Saat ini aku sudah mempunyai niat, apabila Rendi jadi mengajakku keluar, yang pasti akan berakhir di tempat tidur, aku akan berbuat lebih banyak untuk menyalurkan nafsu birahiku yang sangat menyala-nyala ini. Aku harus lebih siap. Aku punya banyak obsesi mengenai bagaimana melakukan berbagai hal di atas ranjang. Dan aku merasa hal-hal itu hanya akan terwujud dengan dan bersama Rendi.

Telepon yang kutunggu itu akhirnya berdering juga. Rendi minta agar kami bertemu di Slizer American Steak di kawasan jalan Bitung, Menteng. Dia mengajakku makan siang di situ. Aku sudah memikirkan baju apa yang akan kupakai untuk pertemuan dengan Rendi hari ini. Aku akan memakai baju yang menurut komentar teman-temanku saat aku memakai baju itu, paling sensual. Rok terusan sampai di dada dengan tali kecil yang menggantung ke bahu. Warnanya merah tua mawar. Bahannya sifon tipis, teman-teman bilang busana itu akan membuat postur tubuhku nampak sangat seksi karena efek dari bahan itu. Agar tidak menyolok saat aku keluar rumah, di luarnya aku memakai blus lengan panjang dengan warna coklat muda.

Aku sendiri tidak begitu suka make up yang terlalu menyulitkan, aku lebih senang kesan natural dan simplicity. Dan itulah yang membuatku jadi nampak cantik alami. "Elegan simplicity", begitu kata temen-temenku yang terpelajar.
Pukul 12.00 tepat aku turun dari taksi, dan kulihat Rendi sudah menungguku di depan pintu. Dia keluar untuk turun menjemputku. Aku tahu bahwa Rendi sangat terpesona penampilanku siang itu. Tidak banyak yang bisa diceritakan saat makan siang itu, kecuali Rendi yang matanya terus menerus mengagumi dan menikmati penampilanku.

"Mbak koq cantiknya luar biasa, kenapa sih. Dulunya makan apa koq sampai bisa jadi cantik dan seksi banget. Kontolku jadi ngaceng berat nih, lihat saja bahu Mbak Adit yang.. selangit deh", begitu terus menerus Rendi mengeluarkan bisikan-bisikannya di tengah orang ramai di Slizer American Resto itu.
Aku sangat tersanjung dibuatnya. Hari ini Rendi mengajakku ke Puncak. Dia kebetulan mempunyai hak menempati villa yang dipinjamkan oleh temannya. Aku "no comment" saja. Hatiku kembali tergetar. Aku ingin sekali meraih kenikmatan yang seperti kemarin. Aku ingin sekali merasakan orgasme yang seperti kemarin. Aku ingin sekali mewujudkan berbagai obsesi ranjangku. Aku sangat bernafsu birahi. Tanganku meremas keras-keras tangan Rendi sampai dia mengaduh.

Tepat pukul 1.15, dengan Honda Civic Rendi kami telah berada di gerbang tol Jagorawi. Sepanjang jalan Rendi banyak bercanda. Aku sendiri kuakui, agak merasa tegang. Aku terlampau serius hari ini. Aku akan mencoba untuk bersikap lebih santai.
"Ren, aku tidak bisa tidur lho semalaman", kucoba katakan pada Rendi.
"Kenapa Mbak?".
"Ya ini nihh penyebabnya..", aku tekadkan saja untuh menjamah selangkangannya yang berada di belakang kemudi Honda Civicnya.
Rendi nampak senang atas inisiatifku.
"Ooo.. begitu.. boleh Mbak, kalau kangen mau ketemu adikku ini", canda Rendi.

Aku tidak menyahut tetapi terus saja mengelus selangkangannya itu. Kurasakan tonjolannya semakin membesar dan mengeras. Sebentar-sebentar Rendi memandangku dengan matanya yang tajam menusuk ke hatiku. Rasanya aku semakin sayang saja padanya. Dia tarik handle kursinya hingga posisinya menjauh dari kemudi dan selangkangannya lebih leluasa menerima elusan-elusan tanganku.
"Keluarin saja Mbak, 'dia' khan juga ingin lihat Mbak", aku tertawa cekikikan.
Dan dengan tanpa menunggu perintah berikutnya, kuraih ikat pinggangnya dan kubuka. Kancing-kancing celananya juga kubuka. Demikian juga dengan resluitingnya. Dengan sedikit beringsut Rendi lebih mengendorkan posisinya agar aku dapat lebih mudah merogoh kontolnya.

Tidak tahu, mengapa aku merasa tidak sabar sekali saat itu. Aku inginnya buru-buru saja untuk meremas dan menyaksikan kontol penuh pesona itu. Kontol yang habis-habisan telah menyihirku. Kontol yang membuatku tak bisa tidur semalaman. Setelah merogoh-rogoh dan menyingkirkan jepitan-jepitan celana dalamnya, kontol itu akhirnya muncul mencuat dari selangkangan Rendi. Untuk kedua kalinya aku melihat pesona itu dengan takjub. Dan baru sekarang aku berkesempatan mengamatinya dengan lebih mendetail. Kueluskan jariku, kutoreh-toreh lubang kencingnya. Kontol itu cepat sekali mengeras hingga berukuran maksimum.

