Bogor, 28 Januari
Kebun Raya Bogor
Pagi..

Suasana kebun raya Bogor sangat asri, angin bertiup perlahan mengiringi sarapanku di salah satu rumah makan setempat. BT banget rasanya setelah perutku dikocok-kocok oleh kondisi jalan sekitar puncak. Hari ini aku akan menemui dokter Handayani salah seorang kolegaku di Bogor. Dia dokter spesialis anak. Sesuai dengan profesinya, orangnya sangat ramah dan mungil seperti sosok ideal malaikat kebaikan bagi anak-anak, pasiennya. Yani nama yang singkat, sesuai dg cirinya dalam berkata-kata. Tingginya hanya 158 cm dengan berat 60 kg.

Sore itu aku menunggu di depan ruang prakteknya sambil membaca majalah kesehatan. Setelah memasuki menit ke 118 barulah pintu terbuka wanita mungil itu keluar.. Dengan memakai baju putihnya yang panjang dr. Yani begitulah para pasien dan asistennya memanggil. "Bagaimana Han kabarnya?" tanyaku. "Baek!" katanya. "Mari masuk ke ruanganku.."

Senja..
Didalam ruang praktek dokter, berdua saja..

Tak terasa sudah 1 jam lebih kita mengobrol, dia masih cantik saja seperti dulu walaupun usianya sudah memasuki masa "injury time" 35 tahun dan belum menikah. Mungkinkah dia masih mengharapkan diriku kekasih lepasnya yang sudah terkenal dekat dengan banyak wanita. Dunia ini memang aneh kami berbeda 8 tahun dari faktor usia namun kami bisa berjalan beriringan sampai saat ini. Sore itu aku minta ditensi.

Masih seperti dulu dengan cerewetnya dia marahi aku saat dia tahu diriku memiliki tensi drop. Hypotensi itu memang laggananku sejak aku smp dulu. Maklum aku orangnya suka tidur larut dan kurang olahraga. Ketika dia hampir selesai membereskan perlengkapannya. Kugenggam tangannya yg halus dan wangi khas hand body dengan merek yang masih saja sama seperti saat kita bertemu dulu. Tiba-tiba aku sudah memeluknya dengan lembut. Dia tampaknya masih canggung, sampai akhirnya bibirku sudah menjelajahi jalan-jalan "daerah puncak" aku merasa menyetir mobil sendiri sementara Han (nama mesra yang kuucapkan untuk memanggil dirinya) berada disebelahku.

Kami sudah memasuki KM ke 12 saat tiba-tiba dia melenguh pelan dari tengkuk terus merambat, kini bibir kami telah berpagut saling melepaskan kerinduan. Lidahku bermain dalam mulutnya, kita saling beradu dengan kelembutan. Tangan kananku bergerak perlahan menyingkirkan baju dokternya yg putih. Baju putih itu tidak sampai terbuka. Kemudian mulai kujelajahi pegunungan puncak, melanjutkan perjalananku yang tadi terhenti di KM 12.

Sambil masih menciumnya aku membuka baju yang dipakai Han. Kancingnya kubuka satu-persatu, dengan susah-payah setelah terbuka..ohh! Lagi-lagi masih seperti dulu. Didalam bajunya sebelum bra pasti Han masih memakai singlet sebelum kemudian branya yang berwarna cream serasi dengan warna kulitnya yang kuning. Aku masih ingat ketika kita sedang bermesraan aku tidak berhasil memegang payudaranya secara langsung hanya gara-gara pengait branya tersangkut di singletnya sementara dia tidak bersedia membuka bajunya karena posisi kami saat itu di dalam bis malam yang banyak orang. Han si wanita puritan.

Salatiga, 30 Januari
Sore..
Disebuah warnet didepan kampus swasta di Salatiga.

Aku turun di Poltas. Sebuah perhentian bis kota dari Semarang. Kemudian mencari sebuah hotel untuk mandi, makan dan istirahat setelah sehari ini aku berputar-putar dikota ATLAS. Sekedar menjumpai kolega-kolegaku dari kawan kampus sampai kawan di internet, seharian lamanya. Aku ingin sekali ke Salatiga karena disana salah satu angelku menetap untuk menyelesaikan studynya. Dari Warnet XX tempat dia biasa ngobrol denganku, hingga 10 hari yang lalu tiba era dimana percakapan kami tidak hanya asl pls.. Ato IC, ok gtg dulu dan sebagainya.. i

Inilah percakapan pertama sebagai awal perjumpaan kami di sebuah channel di dal.net..

