagian kepalanya yang sudah sangat keras, besar dan panas itu.

Boleh jadi wanita ini merasa dia telah menghianati suaminya jika melakukan hal itu, menghisap batang kejantanan pria yang memperkosanya! Tak apa. Yang penting sekarang, aku tahu dia sudah menyerah. Aku cepat kembali membalikkan tubuh. memposisikan batang kejantananku tepat di depan bukit kewanitaannya yang sudah merekah dan basah oleh cairan dan air ludahku. Aku mulai menciumi pipinya yang basah oleh air mata dan lehernya. Kemudian kedua belah ketiaknya. Maryati menggelinjang liar sambil membuang wajahnya ke samping. Tak ingin bertatapan denganku.

Buah dadanya kujilati dengan buas, kemudian berusaha kumasukan sedalam-dalamnya ke dalam mulutku. Tubuh Maryati mengejang menahan nikmat. Tindakan itu kupertahankan selama beberapa menit. kemudian batang kejantananku semakin kudekatkan ke bibir kemaluannya. Ah.., wanita ini agaknya sudah mulai tidak sabar menerima batang panas yang besar dan akan memenuhi seluruh liang sanggamanya itu. Karena kurasa pahanya membentang semakin lebar, sementara pinggulnya agak diangkat membuat lubang sanggamanya semakin menganga merah.

"Mbak Mar sangat cantik dan merangsang sekali. Hanya lelaki yang beruntung dapat menikmati tubuhmu yang luar biasa ini," gombalku sambil menciumi pipi dan lehernya.

"Sekarang punyaku akan memasuki punya Mbak. Aku akan memberikan kenikmatan yang luar biasa pada Mbak. Sekarang nikmatilah dan kenanglah peristiwa ini sepanjang hidup Mbak."

Setelah mengatakan hal itu, sambil menarik otot di sekitar anus dan pahaku agar ketegangan kelaminku semakin meningkat tinggi, liang kenikmatanwanita desa yang bermata bulat jelita itu, mulai kuterobos. Maryati terpekik, tubuhnya menggeliat, tapi kutahan. Batang kejantananku terus merasuk semakin dalam dan dalam, sampai akhirnya tenggelam penuh di atas bukit kelamin yang montok berbulu itu.

Untuk sesaat, tubuhku juga ikut bergetar menahan kenikmatan luar biasa pada saat liang kewanitaan wanita ini berdenyut-deyut menjepitnya. Tubuhku kudorongkan ke depan, dengan pantat semakin ditekan ke bawah, membuat pangkal atas batang kejantananku menempel dengan kuat di klitorisnya. Maryati melenguh gelisah. Tangannya tanpa sadar memeluk tubuhku dengan punggung melengkung. Kudiamkan dia sampai agak lebih tenang, kemudian mulailah gerakan alamiah untuk coitus yang membara itu kulakukan.

Maryati kembali terpekik sambil meronta dengan mulut mendesis dan melengguh. Tembakan batang kejantananku kulakukan semakin cepat, dengan gerakan berubah-ubah baik dalam hal sudut tembakannya, maupun bentuknya dalam melakukan penetrasi. Kadang lurus, miring, juga memutar, membuat Maryati benar-benar seperti orang kesurupan. Wanita ini kelihatanya sudah total lupa diri. Tangannya mencengkram pundakku, lalu mendadak kepalanya terangkat ke atas, matanyaterbeliak, giginya dengan kuat menggigit pundakku.

Dia orgasme! Gerakan keluar-masuk batang kejantananku kutahan dan hanya memutar-mutarnya, mengaduk seluruh liang sanggama Maryati, agar bisa menyentuh dan menggilas bagian-bagian sensitif di sana. Wanita berpinggul besar ini meregang dan berkelonjotan berulang kali, dalam tempo waktu sekitar dua puluh detik. Semuanya kemudian berakhir. Mata dan hidungnya segera kuciumi. Pipinya yang basah oleh air mata, kusapu dengan hidungku.

Tubuhnya kupeluk semakin erat, sambil mengatakan permintaan maaf atas kebiadabanku. Maryati cuma membisu. Kami berdua saling berdiaman. Kemudian aku mulai beraksi kembali dengan terlebih dahulu mencium dan menjilati leher, telinga, pundak, ketiak serta buah dadanya. Kocokan kejantananku kumulai secara perlahan. Kepalanya kuarahkan ke bagian-bagian yang sensitif atau G-Spot wanita ini. Hanya beberapa detik kemudian, Maryati kembali gelisah.

Kali ini aku bangkit, mengangkat kedua pahanya ke atas dan membentangkannya dengan lebar, lalu menghujamkan batang perkasaku sedalam-dalamnya. Maryati terpekik dengan mata terbeliak, menyaksikan batang kejantananku yang mungkin jauh lebih besar dari milik suaminya itu, berulang-ulang keluar masuk diantara lubang berbulu basah miliknya. Matanya tak mau lepas dari sana. Kupikir, wanita ini terbiasa untuk berlaku seperti itu, jika bersetubuh. Wajahnya kemudian menatap wajahku.

"Mas..." bisiknya.

Aku mengangguk dengan perasaan lebih terangsang oleh panggilan itu, kocokanbatang kejantananku kutingkatkan semakin cepat dan cepat, sehingga tubuh Maryati terguncang-guncang dahsyat. Pada puncaknya kemudian, wanita ini menjatuhkan tubuhnya di tilam, lalu menggeliat, meregang sambil meremas sprei. Aku tahu dia akan kembali memasuki saat orgasme keduanya.

Dan itu terjadi saat mulutnya melontarkan pekikan nyaring, mengatasi suara Krisdayanti yang sedang menyanyi di pesawat televisi di samping ranjang. Pertarungan seru itu kembali usai. Aku terengah dengan tubuh bermandi keringat, di atas tubuh Maryati yang juga basah kuyup. Matanya kuciumi dan hidungnya kukecup dengan lembut. Detak jantungku terasa memacu demikian kuat. Kurasakan batang kejantananku berdenyut-denyut semakin kuat. Aku tahu, ini saat yang baik untuk mempersiapkan orgasmeku sendiri.

Tubuh Maryati kemudian kubalikkan, lalu punggungnya mulai kujilati. Dia mengeluh. Setelah itu, pantatnya kubuka dan kunaikkan ke atas, sehingga lubang anusnya ikut terbuka. Jilatan intensifku segera kuarahkan ke sana, sementara jariku memilin dan mengusap-usap klitorisnya dari belakang.

Maryati berulang kali menyentakkan badannya, menahan rasa ngilu itu. Namun beberapa menit kemudian, keinginan bersetubuhnya bangkit kembali. tubuhnya segera kuangkat dan kuletakkan di depan toilet tepat menghadap cermin besar yang ada di depannya. Dia kuminta jongkok di sana, dengan membuka kakinya agak lebar.

Setelah itu dengan agak tidak sabar, batang kejantananku yang terus membesar keras, kuarahkan ke kelaminnya, lalu kusorong masuk sampai ke pangkalnya. Maryati kembali terpekik. Dan pekik itu semakin kerap terdengar ketika batang kejantananku keluar masuk dengan cepat di liang sanggamanya. Bahkan wanita itu benar-benar menjerit berulangkali dengan mata terbeliak, sehingga aku khawatir suaranya bisa didengar orang di luar.

Wanita ini kelihatannya sangat terangsang dengan style bersetubuh seperti itu. Selain batang kejantananku terasa lebih dahsyat menerobos dan menggesek bagian-bagian sensitifnya, dia juga bisa menyaksikan wajahku yang tegang dalam memompanya dari belakang. Dan tidak seperti sebelumnya, Maryati kali ini dengan suara gemetar mengatakan dia akan keluar.

Aku cepat mengangkat tubuhnya kembali ke ranjang. menelentangkannya di sana, kemudian menyetubuhinya habis-habisan, karena aku juga sedang mempersiapkan saat orgasmeku. Aku akan melepas bendungansperma di kepala kejantananku, pada saat wanita ini memasuki orgasmenya. Dan itu terjadi, sekitar lima menit kemudian. Maryati meregang keras dengan tubuh bergetar. Matanya yang cantik terbeliak.

