‘Tes…tes…!’ bunyi tetes air itulah yang terdengar oleh Monica ketika kesadarannya pulih. Ia tidak tahu sudah berapa lama tak sadarkan diri dan ada di mana dirinya sekarang ini. Matanya terbuka dan mengejap-ngejap, ia menemukan dirinya terikat, kedua pergelangan tangannya terikat pada tambang yang menggantung di langit-langit. Ia berada di sebuah ruangan kosong berdinding beton yang hanya diterangi lampu bohlam 10 watt yang menggantung di tengahnya, seperti ruang interogasi di kantor polisi nampaknya.

“Di mana? Di mana ini?” Monica bertanya pada dirinya sendiri setelah benar-benar sadar.

Ia meronta untuk melepaskan ikatannya, namun semua itu sia-sia, malah menambah rasa sakit pada pergelangan tangannya.

Rasa sakit masih terasa pada tubuhnya. Teringat lagi peristiwa terakhir ketika ia bersama konvoinya diserang pasukan militan Irak ketika sedang melintas di pinggiran kota Kirkuk, salah satu wilayah paling bergolak di negara itu. Monica Ryan (26 tahun) adalah salah seorang prajurit wanita muda yang ikut dalam iring-iringan pasukan Amerika yang membawa peralatan medis ketika itu. Sejak pendudukan Irak oleh pasukan Amerika dan sekutunya tahun 2003 yang lalu, kekerasan telah menjadi hal biasa di Negeri Seribu Satu Malam itu. Tentara asing baik Amerika maupun negara sekutunya adalah target utama para gerilyawan Irak, baik dari sisa-sisa pendukung Saddam Husein, teroris Al Qaeda, maupun kelompok-kelompok militan lokal. Pada hari yang naas itu, Monica bersama teman-temannya disergap oleh sepasukan militan. Tembak-menembak pun tak terelakkan. Meskipun dilengkapi dengan persenjataan modern dan canggih, namun pasukan yang terdiri dari tentara-tentara muda yang kurang berpengalaman itu kalang kabut menghadapi serbuan ganas para militan, terutama setelah komandan mereka tewas tertembak. Dalam waktu yang relatif singkat hampir seluruh pasukan itu terbantai. Monica sendiri terhempas oleh ledakan mortir yang membuatnya tak sadarkan diri hingga terbangun menemukan dirinya terikat di tempat sekarang ini. Ia kini tinggal mengenakan kaos tanpa lengan berwarna hijau yang biasa dipakai di balik seragamnya, celana panjang coklat, dan sepatu bootnya.





“Haiii!! Lepaskan aku!! Siapa kalian!!” teriaknya sambil meronta

“Simpan saja suaramu, tidak akan ada yang dengar!” kata sebuah suara wanita seiring dengan membukanya pintu tidak jauh di sebelahnya.

“Siapa kamu? Mau apa kamu!” jerit Monica pada perempuan berusia empat puluhan yang mengenakan kerudung hitam itu, “mana teman-teman saya?”

“Teman-temanmu? Hahaha….!!” wanita itu tertawa-tawa, “mereka semua sudah habis sayang…cuma kamu dan satu orang pria bernama…Smith yang kami tangkap, dan omong-omong mereka baru saja memenggalnya kemarin”

“Kurang ajar!! Dasar binatang!!” geram Monica meronta hendak menghajar wanita berkerudung itu tapi apa daya tangannya terikat dan wanita itu berada di luar jangkauan tendangnya sehingga ia hanya menendang angin yang menyebabkan ikatan di pergelangan tangannya semakin erat dan menyakitkan.

“Kurang ajar?? Apakah presiden Bush-mu yang mengirim pasukan mengobrak-abrik negeri kami itu tidak kurang ajar!!?? Apakah tentara kalian yang membunuh dan memperkosa rakyat kami itu bukan binatang hah!!?” bentak wanita itu sambil menuding Monica, wajahnya memperlihatkan kemarahan yang mendalam, “roket-roket kalianlah yang telah membunuh keluargaku!! Betapa aku ingin menghabisi orang-orang seperti kalian dan melemparkan dagingnya pada anjing!!”

