Entah berapa lama kami tertidur saat itu, aku tidak tahu, namun saat Yani terbangun dari tidurnya, aku juga ikut bangun. Aku melihat jam dinding menunjukkan pukul 12.45. Melihatku terbangun Yani mengecup keningku dengan penuh rasa kasih yang dalam, dan akupun membalas kecupan di keningnya. Lalu Yani berusaha untuk turun dari atas tubuhku. "Ooppss", desahnya begitu turun dari atas tubuhku, hal ini disebabkan karena selama kami tertidur penisku masih menancap di dalam vaginanya. Kemudian sambil memeluk diriku Yani merebahkan tubuh telanjangnya di sebelahku.

"Dhe.." aku memanggilnya.
"Apakah Dhede nggak menyesal?", tanyaku pada Yani.
"Menyesal kenapa Mas", Yani balik bertanya kepadaku.
"Dhede kan masih perawan", ujarku.
"Sekarang udah nggak lagi kok", jawabnya sambil meletakkan kepala di dadaku.
"Iya sih", jawabku.
"Tapi kan sebelum kita lakukan ini Dhede masih perawan", jelasku.
"Yani rela kok Mas", jawab Yani.
"Yani sadar kalau kita nggak bisa bersatu selamanya", kata Yani sedih.
"Yani juga sadar kalau kita masih saudara", katanya sambil menitikkan air mata.
"Tapi Yani tetap selalu mencintai Mas", ucapnya.
"Makanya sebelum Yani serahkan sama orang lain, Yani serahkan apa yang paling berharga Yani miliki pada Mas", katanya.
"Karena Yani mencintai Mas", ucapnya sambil mencium keningku.
"Yani hanya serahkan pada orang yang Yani cintai, seperti yang pernah Yani ucapkan sewaktu kita SMA dan Mas masih tinggal di rumah orang tuaku", Yani mengingatkan akan kata-kata yang pernah dia ucapkan waktu kami tinggal serumah dulu.

Memang sewaktu SMA aku menumpang di tempat Pak De-ku (orang tua Yani), karena rumahku sendiri di Prabumulih, dan aku melanjutkan SMA di Jawa. Karena terlalu akrab maka timbul perasaan sayang dan saling mencintai. Dan sebelum kami berpisah 5 tahun lalu dia berjanji dan bersumpah tidak akan menyerahkan keperawanannya kepada orang lain bahkan tak ingin menikah.

"Tapi apakah kamu tetap tak ingin menjalin kehidupan berumah tangga, mempunyai suami, dan anak?", tanyaku.
"Yani kan sudah menyerahkan pada Mas, jadi Yani bisa nikah dong", ujarnya manja.
"Apa kamu tidak takut kalau suami kamu kecewa saat malam pertama nanti?", tanyaku.
"Apa kita nikah aja di sini", ajakku padanya.
"Tapi Yani takut Mas", ucapnya.
"Yani nggak ingin pernikahan kita tanpa restu orang tua yang telah melahirkan dan merawat kita dari kecil Mas", ujarnya.
"Namun Mas nggak usah khawatir deh, Yani tetap selalu mencintai Mas Kok", jelasnya padaku.
"Sebelum menikah Yani akan mencari laki-laki yang betul-betul menerima Yani walau sudah nggak perawan lagi", katanya.
"Yani juga tetap akan menemui Mas walau Yani sudah menikah nanti", ucapnya.
"Mas..", panggilnya manja.
"Apa Mas masih mencintai Yani?", tanya dia sambil mengusap bulu di dadaku.
"Iya..", jawabku.
"Ada apa?", tanyaku.
"Nggak aku cuma takut Mas nggak mau menemuiku lagi", jelasnya.
"Soalnya aku begitu mudah bahkan mengajak Mas untuk melakukan ini", katanya.
"Aku cuma ingin Mas sering-sering datang ke Bekasi menemui aku", pintanya sambil mengecup dadaku.
"Nanti masalah transport aku yang membiayai", katanya lagi.
"Aku juga nggak ingin sendirian terus di rumah", katanya.
"Kan kalo sendirian sepi, jadi kangen terus sama Mas", ujarnya manja.
"Kangen sama Mas atau sama ini?", tanyaku sambil menunjuk penisku yang masih lemas.
"Dua-duanya", jawabnya manja sambil menurunkan tangannya ke penisku.
"Mas, kok lemas gitu sih penisnya?", tanya dia sambil menggeggam penisku.