Maka orgasmeku segera kulepas dengan hujaman batang kejantanan yang lebih lambat namun lebih kuat serta merasuk sedalam-dalamnya ke liang kewanitaan Maryati. Kedua mata wanita itu kulihat terbalik, Maryati meneriakkan namaku saat spermaku menyembur berulang kali dalam tenggang waktu sekitar delapan detik ke dalam liang sanggamanya. Tangannya dengan kuat merangkul tubuhku dan tangisnya segera muncul. Kenikmatan luar biasa itu telah memaksa wanita ini menangis.

Aku memejamkan mata sambil memeluknya dengan kuat, merasakan nikmatnya orgasme yang bergelombang itu. Ini adalah orgasmeku yang pertama dan penghabisanku dengan wanita ini. Aku segera berpikir untuk berangkat besok ke Kalimantan, ke tempat pamanku. Mungkin seminggu, sebulan atau lebih menginap di sana. Aku tidak boleh lagi mengulangi perbuatan ini. Tidak boleh, meski misalnya Maryati memintanya.

Namaku Mila, 28 tahun. Aku sudah menikah dengan seorang pria berprofesi sebagai Penerbang dan penyayang binatang. Beberapa hari lagi mas Dandy suamiku pulang untuk 10 hari, dan dia akan merayakan ulang tahunnya bersamaku, aku bersemangat ingin membelikan hadiah, seekor binatang piaraan yang ekstrim karena mas Dandy pernah menyampaikan keinginannya memelihara binatang piaraan yang ekstrim. Segera kutelusuri Pet Shop di Yellow Pages.

Hari ini aku berencana mengunjungi Pet Shop sepulang kerja. Aku memakai seragamku blouse Shang Hai warna merah dengan kancing-kancing yang berbaris rapih, dan mengenakan rok pendek di atas lutut dengan sepatu pantovel yang ada bannya seolah menghubungkan kedua mata kakiku, yang biasa disebut mas Dandy ‘sepatu sexy’ . Tepat jam 17.30 aku tiba di Pet Shop ‘Boe Duck’ di ujung timur kota Surabaya, di drop oleh kendaraan kantor.
“Selamat sore Pak........” sapaku setibanya di depan counter
Seorang lelaki paruh baya bertubuh gemuk berkacamata dan berambut agak botak tengah menunggui tokonya sembari membaca koran.
“Selamat sore ibu, ada yang bisa di bantu.....?” jawabnya sopan
“Pak, saya mau lihat2 koleksi binatang peliharaan, anjing atau mungkin yang ekstrim ?’ujarku ingin mengetahui peliharaan apa aja yang tersedia.
“Ibu tertarik dengan binatang peliharaan yang ekstrim ?” jawabnya
Aku mengangguk ragu
“Ada Bu,... mari ikut saya !” bapak tua itu beranjak dari counternya seraya mengambil kunci-kunci.
Aku mengikutinya berjalan di belakangnya, memasuki sebuah pintu yang terkunci, menuruni sebuah tangga ke ruangan seperti bawah tanah
Kandang Besar
“Wah keren, anda simpan di bawah tanah ?” komentarku sambil menuruni tangga mengikuti bapak tua itu.
“Hanya sebuah kejutan, untuk pelanggan baru seperti Ibu...” sahutnya singkat tanpa kumengerti maksudnya.
Kami sampai di ruang bawah tanah, aku melihat sebuah kandang besar yang kosong sementara bapak tua itu mundur selangkah tidak ingin menghalangi pandanganku
“Kosong pak !?” tanyaku
“Ibu perhatikan baik-baik....”
“Tak kan lama lagi, muka mata lebar-lebar... “ sahutnya membuat rasa ingin tahuku semakin menjadi-jadi
“Mana Pak ?” tanyaku penasaran
“Di belakangmu, majulah !” jawabnya dan spontan kurasakan tangan memeras pantatku dan mendorong tubuhku melangkah ke depan
“Lepaskan tanganmu, jangan dorong aku Pak !” tegurku sopan atas tindakan pelecehan yang kurasakan sambil menoleh kebelakang, kearah bapak tua itu.
“Aku lepaskan jika Ibu sudah sampai di kandang...” jawabnya tenang
Lalu tanpa sadar tangan kiriku ditelikung ke belakang oleh bapak tua itu
“Jangan pegang-pegang !!!” spontan aku berbalik badan dan menampar pipi bapak tua itu dengan tangan kananku
“Berani melawan ??” balas bapak tua membalas menamparku aku terhuyung-huyung dan jatuh di atas lututku
“Elu mau becanda sama gue!!” bapak tua itu menjambak rambutku dengan tangan kirinya
“Aaauuuwwwhhh...........! jeritku kesakitan. Dengan cekatan, kedua tanganku di tarik kebelakang dan dalam waktu singkat kedua tanganku sudah terikat kebelakang dan kurasakan kaki bapak tua bersandar di punggungku.
“Adduuuhh toollloooonnggg..... anda menyakiti saya, lepaskan !!!” tak terasa airmata membasahi pipiku
“Dasar pelacur, perlu mendapatkan pelajaran disiplin... kamu si Ika Tantri yang di facebook itu khan !? saya tahu...” lanjut si bapak tua
“Kamu akan jadi piaraan yang baik disini!” tegasnya
Sejenak aku tak mengerti apa yang terjadi dengan diriku, kenapa dia tahu namaku? tahu facebookku padahal sudah berbulan bulan di blok?? Kenapa tiba-tiba aku terikat seperti ini?
Masih dalam keadaan terikat kurasakan kaki itu menendang/mendorong pantatku, dan aku jatuh telungkup ke dalam kandang itu dengan tangan yang terikat erat ke belakang.
“Mila, kamu butuh ini...” kata bapak tua itu memasangkan collar ke leherku lalu menyambungkannya dengan tali yang biasa dipakai untuk mengajak jalan-jalan seekor anjing, kemudian tali itu diikatkan ke salah satu jeruji besi di kandang itu.
Dia menyebut namaku, gawat!
“Tolong,... tooollllooooonnnngggg....!!!!!!” teriakku
“Berteriaklah sesukamu Mila, tidak ada yang bisa mendengar suaramu” tantang bapak tua itu.
“Tooollllooooonnnngggg...... “
“Lepaskan akuuuuu..........!!!”
“Simpan tenagamu Mila, sampai aku kembali aku mau tutup toko dulu” suara bapak tua itu seraya keluar dari kandang menguncinya dari luar, lalu meninggalkan aku yang tertawan. Kata-kata bapak tua itu terasa jadi ancaman buat keselamatanku.
Tinggal aku sendiri terikat erat di dalam kandang, rupanya bapak tua itu mengikat pergelangan tanganku dengan erat dan juga sikutku. Sungguh sulit untuk bergerak sedikitpun.
“Aduuhh saakit,... ...apa yang akan dia lakukan padaku?” gumamku
“Tolong.... aku di culik disini!” aku bersuara pelan meminta tolong dalam keadaan lemas
“Ya Tuhan... apa yang terjadi dengan diriku?Aku hanya ingin membeli kado buat mas Dandyku, aku terperangkap...!!”
“Sialnya...! keluhku kepalaku terunduk. Aku disekap terikat di kandang ini, ditinggal cukup lama oleh bapak tua itu
****
Adduuuhh... apa yang akan terjadi dengan diriku, aku datang ke toko ini bermaksud membeli binatang peliharaan untuk jadi kado ulang tahun mas Dandy, kog malah jadi begini ya, terikat tertawan di dalam kandang ini, Tuhan tolong....
Kira-kira 3 jam kemudian pintu terbuka namun tak kudengar karena aku hanyut dengan pikiranku, tiba-tiba pintu kandang yang menyekapku terbuka
“Bapak, tolong lepasin saya... Bapak butuh uang ? nanti segera saya siapkan” pikirku menebus sendiri penculikan yang terjadi pada diriku.
“Maaf Mila, tadi ada banyak customer yang harus saya layani....” ujar bapak tua itu seolah tidak menghiraukan penawaranku.
“Sudah cukup khan istirahatnya, buka baju dulu ya, gak pengap di sini? Lanjut bapak tua itu.
Bapak tua itu sedianya akan mencabik-cabik blouse Shang Haiku, namun urung dan melepaskan kancing-kancingnya dengan telaten.
“Paakk.... lepaaasiinnn... saakiiitt! keluhku, kulihat bapak tua itu mengeluarkan sapu tangan dan memasukkan pada mulutku
“eemmmmhh....!” lalu dengan sigap disobeknya sebuah lakban berwarna abu-abu CRREEETTT!! Di sumpalnya mulutku.
“eemmmppphhhhh.......!!” suaraku
Bapak tua melepaskan semua pakaiannya dan meletakkan sebuah bangku kayu kecil
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!!!” melihat itu aku berteriak ketakutan di balik sumpalanku
“Training pendisiplinan akan ku mulai” tantang bapak tua itu
Tubuhku menungging, bagian perutku tersandar di bangku kayu kecil itu CTAARRR.... CTAARRR.... CTAARRR.... beberapa cambukan mendarat di pantatku
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!!” aku mengaduh kesakitan
“Wah mengeras nich...” suara bapak tua kudengar aku masih telungkup bersandar di bangku kayu itu dalam keadaan tangan terikat kebelakang dan mulut di sumpal lakban
“Mila, pantat kenyalmu memerah, keren lho....” puji bapak tua itu
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!! lenguhku
Kemudian kurasakan sakit tak terkira, karena kurasakan sejenis penis memaksa masuk ke dalam anusku
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!!” aku mengaduh kesakitan kembali air mata mengucur deras di pipiku.
Penis itu berhasil masuk di lubang anusku yang sempit, kemudian
Masuk
Keluar......
Masuk
Keluar......
Masuk
Keluar...... hingga kudengar
“Aaaarrrggghhhh............!!” suara si bapak tua, aku sendiri tak dapat menahan rasa sakit sehebat ini, akupun tak sadarkan diri.
****
Ketika aku siuman,aku mendapati diriku masih terikat, tanganku dan sikut yang terikat kebelakang, mulut yang tersumpal lakban dan collar di leher yang terhubungkan dengan salah satu jeruji besi di kandang itu. Aku mendapati diriku terduduk dengan kaki yang memanjang lurus, tetap bersepatu dengan pergelangan kaki yang teikat oleh gulungan tali nylon. Blouse Shang Haiku kembali membalut rapi tubuhku yang terikat ini. Aku mengarahkan pandangan kesekeliling kandang, kulihat ada kertas tertempel tak jauh dariku, tulisannya kira-kira

