Selesai mandi, kami masuk kembali ke ruang tidur. Kami saling mengusap badan kami dengan handuk yang tersedia. Dia benar-benar teliti dengan tubuhku. Tak ada 1 cm pun tubuhku yang terlewat dari usapan handuknya. Lalu aku rebahan di ranjang, sedangkan dia meneruskan mengeringkan sisa-sisa bagian tubuhnya yang masih lembab.

Setelah itu, dia naik ranjang dari posisi ujung kakiku, berlutut dan membungkuk, mulai menjilati jempol kakiku, sela-sela jari kakiku, punggung kakiku, pelan-pelan, naik ke bagian tulang kering, betis, naik lagi, perlahan-lahan pindah ke belakang lututku yang merupakan salah satu bagian sensitif, sampai aku merasa sekujur tubuhku menegang, dan bulu kudukku berdiri. Lalu naik lagi ke bagian paha belakang, depan, kaki kanan, kaki kiri, naik lagi ke pangkal paha, dekat ke selangkangan, "Shh.. Ahh!" aku mendesah menahan ledakan kenikmatan yang sukar dirumuskan dengan kata-kata.

Lalu, kukira dia akan mulai memberiku oral sex, tapi tidak, dia melewati jagoanku, hanya jilatan dan pijatan ringan tangannya. Aku agak kecewa, namun aku tak mau paksakan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak mau dia lakukan. Lalu naik lagi ke daerah pinggang, perut, dada, menggigit-gigit, menjilat, dan menyedot puting dadaku, bergeser ke ketiak, lenganku, bahu, leher-yang membuatku kembali menegang, gemetaran menahan gejolak pembuluh nadiku yang seperti mau pecah. Lalu naik ke belakang telinga, lidahnya masuk ke telingaku, geli tapi nikmat, rahang, lalu dahi, akhirnya ke bibirku.

Sesampainya ke bibirku, aku menyergap bibir dan lidahnya yang dahsyat itu, mengecup, mencium, dan menyedotnya seolah-olah ingin kutelan seluruh tubuhnya mulai dari bibir dan lidahnya! Kurang lebih 5 menit kemudian, dia melepaskan kecupan bibir yang panas itu, bergeser turun ke bawah dan..... Dia memasukkan jagoanku ke dalam mulutnya! Waduuh! Inilah yang paling kutunggu!, jerit kegiranganku dalam hati.

"Ahh!" desahku.

Luar biasa nikmatnya. Tak bisa hanya dikatakan luar biasa. Tak semua perempuan punya kemampuan oral sex yang begitu hebat! Sedotannya begitu kencang. Tubuhku bergetar hebat! Terguncang-guncang, mengejang, rahang dan gigiku terkatup rapat dan mengigit kuat sekali, nafasku mulai tidak beraturan, kadang lepas, ngos-ngosan, menarik nafas dalam-dalam, kadang menahan nafas lama, kadang lewat mulut, kadang lewat hidung. Bukan hanya menyedot jagoanku, dia juga menyedot dua permata kembarku yang tergantung di pangkal jagoanku, membuat aku lebih tak sadarkan diri.

"Ahhk..... Tin.. Tinahh.. Akhh.. Shhk.. Tihn.. Ahhk..!"

Kali ini aku seperti tak sadarkan diri, seolah-olah mati, dan tak merasakan apa-apa lagi. Ditambah dengan gigitan-gigitan di sudut selangkanganku, aku benar-benar merasa seperti mati. Surga ada di depan mataku, antara sadar dan tak sadar, aku melihat indahnya surga, lengkap dengan bidadari-bidadarinya yang cantik-cantik. Dalam hati aku sangat bersyukur pada Tuhan atas karyanya yang begitu luar biasa dan tak ada yang bisa menggantikannya, maksudku gadis cantik ini, dan permainan sex yang luar biasa hebatnya ini.

Kurang lebih, sepuluh menit kemudian, dia menghentikan aktifitasnya, dan memperhatikan aku yang terbaring seolah tak berdaya dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Lalu sambil menyibakkan rambutnya yang sudah acak-acakan, dia berkata,


"Sayang, kamu kuat juga yah? Orang lain yang kena jurusku ini pasti sudah keluar dari tadi. Belum ada yang mampu bertahan selama ini."
"Aku memang tahan, nanti kamu juga tahu sekuat apa aku..." jawabku setelah mengatur kembali nafasku.
"Tapi kamu juga hebat, luar biasa, kalau cuma orang yang alang-alang, aku yakin pasti sudah K.O..." tambahku memujinya.

Dia cuma tersenyum mendapat pujianku. Dia memang pantas mendapat pujian, bahkan berhak lebih dari sekedar pujian.

"O.K, sekarang giliranku. Ayo baring, Sayang..." perintahku supaya dia mengambil posisi untuk menerima seranganku.

Dia pun menurut, sambil tersenyum dia mengambil posisi baring telentang. Matanya yang indah memandangi wajahku dengan sunggingan senyum yang membuatku ingin melumat habis seluruh tubuhnya. Sambil membalas senyumannya, aku memulai seranganku.

