Fanny


Sore, jam 4:30, di Universitas ******, gedung D, tempat perkuliahan fakultas arsitektur, kuliah terakhir selesai sejam yang lalu, tempat itu sudah 90 persen kosong karena sebagian besar dosen dan mahasiswanya sudah pulang. Imron baru saja selesai menyapu di lantai tiga, dia berjalan membawa sapu dan ceruk hendak turun dan beristirahat di ruangnya. Ketika melewati ruang jurusan dia mendengar suara desahan disertai rintihan kecil, semakin mendekati ruangan itu, semakin jelas pula suara-suara itu terdengar. Seringai mesum muncul di wajah kasarnya, ‘mangsa baru’ demikian yang langsung terlintas dalam pikirannya. Mengendap-endap dia mendekati ruangan itu, namun…’sialan’ katanya dalam hati, jendela itu yang bagian atasnya kaca bening tertutup tirai. Akalnya jalan, buru-buru dia ke menuruni gedung itu menuju gudang, sapu dan ceruk itu ditaruhnya lalu diambilnya sebuah bangku tinggi dan segera kembali ke tempat tadi. Dengan hati-hati dia menaiki bangku itu tanpa menimbulkan suara mencurigakan, melalui lubang angin lah dia dapat melihat sumber suara itu.
Mata Imron yang cekung ke dalam itu melotot menyaksikan apa yang dilihatnya. Di atas sofa, Pak Dahlan, dosen sekaligus ketua jurusan arsitektur sedang mencumbui payudara seorang gadis cantik. Si gadis duduk di pangkuannya dengan kaos dan cup bra tersingkap ke atas, kepalanya menengadah dengan mata terpejam sesekali mendesah. Tangan Pak Dahlan memasuki rok gadis itu mengelusi paha putih mulusnya, sebentar kemudian tangannya keluar dari rok itu, kali ini beserta sebuah kain warna putih, oh rupanya dia menarik lepas celana dalam gadis itu. Si gadis juga menggerakkan kakinya membantu celana dalam itu lolos. Setelah celana dalam itu jatuh ke lantai, Pak Dahlan melumat bibir mungil gadis itu, mereka saling kecup, lidahnya pun saling sedot, tangan Pak Dahlan meremasi payudara montok gadis itu, sedangkan tangan gadis itu melingkari punggung Pak Dahlan. Mereka demikian hanyut dalam birahi sampai tidak tahu sepasang mata sedang menintip mereka bahkan memotret mereka dengan cameraphone. Sungguh kontras perbedaan keduanya, si gadis berparas cantik dan bertubuh putih langsing, sementara Pak Dahlan bertubuh tambun dan berkulit sawo matang, rambutnya agak bergelombang dengan kumis di atas bibir tebalnya. Dari segi usianya, Pak Dahlan adalah duda berumur limapuluhan, sebaya dengan Imron, seusia dengan ayah si gadis itu.
Ternyata benar yang dikatakan kabar burung selama ini bahwa Pak Dahlan, bandot tua itu, memang bisa disogok dengan ‘daging mentah’ untuk mengkatrol nilai, dan hal ini berlaku bagi mahasiswi yang punya modal kecantikan. Akal bulus Imron bekerja, kalau saja dia bisa mendekati bandot tua itu, tentunya dia mempunyai koneksi dari kalangan atas yang bisa melindunginya kalau sampai terjadi apa-apa, dengan kata lain ada backing, selain itu juga dia mungkin dapat ikut menikmati korban si bandot tua ini sekaligus memuluskan aksi gilanya. Sungguh rencana jangka panjang yang cemerlang, pengalaman masa mudanya di dunia hitam membentuk dirinya untuk berpikir cepat dan jitu. Dia pun turun dari bangku dan mengetuk pintu. Imron menunggu beberapa saat sebelum pintu terbuka, pastilah yang di dalam sana sedang kelabakan menutupi kejadiannya. Pak Dahlan nongol dari pintu sambil tersenyum menutupi kegugupannya.
“Eh, Pak Imron, ada apa nih, maaf ya tadi ada kerjaan yang tanggung, jadi nunggu lama nih !” katanya sambil keluar dan menutup pintu.
“Ooo…gapapa kok Pak Dahlan, harusnya kan saya yang maaf karena udah ngeganggu kalian”
Kata terakhir itulah yang membuat raut wajah Pak Dahlan berubah tak bisa lagi menyembunyikan rasa bersalahnya. ‘Kalian’ ini berarti penjaga kampus itu telah mengetahui bukan cuma dia sendiri di dalam kantornya, ditambah dia juga melihat bangku tinggi ketika menoleh ke samping.
“Ahaha…Pak Imron ini, anda…!” katanya masih berusaha berkelit
“Tenang aja Pak Dahlan kita ini kan sama-sama laki-laki, saya ga akan mempersulit atau memeras anda kok, malah saya ada penawaran menarik buat anda !” Imron memotong kata-kata Pak Dahlan dan meletakkan tangannya di pundak pria tambun itu.

“Maksud anda ?” tanyanya lagi.
Imron merangkul pundak Pak Dahlan dan menjelaskan tentang kerjasama yang ditawarkan, dengan kelicikannya dirinya dapat menjebak dan menarik wanita yang dia inginkan untuk menjadi budak seksnya, dan dengan kuasanya Pak Dahlan dapat membacking dirinya seandainya satu hari nanti ada situasi darurat, dan juga memberi bantuan informasi mengenai profil korbannya seperti korban dan nomor yang dihubungi.