MILA CANTIK,
TRAINING HARI INI CUKUP DULU, AKU PULANG YA
BESOK KITA LANJUTKAN SETELAH TOKO TUTUP
NANTIKAN SAJA
TERIMA KASIH UNTUK KENIKMATANNYA
TTD

Tubuhku seketika merinding membaca pesan itu, kembali aku mengarahkan pandangan kesekeliling kandang
“Jam 23.30 !!!??” ketika kutemukan jam dinding digital yang terlihat jelas.
“Bapak tua itu pulang,...? aku ditinggal sendirian, disekap di kerangkeng ini,....? aku harus bisa lolos dari sini,...! di mana tasku !? aku harus meminta tolong...!” aku meronta-ronta dengan hebat dengan seluruh tenagaku, SIA SIA! hingga aku kelelahahan, duduk terdiam meratapi keadaanku, waktu menunjukkan pukul 2.10 dini hari. Tanpa sadar kutemukan tasku tergeletak di depan pintu kandang, pasti jatuh ketika aku dipukul oleh bapak tua hingga terhuyung-huyung.
“Hmm,... handphoneku di dalam tas, terlalu jauh dan tidak mungkin mengharapkan pertolongan” batinku.
Putus asa menyelimuti sekujur tubuhku dan aku tertidur kelelahan.

Aku terbangun, setidaknya sudah pagi meski ruangan bawah tanah relatif temaram, namun jam digital di dinding sana cukup mengingatkanku, pukul 10.40 jelang siang. Dahaga dan Lapar saja yang menemaniku.
Kemudian sekitar pukul 13 bapak tua itu datang ke ruangan bawah tanah sambil membawa piring dan gelas aluminium.
“Selamat siang Mila,.... tidurnya nyenyak juga, sudah biasa yach ? ledeknya kepadaku
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!!”
“Ha ha ha haa.... tersinggung yach, khan mantan balerina yang rajin berlatih Yoga...” ledeknya lagi
Aku terperanjat dengan pengetahuannya tentang diriku. Siapa bapak tua misterius ini ?? misteri yang tak terjawab. Bapak tua itu masuk ke dalam kandang,
“Ayo makan!” ujarnya seraya melepas lakban yang menyumpal mulutku dan
“Oweeekkk...!” saputangan dalam mulutku keluar
“Tolong Paakk.... lepaaasiinnn... saakiiitt!” keluhku tidak dihiraukannya, dan sesuap demi sesuap makanan masuk ke dalam mulutku,ku kunyah secepat mungkin
“Glek.... Glekk !! aku meminum minuman yang di bawa oleh bapak tua yang misterius ini. Segera setelah usai makan, mulutku kembali di sumpal sapu tangan dan lakban kembali membatasi suaraku. Lalu kurasakan collar yang melingkar dileherku dilepas oleh bapak tua, aku dibantu berdiri, rupanya tubuhku kembali dililit tali yang mengikat seluruh tubuhku di jeruji besi di belakangku tapi kakiku diikatnya terpisah dan membuka.
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!!” aku meronta-ronta. Bapak tua itu kemudian beranjak dariku, mengunci kandang / kerangkeng tempatku di sekap dan berlalu menaiki tangga kembali ke tokonya. Waktu berjalan begitu lambat, aku tidak menunggu atau mengharapkan apa-apa kecuali kebebasanku sambil aku sibuk meronta-ronta.
“Aku harus segera pulang,... sebentar lagi mas Dandy pasti akan pulang, dan aku akan merayakan ulang tahunnya bersamanya” pikiran itu memenuhi benakku sambilku terus berusaha melepaskan diri dan meronta-ronta.
Sore itu bapak tua kembali ke kandang di mana aku disekap, dia memukulku dan kembali memecut payudaraku setelah kembali melepaskan kancing kancing baju Shang Haiku kemudian dia menarik celana dalamku kini dia memperkosaku memasukkan penisnya ke miss V ku
“Tiddaaakkkk.........!!!” seruku namun
“eemmmppphhhhh, mmmppphhhhh......!!“yang terdengar ditelingaku
“ mmmppphhhhh...... !!!!” aku menolak perlakuan ini
“eemmmppphhhhh...... mmmppphhhhh......!!” tangisku dalam sumpalan
Secara naluriah aku mengalami orgasme berkali-kali akibat pemerkosaan ini. Tubuhku tidak menolak perlakuan ini, karena sesungguhnya aku terbiasa berhubungan dengan kondisi seperti ini dalam suka sama suka dan dengan hasrat cinta. Hanya itu yang membedakan keberadaanku dengan suasana hati ini. Kembali aku tertidur kelelahan dalam kondisi tangan sikut dan kaki yang terikat erat.
Ketika aku terbangun aku tidak mendapatkan perubahaan pada kondisi tubuhku, tetap terikat erat tak berdaya ke jeruji besi, waktu yang ku tatap telah menunjukkan pukul 1.35 dini hari aku melanjutkan tidurku, tak ada yang bisa ku lakukan.

Setidaknya sudah pagi, ketika aku terbangun dan waktu menunjukkan pukul 9.05 pagi, kembali aku meronta-ronta sekuat tenaga, berharap tali-tali yang membelengguku bisa kendor bahkan terlepas.
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!!”
Sejumlah misteri masih membelengguku, siapakah bapak tua itu ? Karena dari pengetahuannya tentang aku kelihatannya dia adalah salah satu teman facebookku yang kini telah terblokir?
Lalu berapa lama lagi aku merelakan diriku terikat erat seperti ini, disekap di sebuah kandang Pet Shop, dan diperlakukan sebadai budak nafsu ?

