Aku mengerang tanpa sadar. Mataku mulai basah. Aku tidak menduga jawaban itu keluar dari bibirnya. Aku tidak membaca apapun tadi. Aku menyudahinya, karena mengangap sudah cukup. Tapi kukira ada yang terlewat. Sesuatu yang memilukan.
"Kamu tidak menuliskannya," bisikku. Sadar nada suaraku yang bergetar.
"Aku sedang menulisnya sekarang."
Aku membuka mata, mengusapnya dengan punggung tanganku. Lalu aku melirik ke arah monitor di sampingku. Dan aku melihat sesuatu di sana, sesuatu tentang cinta.

Tadi aku masih ingin menanyakan, 'Apakah kamu sungguh-sungguh mencintaiku?' Dan sekarang, setelah membaca kisah itu, aku mengurungkannya. Tapi aku masih khawatir. Sebab dalam ceritanya, hanya ada tiga hal yang selalu ada dalam gadis-gadisnya, Cinta, Kebencian, dan Pengkhianatan. Apakah aku akan termasuk dalamnya? Aku tidak ingin ia meninggalkanku. Lagi.

***

Berhari-hari berlalu setelahnya. Aku tidak pernah mempermasalahkan cerita-cerita itu lagi. Karena memang aku tidak perlu mengingatnya. Yang kutahu, saat ini aku bahagia. Ada dia di sisiku, dan selalu akan begitu, kuharap. Canda dan tawa mulai mengisi hari-hariku. Dan siapapun dapat melihat perubahan itu di dalamnya. Ia menjadi sosok yang berbeda. Sosok yang 'benar-benar' lepas. Bukan sosok yang lepas dengan bayangan beban itu. Ia mulai jarang keluar malam bersama sahabat-sahabatnya. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor (selain kuliah, dan bersamaku).

Aku juga mulai sering menghabiskan malam bersamanya. Nyaris setiap hari. Kedua orangtuaku tidak terlalu mempermasalahkannya. Mereka tahu aku berpacaran dengannya. Mereka merestuinya. Dan alasan lembur di kantor selalu masuk akal di benak mereka, karena mereka juga tahu ada seseorang yang menjagaku. Semuanya terasa di surga. Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.

Segalanya berlalu tanpa terasa. Dan aku tidak pernah menduga bahwa semua ini akan dalam sekejap berubah menjadi suatu impian yang mengerikan.

Sore itu ia meninggalkanku sendiri di kantor. Aku memang masih banyak pekerjaan, menyusun kalimat demi kalimat dalam kolom. Sementara pekerjaannya sudah selesai untuk hari itu. Aku tidak perduli ia meninggalkanku sendiri. Menurutku, nanti juga ia akan menghubungiku. Pemuda itu seorang yang benar-benar butuh kasih sayang, dan ia tidak akan kuat bila dalam dua jam saja tidak mendapatkannya.

Benar juga, menjelang pukul tujuh lima belas malam, aku menjumpainya di chat window. Aku tertawa saat menyapanya. Ia mengatakan sedang mencariku. Lalu kami berdua terlibat dalam perbincangan yang menarik. Ia berkeluh kesah, karena mobilnya baru saja ditabrak oleh seorang pengendara sepeda motor yang menurutnya tolol dan sinting. Ia juga menceritakan tentang bagaimana ia berhasil memperoleh pinjaman mobil untuk keluar.

Berbagai perbincangan, hingga waktu menunjukkan pukul sembilan kurang. Ia berpamitan padaku. Ia tidak mengatakan hendak kemana. Aku juga tidak ingin menanyakan ia hendak kemana. Bagiku, aku tahu kalau ia akan marah bila urusan pribadinya ditanyakan. Kalau ia tidak ingin mengatakan, aku akan membiarkannya saja, karena itu berarti ia tidak ingin membicarakannya. Hanya ia berjanji akan kembali satu jam kemudian.

Aku kembali ke dalam pekerjaanku. Menyusun kalimat demi kalimat. Berusaha mengusir jauh-jauh rasa ingin tahuku.

"Sudah setengah sebelas," desahku saat melirik jam digital di atas meja.
Tapi chat window itu masih juga tidak bertambah. Hanya sahabat-sahabat dan rekan-rekan kerjaku. Pemuda itu tidak di sana. Aku menunggu dan menunggu. Membuka kembali file-file yang sudah selesai kususun sejak tadi.