Senyum kembali mengembang dari wajah Pak Dahlan, ini namanya simbiosis mutualisme atau hubungan saling menguntungkan namanya, begitu pikir Pak Dahlan, berarti dia dapat mencicipi gadis-gadis lain di luar fakultas arsitektur juga, menyediakan informasi dan melindungi baginya masalah kecil mengingat posisinya cukup terpandang di kampus itu.
“Pak Imron hehehe…tau gini kenapa ga cari saya dari dulu hehehe !”
Mereka tertawa-tawa dan berjabat tangan tanda terjalinnya suatu persekongkolan jahat yang akan menghantui setiap gadis-gadis cantik di kampus itu.
“Pak, sekarang itu cewek di dalam gimana, kasian tuh nunggu lama dia !” kata Imron
“Ok deh, biar saya omong ke dia biar kita nikmati bersama, tapi janji yah, besok kasih saya nyicipin hasil anda !” ujar Pak Dahlan dengan antusias.
“Beres deh Pak, pokoknya saya jamin Bapak juga seneng kok !”
Merekapun masuk ke dalam, Pak Dahlan memanggil gadis itu keluar dari persembunyiannya di bawah meja kerja. Dia sempat kaget melihat ada orang lain yang ikut masuk.
“Maaf ya Fan, mari saya jelaskan sebentar…” Pak Dahlan menjelaskan masalahnya dan meyakinkannya agar tidak perlu kuatir skandal ini terbongkar dengan jaminan jabatannya.
Gadis itu lalu dikenalkannya pada Imron. Dia bernama Fanny, 21 tahun, seorang gadis indo bule dengan tinggi 167 cm, berat 49 kg dan berdada 34C, lekuk tubuhnya indah bak biola ditunjang kaki yang panjang dan mulus, rambutnya berwarna kemerahan sebahu, wajahnya pun cantik apalagi saat itu dia memakai soft lens hijau. Terlepas dari itu semua dia adalah mahasiswi yang dikenal bispak dan tukang gonta-ganti pacar. Karena nilai UTS nya yang jeblok, dia nekad menggadaikan tubuhnya ke bandot tua yang kebetulan mengajar mata kuliah yang itu dengan tujuan memperbaiki nilainya. Fanny awalnya merasa risih harus melayani orang rendahan seperti Imron, ditambah lagi tatapan mata Imron yang penuh aura kemesuman. Dia lalu disuruh duduk di sofa diapit kedua pria itu. Imron menatap kagum bentuk tubuh Fanny yang ideal yang terbungkus kaos kuning ketat dengan bawahan rok putih yang menggantung 5cm diatas lutut, putingnya nampak tercetak karena tidak sempat membetulkan letak bra-nya yang tersingkap waktu Imron datang tadi.
Imron mulai membelai lengan mulus Fanny sehingga membuatnya merinding, di sebelah kanannya Pak Dahlan juga kembali merangkul tubuhnya. Lengannya yang gempal masuk lewat bawah bajunya dan mencaplok payudaranya. Pak Dahlan mencaplok bibir Fanny dan melakukan French kiss yang panas. Fanny sendiri semakin naik gairahnya karena remasan Pak Dahlan pada payudaranya dan di sebelahnya Imron juga sudah memegang putingnya dengan dua jari dari luar kaos ketatnya, lalu dia menunduk mengisap puting itu sehingga liurnya membekas di kaos kuning itu. Fanny dengan pasrah merenggangkan pahanya ketika tangan Imron menjalar ke sana, birahinya yang belum tuntas membuatnya menerima kehadiran tamu tak diundang itu.
“Eemmhh…mmmhh !” terdengar lenguhan nafasnya di sela-sela ciuman ketika Imron menyentuh bagian kemaluannya yang sudah tidak tertutup celana dalam.
Imron mengangkat kaki kiri Fanny ke sofa sehingga pahanya terbuka dan menampakkan kemaluannya yang berbulu jarang. Tidak puas cuma memainkan puting itu dari luar, disingkapnya kaos gadis itu mengeluarkan payudaranya, segera terlihat jempol Pak Dahlan sedang menggosok-gosok puting kanannya. Imron memainkan vagina Fanny dengan dua jari sambil mengenyot payudara kirinya, sementara tangan satunya mengelusi pahanya.
Tanpa melepas ciuman, tangan Fanny meraih selangkangan Pak Dahlan dari luar celananya. Dipijatnya bagian yang sudah menggelembung itu dengan lembut.
“Hehehe…udah gatel yah Fan, bentar yah Bapak buka dulu !” Pak Dahlan melepas ciuman untuk membuka celananya.
Fanny tertegun melihat penis Pak Dahlan yang panjangnya sekitar 17cm, hitam dan mengacung diantara pahanya yang besar dan berbulu. Saat itu Imron juga menarik lepas rok yang dikenakan Fanny disusul melucuti pakaiannya sendiri hingga bugil. Perhatiannya beralih sejenak dari penis Pak Dahlan ke tubuh Imron yang lebih berotot dengan bekas luka di dadanya, kulitnya hitam kasar karena sering mengerjakan pekerjaan keras dan dimakan usia, panjang penisnya tak beda jauh dari Pak Dahlan, namun lebih gagah dan keras, terlihat dari guratan-guratan urat di sekitarnya. Belum ditusuk Fanny sudah merasa dirinya luluh lantak tersugesti oleh apa yang dibayangkannya sendiri.