Monica tertegun melihat kemarahan wanita itu, sebenarnya ia pun tidak menginginkan perang ini, namun konspirasi politik tingkat tinggi telah menyebabkannya dan menyeret dirinya dan para pemuda-pemudi sebangsanya untuk terlibat di dalamnya sebagai prajurit. Entah sampai kapan perang ini berakhir bahkan setelah Amerika berganti presiden baru, Barrack Obama, yang katanya lebih lunak pun, situasi di Irak tetap tidak menentu, perang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, entah sampai kapan korban harus terus berjatuhan lagi. Dalam hati ia merasa kasihan pada wanita itu, namun bagaimana dengan dirinya sendiri yang nasibnya di ujung tanduk itu? Ia merasa sebentar lagi akan segera menyusul teman-temannya yang telah gugur mendahuluinya dan juga Kopral Smith yang katanya telah dipenggal itu.



“Jadi kau akan membunuhku juga? Dan memfilmkannya lalu menyebarkannya untuk peringatan bagi yang lain?” tanya Monica.

“Bunuh? oohh, tidak, tidak nona manis, kamu terlalu cantik untuk dibunuh. Kami punya cara lain menghukum kamu dan untuk memberi pelajaran pada pemerintahmu supaya tidak sembarang mengirim tentara secantik kamu ke sini” kata wanita itu dengan senyum sinis.

‘Plok…plok!!’ ia menepuk tangannya dua kali lalu dari pintu tadi masuklah dua orang pria Arab yang hanya memakai celana dalam. Penis mereka yang besar dan telah ereksi itu terlihat menggelembung di balik celana dalamnya yang seperti kekecilan menampung senjata mereka. Yang pertama tinggi berkulit gelap dengan brewok yang tidak rapi, ia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang keropos dan menambah seram wajahnya. Yang satunya bertubuh sama tinggi dengan si brewok, tapi kurus seperti pecandu narkoba, rambutnya cepak dengan wajah menjijikkan.

“Tolong jangan lakukan, lebih baik bunuh aku saja!” Monica memohon dengan suara bergetar, ia ketakutan mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya, dari cara mereka memandang dan seringai mereka sudah jelas kedua pria Arab ini akan memperkosanya.

Si brewok menyerahkan kamera pada si wanita berkerudung. Wanita itu lalu menekan saklar sehingga dua lampu sorot di sudut kanan dan kiri Monica menyala dan membuat matanya silau sesaat.

“Ayo anak-anak, bersenang-senanglah dengan pelacur Amerika ini!” perintah wanita itu dalam bahasa Arab.

Kedua pria itu tertawa-tawa senang dan membuka celana dalam mereka. Ukuran penis mereka yang besar dan berurat itu sungguh membuat Monica terhenyak dan menelan ludah. Penis Arab itu akan segera mengobrak-abrik vaginanya, apakah ia akan sanggup bertahan dengan dua penis sebesar itu? Si wanita berkerudung hitam itu tersenyum jahat sambil mengarahkan kamera pada Monica yang akan segera dieksekusi itu.



“Jangan mendekat!! Pergi!!” Monica kembali meronta sehingga membuat buah dadanya yang montok berukuran 36B itu berguncang, pemandangan yang justru membuat kedua pria Arab itu semakin bernafsu.

Ia menendangkan kakinya pada si brewok, namun pria itu berhasil mengelak bahkan menangkap kakinya yang jenjang dan mendekapnya sementara si pria kurus mendekapnya dari belakang.

“Aahh…tidak!!” jeritnya ketika tangan-tangan kasar mereka mulai menggerayangi tubuhnya.

Monica hanya mampu meringis menahan jijik tanpa bisa menghindar ketika si brewok itu menjilati wajahnya. Payudaranya montoknya yang masih terlindung kaos dan bra segera menjadi bulan-bulanan mereka. ‘Brek!’ si brewok dengan kasar menarik kaos hijau itu dari bagian leher hingga robek dan memperlihatkan bra krem di baliknya. Mata mereka seperti mau copot melihat kemulusan tubuh prajurit cantik itu, dada yang montok dengan perut yang rata, sehingga si kurus pun menarik sisa kaos itu beserta bra-nya, payudara yang kencang dengan puting merah itu pun terekspos jelas. Monica kini merasakan udara dingin di ruangan itu menerpa tubuh bagian atasnya yang telanjang. Si pria kurus menyelipkan kepalanya dari lengan kiri Monica dan melumat payudaranya, tangannya terus meraba-raba tubuhnya dan mulai merambat turun ke bawah. Si brewok meremas payudara yang satunya, jilatannya kini turun ke leher wanita itu. Rambut pirangnya yang dikuncir ke belakang memudahkan pria itu menjilat dan mencupangi lehernya. Tangan pria itu masih mengangkat satu kaki Monica yang ditangkapnya tadi sementara tangan lainnya meraba-raba bagian selangkangannya.