Karena sentuhan halus tangannya maka gairahku menjadi bangkit lagi.
"Kecapekan kali, kan habis kerja keras ngebor vagina Dhedek", jawabku.
"Berarti bisa keras lagi dong Mas", katanya.
"Iya", sambil menjawab aku mengulum bibirnya, dan dia pun membalasnya sambil menjulurkan lidahnya ke mulutku.
"Eemmffhh", desahnya ketika lidah kami bertarung. Kuusap payudaranya dengan lembut dan kulepas kecupan di bibirku, kuturunkan kepalaku dan kuhisap putingnya yang telah menjadi keras karena rangsangan.
"Auhhcchh mass, geellii", rintihnya.
"Mass.. oohh.. sudaahh Mass", erangnya sambil menjauh dariku.

Aku pikir dia mau menghentikan permainan, ternyata dugaanku salah. Yani berbalik dan mengelus penisku yang sudah setengah tegang.
"Mass.. sudah besar lagi nih, oouufs", katanya sambil memasukkan penisku ke dalam mulutnya, Yani terus menghisap penisku hingga benar-benar keras.
"Heemm.. terus Dhek", pintaku sambil menyibak jembutnya dan menjilati kelentitnya.
"Oookhh.. mm..", Yani mendesah ketika kelentitnya kuhisap. Cairan bening dan kental mengalir membasahi vaginanya, lalu dengan jari telunjuk kumainkan bagian dalam vaginanya. Kami 'bermain' dalam posisi 69.
"Oouuhhkks Mass.. enaakkss.. mm..", rintihnya sambil menghisap penisku.

Selang beberapa menit kemudian Yani menggerakkan pantatnya dan menjepit kepalaku dengan kedua pahanya, aku mengerti kalau dia mau sampai klimaksnya, lalu kuhisap clitorisnya dengan kuat agar dia cepat orgasme.
"Ooouukkhhss.. Maass.. teeruss", erangnya setengah teriak. Yani pun tidak mau kalah, dia menghisap juga penisku dengan kuat sambil di kocoknya.
"Oookkss.. Deekkss.. keluaariin baarreenggss", pintaku.
"mmff", dia tak bisa menjawab karena mulutnya penuh oleh penisku, dan badan kami mengejang bersamaan.
"Ookkhhss Maass.. aakkss.. aakss.."
"Deekkss oohh..", erang kami berbarengan, "Crreetss.., ccreet.., crreett.., seerr.., kami mencapai orgasme bersamaan. Dia menelan semua maniku dan akupun menelan semua cairan yang dikeluarkannya.

Setelah itu Yani berbalik dan memintaku untuk tetap pada posisi semula, lalu dia bangkit dan mengangkangiku sambil mengarahkan penisku ke lubang vaginanya, terus dia turun pelan-pelan sambil menekan agar penisku dapat masuk ke lubang vaginanya.
"aakhhs..", erangnya begitu kepala penisku membelah bibir vaginanya Dia menghentikan sejenak, lalu diteruskan kembali hingga penisku masuk separuhnya.
"aauuhh Maass enaak ooh", rintihnya sambil terus menggerakkan badannya sehingga penisku terus masuk semakin dalam. Aku meremas susunya sambil menggerakkan pantatku naik turun, tapi dia memintaku untuk tidak bergerak, jadi aku diminta untuk menikmati saja. Dengan buas dia menggerakkan badannya tanpa arah sehingga penisku semakin dipijit oleh vaginanya.

