Dalam kurun waktu empat ratus tahun memang telah beberapa kali aku berniat melakukan tugas suci itu. Namun entah kenapa selalu saja ada suara dalam hatiku yang membuatku tidak tega melakukannya. Justru semakin aku mencintai seseorang, semakin sukar buatku untuk menularkan kutukan ini. Teringat Romeo, pria malang yang pernah amat kucintai yang dalam waktu singkat telah direnggut oleh kematian dariku. Kubiarkan dia memenuhi takdirnya sebagai manusia fana karena ketidak-mampuanku untuk menjadikannya sama dengan diriku.

Sebagai seorang Nosferatian yang sejak awal menjadi pembimbingku, Ruffus tentunya punya hak untuk mempertanyakan hal itu. Entah mengapa semua kenangan manis dan cinta yang pernah kualami selama beratus tahun mendadak kembali menyelimuti seluruh jiwa ini, membawa kesedihan dan membuat lidahku kelu terkunci oleh kebisuan karena aku tidak punya jawaban atas pertanyaan Ruffus. Ruffus jelas menangkap getaran dalam hatiku. Ganggaman tangannya mekin erat dan kharismanya membuatku kembali menatap matanya yang damai itu.

"Devia mea solis," ucapnya perlahan.
"Via aeternum et devia inretto," bisiknya lagi dengan getaran suara yang terasa membungkus jiwa dinginku ini dengan kehangatan.
'Kesepian' katanya tadi yang kemudian mengingatkanku bahwa 'jalan keabadian berarti terperangkap dalam kesepian dan keterasingan (via aeternum et devia inretto).

"Engkau pasti merasakannya dan itulah kodrat kita. Memberikannya pada orang yang kita cintai memang bukan jalan keluar dari semua itu, namun membuatmu merasa memiliki. Membuatmu merasa memiliki sesuatu yang berharga untuk menempuh perjalananmu dalam keabadian nan gelap ini. Manusia fana berjalan dalam via dolorosa dan kita kaum Bachae memiliki kehormatan menjalaninya selama-lamanya. Belahan jiwa abadi pasti membuatmu semakin dekat pada hakikat itu. Menjadi Bachae bukan suatu kesalahan, telebih dianggap dosa karena itulah jalan-mu, itulah jalanku. Berikanlah kehormatan itu pada manusia fana pilihanmu karena via dolorosa (jalan sengsara) sesungguhnya penuh kehormatan dan mulia. Dan itulah jalan kita anak-anak Bachuss - sang pokok anggur yang sejati."

Maka aku, Famitha sang pemburu, ratu malam yang penuh pesona tiba-tiba merasa kecil dan rapuh. Tiba-tiba aku merasa takut dikelilingi banyak manusia yang seharusnya menjadi buruanku. Memang betul, menjadi seorang predator di antara kerumunan mangsa amat menakutkan. Dan memang aku merasa bahwa rasa 'takut'-ku pada manusia sebenarnya lebih besar dari rasa takut mereka kepadaku. Kubiarkan diriku tenggelam dalam kesedihan karena tiba-tiba aku seperti kehilangan seleraku akan darah manusia malam itu.

Ruffus membiarkanku tenggelam dalam pelukannya seperti seekor anak domba terlelap dalam pelukan gembalanya. Yang jelas malam itu manusia berpesta karena pemangsa mereka sedang dalam kesedihan dan kehilangan dahaganya.

Sorrounded by so many, Yet still I am alone. Time has washed away my face, And all that's left is stone So far am I from heaven, A prisoner of my own coffin. Does anyone remember me? Does no one know my worth?

Dua purnama telah berlalu sejak kunjungan terakhir Ruffus Valerius, namun entah mengapa aku masih merasakan kehadirannya. Mungkin karena perasaan bersalah dalam diri ini yang membuat setiap ucapannya senantiasa terngiang di telingaku tiap kali malam menjelang dan perburuanku dimulai. Belum juga kutemukan jawaban atas pertanyaannya dan belum juga kumulai mencari jawaban itu.

Malam ini Famitha kembali melakukan perburuan. Darah segar adalah satu-satunya yang terpikir olehku ketika aku kembali berada di antara calon-calon mangsaku. Terasa bagai dejavu ketika aku duduk di kursi dan meja yang sama di tempat yang sama ketika dua purnama lalu bertemu dengan Ruffus. Bahkan aku baru sadar kalau dandananku malam ini tepat sama dengan yang kukenakan ketika Ruffus terakhir kali mengunjungiku. Tanpa sadar aku melemparkan pandanganku ke arah tempat parkir di mana Ruffus terlihat ketika itu. Kali ini tanganku menggenggam erat gelas juice di atas meja agar tidak tumpah seperti saat itu. Naluriku tidak menangkap kehadirannya walaupun hatiku merasakannya dekat sekali.