“Buka semua pakaiannya, perkosa dia sampai semaput, biar dia tahu akibatnya menjajah negeri kita!” perintah wanita itu sambil terus mensyuting.

Kedua pria berwajah sangar itu menuruti perintahnya, mula-mula si brewok melepaskan sepatu Monica lalu si kurus dengan kasar dan tidak sabaran membuka sabuknya. Air mata menetes dari mata prajurit cantik itu ketika mereka melucuti celananya hingga tinggal tersisa celana dalamnya yang juga berwarna krem.



Melihat tubuh Monica yang telah telanjang bulat mereka semakin bernafsu menggumulinya.

“Jangan terlalu kasar, nanti dia kurang menikmati, biar kita kasih liat ke pemerintahnya bagaimana tentaranya bermain film porno!” kata wanita itu memperingatkan keduanya.

Si brewok menangkap wajah Monica yang menggeleng-gelengkan kepala menghindari dicium olehnya. Monica melihat wajah si brewok itu dalam jarak dekat yang menyeringai lalu melumat bibirnya dengan cepat.

“Mmmmhh!” Monica mendesah tertahan.

Ia merasakan putingnya mengeras karena dipilin-pilin oleh si pria kurus. Birahinya semakin naik ketika jari si brewok menyentuh bibir vaginanya dan menyeruak masuk mengorek-ngorek liang itu. Mulut Monica yang terkatup rapat pun akhirnya membuka sehingga lidah pria itu langsung menyapu rongga mulut dan beradu dengan lidahnya. Wanita berkerudung hitam itu men-zoom kamera ke mulut Monica yang sedang beradu lidah dengan si brewok. Si kurus menciumi lehernya turun ke pundak, lalu turun lagi ke punggungnya hingga pria itu berjongkok di belakang dan mengemut pantat sekal wanita itu. Beberapa cupangan meninggalkan bekas merah pada kulitnya yang putih mulus sementara tangannya tidak pernah bisa diam menjelajahi tubuhnya yang mulus. Setelah beberapa saat, si brewok melepaskan ciumannya sehingga Monica dapat mengambil udara segar. Puas menikmati mulut, kini si brewok menunduk dan melumat payudara Monica. Ia mengemut, menjilat dan mengisapi puting kemerahan itu sambil tangannya terus mengocok vagina wanita itu hingga semakin becek oleh cairan kewanitaannya.

“Ooohh…ooohh!” kedua pria itu telah menghanyutkannya dalam lautan birahi sehingga membuatnya tidak sanggup lagi menahan desahannya.

Si brewok melumat payudara Monica secara bergantian, ia menarik jarinya dan memperlihatkannya di depan wajah wanita itu jari yang belepotan cairan bening itu. Wanita itu juga menclose up adegan tersebut seperti juru kamera profesional saja.



Si kurus segera mengambil alih vagina Monica begitu temannya menarik jarinya dari situ. Diperhatikannya dari dekat vagina yang ditumbuhi bulu-bulu tipis itu dan dihirupnya aroma kewanitaannya. Baunya benar-benar khas karena terawat sehingga membangkitkan gairah pria itu. Si kurus membenamkan wajahnya pada vagina Monica, tanpa buang waktu lagi, lidahnya langsung masuk ke belahannya dan menjilati bagian dalamnya dengan rakus. Pria itu membuka bibir vagina Monica dengan dua jarinya sehingga lidahnya dapat menjelajah lebih leluasa hingga menyentuh klitorisnya yang sensitif.

“Eeemmm….sllrrpp…sslurrpphh!!” pria itu begitu rakus melahap vagina prajurit cantik itu seperti mau menelannya saja, ia sangat bernafsu dengan aromanya yang menggairahkan.

Si kurus juga mencucuk-cucukkan jarinya di dalam vagina Monica membuatnya semakin menggelinjang tak tertahankan. Belum cukup satu jari, ia memasukkan satu lagi jarinya dan mengocoknya makin cepat.

“Ooohhh!!” Monica mendesah panjang dengan tubuh mengejang.