Sepuluh menit berlangsung Yani di atasku, tiba-tiba badannya mengejang dan dia menghentikan gerakannya dan merangkulku dengan kuat sekali sambil berteriak-teriak, "Maas.. akuu.. nggaak.. kuuaat.. ookhss.. aakhss.. aakh.. heeghh", dengan diiringi cairan hangat membasahi penisku dan terus mengalir keluar karena banyaknya.
"mm.. niikmaat", erangnya tanpa memberi kesempatan istirahat kami pun berganti posisi. Dia buka kakinya lebar-lebar sehingga vaginanya menjadi terbuka, dan aku dengan mudah memasukkan penisku ke dalam vaginanya.

Sepuluh menit berlangsung Yani di atasku, tiba-tiba badannya mengejang dan dia menghentikan gerakannya dan merangkulku dengan kuat sekali sambil berteriak-teriak.
"Maas.., akuu.., nggaak.., kuuaat.., ookhss.., aakhss.., aakh.., heeghh", dengan diiringi cairan hangat membasahi penisku dan terus mengalir keluar karena banyaknya.
"mm.., niikmaat", erangnya tanpa memberi kesempatan istirahat, kami pun berganti posisi.
Dia buka kakinya lebar-lebar sehingga vaginanya menjadi terbuka, dan aku dengan mudah memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Dalam keadaan Yani yang terkangkang aku menggerakan pantatku maju mundur dengan cepat, sehingga teriakkan Yani yang baru saja orgasme terdengar keras.
"Ammpuun maass.., ookkss.., mass", teriak Yani memohon.

Mendengar teriakannya tersebut akhirnya aku pun tak tega sehingga aku menghentikan gerakkanku. Yani dengan nafas yang tersenggal-senggal berbisik kepadaku.
"Mass.., keluarin lagi mass..", bisiknya manja.
Setelah berbisik padaku dia mulai menggerakan pinggulnya ke kiri dan kanan sehingga penisku yang terjepit erat di vaginanya terasa sekali dipijit-pijit,
"Ooohh Dhedek.., enaaks", erangku di telinganya.
"Ayoo.., Mass gerakan lagi doong", pintanya padaku.
Lalu dengan perlahan kugerakan kembali pantatku maju mundur.
"Ooohhkks.., Teeruus Mass..", teriaknya lirih.
"Enaaks.., oohh.., heemm..", erang Yani keenakan.

Entah berapa menit aku menyetubuhinya dan terasa sekali kalau ada sesuatu yang berusaha untuk keluar dari penisku. Dan aku pun mempercepat gerakanku,
"Ooh Yaann.., akuu nggak kuats.., aakuu maauu keeluaar.., oohh.."
Begitu mendengar eranganku Yani mempererat dekapan tangannya di leherku dan menyilangkan kedua kakinya di pinggangku.
"Ayoo Mass.., geraakiin yang ceepeet Mass.."
"Jangaan di cabuut..", pintanya.

Begitu Yani menyentakkan kakinya sehingga menekan pantatku dan membuat penisku masuk semakin dalam ke vaginanya, aku pun tidak kuat menahan klimaks yang kucapai.
"Oooks Dhedee..!".
Croots.. croots.. Kusemprot lubang rahimnya dengan spermaku. Matanya terpejam menerima semprotan dariku, dan belum habis rasa nikmat yang kudapatkan tiba-tiba badannya mengejang.
"Mass.., Akuu Jugaa keluaar.., ahks.., ooghs.., ops.., Mass..", erangnya.
Cretts.., seerr.., serr.., cairan hangat membasahi kepala penisku dengan derasnya dan mengalir keluar di pahanya. Kami mencapai klimaks bersamaan dan sambil kukecup keningnya aku berdiri dari atas tubuhnya.

"Ooohh.., Mass", rintihnya begitu kucabut penisku dari vaginanya. Setelah itu aku tiduran di sampingnya, dan dia pun mendekapku dengan penuh kasih sayang. Lima menit istirahat lalu kami pergi mandi membersihkan diri dari keringat yang membasahi tubuh kami. Sejak kejadian itulah saya makin sayang pada yani, dan hubungan ini berlanjut hingga kini.

TAMAT