TAMAT

Minggu siang di kawasan Dharmahusada Indah, Mila sendirian, suaminya Dandy sedang dinas terbang beberapa hari, pembantunya mpok Minah dan mang Dodi sengaja diliburkan Mila ingin santai seharian dirumahnya ketika bel berbunyi. Dilihatnya Otniel kenalannya, teman chattingnya datang.
“Otniel,.... kog tumben ? Ada perlu apa?”
“Boleh aku masuk?” tanya Otniel
“O.. oh,...silahkan,....” mata Mila sedikit menatap ragu, Otniel masuk ke dalam, sambil melihat sekeliling
“Silahkan duduk,... “ sapa Mila dengan ramah dan senyum khas
“Makasih...” Otniel tersenyum pada Mila dan duduk...
“Mau minum apa?” Mila beranjak bermaksud menyuguhi tamunya minum
“ehm... apa aja deh, yang penting enak...hehe” sahutnya
“Sebentar yaa........” Mila meninggalkan tamunya sendiri kemudian Otniel mulai mengambil 1 buah borgol dr dalam tas kemudian di masukkan ke saku celananya. Tak lama Mila kembali dari dapur membawa 2 gelas es teh manis....
“Silahkan.....” tawar Mila sementara KRIIINNGGG......!!!! telpon dirumahnya berbunyi
“Maaf bentar yaa...” pamit Mila
“Oh Silakan....” diam-diam Otniel mengambil sebungkus obat penenang dan dituangkannya kedalam es teh manis Mila, 10 menit terasa lama di telpon,dan akhirnya Mila kembali ke tamunya
“Maaf ya lama!“ lalu menyilakan minum sambil meneguk es teh miliknya
“Seger ya es teh nya, pas banget lagi panas begini....” ujar Otniel sambil menatap Mila
“Sorry yach cuma teh...”
“Oh gak apa apa kok...!” jawab Otniel sekejab Mila merasa pusing dikepalanya, terasa berat.....
“Kamu baik-baik aja Mil....?” tanya Otniel tak lama Mila tidak sadarkan diri
Dengan sigap Otniel menarik kedua tangan Mila kebelakang dan memborgol tangannya, kedua cuffnya dikencangkan untuk memastikan tangannya tidak dapat lolos dan langsung memakaikan borgol kaki dengan rantai hanya tiga itu ke kaki Mila