Si prajurit cantik mencapai orgasme pertamanya, cairan cintanya meleleh membasahi mulut si Arab kurus yang sedang menjilati vaginanya. Pria itu makin membenamkan wajahnya pada selangkangan Monica dan sambil menyeruput cairannya seolah tidak rela kehilangan setetes saja cairan tersebut.

“Hahaha…kamu sudah menikmatinya kan manis sampai sebasah itu!” ejek si wanita berkerudung sambil menzoom vagina Monica yang sedang dilumat si pria kurus

Pria itu memamerkan jarinya yang belepotan cairan orgasme Monica di depan kamera sambil tertawa-tawa seperti orang tidak waras.

“Basah…basah…peju Amerika hahahhaa!” katanya dalam bahasa Arab.

“Minggir! Saya juga mau…sslluurrp!!” si brewok mendorong si kurus dan langsung melumat vagina si prajurit cantik itu.

Monica semakin mendesah dan menggelinjang karena si brewok bukan hanya menghisap vaginanya, ia juga mengigiti klitorisnya.



“Ramzi…entot dia! Buat dia melayang-layang merasakan penis bangsa yang diserangnya” perintah si perempuan berkerudung.

Si brewok yang bernama Ramzi itu langsung berdiri dan mendekap tubuh Monica, ia terkekeh di depan wajah gadis itu, sisa-sisa cairan vagina masih nampak belepotan di pinggir-pinggir mulutnya.

“Jangan…jangan lakukan!” iba Monica, kepalanya menggeleng-geleng, tubuhnya meronta namun tak dapat berbuat banyak.

Pria itu mengangkat kaki kanan Monica dan tangan satunya menggenggam penisnya mengarahkannya ke vagina wanita itu.

“Tidak…tidak…aaahhhh!!” erangnya merasakan penis Ramzi yang sebesar pisang tanduk itu membelah bibir vaginanya dan melesak masuk dengan paksa.

“Lebih keras…menjeritlah lebih keras pelacur!” ejek wanita itu tersenyum kesetanan.

“Ooohhh!!” tubuh Monica bergetar sesuatu yang keras menyeruak masuk hingga menyentuh bagian terdalam liang kenikmatannya.

Kepala wanita itu mendongak, matanya membeliak merasakan nyeri bercampur sensasi kenikmatan yang tiada taranya diakhiri dengan satu sodokan kuat akhirnya amblaslah seluruh penis pria Arab itu ke dalam liang vaginanya. Monica memang bukan pertama kalinya bersetubuh, ia pernah melakukannya dulu waktu SMA dan kuliah dengan bekas pacar maupun pacarnya yang sekarang, namun mereka masih kalah perkasa dibanding pria yang memperkosanya ini. Vaginanya terasa penuh sesak seakan benda itu mengisi semua ruang pada liang senggamanya. Perlahan tetes air mata mengalir di sudut matanya. Lalu Ramzi mulai menggerakan pinggulnya dan mulai mengobok-obok isi liang vaginanya. Tubuhnya terlonjak-lonjak akibat dorongan dan tarikan penis lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan. Monica mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan dilihatnya wajah seram Ramzi yang sedang menatapnya, dengan takjub. Payudara Monica terjepit pada dada pria Arab yang berbulu lebat itu dan

menimbulkan sensasi geli pada kedua puting susunya setiap kali bergesekan dengan bulu dada pria itu.



Si kurus tidak tinggal diam, ia juga dari belakang mencium dan menghisap leher jenjangnya. Ia memutar kepala prajurit cantik itu sehingga wajahnya menengok ke samping lalu pria itu melumat bibirnya yang basah dan menggairahkan itu. Monica tidak bisa menghindar dari pagutan si kurus sehingga harus pasrah lidah pria itu mengobok-obok rongga mulutnya dan meliliti lidahnya, ia semakin takluk pada birahi yang makin menyelubunginya.

“Turunkan dia!” si wanita berkerudung kembali memerintah.