"Ah, aku mungkin terlalu berharap atau terlalu merasa bersalah."

Restoran fast food yang buka 24 jam ini memang tidak pernah sepi pengunjung. Mungkin telah puluhan kali aku berada di sini dan sepertinya tempat ini telah menjadi ajang perburuanku. Praktis dan menyenangkan buatku karena di sini aku dengan bebas memilih pria yang memenuhi keinginan hasratku.

Malam ini juga tidak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Para manusia pecandu nightlife lalu lalang dengan dandanan beraneka macam coba tampil semenarik mungkin. Beberapa di antaranya bahkan sudah aku hafal betul dan mungkin sebagian dari mereka juga sudah hafal denganku. Famitha yang cantik dan selalu mempesona. Belum satu pun pria yang cukup menggoda seleraku malam ini, malah sebaliknya perhatianku justru terpusat pada seorang gadis yang sejak setengah jam tadi tampak duduk dengan gelisah di salah satu pojok ruangan.

Dia sendirian dan cantik oleh paras polosnya yang dilapisi make-up. Jelas bukan kecantikannya yang membuatku tertarik akan tetapi sorot matanya. Sorot mata itu jelas menampakkan rasa takut, cemas dan gelisah. Sesekali dia melemparkan pandangannya ke sekeliling dengan penuh kecemasan. Dia seperti menantikan seseorang atau mungkin malah menghindari seseorang.

Makin lama kuperhatikan, aku merasa bahwa dia juga sesekali menatapku. Tiap kali pandangan kami bertemu, dia segera memalingkan wajahnya. Tiba-tiba aku merasa kenyamananku terusik. Dia juga sedang memperhatikanku! Kunyalakan sebatang rokok untuk mengusir perasaan risih dan coba terlihat se-manusiawi mungkin.

Lima menit kemudian gadis itu tiba-tiba berdiri dengan sikap amat gugup ketika tiga orang lelaki berbadan tegap memasuki restoran ini dengan langkah yang pongah. Mereka terlihat saling berbicara satu dengan lainnya tepat di depan pintu masuk. Naluriku terpancing, dapat kudengar degup jantung gadis itu berpacu cepat dari sini dan bersamaan dengan itu, indra ke-enamku sebagai seorang bachae, membuatku dapat mendengar apa yang dibicarakan tiga pria itu.

"Ron, kamu yakin perempuan pelacur itu ada di sini?"
"Iya aku yakin.. dia tidak punya pilihan lain karena memang dia tidak punya siapa-siapa di kota ini".
"Perempuan pecandu itu sudah bilang kalau dia akan kembali lagi, karena kalau tidak boss sudah mengancam akan mengadukannya sebagai pembunuh Dedy, pacarnya."

Seorang dari mereka terlihat menunjuk ke arah gadis itu.
"Hey, itu dia!biar aku seret sekarang juga!".
"Ssst.. tidak usah memakai jalan kekerasan. Dia tidak akan lari kemana-mana. Dia kesini memang untuk menyerahkan diri."
Saat itu terdengar bunyi ponsel dan pria yang dipanggil Ron itu menjawab telpon itu. Dengan jelas kudengar suara yang samar-samar muncul dari ponsel itu.

"Gimana, sudah ketemu?"
"Sudah boss, Dara memang ada di sini.. sebentar lagi kita akan bawa kesana."
"Ok, saya tunggu. Jangan lama-lama, paksa kalau perlu. Soalnya dia sudah di booking sama salah satu klien saya."
Ponsel ditutup namun bersamaan dengan itu gadis bernama Dara tadi bergegas masuk ke dalam toilet.

Sebelum menutup pintu toilet, gadis malang itu masih sempat menatapku. Tatapannya penuh ketakutan dan kegelisahan, tatapan khas dari mangsa yang sudah terkepung oleh para pemangsanya. Bukan aku pemangsanya kali ini melainkan ketiga pria tadi, dan gadis itu menatapku seperti ingin berkata, 'Tolong aku'.

Ketiga pria itu melangkah tergesa kearah pintu toilet wanita di ujung ruangan memburu gadis malang itu.
"Tunggu sekitar lima menit saja, mungkin dia benar mau ke toilet. Lagipula tidak ada jalan keluar lain dari situ," ucap salah seorang pria itu.
Terjadi pergulatan dalam bathin ini menyaksikan drama yang tengah berlangsung tepat di hadapanku.

