Gadis itu lalu melangkah mundur dengan menggigit bibir bawahnya. Matanya menemukan mata Ray. Pemuda itu menundukkan kepalanya dan menyeringai.

"Kukira kita akan pergi makan di luar?" gumam Ray.

Tak ada sahutan. Ray mengangkat kepalanya, tak lagi menemukan sosok Reni. Tertawa sendiri, pemuda itu melangkahkan kakinya menuju teras. Ia bukannya tak tahu apa yang diinginkan Reni darinya saat itu. Bahkan ia sudah menduganya sejak melihat Reni hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek selutut.

Bercinta, seperti yang diinginkan gadis-gadis lain darinya.

Seperti pula kata Jay suatu saat padanya, "Kukira gadis-gadis itu cuman rindu sama penismu. Tak lebih dari itu." Dan meskipun Ray yakin bahwa dirinya punya lebih dari sekedar permainan seks yang memuaskan, tetap saja kata-kata Jay terngiang di telinganya setiap saat seorang gadis mengajaknya bercinta.

Ray mendapati Reni bersandar di dinding samping pintu ruang tamu. Satu dekapan dan lumatan di bibirnya, Reni lalu berbisik, "Jangan di sini. Nanti dilihat si Mbok."

Gadis itu lalu merangkul lengan Ray dan mengajaknya lebih masuk ke dalam rumah. Tak ada orang sama sekali hari itu selain si Mbok yang entah di mana. Semua sedang berlibur ke Bali. Hanya Reni yang tertinggal, menghadapi ujian akhir semester, dan tentu saja.. menunggu kedatangan Ray.

Bagi Ray, Reni termasuk salah seorang gadis yang paling menyenangkan. Dibandingkan dengan yang lain, Reni memiliki jiwa lebih besar. Gadis itu bisa menerima keadaan seburuk apapun yang terjadi dalam hubungan antara dirinya dengan Ray. Seperti yang terjadi malam itu, saat handphone Ray mendadak berbunyi.

"Ugh, siapa sih," gumam Ray, mengulurkan tangannya meraih handphone di lantai. Gerakan pinggul pemuda itu terhenti, dan Reni, yang masih tertindih berat tubuh Ray membuka matanya.

"Halo? Ah, wazzup, Yen? Kapan? Oh, okay. Lalu?"

Reni terlihat menunggu dengan sabar, matanya menatap mata Ray yang saat itu memandang lurus ke depan.

"Hmm. Lalu? Eh, sebentar," Ray menundukkan kepalanya, tersenyum menatap seringai di wajah Reni. Pemuda itu lalu mengecup bibir gadis di bawahnya dan berbisik lirih setelah menjauhkan handphone, "Kamu bandel."

"Ssshh," Reni berbisik, "terusin dulu teleponnya, aku pijatin dari sini."

Ray terkekeh pelan, lalu mengangkat kepalanya kembali. Reni masih tetap terlihat tak bergerak. Hanya senyuman nakalnya yang tersungging di wajah.

"Halo? Oh, sori. Ada teman. Iya, cewek. Nah? Hahaha. Lanjutin ceritanya."

Ray melanjutkan perbincangannya, sementara mata Reni tampak perlahan memejam. Bibir bawah gadis itu tergigit beberapa saat kemudian, dan dua lengannya terangkat memeluk pinggang Ray. Lima detik sebelum tubuh gadis itu menegang, erangan tertahan keluar dari bibirnya.

"Oh. Bisa. Bisa. Udah dulu, ya? Oke, minggu depan? Iya. Sip. See ya!"

Ray mematikan handphonenya. Pemuda itu menatap wajah Reni, tersenyum saat menyaksikan butir-butir kecil keringat di kening si gadis.

"Gadis bandel," bisik Ray, "kamu ngga nyisain buat aku."

Reni membuka matanya, balas tersenyum tipis.

"Siapa suruh telepon?"

"Terus. Sudah licin begini?" Ray berkata sambil menyeringai. Reni tertawa, menarik kepala Ray ke dadanya. Ray menggerak-gerakkan pinggulnya perlahan.

"Ray.."

"Ya?"

"Ngga usah keluar kalau ngga mood."

"Hmm? Kenapa bilang begitu?"

"I know you, lah. It doesn't matter, kan?"

Ray tertawa, mengangkat tubuhnya dan berguling ke samping tubuh Reni. "Yah, it doen't matter at all," bisik pemuda itu,
lalu memejamkan matanya. Reni beringsut, meletakkan kepalanya di atas dada Ray.

"It's my birthday..," Reni berbisik. Ray menggumam mengiyakan.