Kedua pria ini sepertinya sangat taat pada wanita itu, tanpa membantah mereka segera berhenti sejenak untuk melepaskan ikatan Monica. ‘Plop’ penis Ramzi, si brewok, terlepas dari vagina wanita itu. Monica yang mulai menikmati pemerkosaan itu agak merasa kehilangan, ibaratnya telah dihanyutkan di tengah gelombang birahi namun ditarik keluar begitu saja. Mereka bersama melepas ikatan pada pergelangan tangannya. Tubuh Monica langsung terkulai lemas dalam posisi bersimpuh di lantai begitu ikatan itu lepas. Ia merasa panas pada pergelangan tangannya, bekas ikatan pun masih meninggalkan bekas merah di sana. Kali ini ia sudah pasrah diperlakukan apa saja oleh mereka, bahkan terus terang dalam hati kecilnya ia menginginkan penis super Ramzi kembali memasukinya dan mengantarnya pada puncak kenikmatan. Kedua pria itu mengerubunginya, penis mereka yang mengacung tegak dekat wajahnya terlihat makin jelas olehnya.

“Ayo hisap, hisap kontol-kontol itu pelacur!! Tunjukkan keliaranmu di depan kamera, ingat video ini akan kita kirim juga ke Gedung Putih, jadi lakukan yang terbaik!” kata wanita itu dengan galak.

Tidak tahu harus bagaimana lagi, Monica meraih penis Ramzi yang belepotan cairan cintanya dengan ragu. Benda itu begitu panjang hingga ia dapat menggenggamnya dengan dua tangannya, itu pun masih lebih sedikit.



Monica memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada kepala penis Ramzi yang seperti jamur. Kemudian ia mulai menciumi selama beberapa saat, lalu ia mengeluarkan lidahnya menjilati batang penis hitam itu. Sambil menelan ludah, Monica membuka mulutnya lebar-lebar dan memasukan kepala penis tadi ke dalam mulutnya, sedangkan lidahnya terus menjilati. Nafas Ramzi semakin berat dan terengah-engah seiring dengan jilatan dan hisapan Monica yang semakin intens.

“Kontol saya…mainin juga!” si kurus memukul-mukulkan penisnya pada pipi prajurit wanita itu.

Walau tidak mengerti ucapan si kurus yang dalam bahasa Arab itu, Monica mengerti apa yang diinginkannya. Ia pun meraih batang penis itu dan mengocokinya dengan lembut. Sementara itu ia terus menjilati kepala penis Ramzi, sesaat dirasakannya sesuatu yang asin di ujung penis pria itu, namun ia berusaha tidak menghiraukannya agar tidak menambah beban penderitaannya. Sambil menutup matanya erat-erat, bibirnya menempel di sekeliling penis Ramzi.

“Luar biasa, ternyata prajurit Amerika itu doyan kontol ya, hahaha…lihat dari caramu melayani mereka saja sudah kelihatan kamu itu perempuan gatel!” ejekan wanita itu membuat telinga Monica semakin panas.

Ia berkonsentrasi mengulum penis Ramzi sambil mengocoki penis si kurus. Dirasakannya cairan kewanitaannya sendiri pada penis Arab brewok itu. Penis itu begitu panjang dan diameternya lebar sehingga Monica cukup gelagapan mengoralnya, pipinya sampai kembung karena pria itu terkadang mendorong-dorongkan penisnya lebih dalam. Ia mengeluarkan segenap teknik oral seksnya membuat si brewok mendesah keenakan dan menceracau tak jelas dalam bahasanya. Pegangan Ramzi pada kepalanya mengendor sehingga Monica dapat mengeluarkan penis itu dari mulutnya, namun bukan berarti menghentikan pelayanan mulutnya, ia menjilati batang penis Ramzi yang hitam itu hingga ke buah pelirnya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat sementara tangan satunya terus mengocok penis si pria kurus. Sebentar kemudian ia pindah menjilati kepala penis si kurus dan mengocok penis Ramzi. Monica menahan rasa mualnya karena penis si kurus yang berasa asin dan aromanya tidak sedap.



“Masukin…emut!” sahut si kurus sambil menepuk-nepuk kepala belakang Monica.

Kali ini Monica tidak mengerti maksud pria itu entah meminta berhenti menjilat, minta diemut ataukah permintaan lain sehingga ia terbengong sejenak menatap pria itu.

“Masukin saya bilang!” pria itu tidak sabaran, dijenggutnya rambut pirang Monica dan menjejali penisnya dengan paksa ke mulut wanita itu.

Tentu saja Monica gelagapan dibuatnya, hampir saja ia tersedak dibuatnya, kedua tangannya berpegangan pada kedua paha berbulu si pria kurus.

“Emut kontolku!! American Bitch!!” bentaknya, hanya dua kata makian terakhir yang diucapkan dalam bahasa Inggris dan dimengerti Monica.