‘klek.... klek....’ tangan dan kaki Mila terborgol ‘criik...criik...’ bunyi borgol yang Otniel kencangkan kemudian pahanya yang cantik itu di elus sebentar dan kakinya dipakaikan sepatu berhak tinggi dengan tali melingkar agar dia terlihat lebih sexy...
Lalu Otniel membopong Mila ke dalam kamar dan dibaringkan di atas ranjang sembari menunggu Mila sadar. Dibelai2nya paha Mila yang terlihat akibat rok terusan daster yang dia gunakan begitu pendek dan sedikit tersingkap
“klik..klik...” suara foto yang digunakan Otniel untuk mengabadikan gambar Mila yang terikat tak berdaya serta sebuah handycam diletakkan juga disana untuk mengabadikan videonya lalu tanpa sungkan Otniel pergi ke dapur untuk mencarikan Mila makanan sekaligus memastikan tidak ada orang lain di rumah Mila. Makanan di bawa Otniel kedalam kamar, lengkap dengan minumannya.
Semua ruangan telah di cek, pintu dipastikan sudah terkunci, gorden tertutup semua oleh
Otniel kemudian kembali ke kamar dimana Mila ditahan.
“urgh.......!!” perlahan-lahan Mila siuman, didapatinya tubuhnya terbaring di kamarnya, ugh... tangannya diborgol ketat ke belakang,.... kakinya juga diborgol, dan dilihatnya bahwa kakinya bersepatu, Mila mulai panik namun dilihatnya tamunya Otniel di sudut kamarnya memegang kamera digital
“Niel, apa yang kamu lakukan padaku,...lepasin dong.... Niel !!” tegur Mila
“lepasin? enak banget? kamu lebih bagus gitu, kayak gitu aja ya?” tukas Otniel seraya tersenyum melihat ke arah Mila, sambil terus mengambil foto Mila hingga 2 sampai 3 pengambilan gambar lagi,
“Niel......” sapa Mila dengan sabar yang tidak digubris Otniel sembari menyelesaikan jepretan terakhir, secara alami Mila tersenyum ketika bidikan terakhir. Otniel langsung membereskan kameranya dan duduk disebelah Mila yang terborgol tak berdaya.
“Kenapa Mil...?” Otniel balik bertanya sembari mengelus2 rambut mila
“Lepasin aku Niel......”
“Kenapa aku harus lepasin kamu?” Otniel tersenyum, sembari terus mengelus2 kepala mila
“iyaaa lepaaasiiiinnn............uuuggghhh” rengek Mila
“adududuuh...jangan nangis, cantik...kenapa mau dilepasin sich?
“kayak gini kan lebih enak, mila aman kok, nggak akan aku sakitin.....”
‘udah ya, waktu bicara kamu sudah habis” Otniel langsung mengambil ballgag berukuran besar dan dimasukkan ke dalam mulut Mila, kemudian ballgag tersebut diikat erat dan di gembok bagian belakangnya untuk memastikan ballgag tetap di dalam mulut Mila
“eemmmppphhhhhh...........eemmmppphhhhhh...........!!” Mila meronta-ronta
“udah kamu tidur dulu ya sayang, tenang yach......” Otniel menenangkan hati Mila sambil mengelus2 paha mila yang terlihat begitu cantik
"Kenapa mulutku dibungkam yach?" batin Mila heran, serasa Otniel dapat membaca pikirannya,
“Penutup mulut ini aku pakaikan ke kamu agar kamu bisa lebih tenang, sori ya Mila, kamu harus aku beginikan, ini untuk kebaikan kamu juga kok...” sambil tangannya terus meraba2 paha Mila yang lembut
“eemmmppphhhhhh...........” keluh Mila
“sudah diam...atau mau aku bius?” Otniel mulai mengancam
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila memberontak
‘“eh ga ngerti juga ya....?” balas Otniel
“eemmmppphhhhhh...........!!!! eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila semakin melawan, kemudian Otniel mengambil sapu tangan dan menuangkan chloroform dan dibekapkan ke hidung Mila. Milapun tak sadarkan diri.
Otnielpun karena lelahnya berbaring dan tertidur disamping Mila, sembari memeluknya
(4 jam tertidur hingga jam 19 malam)
“eemmmppphhhhhh...........!!!! eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila tersadarkan diri, dia semakin tidak bisa bergerak dalam pelukan Otniel yang telah menawannya,sementara Otniel mulai terusik dengan suara jeritan Mila, perlahan2 terbangun dan menyesuaikan penglihatan setelah tidur
“Ada apa Mil...kok jerit2 begitu?”
“eemmmppphhhhhh...........!!” erang Mila
“eh kamu mau ngomong apa sih? yang jelas dong..” Otniel mengolok-olok Mila
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila melotot Otniel melihat Mila dengan tersenyum
“mau ngomong ya? ok2 aku lepasin” Otniel menurunkan ballgag dari mulut Mila.
“Niel,.... aku mau ke toilet nich kebelet....” (muka memelas memohon)
“Trus? Kalo aku tidak ijinin kamu ke toilet gimana Mil? godanya
Aaaarrgghhh,.... Niieeelll aku gak mungkin ngompol di tempat tidurkuuu” keluh Mila
“oke oke...!”kemudian Mila dia bopong kekamar mandi...di dudukan di toilet duduk dan roknya sedikit disingkap ke atas karna roknya memang sudah pendek dan celana dalamnya diturunkan ke bawah dan Otniel menunggu Mila selesai didepan pintu kamar mandi...
“aahhhh.....(lega) lalu Niel... udah..!” teriak Mila terdengar
‘oke manis...” Otnielpunmasuk ke dalam, kemudian aku dengan telaten membersihkan bagian kemaluan Mila di cebokin sampe bersih, Mila tersentak dan merasa risih dicebokin cowo, kendati dirinya sering juga pipis dalam keadaan diikat dan dicebok suaminya, kemudian Otniel mengambil handuk dan mengeringkan bagian tubuh Mila yang basah dan memakaikannya celana dalam lagi. Kemudian Mila dibopong ke ruang TV
“Mila duduk yach...”
“hati hati...” sahut Mila spontan didudukkan disebelah Otniel, Mila mulai pasrah dengan keadaannya terborgol
“Mila laper gak?” tanyanya
“eh,... boleh juga” Mila tersipu malu (dalam benaknya Mila ingat dia belum siapkan makan malam untuknya).
“Ya sudah aku tinggal dulu kamu ya beli makanan....” khawatir Mila berteriak minta tolong, mulutnya masukan kain dan disumpal lakban.
“eemmmppphhhhhh...........!!!!”
Otniel mengambil sapu tangan yang sudah diberi chloroform lalu dibekapkan ke mulut Mila
Setelah di bius, Mila terkapar tak sadarkan diri,lalu Otniel mengambil tali pramuka dari dalam tasku dan siku Mila diikat sampai hampir menyatu, dilepaskannya borgol di tangan dan di kaki Mila kemudian pergelangan tangannya diikat erat, dan lutut mila diikat menyatu, demikian pergelangan kakinya setelah itu Mila dibiarkan tergeletak di sofa, Otniel pergi untuk mencari makanan.
2 (dua) jam lamanya Otniel mencari makanan dan akhirnya pulang dan melihat Mila masih tak sadarkan diri di sofa, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan yang tadi baru di beli
Mila sedang sibuk meronta ketika Niel kembali,... Mila bingung karena kini tubuhnya penuh dengan lilitan tali
“eh Mila, udah bangun?” sapa Otniel dari dapur
“ini aku bawain Mila makanan, kamu pasti laper ya?”
“oh iya, aku bukain dulu sumpelan mulut kamu”
“ah... terima kasih mas...” Mila mulai menjinak dalam tawanan
“kok manggil mas? panggil niel aja, Mila makan dulu ya? laper kan?” Mila mengangguk
Otniel tersenyum melihat Mila, mengelus pipinya sekali dan mulai menyuapinya makan
“Mila memang sering sendirian seperti ini ya?” tanyanya sambil menyuapi mila
“Niel,... berapa lama kamu mau sekap aku.... nanti suamiku pulang lho, dia habis terbang tuh” kata Mila
“emang kapan suami kamu pulang?”
"Minggu depan...." dasar Mila gak biasa bohong, seharusnya dia bilang malam ini atau besok pagi, ugh Mila yang polos...
“oh....kalo gitu kamu aku tahan sampe minggu depan aja, khan masih minggu depan
atau mau aku culik sekalian aja? aku bawa ke tempatku?”
“jangan dong Niel,... besok pasti pembantuku datang, apa kata orang?” tolak Mila sambil disuapi makanan.
“Kalo besok pembantumu datang, berarti aku tepaksa bawa kamu pergi dong, aku bakal rantai kamu untuk selamanya” Mila terdiam dengar ide Otniel yang terakhir itu, tawaran yang tidak mengandung pilihan bagi Mila
“Aku tulisin pesan aja ya kalo kamu bakal pergi keluar kota terus aku bakal nitipin rumah ke pembantu kamu itu....” Mila di belenggu kecemasan yang luar biasa
“Ya Mila...habis makan ini kita siap siap ya!”ajak Otniel sambil mengelus2 paha Mila
“Jangan Niel,... pleaseee!” Mila memohon
“loh tapi pembantu kamu mau dateng tuh...sori Nil, aku terpaksa giniin kamu” makanan habis, segelas air diteguknya lalu mulut Mila disumpal lakban lagi
“Kamu tenang aja yach di tempatku nanti...”
“eemmmpphhhhh....eemmmppphhhhhh...........!!!!” kemudian Otniel langsung bergegas, menyalakan mesin mobil dan memasukkan Mila ke dalam bagasi mobil dalam keadaan tetap di hogtied
“nah kamu disini aja ya” ujar Otniel lembut
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila ketakutan
“takut kelihatan orang nanti” Otniel juga khawatir
“eemmmppphhhhhh...........!!!!”Mila menolak BRAAKK pintu bagasi ditutup
Otniel langsung tancap gas menuju tempat peristirahatannya di daerah Batu Malang setelah beberapa jam, akhirnya sampai di tempat peristirahatannya' mobil dimasukkan mobil ke garasi
Mila digendong dari bagasi menuju sebuah kamar
“eemmmppphhhhhh...........!!!!”
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila terkejut melihat apa yang ada di kamar itu, disana sudah terdapat banyak set penahan, seperti borgol, straitjacket, tali, pasungan
“Nah kamu liat semua alat2 itu Mil? Mila melihat semua perlengkapan Otniel yang bukan sekadar dekorasi
“alat2 itu sudah ku persiapkan buat menawan kamu”
“sekarang coba kamu liat kesana, disana ada sel, tempat aku bakal mengurung kamu nanti...!”
“kalo kamu ga nakal aku biarin kamu tidur bareng aku dikasur, di kamarku, ngerti??” Otniel melepaskan tali yangmengikat menyambung antara kaki dan tangan Mila, memasukkannya kedalam sel dan mendudukkannya kemudian mengunci dengan gembok sel itu di dalam sel Mila terus meronta-ronta berusaha melepaskan tali2nya meskipun dia sadar ikatannya begitu kencang
Mila terus bersuara, meskipun tak jelas terdengar, yang terdengar hanya hmmmphhh saja
Kemudian Otniel beranjak hendak meninggalkan Mila sendirian di dalam sel...tanpa membiusnya
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila sibuk meronta, dia tahu kendati bisa lepas, tubuhnya terkurung dalam sel.
“Selamat tidur Mila...”
“Sia-sia saja Mila” pikir Otniel
“aku tinggal ya Mil...”
“eemmmppphhhhhh...........!!” Otniel pergi meninggalkan Mila sendirian di selnya, rasa khawatir dan takut membelenggu Mila, diculik ke suatu tempat yang dia tidak tahu, diikat, dikurung di sel, di tinggal, dalam sebuat ruangan di lantai atas. Mila menyesali kepolosannya yang mengatakan suaminya akan pulang minggu depan
"duuch.... kenapa sich aku begitu jujur...." sesal Mila dalam hati
Tiba-tiba Otniel kembali ke sel membawa gunting...
“Mil, sori yaach kayaknya pakaian kamu harus aku lepas” ujar Otniel sambil menggunting daster mila mulai dari bawah rok sampai atas dan langsung memasukkan bajunya ke tong sampah
“Kamu aku pakein ini ya Mil” sambil menunjukkan sebuah nipple clamp
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” Otniel memasangkannya dengan telaten ke dada mila
“aauuwhh......” erang Mila dalam hati
“Kenapa Mil? masih kurang kencang ya, aku kencengin lagi ya?” Otniel mengencangkan nipple clampnya, sembari memberikan elusan terakhir di dada Mila
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” keluh Mila kesakitan
“selamat tidur, sayang...”
“eemmmpphhhh...... eemmmpphhhh...!! jerit Mila kesakitan.

Berikut ini testimony yang masuk ke e-mailku. Selamat membaca!

Salam kenal kak,
Sebelum mengenal dunia maya aku kira aku ini aneh.. dari kecil aku suka sekali diikat, bahkan terkadang mencoba mengikat diri sendiri saat orang tua sedang tidak di rumah.
Kini sekarang aku tahu ternyata aku tidak sendirian,banyak juga orang sepertiku, senang sekali mengetahui hal itu.
Aku termasuk orang yang kuno, tidak pernah berhubungan dengan pacar, namun belakangan aku minta pacarku untuk mengikatku. Awalnya dia ragu, tapi diam2 dia mencari segala sesuatu tentang bondage, ternyata dia juga suka melihat wanita tidak berdaya dan katanya dia bisa lebih terangsang.