Kalau Tina memulai serangannya dari ujung kaki, aku sebaliknya, dari ujung kepala. Aku mulai dengan 1 kecupan ringan di keningnya, kecupan yang lembut, penuh perasaan sayang. Kemudian turun ke mata, hidung, pipi kiri, kanan, bibir, dan berlanjut agak lama dengan saling beradu bibir, dan lidah, sampai terdengar jelas suara-suara khas kecupan ciuman yang panas.

"Ccp.. Cp.. Ccp.. Ccpk.."

Lalu kulanjutkan penjelajahan tubuh indah anugerah Tuhan ini. Lanjut ke telinga, belakang telinga, rahang, leher kiri, tengah, kanan, bahu kiri, kanan, dada atas, dan akhirnya sampai pada persinggahan favoritku: payudara! Dengan gerakan lidah memutar berpola spiral, aku menjilati dan mengecup payudara kanannya dari "kaki gunung" menuju puncak. Sesampainya lidahku ke puncak, kutambahkan jilatan dan kecupan dengan gigitan ringan di puting susunya, dan sedotan yang kencang seolah-olah akan kusedot seluruh payudaranya masuk ke dalam mulutku. Dan memang sebagian besar bagian buah dadanya sampai masuk ke dalam mulutku. Perlakuan yang sama juga terhadap payudara kirinya. Tina sangat menikmatinya, dengan memperlihatkan reaksi menggeliat, menggelepar, dan gerakan-gerakan lainnya yang aku tak tahu apa istilahnya, ditambah dengan desahan nafasnya yang tidak teratur, kacau balau tidak karuan.

"Hh! Ohh! Hmmn..! Ahh! Ngmn! Ahh! Hahhk! Ahh! Oohh!"

Aku menikmati desahan nafas dan suara-suara yang keluar dari bibirnya, bagiku itu adalah suara dari surga yang berhasil kuciptakan dengan memberinya kenikmatan yang tiada taranya. Lalu aku melanjutkan perjalananku ke daerah lain. Perut, pinggang kiri, kanan, pinggul kanan, perut bagian bawah, pinggul kiri, pangkal paha kiri luar, bergeser ke dalam, mendekati selangkangan, tapi sengaja kulewatkan bagian yang paling spesial: pintu gerbang surga mininya, langsung melompat ke pangkal paha luar, dalam, selangkangan, kugigit-gigit ringan pangkal pahanya.

Nampaknya Tina tidak tahu harus bagaimana untuk menahan seranganku yang membuat dirinya seolah mati, kematian kecil. Lalu kini seranganku menuju ke titik utamanya, ke pintu gerbang surga mininya, vaginanya, liang senggamanya. Kujilati bibir vaginyanya yang sudah basah oleh cairan vaginanya sebagai balasan seranganya terhadapku tadi, lalu kumasukkan lidahku ke dalam lubang senggamanya, sampai seolah-olah dia memberontak dan meronta-ronta.

Aku tak peduli, kuteruskan seranganku, dia mengerang makin tak karuan dan makin nyaring, tapi masih ditahan-tahan supaya tidak terlalu nyaring, mungkin dia malu, khawatir terdengar oleh tetangga. Tapi bagiku semakin nyaring dia mengerang, semakin banggalah aku, sebab membuktikan aku telah berhasil total dalam seranganku. Aku melanjutkan sodokan-sodokan ke dalam liang nikmatnya, sambil kulengkungkan ujung lidahku ke atas dan kutekan-tekankan lidahku ke titik kelentitnya. Aku sempat menjelingkan mataku untuk melihat reaksi wajahnya dalam keadaan ini.

Wajahnya menjadi merah merona, matanya terkatup rapat sampai terbentuk lipatan-lipatan halus di sudut matanya, sementara tangan kanannya berada di mulutnya dan sedang menggihit jari telunjuk kanannya, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat ujung bantal yang sedang mengalasi kepalanya. Sebentar-sebentar, wajahnya dipaingkan ke kanan dan seolah dia mau membenamkan wajahnya dalam-dalam ke dalam bantal. Sementara nafasnya ngos-ngosan tidak teratur. Tina memang bukan type wanita yang suka menjerit-jerit di ranjang, dia tampak berusaha mati-matian menahan suara desahan dan erangannya.

"Hkng.. Hh! Hh..! Hh..! Sshhk..! Ahk.. Hh! Hh..! Hh..!"

Aku benar-benar senang mendengarnya, aku menikmatinya. Lama kemudian aku melepaskan bagian itu, dan bergeser ke kakinya, pahanya, kiri-kanan, belakang lututnya, betis, tulang kering, kaki, jari kaki dan sela-sela jari kakinya, terakhir telapak kakinya.

Selesai itu, aku mengangkat kepalaku untuk memandangnya. Tina nampak sedang sibuk mengatur kembali nafasnya. Lalu dia tersenyum dan berkata, "Kamu hebat! Saya minta ampun deh, tak kuaat."