“Sabar sobat…sabar, dia sebenarnya suka kontol cuma tidak mengerti bahasa kita!” Ramzi menepuk pundak temannya itu menenangkannya.

“Dasar pelacur Amerika, mereka perkosa sepupu saya, sekarang saya akan perkosa wanita mereka sampai mampus!” kata si kurus sambil mengeluarkan sumpah serapah dalam bahasanya.

“Tenang, tahan emosimu…dia sudah di tangan kita kau bisa perlakukan apa saja tapi jangan lukai dia!” sahut si wanita berkerudung.

Monica memasukkan kepala penis si kurus dan mengulumnya agar pria itu tidak bertindak lebih brutal. Lidahnya menjilati lubang kencing si kurus, setelah pria itu tenang dan mendesah ia melakukan variasi berikutnya dengan menjilati memutar wilayah kepala penis yang seperti jamur itu. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Monica yang kecil, itupun sudah terasa sesak. Prajurit cantik itu bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutnya. Terasa benar kepala penis itu bergetar hebat setiap kali lidah Monica menyapu kepalanya. Selama 10 menit Monica mengoral kedua penis itu secara bergantian. Ia tidak peduli ejekan-ejekan mereka yang merendahkannya, lagipula ia tidak mengerti bahasanya dan terus mengulum penis mereka.



Ketika Monica sedang mengulum penis Ramzi, si kurus melepaskan genggaman wanita itu dari penisnya. Ia mendekap Monica dari belakang dan mengarahkan penisnya memasuki vaginanya.

“Nnngghh…” Monica mendesah dan mengeluarkan penis Ramzi dari mulutnya, “pelan-pelan…ooohhh…oohh!” rasa ngilu kembali terasa pada vaginanya ketika penis si Arab kurus melesak masuk ke dalamnya.

Cairan cinta yang masih berleleran di selangkangannya lah yang membantu melicinkan proses penetrasi dan mengurangi nyerinya. Tanpa memberikannya kesempatan beradaptasi, si kurus sudah menyodok-nyodokkan penisnya. Setiap kali pria itu secara perlahan menarik penisnya dari vagina Monica, terdengar jeritan kecil dari mulut wanita itu dan setiap kali ia menyodok masuk penisnya Monica menjerit lebih keras dengan tubuh mengejang.

“Ayo diisep lagi!” perintah Ramzi kembali memasukkan penisnya ke mulut Monica setelah dirasanya wanita itu cukup terbiasa dengan penis temannya.

Si kurus terus memperkosanya, memompa vaginanya dengan ganas sambil tangannya memegangi payudaranya dan tangan satunya merambahi lekuk-lekuk tubuhnya yang indah itu. Mulut Monica yang tersumpal penis Ramzi mengeluarkan erangan-erangan tertahan. Untungnya pria brewok itu tidak menahan kepalanya sehingga ia tidak terlalu menderita, maka itulah Monica berusaha sebaik-baiknya memanjakan penis pria itu dengan mulutnya agar pria itu tidak kasar seperti si kurus tadi. Ia mulai terbiasa dengan genjotan si kurus dan remasan pada payudaranya yang agak kasar itu. Genjotan itu makin lama makin nikmat membawanya ke puncak kenikmatan. Tak dapat dihindari lagi prajurit cantik itu pun orgasme dalam dekapan pemerkosanya. Tubuhnya menegang seakan menumpahkan segala hasrat nan membara sedari tadi. Tidak sampai lima menit kemudian, pria itu pun menyusulnya ke puncak kenikmatan. Denyutan penisnya begitu hebat melanda dinding-dinding vaginanya. Akhirnya pria itu menyodokkan penisnya sedalam-dalamnya sambil melenguh panjang. Kontan tubuh Monica pun melenting dan ia menjerit, dirasakannya cairan hangat memenuhi vaginanya.



Si Arab kurus mencapai klimaks dengan mengerang dan menceracau dalam bahasanya, ia masih menggenjoti Monica selama beberapa saat hingga penisnya menyusut.

“Ah..” Monica mendesah pelan saat pemerkosanya itu mencabut penisnya dan membiarkan tubuhnya terkulai lemas di lantai.