Fanny disuruh menungging di sofa, tangannya menggenggam penis Pak Dahlan dan mulai menjilati kepala penisnya sesuai permintaan pria itu. Sambil mengoral Fanny merasa ada sesuatu yang basah di bawah sana, ternyata Imron sedang menjilati bongkahan pantatnya yang montok. Tubuh Fanny menggelinjang, apalagi waktu mulut Imron bertemu dengan vaginanya, lidah itu beraksi dengan ganas di daerah itu membuatnya semakin becek.
“Diisep Fan !” perintah Pak Dahlan yang langsung dituruti Fanny dengan memasukkan penis itu ke mulutnya, di dalam mulut dia mainkan lidahnya sehingga memberi sensasi nikmat pada penis itu.
Pak Dahlan melenguh nikmat merasakan sepongan Fanny yang profesional itu, tangannya menjulur ke bawah meraih buah dadanya yang menggantung. Kini titik-titik sensitif tubuhnya diserang habis-habisan. Imron menyedot vaginanya hingga mengeluarkan suara-suara ciuman. Kenikmatan itu diekspresikan Fanny dengan semakin bersemangat mengulum penis Pak Dahlan, desahan halus terdengar di sela-sela oral seksnya.
Sementara wajah Imron makin terbenam diantara bulu kemaluan Fanny, dengan jarinya dibukanya bibir vagina itu memperlihatkan bagian dalamnya yang merah basah. Dia lalu menjilati klitorisnya dengan rakus. Fanny makin menggelinjang dan menggoyangkan pantatnya akibat sensasi yang ditimbulkannya. Imron sangat menikmati vagina itu sambil menggeram-geram penuh birahi
“Yeeaahh…enak, wangi Non, sslluurrpp…sssrrpp !!”
“Oohh…iyahhh…terus Fan, enak banget…emut terus !” Pak Dahlan juga blingsatan karena sepongan Fanny, dia meremasi rambut gadis itu sesekali juga payudaranya.
Tiba-tiba Fanny menghentikan sepongannya dan mengerang tertahan, dia lepaskan sejenak penis Pak Dahlan dari mulutnya. Wajahnya meringis karena di belakang sana Imron mendorong penisnya ke vaginanya.
“Uuhhh…pelan-pelan Pak, oohh…oohh…!!” rintihnya dengan menengok ke belakang melihat penis itu pelan-pelan memasuki vaginanya.
Fanny merasakan vaginanya penuh sesak oleh penis itu, benda itu bahkan menyentuh dinding rahimnya. Melayani orang seusia Imron memang bukan yang pertama kali, karena pernah juga dia 2-3 kali melayani om-om setengah baya dengan bayaran tujuh digit, namun mereka tidak seperkasa yang satu ini, Pak Dahlan yang sedang dia oral pun penisnya tidak sekeras dan sepadat Imron.
Imron mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur, gesekan-gesekan nikmat langsung terasa baik oleh yang si penusuk maupun yang ditusuk. Fanny menggelinjang nikmat, tubuhnya melengkung ke belakang, mulutnya mengeluarkan erangan. Erangan Fanny lalu teredam karena Pak Dahlan menekan kepalanya dan menyuruhnya mengoral penisnya kembali. Fanny pun mencoba kembali berkonsentrasi pada penis Pak Dahlan di tengah sodokan-sodokan Imron yang makin kencang.
“Pelan-pelan aja toh Pak Imron, ntar anu saya kegigit gimana ?” himbau Pak Dahlan melihat Fanny agak kesulitan mengoral penisnya karena tubuhnya berguncang terlalu hebat.
“Huehehe…maaf deh Pak, keenakan sih sampe lupa, ini saya turunin giginya deh !” Imron terkekeh lalu mulai mengurangi sedikit kecepatannya.
Dengan begitu Fanny bisa lebih nyaman melayani penis Pak Dahlan sambil mengimbangi gerakan Imron. Fanny mengkombinasikan hisapan dengan kocokan dan belaian pada batang dan puah pelir Pak Dahlan.
Pria itu merem-melek menikmati pelayanan gadis itu, tak lama kemudian dia merasa sudah mau keluar, penisnya berdenyut-denyut semakin cepat sehingga dia menggeram, dan akhirnya cret…cret…muncratlah spermanya ketika Fanny sedang mengocok sambil menjilatinya. Cairan putih kental itu membasahi wajah dan tangannya, lalu Fanny kembali memasukkan benda itu ke mulutnya sehingga semprotan berikutnya tertelan olehnya, dihisapnya dengan bernafsu sampai batang itu berangsur-angsur berkurang ketegangannya, lidahnya membersihkan benda itu sampai benar-benar bersih. Kemudian Fanny melepaskan sepongannya dan wajahnya terangkat, namun tangannya masih menggenggam batang penis itu, nampak dia menggerakkan lidah menjilati sperma di sekitar bibirnya. Pak Dahlan bersandar lemas pada sofa setelah mencapai klimaksnya, dia membuka bajunya sendiri karena kepanasan sehingga perutnya yang bulat dengan dada yang sedikit berbulu itu terlihat. Tubuh hitam kedua pria itu terlihat kontras dengan tubuh Fanny yang putih mulus. Di tubuh Fanny sendiri kini hanya tersisa bra dan kaosnya yang sudah tersingkap.
Di belakang sana, Imron kembali menaikkan tempo genjotannya, tangannya yang tadi cuma berpegangan pada pinggangnya menjalar ke depan meremasi dua payudaranya.
“Oooohhh…aaahhh….eehhmm…Pak !” suara lirih keluar dari mulut gadis itu setiap kali Imron menyodok-nyodokkan penisnya.