Aku cuma tersenyum mendengar komentarnya, senyum puas, karena telah sukses membuatnya tenggelam dalam samudra kenikmatan. Tak lama kemudian, dia memandang dengan mesra diriku dan berkata, "Udah yuk, masukkan."
"Udah mau masuk?" tanyaku meyakinkan.

Tina hanya menjawab dengan anggukan ringan. Setelah mendapat jawabannya, aku mengambil kondom yang telah kusiapkan, aku tak ingin ada gadis yang hamil karena aku sebelum menikah denganku. Kupasang kondom tersebut, namun Tina bangkit dari baringnya dan menawarkan untuk memasangnya untukku. Kuterima tawarannya dan diapun memasangnya. Setelah selesai, dia baring kembali.

Lalu aku mengambil posisi diatas tubuhnya yang telentang, menindihnya pelan-pelan. Tangan kanannya turun untuk meraih jagoanku untuk dimasukkan ke dalam lubang nikmatnya. Tapi gerakan itu kucegah, aku menangkap tangannya dan kuletakkan di atas kepalanya. Lalu tanpa bantuan tanganku, maupun tangannya, aku memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Pelan tapi pasti, dengan mulus, seperti mengalir, penisku masuk ke dalam lubang vaginanya.

1 centi, 2 centi, dan seterusnya sampai seluruh batang penisku berada dalam lubang nikmatnya dan terjepit kehangatan yang membawa nikmat tiada taranya. Aku lihat matanya terpejam, wajahnya ditengadahkan, mulutnya ternganga, namun tidak mengeluarkan suara selama pross masuknya jagoanku ke dalam lubang nikmatnya yang hangat. Kedua tangannya yang sudah terlepas dari pegangan tanganku, memegang dan mencengkram erat bahuku, tak jelas apakah dia menahan sakit atau nikmat, atau keduanya, tidak pernah aku tanyakan.

Kemudian, selanjutnya aku memfungsikan jagoanku sebagai mana mustinya, yaitu memompa lubang nikmat Tina. Dia juga melakukan gerakan-gerakan kecil untuk membantu aku memompa lebih dalam. Matanya terpejam, namun kadang-kadang terbuka dan memandangku dengan pandangan yang lembut, lalu terpejam kembali. Aku memompa dengan gerakan yang pelan, lembut penuh penghayatan dan menikmati perjalanan menuju puncak kenikmatan. Nafasku kuatur sedemikian rupa supaya tidak cepat mencapai klimax, dengan harapan bisa mengantar Tina mencapai puncak kenikmatan lebih dulu. Wajah Tina yang merah merona sangat mempesona, ditambah desahan nafasnya yang sangat menggairahkan, membuat aku sangat menikmati kerjaku.

Lima belas menit kemudian aku mengajaknya berganti posisi. Kusuruh Tina untuk mengatur posisi baringnya menghadap ke kirinya, dengan kaki kiri lurus ke bawah sedangkan kaki kanannya menyamping ke kiri seperti orang yang mengangkat lutut dalam gerakan berjalan di tempat dalam baris-berbaris. Lalu aku mengambil posisi menduduki paha kirinya dengan pelan, lalu kusodokkan jagoanku sampai terbenam dalam lubang nikmatnya. Tangan kananku memegang paha kanannya yang menyilang, dan tangan kiriku memegang pantatnya yang nungging itu, lalu kutarik seiring dengan gerakan menyodok jagoanku, sehingga jagoanku bisa mencapai kedalaman maksimum ke dalam lubang vaginanya.

Kemudian aku mulai memompa lagi dengan pelan. Sesekali aku meraih buah dada kiri dan kanannya secara bergantian, menggenggam dan memerasnya dengan lembut dan keras secara bervariasi. Sedangkan Tina nampak sangat menikmati permainanku. Dia dengan mata terpejam, tangan kanannya memegang tangan kananku, seolah membantuku memeras buah dadanya dan tangan kirinya menggenggam erat bantal kepalanya. Bibirnya terbuka sedikit dan mengeluarkan bunyi desahan pelan yang sangat merangsang.

"Ahh.. Ahh.. Ahh.."

Kurang lebih lima belas menit setelah itu, aku merasa akan mencapai klimaks, dan permainan ini akan segera berakhir. Artinya kenikmatan ini akan berakhir juga. Aku berusaha mencegahnya. Kuatur nafasku dengan menarik nafas dalam-dalam dan segera kulepaskan. Gerakan memompa kuhentikan dan momen itu kumanfaatkan untuk menyuruhnya berganti posisi lain berlawanan dengan yang tadi. Kalau tadi dia berbaring mengahadap kiri, sekarang menghadap kanan. Lalu kulanjutkan kerjaan nikmat ini. Kugoyangkan pinggulku ke depan dan ke belakang, dorong-tarik, memompa dengan pelan dan santai sambil mengatur nafas.


Bersambung . . . .