Ia agak lega karena setidaknya Ramzi tidak memaksanya terus mengoral penisnya yang belum ejakulasi. Sakit dan ngilu masih terasa pada sekujur tubuhnya, vaginanya terasa panas karena gesekan-gesekan dengan penis besar mereka, cairan bekas persetubuhan tadi meleleh di sela-sela bibir vaginanya. Kedua pria itu berdiri dan tertawa-tawa menatapnya, juga si wanita berkerudung yang menzoom vagina Monica yang berleleran sperma si kurus. Ramzi lalu mendekati tubuhnya yang sudah tergolek tak berdaya dan membuka lebar kedua kakinya. Monica menggigit bibir bawah bersiap untuk melepaskan erangannya ketika kepala penis pria itu bersentuhan dengan bibir vaginanya. Dengan

sekali dorongan keras meluncurlah penis Arab itu mengisi liang vaginanya, Monica menjerit kaget karena sodokan kasar pria Arab itu, tubuhnya menggeliat nikmat, cairan sperma si kurus yang masih tertinggal di vaginanya memudahkan penis Ramzi sliding dengan cepatnya, kasar dan liar kocokannya sambil tangannya meremas-remas kedua buah dada prajurit wanita itu. Pinggul Monica ikut bergoyang mengimbangi irama permainannya, desahan nikmat keluar dari mulutnya tanpa bisa ditahannya lagi. Matanya yang indah membeliak-beliak selama pria itu menyetubuhinya, mulutnya hanya bisa mendesah dalam kenikmatan. Ramzi mengangkat kaki kanan Monica dan ditumpangkan ke pundaknya, penisnya makin dalam mengisi liang vagina wanita itu. Cengkeramannya pada payudara Monica makin kuat dan tak lama kemudian penisnya berdenyut kuat disusul menyeburnya sperma diiringi teriakan orgasme. Monica pasrah menikmatinya, batang penis yang besar itu bergerak keluar masuk vaginanya terasa seperti besi panas yang membuat nafasnya terputus-putus, tanpa terasa tangannya meremasi payudaranya sendiri menahan nikmat bercampur sakit itu.

“Kau menikmatinya kan? hei pelacur Amerika?” si wanita berkerudung terus mengejek sambil terus mensyutingnya.

Mata hijau Monica hanya menatap sayu ke arah kamera menahan malu dan marah dijadikan bintang film porno.



Si pria kurus yang tenaganya sudah pulih kembali mendekati Monica yang tengah digarap temannya. Ia berlutut di sebelah kepala wanita itu dan menempelkan penisnya pada bibirnya. Monica yang tahu apa yang harus dilakukannya meraih batang penis itu dan mulai menjilatinya, lalu ia memasukkannya ke mulut dan mengulumnya. Namun baru sebentar saja, si Arab kurus itu menarik penisnya. Kemudian ia naik ke dada wanita itu dan menempatkan penisnya di antara kedua gunung kembar itu. Rupanya si pria kurus ingin melakukan breast fuck dan sebelumnya ia meminta Monica melicinkan dulu penisnya dengan air liur. Pria itu menekan kedua payudaranya dengan keras sehingga terasa sedikit nyeri, tanpa buang waktu ia menggerakkan pinggulnya maju-mundur seperti bersetubuh.

“Ahhh …aahh…mau keluar!” erang Monica pada detik-detik mencapai klimaks, tiba–tiba ia merasakan semprotan cairan hangat yang kental di wajahnya.

“Wuiiihh enakkk ooohhh!!” erang si kurus, disusul oleh Ramzi yang baru menyusul ke puncak tak lama kemudian.

Semprotan si kurus tidak kurang dari lima semprotan kental, mengenai hidung, bibir, mata dan rambutnya. Sementara Ramzi membenamkan penisnya dalam-dalam sambil melepaskan spermanya di dalam sana. Monica merasakan seluruh tubuhnya seperti luluh lantak, begitu melelahkannya hingga ia memejamkan mata. Semua menjadi gelap hingga akhirnya ia tertidur. Ketika sadar, ia menemukan dirinya tertidur di dalam sebuah sel dengan tubuh telanjang hanya tertutup selimut. Ia turun dari dipan, selimut itu ia lilitkan membalut tubuh telanjangnya ia berjalan ke arah sebuah nampan, yang di atasnya terdapat sepiring roti kering dan segelas air, dengan langkah tertatih-tatih, rasa sakit masih terasa pada sekujur tubuhnya terutama pangkal paha. Monica sadar bahwa itu semua disediakan agar ia dapat tetap hidup untuk dipermalukan dan disiksa, tetapi rasa lapar sekaligus niatnya untuk bertahan hidup membuatnya tetap menghabiskan makanan itu.