Cairan pelumas dari vagina Fanny makin banyak sehingga penis Imron yang sedang keluar-masuk di sana semakin lancer. Perasaan nikmat menjalari tubuhnya hingga akhirnya membobolkan pertahanannya. Tubuhnya mulai mengejang seiring nafasnya yang makin memburu. Sebuah erangan panjang menandai orgasmenya. Serangan Imron semakin ganas dan dia menyusul ke puncak beberapa menit kemudian. Spermanya yang hangat mengisi liang kemaluannya, dia melenguh melepaskan cairan itu serta mendekap erat tubuh Fanny hingga jatuh telungkup menindihnya. Setelah orgasmenya reda, Imron beringsut dan duduk di posisinya semula. Fanny masih telungkup dengan satu kaki menjuntai ke lantai, keringat membasahi tubuh dan wajahnya, dari selangkangannya cairan itu meleleh membasahi daerah itu juga sofa kulit di bawahnya.
Pak Dahlan mengangkat lengan Fanny dan menyandarkan punggungnya ke sofa, dengan tissue disekanya ceceran sperma di wajah gadis itu. Dengan tenaganya yang mulai pulih, Fanny meraih tas kecil yang dia letakkan di meja dekat situ, diambilnya sesachet tissue basah untuk mengelap wajahnya agar lebih bersih dan mengurangi aroma sperma itu. Pak Dahlan rupanya sudah ingin mencoba vagina Fanny, disuruhnya Fanny tidur telentang di sofa dan langsung dituruti tanpa disuruh kedua kali. Imron menawarkan pahanya pada Fanny untuk bersandar, sehingga dia pun bisa mendekap tubuhnya. Setelah posisinya pas, Pak Dahlan merenggangkan kedua belah paha Fanny dan menempelkan ujung penisnya pada bibir vagina Fanny.
“Ooohh…!” desah Fanny dengan tubuh bergetar ketika penis Pak Dahlan mulai memasukinya.
Tangannya meraih telapak tangan Imron dan meletakkannya di payudaranya seakan-akan meminta diremasi. Perlahan Pak Dahlan mulai memaju-mundurkan pantatnya, di sisi lain Imron mendekap tubuh Fanny sambil menggerayangi payudaranya, putingnya dia cubit pelan, sesekali digosok-gosokkannya jarinya di sana, sesekali mulutnya juga nyosor melumatnya sehingga benda itu makin mengeras.
“Enak yah Non, kapan nih pertama kali ngentot ?” tanya Imron dekat telinganya tanpa melepas tangannya dari payudaranya.
“Dulu di…sma…hhhmmmhh…enam…aah…belas tahun !” jawabnya dengan lirih
“Sekarang udah ada pacar Non ?” tanyanya lagi sambil memelintir putingnya.
“Lagi ngga…aahhh…aahh…iyah Pak…enak !”
Imron mengakhiri pertanyaannya dengan memagut bibir Fanny, dicumbunya gadis itu dengan penuh nafsu, Demikian halnya dengan Fanny yang tengah dilanda birahi, dia tak kalah seru membalas serangan mulut Imron sampai terdengar suara-suara kecupan disamping desahan yang teredam, lidah Imron yang tebal dan kasar menyapu segenap rongga mulut Fanny, air liur nampak menetes dari sudut bibir keduanya. Pak Dahlan terus menggenjoti vagina Fanny sambil menggumam tak jelas, terkadang dia melakukan gerakan memutar sehingga Fanny merasa kemaluannya diaduk-aduk. Setelah puas berciuman, Imron lalu menarik lepas kaos dan bra Fanny yang sudah terangkat hingga tak sehelai kain pun tersisa di tubuhnya.
Imron bergeser sedikit sehingga bisa mengarahkan penisnya yang sudah mengeras lagi ke mulut Fanny.
“Ayo Non, servis mulutnya dong !” pintanya.
Fanny pun mulai menggenggam penis itu dan mendekatkan mulutnya. Gila perkasa banget, keras dan urat-uratnya nonjol gini, demikian kata Fanny dalam hati, diam-diam dia mengagumi keperkasaan penis Imron yang barusan mengocok vaginanya. Batang itu sedikit lengket karena masih berlumur sperma dan cairan kemaluannya yang hampir kering. Fanny membuka mulut selebar mungkin untuk memasukkan benda itu yang tidak muat seluruhnya di mulutnya yang kecil. Kemudian dia mulai mengisapnya sambil mengocok pangkalnya yang tidak masuk mulut dengan tangannya. Kurang dari lima menit Imron menyudahi oral seks itu, kini dia menaiki dada Fanny dan menjepitkan penisnya yang basah diantara kedua gunung kembar itu. Payudara Fanny yang bulat montok itu rupanya menggoda Imron untuk mencoba ‘breast fucking’, digesek-gesekkannya penisnya diantara himpitan payudaranya. Terkadang Fanny mengerang dan meringis menahan sakit karena Imron melakukannya dengan brutal, belum lagi sodokan-sodokan Pak Dahlan pada vaginanya.