Mulailah aku suka bermain ikat2an dengan pacarku, pada saat episode pertama, saat itu ada teman sekamarku, tapi aku berhasil membujuk dia untuk tidak menginap di kamar kos malam ini, alasannya besok khan kuliah siang; akhirnya dia menurut, lalu datanglah pacarku ke kamar kost, kututup gorden kemudian aku kunci pintu khawatir ada yang masuk.
Setelah itu pacarku memutar film d laptopku, filmnya tidak ada hubungan dengan ikat2an sih, film knowing kalau tidak salah..tanpa sepengetahuanku ternyata dia sedang menyiapkan beberapa tali dan kain yang tidak terlalu lebar dan cukup panjang.

Tanpa menghiraukan aku yang masih kelelahan, karena menjemputnya didepan gang dengan jalan kaki dan cukup jauh, tiba2 dia memegangi tangan kanan ku dengan kuat aku mencoba menghindar, tapi genggamannya terlalu kuat.. akupun bertanya "Aa (panggilan kesayangan) ngapain sih??" Dia pun mmenjawab "udah nurut ajah,pokoknya neng lagi Aa culik,harus nurut semua kata Aa! Jangan berisik, nanti Aa lakban mulutnya!". Lalu dia pun mulai memegangi tangan kiriku dan meletakan kedua tanganku di punggung, lalu dia mengikatnya dengan sangat erat, aku kagum padahal dia baru mengenal bondage tapi dia begitu rajin menonton tutorial sehingga cukup mahir.
Setelah tanganku diikatnya kemudian dia membawa kain panjang lalu memegangi pergelangan kakiku, diikatnya pergelangan kakiku dengan erat juga dan jadilah aku tidak bisa bergerak. Hal yang selalu aku tanyakan pada pacarku saat mengikatku adalah,"Aa ngapain sih??" dan selalu dijawab dengan "udah,,neng nurut ajah, neng lagi Aa culik".

Setelah tangan dan kakiku diikatnya, akupun kembali melanjutkan menonton film, aku kira pacarku hanya melakukan itu, ternyata dugaanku salah. Dia mengambil tali dan keemudian memegangi kedua lenganku dan diikatnya lenganku dengan sangat kuat. Sehingga dadaku sedikit menyembul keluar, rasanya cukup sakit. Dalam keadaan terikat seperti itu, pacarku tak henti2nya menciumi ku, awalnya pipi,kemudian bibir sampai ke leherku. Untung saja pada saat itu aku tidak sedang memakai pakaian seksi sehingga yang dia lakukan hanya sampai menjilati leherku. Dan dia tidak berani untuk menggunting bajuku,,walopun selintas dia menanyakan gunting,,untung saja tidak jadi hehe...!

Karena aku begitu bawel dan tidak bisa diam, kemudian dia membuka tasnya dan mencari sesuatu di dalam tas tersebut, ternyata yg dia cari adalah lakban, lakban yg dibawa pacarku adalah lakban berwarna transparan dan cukup lebar, kukira itu tak cukup kuat, ternyata itu sangat kuat, tak hanya 1 lapis yang dia rekatkan di bibir ku. Ternyata sampai dua lapis,, itu cukup menghentikan kebawelanku, aku hanya dapat bersuara emmmpphhhh..... dan dia malah senang dengan keadaanku seperti itu..
Walaupun sakit sekali tapi rasanya begitu nikmat, apalagi saat dia memelukku dengan eerat, enak sekali rasanya 2 jam sudah aku diikat oleh pacarku, kemudian ia melepaskan satu per satu ikatanku, setelah semua ikatanku terlepas aku langsung mencium pacarku dengan hangat sebagai tanda terimakasih dan sebagai tanda bahwa aku menyukai hal itu, ia pun berjanji akan melakukannya lagi dengan intensitas waktu 2 minggu sekali. Dan sampai saat ini sudah 4 episode.. sungguh hal yang menyenangkan bisa bermain tali dengan pacarku.

Namaku Annisa, hari ini aku bete banget. Bagaimana tidak, di Ulang Tahun yang ke 22, ini tanpa teman tanpa pacar. Anak-anak kost lagi pulang kampung. Sebenarnya banyak cowok yang mendekati tapi aku masih enggan untuk menerima mereka.
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Dengan enggan aku buka, ternyata Astrid dan Ririn datang mau meminjam catatan. Menurut kabar yang beredar di kampus mereka itu pasangan lesbian.
"Eh, kalau tidak salah kamu hari ini ultah kan.. selamat ya!", kata Ririn.
"Makasih Rin", jawabku malas.
"Kok cemberut sih, harusnya kan hepi" Tanya Astrid.
"Terus yayangmu mana nih?".
Akhirnya aku ceritakan semua yang membuat hatiku sedih.
“Kasihan........ eh bagaimana kalo kamu ikut ke rumahku, kita bisa senang-senang di sana, benar nggak Rin?", ajak Astrid.

Tanpa pikir panjang aku ikut mereka. Baru kali ini aku ke rumah Astrid. Ternyata di rumah yang cukup mewah ini, Astrid tinggal berdua dengan Ririn. Orang tuanya berada di luar negeri. Kami lalu ngobrol dan saling becanda. Mereka ternyata asik buat becanda bahkan lebih gila. Astrid kemudian mengajak main kartu dengan hukuman bagi yang kalah melepas seluruh pakaian satu persatu dan harus menuruti apa yang diminta pemenang. Di akhir permainan, Astridlah pemenangnya, ia masih mengenakan BH dan celana dalam sedang aku hanya tinggal celana dalam, bahkan Ririn sudah telanjang. Mula-mula aku malu, tapi mereka tenang-tenang saja. Diam-diam aku tertarik juga melihat tubuh mereka yang indah, walau tubuhkupun sebenarnya tidak kalah seksi.

"Nah aku yang menang, sekarang kalian harus siap dihukum. Rin, ambil peralatannya!", kata Asrid.
Ririn lalu mengambil sebuah tas dan beberapa gulung tali dari dalam lemari.
"Untuk apa tali itu?", tanyaku bingung.
"Kita yang kalah akan diikat, kamu pernah belum Nis ?" kata Ririn.
Aku mengangkat bahu dan menggeleng.
"Kalau gitu ini akan jadi pengalaman pertamamu yang mengasikkan", lanjut Ririn.
"Sekarang bantu aku mengikat Ririn dulu", kata Astrid.
Kami lalu mengikat Ririn pada sebuah kursi. Astrid mengikat kedua tangan kebelakang juga mengikat tubuh Ririn ke sandaran kursi. Sedang aku mengikat kakinya pada masing-masing kaki kursi secara terpisah. Setelah itu Astrid membuka tas dan mengambil sebuah alat berbentuk bola kecil.
"Apa itu Trid?", tanyaku.
"Ini namanya ballgag Annisa, gunanya untuk membungkam mulut", jelas Astrid.
"Coba kamu pasangkan ke mulut Ririn".
"Ya, ayo bungkam mulutku, tak usah ragu Nis, yang erat sekalian", sahut Ririn ketika melihatku ragu.
Aku lalu memasangkan ke mulutnya dan mengekangnya dengan erat, hingga aku yakin Ririn tak dapat mengeluarkan suara lagi. Dalam keadaan telanjang dan terikat tak berdaya seperti itu, aku lihat Ririn tenang-tenang saja bahkan terlihat sangat menikmatinya.

"Sekarang giliranmu Nis, mau pakai borgol atau tali?" Tanya Astrid.
" Terserah kamu, aku menurut saja." ujarku pasrah dan bingung
Asrid mengambil beberapa gulung tali lagi lalu menyuruhku telungkup di kasur. Kemudian ia mengikat kedua tanganku ke belakang, lutut dan pergelangan kakiku juga diikat. Tidak juga itu, tanganku diikatkan lagi dengan kakiku hingga tertarik hampir menyentuh pergelangan kaki. Kata Astrid itu namanya hogtied.
"Gimana, sakit tidak?" tanyanya.
Aku menggeleng walau sebenarnya sedikit sakit karena ikatan yang sangat erat. Tidak tahu mengapa aku merasakan sesuatu yang aneh dan menyenangkan dalam keadaan tak berdaya begini.
"Aku sumbat mulutmu ya." Kata Astrid sambil mengambil sebuah bandana.
Akupun diam saja ketika ia membungkam mulutku dengan bandana tersebut.