+ hi
+ :)
= hi
+ pakabar
= baik, thx
= kamu?
+ baek juga, asl pls
= 20/f/sala3
+ ic
= asl kamu?
+ udah khan
+ 24 m mlg
= kerja?
+ yup..

Setelah itu sering kami bertemu dalam waktu-waktu berikutnya. Macam-macam yang kami bicarakan. Kami kondisikan diri kami sebagai sepasang kekasih, tentunya dengan segala kerumitannya. Setelah berjalan beberapa hari dengan intensif, sampailah pada suatu malam aku merasa BT banget. Jadi di papan chat pun diriku tetap ogah-ogahan chat dengannya.

= kamu koq diem
+ ga juga
= khan diem lagi
= kamu pemalu yach!?
+ yup
+ :)
= knp pemalu!?
+ :)
= koq cuman senyum?!
+ yup
+ gpp
= tuch khan jawabnya cuman sedikit2
+ apa tho sayang
+ minta jawaban yg kaya apa?
+ kalo banyak2 saru
+ :)
= saru gimana say?
+ ada aja
= kasih tau donk
+ kamu asli org surabaya
+ pa jkt
= jakarta
+ knapa
+ ko chat ma org sby
+ khan jauh
+ :)
= bukannya kamu yg click aku
+ :)
+ knapa ga kejauhan sayang
= nggak
+ syukurlah
= khan diem lagi
+ abis loe sih ngga ngerangsang gue
+ jadi ya diem aja
= ngerangsang yg gimana say!?
+ ya loe
+ cewek
+ masa ga tau
= cium bibir kamu..
+ whhmm
+ pelan2
= cium bibirmu sambil melumat2 lidah mu..
+ oowwhh
= raba2 dada kamu
+ mang gue cewek
+ dada gue ga ada toketna tau
+ cuman bulu aja
= khan tetep ada dada khan
+ wah loe cowok ternyata
= khan belum selesai ngerabanya..
= sambil menciumi bibirmu, tanganku turun ke bawah..meraba2 punyamu
+ oww
+ aku buka baju kamu
+ kaosmu keatas
+ tampaklah bukit kembarmu
= buka celana kamu..
+ pelan2
+ tongkatku saket neh
= ciumin dada kamu.. sambil terus turun ke bawah
+ aku remas dada kamu
+ kamu menggelinjang
= mmhh
+ aku buka pengait bra kamu di belakang..
+ owww..
+ payudaramu besar skali.. Bagaikan buah mangga yang ranum ..

Braakk!! Meja di komputer ruang sebelah terantuk sesuatu. Aku mengintip dari balik bilikku. Ow ada raksasa yang duduk menempati ruang bilik sebelah. Pembatas ruangan yang tingginya hanya sebatas paha, sehingga memungkinkan diriku untuk melihat sebuah tubuh besar milik user di sebelahku. Dia memakai jeans ketat. Aku taksir beratnya sekitar 80 kilo-an. Walaupun begitu tidak tampak darinya sesuatu yang menunjukkan tanda bahwa mahluk itu wanita atau pria.

Sialan, khayalanku tentang bertemu dengan bidadariku jadi kabur.. padahal aku tadi sudah sampai ke payudaranya.. Shit!! Aku check HP ku, ow ternyata SMS ku sudah dibalas. Ternyata dia tidak menginginkan aku menjemputnya. Dia malah ingin cybersex dulu denganku, before we have a real making love. Gadis gila pikirku. Aku mengiyakan saja. Tapi aku tak yakin bisa leluasa bermain dengan si "dandy" jika itu kulakukan di luar rumah. "By the way the show must go on".