Pak Dahlan makin mendekati puncak kenikmatan, genjotannya semakin cepat dan mulutnya makin menceracau. Hal serupa juga dialami Fanny yang syaraf-syaraf pada organ kewanitaannya bereaksi makin dahsyat mengirimkan sensasi nikmat ke seluruh tubuhnya. Keduanya pun mencapai orgasme berbarengan, sekali lagi cairan sperma mengisi vaginanya, sampai meluber sebagian melalui pinggir bibir vaginanya. Imron yang sedang bergumul diatas dadanya bagaikan cowboy yang sedang main rodeo di atas tubuh Fanny yang terlonjak-lonjak diterpa orgasme. Tak lama kemudian spermanya menyemprot ke wajah dan dadanya. Setelah semprotannya reda, Imron menempelkan penisnya ke bibir Fanny. Tahu apa yang harus dilakukan, Fanny pun menjilati penis itu hingga bersih dan membersihkan sisa-sisa spermanya.Kedua hidung belang itu bersandar lemas pada sofa, Fanny juga terbaring melepas lelah sambil mengelap sperma di dadanya dengan jari dan dia jarinya menikmati ceceran sperma itu. Acara hari itu selesai sampai disitu, Pak Dahlan menyuruh Fanny datang lagi keesokan harinya atas permintaan Imron, Imron pun berjanji menawarkan salah satu ‘budak’nya untuk dicicipi dosen bejat itu.
Malam hari itu sekitar jam delapan, sebuah SMS berbunyi ‘besok di lt3 tiga gedung D, jam empat sore’ masuk ke ponsel Sherin, gadis yang pernah diperkosa Imron di sebuah kelas kosong bersama sopirnya (eps. 3). Dia meneguk ludah, pasrah dengan nasibnya karena tidak ada pilihan lain baginya dibawah intimidasi Imron terhadapnya, juga dia khawatir keselamatan pacarnya yang sangat dia sayangi kalau tidak menuruti kemauan bajingan itu. Memang sebuah dilema baginya, namun tak dapat disangkal dirinya juga mulai menikmati diperkosa oleh Imron dengan gayanya yang liar itu. Selanjutnya diapun mengirim SMS pada temannya yang berencana akan ke kafe keesokan harinya untuk berangkat duluan, dia akan menyusul belakangan karena ada urusan keluarga.
Dalam tidurnya dia bermimpi menemukan dirinya dalam sebuah ruangan dengan hanya memakai bra dan celana dalam. Tiba-tiba sepasang lengan kokoh mendekapnya dari belakang, dia tidak bisa melihat wajahnya karena suasana yang remang-remang, yang jelas tangan itu mulai menggerayangi tubuhnya. Kemudian di hadapannya muncul dua sosok lain dari keremangan itu. Wajah mereka mulai terlihat jelas, yang satunya bertubuh kurus dengan kumis tipis, yang lain tubuhnya lebih berisi dengan bekas luka di dada, keduanya cuma bercelana dalam. Dia meronta dan menjerit mengetahui orang itu adalah bekas sopirnya yang memperkosanya habis-habisan sebelum pergi, sedangkan yang satu lagi tak lain si maniak pemerkosa di kampusnya. Keduanya terkekeh-kekeh melepas celana dalam mereka mengeluarkan penis mereka yang sudah tegang. Mata mereka memandang nanar pada tubuh mulus yang hanya terbungkus pakaian dalam itu. Tangan gempal dari belakangnya menyusup ke cup branya dan bersentuhan dengan kulitnya. Kemudian kedua orang di hadapannya menarik robek pakaian dalamnya, tangan-tangan kasar itu berkeliaran di sekujur tubuhnya dan membuatnya menggelinjang hebat. Diapun terbangun dengan tubuh berkeringat dan selangkangannya sedikit basah. Jam telah menunjukkan pukul tiga dinihari, setelah meminum seteguk air, akhirnya dengan susah payah dia tertidur lagi.
Keesokan harinya, setelah selesai main basket Sherin menaruh barang-barangnya di mobil tanpa salin terlebih dahulu. Dengan langkah berat diapun menuju gedung D dengan pakaian timnya berupa kaos putih agak longgar dan celana pendek ketat yang memperlihatkan paha jenjangnya. Rambutnya diikat ke belakang agar tidak terlalu panas setelah berolahraga. Di gedung D tinggal sedikit orang disana, disana tidak ada lift karena tempat itu memang gedung lama dan lantainya memang hanya tiga. Makin berjalan ke atas makin sepi saja rasanya, ketika menaiki tangga lantai dua menuju ke tiga dia dikagetkan oleh sebuah tangan yang menepuk pantatnya.
“Huh…jaga dong sikapnya Pak, ini kan tempat umum !” gerutu Sherin dengan kesal.
“Hehehe…gitu aja marah ah !” katanya santai “yuk kita keatas, udah ditunggu tuh !”
“Hah, apa Bapak bilang ? ditunggu ?” Sherin terkesiap “saya emang salah apa ? kok Bapak malah buka mulut sih !” suaranya meninggi karena marah.
“Lha, Non kan sukanya rame-rame, seperti waktu sama sopir Non itu kan, jangan sewot gitu dong !”
“Tapi kan Bapak janji ga bakal ngebuka rahasia, tapi kok gini sih !” Sherin tambah kesal
“Heh-heh, katanya ini tempat umum kok sendirinya omong keras-keras, mau ketahuan apa?” timpal Imron “hayo mau ke atas ga, tambah seorang aja kok, atau mau yang lain juga ikutan tau” ancamnya
Tanpa ada pilihan lain, akhirnya Sherin pun mengikutinya ke atas. Walaupun kesal, namun sisi lain dirinya juga mulai menyenangi dikeroyok seperti waktu itu, dan sekaranglah dia akan kembali mengalaminya. Imron mengetuk pintu ruang Pak Dahlan dan terdengar suara dari dalam mempersilahkan masuk.
“Nah, ini nih Pak cewek yang saya janjiin kemarin, sip kan !?”
Wajah Sherin merah padam mendengar ocehan Imron, serendah itukah dirinya, seperti seorang pelacur yang sedang dipromosikan oleh germonya saja.