"Kamu ada di sini..," Reni berbisik lagi. Ray tak menyahut, hanya memainkan jemarinya di punggung si gadis.

"Dan kamu ngga ejakulasi.."

Sampai di situ Ray membuka mulutnya dan terkekeh.

"Hahaha. Katanya you know me? Mestinya aku yang merasa bersalah, soalnya kamu klimaks waktu aku sedang teleponan."

"Aku sengaja kok."

"Wah? Hahaha. Emang bisa disengaja?"

"Bisa, lah. Tapi kamu ngga masalah, kan?"

"Jujur aja, enaknya jadi kurang. Trus.."

"Trus kamu jadi ngga mood. Trus akhirnya kamu malah jadi gila gara-gara kepaksa dan ngga pingin membuat aku ngerasa bersalah. Trus akhirnya kamu bikin aku sakit. Trus kamu bakalan minta maaf. Gitu kan?"

Ray terkekeh sekali lagi, tapi tak menjawab tuduhan si gadis padanya. Mereka berdua terdiam beberapa saat lamanya. Reni meraba penis Ray, dan tersenyum tipis saat menyadari penis itu sudah melemas.

"Bisa ya, orang kok ngga punya rasa?" tanya Reni, memecah keheningan.

"Siapa?" sahut Ray, "Aku? Aku punya kok."

"Bertaruh, kamu ngga pernah make waktu sedang make love."

Ray terdiam beberapa saat dan berkata, "Mungkin. Terkadang ngga juga."

"Kamu menikmati ngga sih?"

"Tentu saja."

"Apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu nikmati?" tanya Reni sekali lagi, mengangkat tubuhnya dan berbaring miring sambil menatap wajah Ray. Mata pemuda itu masih terpejam, tapi bibirnya tersenyum.

"Aku? Aku merasa enak. Itu saja. Apa yang aku nikmati? Aku menikmati raut wajahmu. Erangan kamu. Desahan kamu. Respons kamu. Itu menyenangkan."

"Hanya itu?" Reni tersenyum, "Kalau kamu ejakulasi? Apa artinya?"

"Artinya?" Ray berkata, membuka matanya dan mengangkat lengan, lalu menggunakan telunjuknya untuk menyentuh pelipis,

"Artinya itu adalah sensorik. Bukan motorik. Manusia kan punya saraf yang tak bisa dikontrol oleh otak."

"Jadi kalau ngga salah, kamu sebetulnya ngga mau ejakulasi?"

Ray tertawa sebelum menjawab, "Bagaimana kalau dikatakan, aku tak pernah mempermasalahkannya? Kurasa itu lebih baik."

"Apa itu? Gengsi? Atau memang kamu.."

"Katakanlah aku lebih bisa mengontrol diriku sendiri," sela Ray, matanya melirik mata gadis di sampingnya. Senyuman masih tersungging di bibir pemuda itu. Reni menghela nafasnya dan kembali meletakkan kepalanya di dada Ray.

"Perbincangan yang ngga mutu. Toh semuanya akan kembali pada pertanyaan, siapakah aku buat kamu," bisik Reni lirih. Ray tak menanggapi pernyataan itu.

"Ray.."

"Apa?"

"Boleh aku minta hadiah ulang tahunku?"

"Hmm..oke. Apa itu?"

"Sesuatu yang ngga pernah kamu berikan sama gadis lain. Kalaupun pernah, aku ingin jadi yang kedua setelah gadis itu."

"Ren.."

"Ngga. Bukan hubungan yang terikat. Aku tahu kamu ngga suka. Aku juga ngga yakin aku bakal jadi nomor dua."

"Aku sudah bisa menduganya."

"Oh ya? Apa sih?"

"Celana dalamku?"

Reni terkekeh, menggigit dada Ray manja. "Bukan itu, bego."

Ray ikut tertawa, "Hahaha. Lalu apa?"

"Perasaan kamu. Semalam saja."

"Hmm," Ray menggumam, "itu susah."

"Bahkan untuk hadiah ulang tahunku? Walaupun hanya semalam?"

"Yap."

Reni terdiam beberapa saat lamanya, sebelum gadis itu menekan tubuhnya lebih merapat ke tubuh Ray.

"Kalau begitu, peluk aku sampai jam dua belas. Jangan lepaskan aku?"

Ray tersenyum dan berbisik, "Tentu."

Lima belas menit lamanya, sebelum Reni berbisik.

"Ray, bersyukurlah aku bukan cewek yang keras kepala."

Ray menganggukkan kepalanya.

"Kamu telepon aku besok?" tanya Reni dari balik pagar.