Ternyata Famitha bukanlah satu-satunya pemburu malam ini dan ternyata ada seorang manusia fana yang justru memohon pertolonganku. Rasa haus darahku sejenak lenyap dan digantikan perasaan aneh yang asing buatku, rasa iba. Rasa kewanitaanku muncul ketika wajah dan tatapan putus asa gadis itu terlintas dia mataku. Bathinku kembali bergolak dan kesadaranku berperang menentukan pilihan. Rupanya malam ini sang rembulan memberiku jalan yang lain. Rupanya malam ini sang pemangsa harus menjadi sang penolong.

Aku berdiri dan bergegas menuju ke toilet di mana gadis tadi berada. Dalam perjalanan, aku sempat bersenggolan dengan salah seorang dari ketiga pria itu. Sorot mata penuh amarah mereka mengikuti setiap ketukan hak sepatuku menuju toilet. Dalam toilet sesosok tubuh ramping terlihat berdiri kaku bagai mayat hidup. Gadis itu tampak linglung karena putus asa. Dia tersentak kaget ketika aku membuka pintu namun tatapannya berubah penuh harap melihat kehadiranku di situ. Dia seperti ingin berkata atau meminta tolong padaku namun sesuatu mengganjal lidahnya.

"Jangan takut, aku Famitha," itulah kalimat yang muncul dari mulutku dan seketika hangat darahnya seperti kembali mengalir ke sekujur tubuh pucatnya.
Dia hanya mengangguk tanpa dapat berucap. Dia hanya mengiyakan apa yang baru saja kukatakan tanpa bertanya. Dia percaya padaku dan menyerahkan nasibnya padaku, kepada Famitha sang pemangsa. Aku sendiri masih belum yakin dengan apa yang akan kulakukan, tapi naluriku bekerja lebih cepat dari logika.

Kuraih tangannya dan segera kutuntun keluar dari toilet itu.
"Ikut aku Dara."
Ketiga pria itu menatapku penuh kecurigaan ketika aku keluar dari toilet sambil menggandeng tangan gadis yang jadi buruan mereka.
"Hey Dara! Cepat ikut dengan kami, boss sudah menunggu kamu!"
"Siapa kalian! Ada urusan apa dengan Dara!" balasku menghardik.

Pria yang dipanggil 'Ron' tadi maju mendekat hingga wajahnya kurang dari sejengkal dari wajahku. Matanya liar menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Siapa kamu? Apa urusan kamu dengan dia?" ucapnya sinis.
"Dara sekarang bekerja dengan saya. Apabila kalian punya urusan dengan dia, harus lewat saya," suaraku meninggi menantang mereka.
Kurasakan kemarahan dan ketidak sabaran pria itu memuncak.

"Aku tidak ada urusan sama kamu, jangan cari masalah!" ucapnya kasar coba merenggut tangan Dara dari genggamanku.
Aku bereaksi lebih cepat dari gerak lamban manusia fana manapun.
"Eh, maaf Bung, siapapun kalian harus melewati aku dulu. Dara bekerja padaku dan kalian tidak bisa sembarangan."
Telapak tanganku menahan gerak maju pria itu sekaligus menyebarkan rangsangan kewanitaan yang amat kuat di bagian dadanya.

Jantung pria itu seketika berdesir dan geraknya terhenti oleh sentuhan lembutku. Dia menatapku lagi. Kali ini dengan tatapan bingung dan penuh keinginan. Kedua rekannya hendak bergerak maju namun ditahannya.
"Tunggu dulu, biar aku hubungi boss lagi."
Dia pun segera menghubungi pria yang dipanggil 'boss' itu lewat ponsel-nya. Apa yang kulakukan mungkin dipandang bodoh dan naif oleh sesamaku. Mencampuri urusan mahluk fana dan mengesampingkan panggilan dari rasa hausku.

Terbayang olehku yang akan dikatakan Ruffus tentang apa yang sedang kulakukan. Mungkin aku akan semakin mengecewakannya, bahkan mungkin Ruffus sendiri akan putus asa membimbingku. Menolong manusia oleh karena dorongan rasa iba adalah sesuatu yang sukar ditolerir. Akan tetapi aku merasa punya cukup alasan melakukannya. Aku yakin segala sesuatunya berjalan sesuai takdirku. Malam kadang bertindak penuh misteri membimbing anak-anaknya ke jalan yang penuh tanda tanya. Sama seperti perasaan hatiku ketika memasuki sebuah rumah megah untuk menemui seorang yang kuanggap jauh lebih berdosa dan lebih berbahaya dari penghisap darah seperti diriku.

Manusia yang akan kutemui adalah seorang yang dipanggil 'boss' oleh anak buahnya, seorang yang amat ditakuti oleh gadis malang bernama Dara, dan terlebih lagi adalah seorang yang dari suaranya saja kurasakan kejahatan dan ketamakan melebihi apa yang ada dalam diriku sendiri. Kejahatan apa yang dilakukannya hingga sesamanya begitu takut padanya?

Bersambung . . . .