“Ini gila, aku ini anak dari keluarga baik-baik, punya cowok yang baik, bajingan inilah yang menyeretku ke dalam lembah nista ini, tapi kok aku malah bergairah diperlakukan tidak senonoh gini” Sherin bergumul dalam hatinya.
Pak Dahlan menatapinya sejenak dari bawah sampai atas, lalu mempersilakannya duduk. Sherin yang masih canggung menurutinya setelah diberi syarat gerakan mata oleh Imron. Pak Dahlan berbasa-basi dulu dengan menanyakan nama, kuliah di fakultas apa, dan bagaimana studinya. Sherin merasa tidak nyaman dengan tatapan pria itu yang seakan menelanjangainya sehingga selama diajak ngobrol dia agak nervous.
“Habis main basket ya ?” tanyanya lagi yang dijawab dengan anggukan “Minum dulu ya, biar segar !” katanya sambil bangkit ke arah dispenser dekat situ dan mengisi sebuah gelas kecil.
Sherin menerima gelas yang disodorkan Pak Dahlan seraya mengucapkan terima kasih. Diminumnya air itu beberapa teguk. Kemudian tangan Pak Dahlan memegang tenguknya serta memijatnya pelan. Hal itu membuat bulu kuduknya merinding karena tangan itu juga mengelusi lehernya.
“Gimana udah lebih enakan sekarang ?” tanyanya sambil terus memberikan pemanasan melalui pijatannya.
Sherin terdiam tak mampu menjawab apapun, pijatan lembut pada pundak dan lehernya itu membuatnya merasa nyaman sehabis berolahraga barusan sekaligus membangkitkan nafsunya.
“Wah, badannya keringatan gini, dibuka aja bajunya biar ga gerah ya !” ucapnya kalem
Mungkin karena bagusnya foreplay Pak Dahlan, Sherin tak mampu menolaknya, malahan dia mengangkat sendiri tangannya membiarkan kaos timnya dilucuti pria itu sampai terlihat tubuhnya yang indah dengan perut rata dan payudara yang masih tertutup bra krem.
Pak Dahlan memandang kagum akan keindahan tubuh Sherin yang akan dia nikmati sebentar lagi. Dia tak ingin menikmatinya terburu-buru agar lebih terasa enaknya.
“Celananya sekalian yah Sher !” katanya lagi sambil merunduk meraih bagian pinggang celana sport itu.
Seperti sebelumnya, kali ini pun dia pasrah celana itu diloloskan lewat kedua kakinya sehingga kini di tubuhnya hanya tersisa satu stel pakaian dalam warna krem dan kaos kaki dan sepatu basket. Dia menyilangkan lengan ke dada dengan wajah memerah karena malu. Imron sejak masuk tadi masih duduk di sofa memperhatikan gadis itu diwawancarai hingga dikerjai seperti sekarang, wajahnya terlihat nyengir-nyengir memperhatikan adegan itu. Pak Dahlan menarik lepas ikat rambut Sherin hingga rambutnya terurai hingga bahunya.
“Wah…wah, bener-bener kaya bidadari, Pak Imron ini pinter milih ya !” sahutnya mengagumi kecantikan Sherin “coba berdiri Sher, ayo jangan malu-malu”
Dia melihat tubuh gadis itu tanpa berkedip, kemudian mulai mengelus pipinya, tangannya, elusannya terus turun hingga menyusup lewat atas celana dalamnya.
Sherin menggigit bibir sambil memegangi lengan Pak Dahlan yang memasuki celana dalamnya, tapi hanya sekedar memegangi bukannya menahan. Kata-kata penolakan gadis itu yang hanya retorika belaka malah membuat Pak Dahlan semakin gemas dengannya. Tangan itu mulai membelai permukaan vagina yang ditumbuhi bulu-bulu lebat itu, semakin jauh menyentuh bibir kemaluannya.
“Sshhhh…eemmhh !!” akhirnya Sherin pun tak sanggup lagi menahan desahannya
Dengan nafsu sudah diubun-ubun, Pak Dahlan langsung memeluk gadis itu dan menyerbu bibirnya. Lidahnya menyeruak masuk ke mulutnya yang terbuka ketika mendesah. Jari-jari Pak Dahlan mulai terasa memasuki vaginanya dan bergerak liar seperti ular sehingga menyebabkan daerah itu semakin becek. Erangan tertahan terdengar dari antara percumbuan yang panas itu. Puas berciuman, Pak Dahlan kembali mendudukkan Sherin di kursi tadi, lalu di depan gadis itu dia membuka celananya, burungnya yang sudah bangun tadi seakan meloncat dari sangkarnya begitu dia menurunkan celana dalamnya. Sherin terhenyak melihat benda yang mengacung tegak mengarah ke wajahnya itu.
Pak Dahlan meraih kepala Sherin sambil tangan yang satunya menggenggam penisnya dan mendekatkan ke mulutnya.
“Ayo, diemut yah !” pintanya.
Dengan pasrah Sherin mulai menggenggam penis itu dengan tangan bergetar, mulutnya dia buka untuk memasukkan batang itu. Pria tambun itu menggeram nikmat merasakan kuluman Sherin dan permainan lidahnya. Sekitar tiga menitan dia mengoral Pak Dahlan, terdengarlah ketukan di pintu, semua di ruang itu diam dengan mata memandang ke pintu.
“Gapapa…Non Fanny kok !” Imron memberitahu setelah mengintip lewat tirai.
“Siapa Pak !” Sherin nampak bingung dan mengambil pakaiannya yang tercecer untuk menutupi tubuhnya
“Aah…tenang aja Sher, ntar kamu juga kenalan kok, udah ini taro lagi deh !” kata Pak Dahlan seraya mengambil kaos dari tangan gadis itu.