Ray menganggukkan kepalanya, "Iya. Tapi kalau ngga sibuk, ya?"

"Aku tebak, pasti besok malam kamu ada kerjaan sama cewek lain."

Ray terkekeh dan mengangkat bahu, "Ngga tahu."

"Iya. Apa urusanku juga," senyum Reni, "sudah, pulang sana."

"Ren..," Ray memanggil sebelum masuk ke dalam mobil.

"Apa, Ray?" Reni mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk.

"Kamu tunggu setengah jam?"

"Buat apa?"

"Lihat saja nanti," senyum Ray, mengedipkan mata nakal, lalu masuk ke dalam mobil, meninggalkan Reni termangu.

Dua puluh menit kemudian mobil yang dinaiki Ray berhenti di depan rumah Reni. Ray tersenyum saat mendapati gadis itu masih menunggunya di teras. Reni menghampiri Ray dengan senyum di bibir, tapi Ray masih bisa melihat kantung mata milik si gadis yang membesar.

"Reni," ucap Ray, menatap mata gadis itu dari balik terali pagar. Beberapa lamanya mereka saling berpandangan, sampai akhirnya Ray menyeringai. Pemuda itu merogoh sesuatu dari balik bajunya dan mengeluarkan sekuntum bunga mawar berwarna merah darah yang masih segar. Bibir Reni sedikit terbuka saat Ray menyodorkan bunga itu melewati terali.

"Ini," ucap Ray sambil tersenyum," sesuatu yang hanya pernah kuberikan pada satu orang gadis sepuluh tahun yang lalu. Sejak itu, tak ada seorangpun yang layak menerimanya."

Reni meraih bunga itu dengan jemari yang sedikit bergetar. Ray sekarang bisa melihat bulir-bulir air mata mengalir di pipi si gadis. Ah wanita, pikir Ray dalam hatinya, seberapa keras kepalanya kah kalian dalam urusan cinta? Seberapa luas hati kalian dalam menghadapinya?

"Aku ingin dipeluk..," bisik Reni, memainkan tangkai bunga mawar di tangannya.

"Jangan," bisik Ray, mengulurkan tangan dan meraba batang hidung Reni.

"Ray.. kenapa aku?"

Ray terkekeh dan berkata, "Katakanlah kamu satu dari sekian banyak gadis yang berulang tahun bersamaku, tapi satu-satunya yang berani meminta sesuatu sebagai hadiah ulang tahunnya."

Usai berkata demikian Ray membalikkan tubuh dan masuk ke dalam mobil. Reni tak mengatakan apapun, tak juga menatap kepergian Ray.

Di dalam mobil, sepuluh menit kemudian, Ray mendengar handphone-nya berbunyi lagi. Tersenyum, pemuda itu menyapa, "Halo, Ren."

"Ray brengsek! Kamu buat aku jatuh cinta! Ayo! Balas cintaku!!"

"Ren, tunggu sampai tahun depan."

"Sialaann!! Awas kalau ketemu lagi!!"

Ray tertawa tebahak-bahak.

Reni juga terdengar tertawa dari seberang.

Tertawa bahagia, kah, Reni? Atau tertawa sedih? Atau bahkan dua-duanya?

Ella, girl with brain

Kamis kelabu, setidaknya itu yang ada di benak Ray siang itu. Langit masih mendung di atas kepalanya. Semua pekerjaan sudah selesai, bahkan sebelum waktu yang diharapkan Ray untuk menyelesaikan segalanya. Pak David tadi sudah menyuruhnya pulang dan istirahat, tapi Ray mana mau duduk diam di rumah tanpa melakukan apapun. Bagi Ray, duduk diam dan menunggu sebuah peristiwa terjadi dalam hidup adalah sebuah kesia-siaan, sementara dengan mencari seseorang akan mendapatkan lebih banyak. Itu berarti hari ini ia harus memburu salah seorang dari sekian banyak teman wanitanya, sebab hari itu ia tak ada janji.

Dari jauh Ray bisa melihat Rusdi, lagi-lagi, berkoar pada Ruri, pegawai customer service yang baru itu. Ray mencibir dan menebak-nebak, apa yang sedang dibualkan Rusdi pada gadis malang itu. Mungkin masalah penisnya yang sebesar meriam? Atau kekasihnya yang berjumlah ribuan?

"Hei, Ray, kenapa tertawa?" seseorang menyapanya, membuat pemuda itu sedikit terkejut. Ray menoleh dan melihat Ella sudah berdiri di sampingnya. Gadis itu tampak manis dengan kaus krem berkerah rendah dan jas hitamnya.

"Itu, si Rusdi. Aku heran kok ada saja yang betah diajak ngobrol sama dia."