Shit, aku kesal sekali.. ternyata dal.net tidak bisa dipakai, sedangkan HP si Ane gak bisa dihubungi. Akhirnya aku buka situs sumbercerita.com membaca beberapa kisah baru. Di Bagian eksibisi aku tertarik "Kisah di Dalam Bis Kota". Timbul pikiran gila untuk menjadi tokoh laki-laki yang membawa gunting. Kubuka tasku, tidak kudapati gunting yang ada hanyalah cutter tajam memang tapi agak karatan. Sialan!! Gerutuku, CD siapa yg dikorbankan untuk eksibisi gila ini. Masalah kedua timbul, karena aku sebagai sutradara sekaligus produser harus mencari tokoh sentral wanita.

Aku tengok kanan kiri mungkin ada wanita. Ternyata tidak ada seorang wanitapun. Aku sudah memeriksa setiap sudut. Tinggal satu saja yang terlewati yaitu meja sebelahku. Meja si raksasa itu. Aku masih belum tau apakah ini raksasa betina atau jantan. Hingga nada getar yg kupasang di HPku bekerja. Ow ternyata my angel "Ane". Dia bilang kalo kita menggunakan server undernet saja cybernya. Suaranya terdengar merdu sekali disana bak seorang bidadari atau penyiar radio pramborslah paling tidak, tapi sepertinya aku kenal suara itu. Aku bingung suaranya dekat sekale yah.. sampai aku tersadar suara itu pada saat siempunya suara bathuk keras sekali. Dan suara batuk itu tiada lain adalah suara Miss Giant disebelahku.

Surabaya, 1 Februari
Bungurasih, siang hari..

Akhirnya tiba juga diriku di kota tempat aku terlahir. Enam bulan lagi aku genap berusia 28 tahun. Sebuah usia laki-laki dewasa untuk menikah. Tapi itu belum terjadi kepada diriku, fantasiku masih melambung tinggi. Hal tersebut ditunjang dengan beberapa kali keberhasilanku menggaet gadis-gadis muda usia, yang memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar tentang hubungan sex.

Tak lama kemudian aku sudah terlelap dengan nyaman di pundak gadis Kupang yang akan melanjutkan tujuannya ke Tanjung Perak. Aku bangun begitu dia menggeliat merasa keberatan dengan menyandarnya kepalaku dipundaknya, atau lebih tepatnya agak kedepan yaitu di atas bukit payudaranya sebelah kiri. Posisi kami berdua adalah aku berada di sebelah kanannya. Untung dia diam saja, sehingga aku bisa tenang turun dari bis setelah semalaman aku tertidur pulas diatas payudara seorang gadis. Rejeki, pikirku.

Sore hari..
Junggo Batu, di tengah-tengah perkebunan apel yang akan segera dipanen..

Posisiku sudah diatas si Yuke. Butuh waktu lama untuk menstimulasi gadisku yang satu ini hingga membuat dia akhirnya bertekuk lutut. Mulai dari mencumbunya di belakang telinga, menciumi kening, pipi hingga akhirnya berhasil kulumat habis bibirnya yang merekah. Hangat dan basah.

Putingnya yang berwarna coklat kemerahan sudah keras sekali saat aku memainkannya dengan tanganku perlahan. Sebagai unsur stabilisator kukulum lembut-lembut putingnya yang berada di sisi lain. Aku tidak tahu sudah berapa ratus kali namaku disebutnya untuk mengapresiasikan kenikmatan-kenikmatan yang dia dapatkan, dari kejutan-kejutan di kedua payudaranya.

Kini di posisi pamungkas, kubiarkan Yuke membuat formasi "lotus" yang terkenal itu. Aku duduk dengan kedua kaki melebar ke sisi luar. Sedangkan Yuke sedang berusaha keras untuk menembuskan vaginanya pada penisku yang berdiri tegak ke samping. Setelah beberapa kali terpelanting. Espanola gurl inipun berhasil menembuskan benteng terakhirnya hingga amblas. "Mecky-nya" sudah sangat basah. Maklum saja kami sudah melalui fase empat ronde. Sebelum menutupnya dengan Lotus senjata andalan Kamasutra.