Fanny agak kaget ketika melihat di ruang itu ada gadis lain yang hanya berpakaian dalam dan dosennya dengan celana sudah melorot itu.
“Dia kesini mau ngeramein suasana, tenang aja aman kok !” Imron menjelaskan pada Fanny.
Sementara itu Pak Dahlan kembali mengeluarkan penisnya dan medekatkannya ke mulut Sherin. Karena waktu itu Sherin masih merasa risih, Pak Dahlan menjejalkannya ke mulut dengan setengah paksa.
“Ayoh…gapapa kok, jangan malu-malu gitu !” katanya.
Dari belakang, Imron memeluk pinggang Fanny yang masih terbengong menyaksikan kelakuan dosennya itu. Diciumnya leher jenjang Fanny sehingga bulu kuduknya merinding dan semakin horny. Tangannya dengan lincah melepas sabuk dan membuka resleting gadis itu, maka meluncur jatuhlah celana jeans panjang itu memperlihatkan keindahan sepasang paha mulus dibaliknya serta celana dalam G-string yang seksi. Telapak tangan Imron menyelinap ke balik celana dalam itu dan memegang kemaluannya. Tubuh Fanny bergetar dan matanya terpejam menahan nikmat terlebih ketika jari-jari Imron menggosok bibir kemaluannya.
Hembusan nafas dan ciuman Imron pada telinganya membuat nafsunya makin naik. Kemudian dia mengangkat tangannya dan melingkarkan ke belakang kepalanya. Wajahnya menengok ke samping dan langsung mendapat pagutan panas dari Imron. Sambil berciuman, Imron menggerakkan tangan satunya menyingkap kaos ‘NEXT’ tanpa lengan yang dikenakan Fanny. Tangannya pun mulai menggerayangi tubuh bagian atasnya hingga akhirnya menyusup ke cup bra kanannya.
“Eemmpphhh…mmm !” desah Fanny tertahan setiap kali Imron mengorek liang vaginanya dengan jarinya atau mempermainkan putingnya.
Sementara di hadapan mereka, Pak Dahlan sudah menghentikan oral seks bersama Sherin. Sekarang pria tambun itu sedang duduk memangku Sherin yang tinggal memakai celana dalamnya saja sambil menyusu dari payudaranya. Tangan satunya menopang tubuh Sherin dan tangan lainnya bergerilya menyusuri keindahan tubuhnya. Pipi pria itu sampai kempot menyedot puting Sherin, sepertinya dia sangat gemas dengan payudara Sherin yang putih montok dengan puting kemerahan itu. Sherin sendiri nampak mendesah nikmat dengan kepala menengadah dan mata terpejam.
Imron menggiring Fanny ke sofa tempat kemarin bertarung, dia melepas pakaian karyawannya hingga bugil memperlihatkan penisnya yang sudah mengeras itu. Kemudian dia naik ke sofa menindih tubuh Fanny, kembali dia mencumbunya dengan ganas, keduanya berpelukan erat sambil memainkan lidah masing-masing. Berbeda dengan korban Imron lainnya yang umumnya harus ditaklukkan dengan cara paksa, Fanny nampaknya ok-ok saja melayani si penjaga kampus ini, bahkan cukup antusias. Dengan predikat sebagai gadis nakal semua itu tentu hanya sekedar tambah pengalaman baginya. Dari bibir ciuman Imron merambat turun sambil lidahnya menjilati leher dan pundaknya hingga ke payudaranya yang sudah keluar dari cup branya. Terlebih dulu Imron melepaskan kaosnya yang sudah tersingkap, selanjutnya dia keluarkan payudara yang satunya dari cupnya. Bra itu tetap melingkar di dadanya, hanya saja cupnya sudah dipeloroti. Mulut Imron mengenyoti kedua gunung itu secara bergantian, daerah itu jadi basah oleh ludahnya.
“Aahh…ahhh…mmmhh !” desah Fanny sambil meremasi rambut Imron.
Tangan Imron turun ke bawah memeloroti celana dalam G-string itu perlahan-lahan sambil mengelusi pahanya hingga celana itu pun akhirnya terlepas tapi masih nyangkut di kaki kiri Fanny.
Tidak jauh dari situ, nampak Sherin yang duduk di tepi meja kerja dengan Pak Dahlan masih duduk di kursi tadi dengan kepala terbenam di selangkangan gadis itu. Lidah Pak Dahlan menari-nari menyapu dinding vagina Sherin, terkadang juga menyentuh klitorisnya. Tangan kirinya menjulur ke atas memijati payudara kirinya, sedangkan tangan kanannya mengelusi paha dan pantatnya, sesekali juga ikut memainkan jarinya pada vaginanya. Sebentar saja badan Sherin sudah menegang.
“Oohh…Pak, aaahh !” kedua paha mulusnya makin menghimpit wajah Pak Dahlan.
Pak Dahlan dengan rakus menyedoti cairan cintanya sampai terdengar bunyi menyeruput. Setelah itu dia bangkit berdiri di depan Sherin yang masih duduk di tepi meja, kaki kanannya dia buka lebih lebar dan diarahkannya kepala penisnya ke vagina Sherin. Dia lalu menekan penisnya pada vagina Sherin yang sudah becek itu. Sherin tersentak ketika batang itu menyeruak masuk dengan agak kasar ke dalam vaginanya, terasa sekali benda itu menggesek dinding vaginanya yang penuh lendir.