Setengah dua belas. Namun ia masih belum juga tampak. Aku bangkit berdiri, menekan tombol 'sleep' di keyboard, lalu membereskan barang-barangku di atas meja. Mungkin dia ketiduran, pikirku dalam hati. Aku juga tidak bisa lama-lama di sini. Aku mengangkat tali tas kerjaku di bahu, saat melangkah menuju saklar lampu. Mendadak pintu terbuka. Dan pemuda itu berdiri di depanku. Matanya menatapku nanar. Kaosnya terlihat penuh bercak keringat. Rambut panjangnya terlihat kusut. Bengkak di wajahnya. Jejak-jejak air mata terlihat jelas di situ. Aku hanya dapat terpana.

"Kamu.. ahh.. ada apa?" tanyaku, lalu tanpa pikir panjang berlari ke arahnya.
Kuulurkan lenganku untuk merengkuhnya. Tapi ia menepis lenganku.
"Jangan.. jangan sentuh aku..!"
"Ada apa? Ada apa?" tanyaku mencecar.
Tapi matanya mencari-cari dengan tatapan liar. Lalu matanya berhenti pada meja kerjaku.
"Aku.. aku.. mau menulis."

Aku hanya menatap dengan bingung saat ia berlari melewatiku. Menyalakan komputer. Dan tidak berapa lama kemudian jemarinya menari di atas keyboard. Tanpa henti. Dan setitik air mata mengalir di pipinya saat ia menuliskan cerita itu.

***

"STOP..! STOP..!" aku menjerit di sisinya.
Cerita itu tidak mungkin sebuah kenyataan, jeritku dalam hati. Tidak..! Tapi ia lagi-lagi menepis tubuhku, setengah mendorong sampai aku terhuyung mundur. Wajahnya berubah saat menatapku. Dan yang kulihat di sana adalah sebuah wajah yang penuh dengan derita. Aku terduduk. Aku menangis sesunggukan. Ia bukan pemuda itu, bukan kekasihku. Dan bunyi ketikan terdengar lagi, bagaikan orgel kematian.

***

Aku terbangun dan merasakan dinginnya lantai dan tubuhnya di atasku.
"Ayo, temani aku..!" bisiknya lirih.
Kuhela napasku dalam-dalam. Aku tidak tahu harus bagaimana. Ia membantuku berdiri. Sikapnya begitu dingin. Hawa-hawa kehidupan seolah sudah pergi darinya. Aku ketakutan, tapi tidak kuasa melakukan apapun.

***

"Ray..! Kembali..! Jangan pergi sendiri..!" aku menjerit, melompat turun dari dalam mobil dan mengejarnya.
Tapi pemuda itu tidak menghentikan larinya. Ia terhuyung sejenak, jatuh, lalu berlari lagi. Bibirnya berteriak-teriak sepanjang bahu jalan tol. Memanggil-manggil nama seseorang. Sesekali kulihat ia menarik-narik rambutnya.
"Ray..!" kututup mulutku dan berhenti berlari.
Aku masih menangis dari tadi.

***

Aku masih duduk di bahu jalan, beberapa meter dari mobil yang masih menggerung lembut. Memeluk kedua lututku. Perasaan tidak karuan sudah sedikit berkurang. Kupandang mega yang mulai terang di kejauhan. Tangisku sudah berhenti. Hawa yang mulai menghangat membuatku nyaman.

Suara langkah yang diseret membuatku menoleh. Pemuda itu terlihat berjalan gontai. Rambut panjangnya terjatuh menutupi wajahnya. Kuletakkan pipiku di lutut, menatapnya dengan hati sedih. Aku masih mengingat pancaran kehangatan itu. Di suasana pagi yang sama. Dan kini hanya tertinggal sebuah rasa yang begitu jauh dari hangat. Aku melihat kepedihan dalam setiap langkahnya yang terseret.

"Kamu mau dipeluk?" tanyaku setelah ia tinggal beberapa langkah dariku.
Ia mengangguk, lalu menyelonjorkan tubuhnya di aspal. Kepalanya di pangkuanku. Aku mendekapnya dengan penuh kasih. Tubuhnya berguncang. Kutempelkan pipiku di telinganya.
"Ia tidak ada," kudengar pemuda itu mendesah. Suaranya bergetar. Lalu ia menggigil.
"Kita akan telepon polisi. Bukan begitu, Sayang?" bisikku di telinganya.
"Polisi.. ya.. polisi.."