Gaya Berdiri dengan memangku Yuke sambil kita berjalan memutar di sekitar pondokan di tengah kebun apel yang dingin dan sunyi. Doggystyle, konvensional, sampai dengan bermain dibawah siraman shower sekaligus kami tujukan untuk recovery tenaga kami. Bagi orang awam apa yang kami lakukan adalah gila. Maklum siapapun tidak akan mau mandi di tengah kebun apel jam sembilan malam seperti apa yang barusan kami lakukan. Bukan karena kami manusia super-yang kuat menahan dingin. Sesungguhnya itu bisa terjadi karena air yang kugunakan di shower sudah kuhangatkan dengan heater. Sebagai seorang mantan mahasiswa elektro dari sebuah perguruan tinggi andalan Indonesia di masa mendatang, tidaklah sulit untukku merakit semuanya itu.

"Ehm.. ehm.. ehm.., gak tau sudah berapakali Yuke melenguh seperti itu. Aku merasa cukup beruntung. Yuke termasuk gadis yang cukup tenang, dan tidak gaduh kalau sedang bermain. Sehingga tdak pernah aku kebingungan membagi konsentrasiku untuk memaksa dia untuk tidak berteriak. Dengan payudaranya yang hanya berukuran 32B sesungguhnya dia tidaklah istimewa. Satu hal yang kusuka darinya. Pertama, dia adalah salah satu violinist favoritku. Setelahnya barusan Vanessa Mae dan Hendry Lamiri. Bond ataupun The Corrs tidak masuk disini, karena kemampuan mereka bermain masih juga ditopang oleh kelebihan fisiknya. Sehingga kalaupun nada yang mereka mainkan fals kita masih terhibur oleh kecantikan wajah para personilnya. Yuke yang blasteran Spanyol dari Mamanya, dan Papanya yang orang Madura, terlahir sebagai seorang gadis yang jangkung.

Tingginya 173 cm melebihi tinggiku yang berkisar hanya 171 cm. Dia mulai mempercepat kocokannya kedalam "penisku" yang bersiap-siap meledakkan senjatanya yang paling mutakhir. Kalau mau mengikuti trend muthakhir senjata James Bond 007, berarti walaupun kondisi di luar sedingin dunia esnya "lawan" Pierce Brosnan maka sperma yang akan kumuncratkan kualitasnya adalah sekuat laser yang bisa menghancurkan kebekuan di sekitar pondokan kebun apel. Atau paling tidak kalau sperma itu berhasil membuahi sel telur Yuke maka juniorku akan menjadi seorang bocah yang "mantap" punya. Fisik seperti mamanya, tinggi dan bersih kulitnya. IQ serta EQ-nya seperti diriku yang orang Jawa. Ow Hans.. itulah kata yang diucapkan Yuke saat menyentuh klimaks di sessi "Lotus", aku sudah tidak dapat berkata banyak seperti menyumpah ato memaki, selain menggigitkan keras gigi-gigiku yang tajam kepada bantal busa yang ada di sebelahku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rupa payudara Yuke, jika bantal yg kugigit itu adalah payudaranya yang mungil..

Malang, 2 Februari
Tepat pukul 21.00 disebuah kafe di kawasan Tlogomas..
Iringan musik live, membawakan lagu stranger by the day, berturut-turut dengan Sacrifice-nya the Creed

Ambasuli tampak bangga menggandeng diriku, "bajingan kecil"-nya ini. Dikenalkannya diriku kepada teman-teman kampusnya yang kebetulan malam itu ada di sana bersama pasangannya. Dari seberang sana tampak beberapa cowok dengan pandangan mata sinis dan "mata-mata tidak pandai", mungkin mata-mata para cowok yang melihat kami dengan bertanya-tanya. Suli.., suli apa yang kamu dapatkan dari seorang "bandit kecil" itu sebagai cowokmu? Aku hanya membalas pertanyaan itu dengan senyumanku yang dingin dan dengan menampakkan sedikit gigi-gigiku yang tajam.

Ambasuli, mungkin diri bajingan kecilmu ini malam nanti sudah harus segera berkaca untuk membersihkan muka-muka kotor hati dan fisiknya dari jerawat, debu dan asap bis Bogor-Salatiga maupun saputan kabut insektisida apel Junggo.

Kaliurang, Juli 2002

Tamat