Selesai mengikatku, Astrid kembali ke Ririn, lalu ia menciumi tubuh Ririn, menjilati kemaluannya dan meremas-remas payudaranya yang montok.

Ririn terlihat sangat terangsang dan menikmati permainan itu. Melihat mereka, tidak tahu mengapa aku ikut terangsang juga dan ingin diperlakukan sama seperti itu. Tubuhku menegang menahan gairah. Astrid yang mengetahui hal itu lalu menghampiriku sambil membawa alat suntik.
"Kamu tenang dulu, nanti ada permainan sendiri buatmu yang lebih mengasyikkan. mungkin sebaiknya kamu istirahat, simpan tenaga buat nanti."
Astrid menyuntikku dengan bius, aku sebenarnya tidak setuju tapi tidak berdaya menolaknya sehingga akhirnya aku tak sadarkan diri....

Ketika terbangun aku terkejut melihat ruang dipenuhi lilin. Juga tidak ada Ririn maupun Astrid. Sedangkan aku kini tidak terikat hogtied lagi tapi dalam posisi berdiri agak berganyung. Kedua tanganku terikat erat ke belakang, kedua kakiku diikat pada ujung-ujung sebuah tongkat besi hingga mengangkang posisinya. Lebih terkejut lagi ketika aku memperhatikan pakaianku yang aneh. BH yang kupakai pada bagian payudara berlubang hingga payudaraku kencang menyembul keluar juga celana dalamnya pada bagian kemaluan berlubang. Sedang tanganku memakai sarung tangan panjang kakiku telah memakai stocking. Semua pakaian terbuat dari kulit berwarna hitam. Karena bingung aku lalu mencoba memanggil Astrid dan Ririn.
“eemmmppphhhh........!!”
Aku ingin berbicara tapi suaraku tidak bisa keluar terhalang bola di mulut. Ternyata mulutku telah di bungkam dengan ballgag yang tadi digunakan untuk membungkam Ririn. Aku panik dan berusaha melepaskan diri tapi sia-sia, ikatannya terlalu erat tidak mungkin untuk membebaskan diri. Akhirnya pintu kamar terbuka. Astrid masuk.
"Wah.. sudah bangun, lapar ya?", katanya sambil membawa makanan.
"Mmpphhhh.. mmpphhhh.." jawabku sambil mengangguk.
Astrid lalu melepaskan ballgag yang membungkam mulutku.
"Kamu mau apa lagi Trid ? Tolong lepaskan aku dong..." pintaku pada Astrid.
"Belum waktunya Annisa, aku belum bermain-main sama kamu. Sekarang kamu makan dulu!".
Astrid lalu menyuapi makanan hingga aku kenyang. Setelah itu dia mengambil ballgag dan berniat untuk memasangkan lagi di mulutku.
"Tidak...... Astrid!! aku nggak mau memakai itu,.. tol.. mmpphh.. mmpphhh..".
Astrid tidak peduli dengan penolakanku dan tanpa kesulitan berarti dia berhasil kembali membungkam mulutku.
"Ririn akan aku bawa kesini, sementara itu kamu lihat film dulu. Ok!".
Sambil berkata, dia memutar sebuah film yang berisi adegan wanita-wanita yang diikat dan disiksa. Kali ini aku benar-benar takut membayangkan rasa sakit ketika disiksa seperti itu, ketika film itu habis....

Pintu kamar terbuka dan Astrid kembali masuk, kali ini bersama Ririn. Dengan pakaian hitam ketat, Astrid kelihatan sangat cantik, sedang Ririn telanjang hanya mengenakan sarung tangan, stocking dan topeng hitam seperti algojo dalam film itu. Kedua tangan Ririn diborgol dengan rantai panjang dan dilehernya juga terdapat rantai pengekang. Aku tidak tahu permainan apa lagi yang akan mereka mainkan. Ririn dibawa kearahku lalu leherku dipasang pengekang dan diikat dengan ujung satunya dari rantai yang mengekang leher Ririn. Kini leherku dan leher Ririn terikat rantai sepanjang 1 meter. Astrid mengambil cambuk dan mulai mencambuki punggung dan pantatku, sementara tangan Ririn bermain-main dengan payudaraku.
"eemmmpphhhhh...... emmpphhhh...... mmmpphhhh......!!!!".
Aku cuma bisa mengaduh, tidak tahu karena sakit dicambuk atau keenakan. Benar-benar suatu perasaan yang aneh tapi mengasyikkan. Aku merasakan suatu gairah yang baru pertama kali kurasakan. Selesai bermain-main dengan cambuk, Astrid menyuruh Ririn untuk duduk bersimpuh sehingga kepalanya tepat dihadapan kemaluanku.

Kemudian Astrid mengambil sebuah alat baru yang lebih aneh lagi dan memasangkan di mulut Ririn. Alat itu berbentuk penis, sehingga terlihat dari mulut Ririn keluar sebuah penis tersebut. Dan dengan mulutnya, penis itu dimasukkan ke kemaluanku. Oh.. sungguh nikmat sekali yang aku rasakan. Astrid lalu mengambil jepitan pakaian dan menjepitkan pada kedua payudaraku tepat di putingnya. Sakit rasanya. Kembali aku melotot memprotes tindakannya.
"eemmmpphhhhhh........ mmmpphhhhh......!!!" erangku.
Tapi Astrid malah tersenyum senang melihatku kesakitan. Tidak puas dengan itu, Astrid mengambil lilin yang ada di lantai dan meneteskan lelehan lilin panas itu ke tubuhku dan Ririn sambil tertawa-tawa. Sementara Ririn terus saja memainkan penis itu di kemaluanku. Entah berapa lama mereka akan menyiksaku seperti ini. Walaupun lama kelamaan aku bisa juga menikmati siksaan tersebut. Hingga akhirnya tidak kuat menahan rasa sakit dan gairah yang semakin memuncak, aku pingsan tidak sadarkan diri.

Sewaktu sadar, aku berada di kamar dengan ditemani oleh mereka. Namun tangan dan kakiku ,masih tetap terikat. Tubuhkupun telah mengenakan pakaian seperti ketika datang.
"Selamat pagi.." Ririn dan Astrid menyapaku sambil tersenyum.
Ternyata sudah pagi, jadi hampir semalaman aku telah diikat dan disiksa mereka.
"Bagaimana keadaanmu, sudah baikan?", tanya Ririn.
"Iya, kapan nich aku kalian lepasin.....? " sahutku seraya mengangguk,
“Mau dilepasin sekarang, Nis ?” tanya Astrid yang langsung melepaskan simpul tali yang mengikat di kaki dan tanganku.
Bangun dalam tubuh yang masih sedikit terasa lelah, ketika kuperhatikan tubuhku masih ada bekas cambukan juga di pergelangan kaki dan tangan masih terlihat guratan merah bekas ikatan tadi malam. Sebelum pulang, mereka menawarkan untuk melakukannya lagi di lain waktu.
"Bagaimana, kami tidak memaksa.. tapi jangan kamu sebarkan hal ini", Kata Astrid sambil menyerahkan kaset video.
Ternyata diam-diam mereka telah merekam semuanya. Sampai aku pulang, aku belum memberikan jawaban. Yang pasti kalau menginginkannya lagi aku yang akan menghubungi mereka.
Suatu malam tiba-tiba aku ingin melihat rekaman itu, melihat kejadian-kejadian ketika aku diikat dan disiksa, membuat gairahku muncul dan menginginkannya lagi. Kemudian aku ambil telepon genggamku dan mengetik sms :
"Astrid, Ririn...... kapan nich, kalian akan mengikat dan 'menyiksa'ku lagi..??".