Mobil-mobil melaju di belakangku. Aku tidak perduli. Pagi itu merekah. Ia tertidur di pangkuanku. Aku tidak mengusiknya. Sesaat kemudian patroli jalan tol berhenti di depanku.

TENTANG DIA, BAGIAN KETIGA.

Sore itu aku pulang ke rumah dengan rasa hati yang tidak karuan. Jengkel. Kenapa? Tepat lima belas menit yang lalu, seorang bodoh menubruk mobilku yang 'anehnya' sedang berhenti. Setelah argumentasi yang membosankan, akhirnya kuputuskan untuk membiarkan orang itu pergi. Lagipula tidak ada yang dapat diharapkan dari dompetnya yang hanya berisi beberapa lembar ribuan, SIM, dan STNK.

Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar mandi. Air dingin ternyata cukup manjur untuk menghilangkan rasa penat dan pusing di kepalaku. Tidak berapa lama kemudian aku sudah bersantai di teras, menikmati malam yang nyaris datang. Tengah aku mulai merasa mengantuk, mendadak handphone-ku berbunyi dari ruang tamu. Semula aku memutuskan tidak ingin mengangkatnya. Tapi suara itu semakin lama semakin mengganggu, akhirnya aku beranjak dari teras.

Saat aku mengangkat handphone, bunyinya sudah tidak lagi terdengar. Berganti dengan bunyi 'beep' yang menyatakan ada pesan pendek masuk. Kutekan tombol di bawah gambar amplop, dan sebuah pesan keluar.

Ray, r u busy tonight?

Di atas kata-kata tersebut, dalam kotak highlight, tertulis 'HP QRA'. Aku melengos seketika. Kuletakkan kembali handphone itu ke atas meja, berniat tidak ingin membalas pesan pendek itu. Tapi lalu bunyi 'beep' kembali terdengar. Aku menatap handphone itu dengan menimbang-nimbang apa yang harus kulakukan.

Pls, i need ur help..now

Aku mengerang. Sudah kukira akan merupakan sebuah keputusan yang salah dengan mengangkat handphone itu. Aku punya satu penyakit, yaitu tidak dapat menolak jika ada seseorang yang berkata 'tolong' kepadaku. Tidak bahkan Qra, nama sayang yang kuberikan padanya setahun yang lalu. Saat kami masih dilanda badai asmara. Pada Rani. Atau Kirani.

Setelah menitipkan mobil di bengkel A Hok, sahabatku, aku bergegas menuju ke rumah Qra dengan meminjam mobil milik A Hok juga. Sebetulnya aku hanya ingin meminjam sepeda motornya, tapi A Hok tersenyum dan menyerahkan kunci mobilnya padaku.

Civic Type-R hitam itu melaju dengan nyaman, mengantarku sampai ke depan pintu kost Qra. Ia masih kost di situ, dan itu membuatku sedikit merasa bersalah. Gerbang kost itu sekarang sudah berganti warna krem, bukan lagi biru seperti dulu. Tapi kirai yang menutupi teras itu masih ada, kirai yang sama yang selalu kuturunkan saat aku hendak mengecup bibirnya.

Aku tidak perlu menunggu terlalu lama di depan gerbang, sampai Genuk (nama pembantu di rumah kost itu) keluar dan menatapku dengan pandangan menghina.
"Non Rani tidak ada."
Aku hanya tersenyum kecut. Lagipula masih terbayang di benakku saat Qra menarik-narik lenganku di depan kost-nya. Sambil meneriakkan supaya aku tidak meninggalkannya.

"Makasih." ucapku pendek, membalikkan tubuh hendak berlalu.
Namun sebuah suara yang begitu akrab memanggilku.
"Ray..? Tunggu..!"
Aku membalikkan tubuh dan melihat Qra sudah berlari kecil ke arahku, sementara si Genuk melengos dan masuk kembali ke dalam rumah.

Ah, pikirku, gadis itu sudah berubah sekarang. Tidak ada kemanjaan yang dulu terlihat liar di matanya. Ia tampak jauh lebih dewasa dengan setelan kemeja dan rok span yang dikenakannya. Rambutnya juga sudah dipotong sebahu. Aku tersenyum.

Bersambung . . . .