“Aaww…aagghh !” desahnya dengan badan tertekuk ke atas.
Pria tambun itu menyetubuhinya dengan ganas sehingga payudara Sherin nampak tergoncang-goncang seirama hentakan tubuhnya. Matanya merem-melek merasakan tusukan penis Pak Dahlan yang datang bertubi-tubi. Dia mengarahkan pandangannya ke depan dan dilihatnya wajah lebar berkumis itu sedang menatapnya dengan takjub. Pria itu terus menyetubuhinya sambil berpegangan pada kedua pahanya. Sherin melingkarkan tangan kirinya ke leher Pak Dahlan dan tangan kanannya bertumpu di meja.
“Ah…iyah Pak…aahh-ah-terus !” Sherin menceracau demikian secara refleks.
Sebuah benda basah yang hangat mendadak terasa menggelitik telinganya, rupanya Pak Dahlan sedang menjilati daerah itu. Jilatan dan hembusan nafasnya di sana membuat gairahnya semakin meledak-ledak. Selanjutnya bibir Pak Dahlan bergeser ke pipinya, sapuan kumisnya terasa pada wajahnya yang halus hingga bertemu dengan bibir Sherin yang tipis. Desahannya pun teredam karena mulutnya dilumat oleh Pak Dahlan. Mulut Pak Dahlan yang lebar itu seolah-oleh ingin menelan Sherin, lidahnya yang kasap itu menjelajahi rongga mulutnya membuatnya agak gelagapan.
Di atas sofa, tubuh Fanny terbaring dengan kepala bersandar pada sandaran tangan, satu-satunya pakaian yang tersisa di badannya hanya bra yang cupnya sudah diturunkan, Imron yang menindihnya menaik-turunkan tubuhnya sambil menciumi lehernya. Rasa nikmat itu diungkapkan Fanny lewat desahannya, sesekali dia menggigiti jarinya sendiri, kedua tungkainya melingkari pinggang Imron seolah meminta ditusuk lebih dalam lagi. Imron meningkatkan frekuensi genjotannya sambil melenguh nikmat merasakan seretnya vagina yang menghimpit penisnya. Duapuluh menit berlalu, Imron kini mengubah gayanya. Tubuh Fanny dia baringkan menyamping, paha kirinya dia angkat ke bahu, kemudian penisnya kembali memasuki vaginanya lewat samping. Dengan begini penis itu dapat melakukan penetrasi lebih dalam. Imron melanjutkan genjotannya dan meraih sebuah payudaranya, diremasnya benda itu dengan gemas sehingga pemiliknya merintih. Tubuh Fanny maupun Imron sudah berkeringat, keduanya saling memacu tubuhnya masing-masing. Di ambang klimaks Imron makin ganas menyodoki Fanny yang orgasme tak lama kemudian, dia menggeram panjang lalu mencabut penisnya dan, crot…crot…isi penis itu berceceran di perut Fanny.
Kembali kita menengok Sherin dan Pak Dahlan di meja kerja. Mereka kini sedang dalam gaya berdiri, Sherin berpegangan pada tepi meja, dia tinggal memakai kaos kaki dan sepatu olahraganya saja, sementara Pak Dahlan menyodoki vaginanya dari belakang. Sebelumnya Sherin sudah mencapai orgasme sewaktu posisi duduk di meja, sisa-sisa cairan orgasme itu masih nampak membasahi pinggir meja. Kedua tangan Pak Dahlan mendekap dadanya, telapak tangannya menggerayangi kedua buah dada yang bergoyang-goyang itu. Sherin jadi teringat mimpinya semalam, tangan yang sedang bermain di payudaranya berjari-jari besar, persis dalam mimpinya itu, apakah mimpi itu suatu pertanda, apakah merupakan sebuah peringatan, demikian yang berkecamuk dalam pikirannya. Lamunan itu terhenti ketika ada suatu sensasi dahsyat mengalir dalam tubuhnya, semakin terasa hingga akhirnya tubuhnya mengejang hebat, dan cairan vaginanya sekali lagi membasahi selangkangannya, posisinya yang sedang berdiri membuat cairan itu meleleh ke pahanya. Bersamaan dengan itu juga terasa cairan hangat mengisi vaginanya. Pak Dahlan yang telah orgasme terus memompa Sherin dengan kecepatan makin menurun, sperma itu ikut meleleh bercampur dengan cairan kewanitaannya.
Setelah gelombang orgasme itu reda, Sherin merasa tubuhnya lemas kehilangan topangan, mungkin sudah roboh kalau saja tidak didekap Pak Dahlan. Pak Dahlan menarik pinggan Sherin seraya menjatuhkan diri ke kursi sehingga Sherin pun mendarat di pangkuannya.
“Hebat Sher, makasih ya, kapan-kapan kita main lagi ok !” katanya sambil memeluk dan menciumnya.
“Huh, dasar gendut mesum, yang kaya gini jadi dosen bukannya jadi germo, amit-amit deh !” omel Sherin dalam hati.
Demikian setelah istirahat sebentar mereka bertukar pasangan dan pesta seks di ruang itu berlangsung lagi sampai jam lima lebih ketika langit mulai menguning. Fanny akhirnya berhasil mengkatrol nilainya setelah membayar dengan tubuhnya. Hari-hari berikutnya Pak Dahlan benar-benar puas mencicipi korban-korban Imron yang lain seperti Ellen, Jesslyn, dan Rania. Korban itu akan terus bertambah apalagi setelah kedua penjahat kelamin itu kini telah bersekongkol.
###########################






© Karya Shusaku