Ella menoleh ke arah Rusdi, lalu menutup mulutnya dan tertawa.

"Iya. Tapi biarlah. Si Rusdi kan butuh pelampiasan juga."

Ray terkekeh, "Paling-paling efeknya sebulan. Namanya juga omong besar."

"Jangan begitu, Ray. Si Rusdi ada benarnya juga kadang-kadang."

"Kadang-kadang, kan?"

Ella tertawa lagi, sebelum meletakkan sebuah map berwarna merah di meja Ray.

"Ini, kamu coba nilai konsepnya Joko."

"Wah, kenapa aku? Pasti deh ulah Pak David."

"Siapa suruh kamu bengong duluan."

Ray tersenyum, "Iya. Ngga ada kerjaan juga. Okelah. Untuk kapan?"

"Mestinya sih sudah kelar. Tapi biasalah, Pak David, pasti tanya kamu dulu."

"Heran, memangnya aku dukun?"

"Dia kan cinta mati sama kamu."

"Siapa? Pak David? Amit-amit. Mending sama kamu."

Ella melirik dengan senyum dikulum. Sesaat kemudian gadis itu menepuk pundak Ray dan berkata, "Jangan begitu. Kamu kan bukan Rusdi."

"Eh, maksudnya apa?"

"Ya, kamu kan ngga pernah omong kosong."

"Hahaha," Ray tertawa, "masa kamu jadi ge-er gitu?"

"Ngga. Siapa juga yang mau sama kamu, Ray?" cibir Ella.

"Lalu maksudnya aku bukan Rusdi tadi?"

"Ya, kalau-kalau saja kamu ngomong sama gadis lain selain aku."

"Kenapa dengan kamu?"

"Ayolah, Ray. Sejak pertama kali kamu bekerja di sini, aku sudah tahu kalau kamu punya tato di atas kepala, yang tulisannya: MAUT," Ella berkata sembari telunjuk kanannya menulis di udara.

Ray terkekeh, "Hahaha. Jadi itu yang buat kamu yakin kalau kamu ngga bakalan ge-er sama kata-kataku?"

"Yap. Benar sekali."

"Tapi mau make love?"

"Hih. Sopan sedikit, Ray. Sudah, ah," Ella membalikkan tubuh dan berlalu dengan alis berkerut. Ray tersenyum, memandangi punggung si gadis beberapa saat lamanya. Setelah itu Ray mengangkat bahunya.

"Huh, aku juga ngga mau dengan kamu," gumamnya lalu mulai memeriksa arsip di dalam map merah. Sesaat kemudian pemuda itu sudah sibuk dengan imajinasinya. Lagipula itu pekerjaannya. Berimajinasi.

Ella adalah seorang gadis berjiwa konservatif, setidaknya itu yang didengar Ray saat pertama kali menginjakkan kaki di kantor barunya. Sebetulnya Ray merasa sayang, sebab tanpa kacamata minus empatnya, Ella sebenarnya cukup manis. Kulit gadis itu cokelat muda, tidak terlalu terang, dan tidak terlalu gelap. Wajahnya bulat dengan hidung arabic yang mancung. Kalau orang bisa melihat lebih cermat, maka mereka pasti bisa menemukan lingkaran hitam halus yang mengelilingi mata Ella. Bibir gadis itu tipis, dan dua gigi kampaknya yang tampak saat ia berbicara menjadi daya tarik tersendiri. Hanya saja, sifatnya yang serba tertutup dan cenderung sinical membuat banyak orang kehilangan hasrat untuk mengenalnya lebih jauh. Bagi orang-orang di kantor, Ella cuma seorang sekretaris penerus kata-kata Pak David, itu juga diterima karena ketegasannya menyampaikan mandat Boss.

Siapa sih yang tidak memikirkan sosok sekretaris sebagai sosok yang cantik, supel, dan pandai bercinta? Melihat Ella, mungkin orang-orang yang berpikiran demikian terpaksa merevisi pendapatnya. Bahkan Rusdi, yang dikira Ray sebangsa omnivora wanita, pernah berkata, "Ella? Gampangan ngedapetin Nana."

Itu memang katanya Rusdi, sebelum ia dan Ray mendapat tugas ke Jakarta untuk mengawasi salah satu syuting iklan yang 'kebetulan' dibintangi sang artis. Buktinya, Rusdi hanya cengengesan, sementara Ray langsung berhasil mengajak si artis jalan-jalan seharian. Yang pasti, semua orang bakal berkata, "Ella? Wah, ngga napsu!"

Tak terkecuali juga Ray.

Bersambung . . .