Setelah makan ia kembali membaringkan tubuhnya di dipan, air matanya meleleh merengungi nasibnya yang tidak menentu hingga akhirnya terlelap. ‘Jgrek…crek!’ suara pintu besi dibuka membuatnya terbangun. Cahaya matahari telah masuk ke ruangan itu melalui jeruji besi di tembok sel. Si wanita berkerudung kemarin masuk ke selnya diikuti dua orang pengawal bertampang sangar, yang satu memakai topi tradisional Irak, keduanya menyandang senapan serbu AK-47.

“Film yang kau bintangi benar-benar hebat, manis, mereka semua sampai terbengong-bengong menontonnya” kata si wanita itu menyeringai, “kami akan segera menyebarkannya di internet untuk dipublikasi”

Monica tidak dapat berkata apa-apa selain menggertakkan gigi menahan marah menatap wanita itu. Ia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya dan meludah ke arah wanita itu yang mengenai gaun panjang yang dikenakannya.

“Oohh…baik kalau itu yang kau mau, kita lihat seberapa kuat kamu bertahan!” wanita itu langsung berbalik dan meninggalkan sel, namun dua pengawalnya tetap tinggal.

Hanya beberapa detik setelah wanita itu keluar, masuklah beberapa orang pria bertampang lusuh, beberapa di antaranya berjenggot dan memakai sorban, semuanya tak lain adalah kelompok militan yang menyergapnya beberapa waktu lalu. Ditambah dua orang pengawal tadi di sel itu telah ada tujuh pria, semuanya menatap Monica yang terbaring hanya dengan selimut menutup tubuhnya dengan pandangan nanar.

“Jangan sentuh aku! Pergi!! Pergi!!” Monica menggeser tubuhnya hingga merapat ke tembok menghindari para pria yang semakin mendekatinya itu.

Sebentar saja tangan-tangan mereka sudah menarik selimut yang menutupi tubuhnya dan menggerayanginya. Kembali ia diperkosa massal oleh para militan itu di dalam sel.



Rekaman yang berisi perkosaan atas dirinya telah dikirim ke Gedung Putih, Pentagon, dan sejumlah instansi pemerintah Amerika lainnya untuk mempermalukan mereka. Beberapa pos tentara Amerika di Irak pun sering mendapat kiriman foto maupun CD berisi adegan perkosaan Monica. Meskipun geram dan merasa dipermalukan, pejabat pemerintahan membantah pada publik bahwa video itu hanyalah film porno biasa yang dibuat untuk mencari sensasi sambil mengirim beberapa misi rahasia untuk menyelamatkan prajurit muda itu, namun semuanya selalu kembali dengan tangan kosong, tidak seheroik dan seindah seperti yang biasa ditayangkan di film-film action Hollywood. Sekarang Monica telah menjadi budak seks di penjara itu, ia harus melayani nafsu birahi para militan yang ingin melampiaskan hasratnya. Tatapan matanya telah kosong seperti telah dicuci otak karena setiap hari harus mengalami perkosaan. Dalam orgasmenya, terbayang lagi awal dari semua ini, ketika ia masih menjadi seorang prajurit yang terlibat dalam perang ini hingga akhirnya tertangkap dan berakhir sebagai seorang budak seks tanpa tahu apakah masih ada kesempatan lolos atau tidak. Perang tidak hanya meninggalkan kepedihan bagi pihak yang diserang, seorang wanita muda dari pihak penyerang pun menjadi korban dari perang yang dipaksakan demi keserakahan pemerintahnya. Sebuah kata-kata bijak China kuno memberi pesan bagi kita semua:



Sesungguhnya dalam sebuah peperangan,

Siapa menang maupun siapa kalah.

Hasilnya tetaplah sama,

yaitu sungai darah dan gunung mayat,

serta penderitaan yang berkepanjangan.

Pada akhirnya pemenang yang sebenarnya

adalah nafsu serakah manusia.



NB: cerita ini bukan asli tulisan Shusaku, ini adalah terjemahan dari salah satu cerita di Literotica, salah satu situs cerita seru berbahasa Inggris, ditambah sedikit modifikasi supaya lebih maknyus. Tulisan ini dibuat di sela-sela menulisa Nightmare Campus 14 supaya ga jenuh. Semoga mupengers pada enjoy ya!
****************



Karya Shusaku