TAMAT

Rida adalah seorang gadis 20 tahunan yang bekerja di sebuah bank negeri di kota Bkl. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Ia memiliki tubuh yang kencang. Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya harus selalu dijaga. Ia selalu tampil manis dan harum.
Suatu hari di sore hari Rida terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Warto dan Diman, satpam mereka. Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, biasanya para satpam duduk di pintu luar. Ada kabar para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan, Rida merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.
“Mau kemana Rida?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.
Rida terkejut, ada Warto dan Diman. Mereka menyeringai.
“Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang dulu..”, Rida menyapa mereka berdua yang mendekatinya.
“Rida, kami bakal diberhentikan besok..”, Warto berkata.
“Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Rida menjawab.
Di luar hujan mulai turun.
“Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.
“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan..”, Rida menjawab.
Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Warto mencekal lengan Rida. Sebelum Rida tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka.
“Aah! Jangan Pak!”.
Diman menarik blus warna ungu milik Rida. Gadis itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan. “Sekarang aja Rida. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”.
Warto menyeringai melihat Diman merobek kaos dalam katun Rida yang berwarna putih berenda. Rida berusaha meronta. Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.
“Jangann! Lepaskann!”, Rida berusaha meronta.
Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu Rida. Kedua lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Rida. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya ketika ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Rida menyepak Diman dengan keras.
“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Diman hanya menyeringai.
Rida di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan di meja itu berhamburan bersih.
“Aahh! Jangan Pak! Jangann!”, Rida mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu.
Sementara kedua tangannya terus dicekal Warto, Diman sekarang lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Rida. Sepatunya terlepas.
Diperlakukan seperti itu, Rida juga mulai merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya. Menunjukkan celananya telah terlepas jatuh. Rida lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu Rida. Rida mengenakan setelan pakaian dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat Rida yang kencang mulai ditepuk oleh Warto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”.
Tubuh Rida memang kencang menggairahkan. Payudaranya besar dan kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan menungging di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan. Diman menjambak rambut Rida sehingga dapat melihat wajahnya. Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O. Matanya basah, air mata mengalir di pipinya.
“Sret!”, Rida tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik robek.
Menyusul branya ditarik dengan kasar. Rida benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan hanya dengan mengenakan stocking sewarna dengan kulitnya. Sementara penis Warto yang besar dan keras mulai melesak di vaginanya.
“Ouuhh! Adduhh..!”, Rida merintih.
Seperti anjing, Warto mulai menyodok nyodok Rida dari belakang. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Rida hanya mampu menangis tak berdaya.
Tiba-tiba Diman mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang. Memaksa Rida membuka mulutnya. Rida memegang pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Warto mendesak dari belakang, Diman menyodok dari depan. Bibir Rida yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan Diman yang terus keluar masuk di mulutnya. Tiba-tiba Warto mencabut kemaluannya dan menarik Rida.
“Ampuunn.., hentikan Pak..”, Rida menangis tersengal-sengal.
Warto duduk di atas sofa tamu. Kemudian dengan dibantu Diman, Rida dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.
“Slebb!”, kemaluan Warto kembali masuk ke vagina Rida yang sudah basah.
Rida menggelinjang ngilu, melenguh dan merintih. Warto kembali memeluk Rida sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina gadis itu. Rida masih tersengal-sengal melayani serangan mulut Warto ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit. Diman mulai memaksa menyodominya.
“Nghhmm..! Nghh! Jahannaamm..!”, Rida berusaha meronta, tapi tak berdaya.
Warto terus melumat mulutnya. Sementara Diman memperkosa anusnya. Rida lemas tak berdaya sementara kedua lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang. Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Rida ditelentangkan dengan tergesa kemudian Warto menyodokkan kemaluannya ke mulut gadis itu. Rida gelagapan ketika Warto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Rida dipegang erat dan..
“Crrt! Crrt!”, cairan sperma Warto muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Rida merasa akan muntah. Tapi Warto terus menekan hidung Rida hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu. Warto terus memainkan batang kemaluannya di mulut Rida hingga bersih. Rida tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.
Mendadak Diman ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Rida. Kembali mulut gadis itu diperkosa. Rida terlalu lemah untuk berontak. Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Rida menangis sesenggukan. Diman memakai celana dalam Rida untuk membersihkan sisa spermanya.
“Wah.. bener-bener kenangan indah, Yuk..”, ujar Warto sambil membuka pintu belakang.
Tak lama kemudian 3 orang satpam lain masuk.
“Ayo, sekarang giliran kalian!”, Rida terkejut melihat ke-3 satpam bertubuh kekar itu.
Ia akan diperkosa bergiliran semalaman. Celakanya, ia sudah pamit dengan teman sekamarnya Ita, bahwa ia tak pulang malam ini karena harus ke rumah saudaranya hingga tentu tak akan ada yang mencarinya.
Rida ditarik ke tengah lobby bank itu. Dikelilingi 6 orang lelaki kekar yang sudah membuka pakaiannya masing-masing hingga Rida dapat melihat batang kemaluan mereka yang telah mengeras.
“Ayo Rida, kulum punyaku!”, Rida yang hanya mengenakan stocking itu dipaksa mengoral mereka bergiliran.
Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam keadaan seperti merangkak. Dan sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang anusnya.
“Akhh.., mmhh.., mhh..”, Rida menangis tak berdaya.
Sementara mulutnya dijejali batang kemaluan, anusnya disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram.
“Akkghh! Isep teruss..!, Ayoo”.
Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Rida. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Rida dipaksa menelan sperma semua satpam itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Rida bergiliran.
Tubuh Rida yang sintal itu basah berbanjir peluh dan sperma. Stockingnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Rida ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam itu bergiliran mengocok kemaluan mereka di wajahnya, sesekali mereka memasukkannya ke mulut Rida dan mengocoknya disana, hingga secara bergiliran sperma mereka muncrat di seluruh wajah Rida.
Ketika telah selesai Rida telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Rida pingsan. Tapi para satpam itu ternyata belum puas.
“Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu.
“Iya, aku masih belum puas..”.
Akhirnya muncul ide mereka yang lain.
Tubuh telanjang Rida diikat erat. Kemudian mereka membawanya ke belakang kantornya. Bagian belakang bank itu memang masih sepi dan banyak semak belukar. Rida yang masih dalam keadaan lemas diletakkan begitu saja di sebuah pondok tua tempat para pemuda berkumpul saat malam. Hujan telah berhenti tetapi udara masih begitu dinginnya. Mulut Rida disumpal dengan celana dalamnya. Ketika malam semakin larut baru Rida tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat dan terikat tak berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan karena stockingnya masih terpasang.
Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa laki-laki. Dan mereka terkejut ketika masuk.
“Wah! Ada hadiah nih!”, aroma alkohol kental keluar dari mulut mereka.
Rida berusaha meronta ketika mereka mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Tapi ia tak berdaya. Ada 8 orang yang datang. Mereka segera menyalakan lampu listrik yang remang-remang. Tubuh Rida mulai dijadikan bulan-bulanan. Rida hanya bisa menangis pasrah dan merintih tertahan.
Ia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian para lelaki itu bergiliran memperkosanya. Semua lubang di tubuhnya secara bergiliran dan bersamaan disodok-sodok dengan sangat kasar. Kembali Rida bermandi sperma. Mereka menyemprotkannya di punggung, di pantat, dada dan wajahnya. Setiap kali akan pingsan, seseorang akan menampar wajahnya hingga ia kembali tersadar.
“Ini kan teller di bank depan?”
Mereka tertawa-tawa sambil terus memperkosa Rida dengan berbagai posisi. Rida yang masih terikat dan terbungkam hanya dapat pasrah menuruti perlakuan mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari lubang pantat dan vaginanya yang telah memerah akibat dipaksa menerima begitu banyak batang penis. Ketika seseorang sedang sibuk menyodominya, Rida tak tahan lagi dan akhirnya pingsan. Entah sudah berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan sperma mereka ke seluruh tubuh Rida sebelum akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah mereka puas.