Dan kini dapat kulihat apa yang sangat pantas menjadi incaran banyak wanita itu. Indahnya, kepalanya mengkilat tegang. Dan belahan tempat lubang kencingnya juga ikut menegang menantang menunggu jilatan. Aku agak menahan diri untuk tidak bertindak terlalu jauh, khawatir akan mengganggu Rendi yang sedang menyopir di lajunya jalan tol Jagorawi. Tanganku dengan lembut mengelus kontol perkasa itu. Jari-jariku bermain pada sembarang permukaannya. Aku rasa ukurannya mengingatkanku pada pisang tanduk dari Bogor yang terkenal itu. Aku tak kuasa melepaskan sedetikpun kekagumanku. Setiap kali aku menghela nafas. Rupanya Rendi tahu. Dia memperlambat laju mobilnya dan menepi.
"Berhenti sebentar ya Mbak", aku tersenyum senang.

Setelah berhenti Rendi kembali memundurkan joknya dan lebih memiringkan sandarannya. Tidak maksimum, karena dia juga harus sambil mengamati jalanan, siapa tahu ada polisi jalan tol yang melakukan pengawasan pada mobil-mobil yang nampak bermasalah. Sekarang baru aku punya kesempatan untuk bermain. Aku dekatkan wajahku hingga hidungku bisa menangkap baunya, aku jadi sangat horny. Aku tak tahan lagi. Akhirnya mulutku mendekat dan mencaploknya. Mungkin tidak lebih dari 5 menit kuminta Rendi untuk jalan lagi. Itu sudah cukup untuk sekedar melepas beban keteganganku yang sejak pagi sudah kencang terus.
"Jalan lagi deh Ren. Rasanya aku kayak orang kehausan banget nih", Rendi tertawa.

Aku mungkin tertidur sekejap. Ternyata mobil Rendi sudah memasuki halaman villa itu. Nampaknya lumayan. Satu rumah menyendiri dengan taman dan pohon-pohon khas puncak yang dingin. Tak nampak ada seorangpun. Rendi memakirkan mobilnya dan kami turun. Tak lama kemudian ada seorang ibu yang kelihatannya orang setempat yang muncul dan mengucapkan salam. Dia katakan bahwa Samin penjaga rumah sedang ke toko sebelah untuk membeli rokok. Rendi tidak menanyakannya lebih jauh. Dia hanya menunjukkan bahwa kunci rumah villa itu sudah ada di tangannya. Dia menerimanya dari Pak Anggoro pemilik villa tersebut. Kemudian kami naik ke rumah dan Rendi membuka pintu. Ibu itu kemudian meninggalkan kami kembali ke rumahnya sendiri, bangunan kecil di bagian belakang rumah besar yang kami pakai ini, sebagai bagian dari rumah villa tersebut.

Ternyata fasilitas villa ini cukup lengkap. Ada lemari es yang berisi buah-buahan dan minuman dingin. Ada kompor dan lemari dapur yang lengkap dengan sachet kopi, teh, coklat dan sebagainya. Kami memasuki kamar tidur utama. Ruangannya lumayan besar dengan kamar mandi sendiri. Sementara menunggu Samin si penjaga, kami saling berpagutan. Bibir dan lidah kami langsung meliar. Saling menyedot dan menghisap bertukar ludah.

Rendi memelukku keras hingga pinggangku tertekuk ke belakang. Dan aku sambut dengan pelukan yang keras pula. Kami berpagut seakan telah seabad lamanya tidak berjumpa. Kami berdua nampak bagai orang-orang yang sangat kehausan. Dan aku, tanganku yang sudah tak sabar, langsung saja mencengkeram dan meremas selangkangan Rendi.
"Eit.., entar kita sedang keasyikan, dia nongol lagi", kata Rendi yang menunggu Samin.
"Kalau begitu biar aku menyiapkan minuman panas saja dulu", ujarku.
Dengan teko listrik yang ada di situ, aku buat kopi untuk Rendi dan teh panas manis untukku. Aku suguhkan pada Rendi kopinya, seakan aku membuatkan kopi pada Mas Adit suamiku.
"Sedaapp", kata Rendi sambil mengangkat kakinya ke ujung meja.
Pak Samin akhirnya muncul. Rendi berbasa-basi. Dia perkenalkan aku sebagai istrinya. Rendi bilang kami sekedar mampir dari perjalanan ke Bandung, tidak untuk menginap. Pak Samin lantas pamit undur diri.

Sehabis meminum kopi, kami langsung masuk ke kamar tidur. Dan kali ini aku yang mencoba untuk bersikap lebih tenang dan sabar. Aku merasa perlu menciptakan suasana nyaman dulu, biar tidak seperti ayam, begitu jantan melihat betinanya langsung saja diperkosa. Dengan penuh kelembutan bak istri yang setia, aku berlutut di lantai dan meraih sepatu Rendi. Aku bukain sepatu dan kaos kakinya satu per satu. Ah.. sungguh suatu surprise untuk Rendi. Dia bilang istrinya tidak pernah melakukan seperti ini. Dan aku juga bilang bahwa aku tak pernah melakukannya untuk suamiku. Ucapan-ucapan terakhir kami ini membuat gelegak nafsu birahi kami berdua melonjak. Rendi langsung turun dari kursinya dan memagut leher, bahu dan kemudian bibirku.

Dan muncullah suasana itu. Rasa kedekatan, kemesraan, ketulusan dan keintiman yang mengantarkan dan mengawali kenikmatan selingkuh seorang istri dengan teman suaminya. Edan memang. Dan kemudian dengan mesra pula Rendi menurunkan tali gaun sifonku sehingga busanaku yang tipis selembut sutra ini langsung merosot ke bawah dan menunjukkan dadaku yang indah terbungkus BH Animale-ku. Kembali bibirnya langsung memagut bahuku yang putih mulus dengan penuh nafsu birahinya. Aku menggeliat.

Dengan tetap lesehan di lantai villa itu, Rendi melucuti seluruh busanaku kecuali BH dan celana dalamku. Demikian pula aku terus melanjutkan melepaskan celana panjang dan kemejanya. Dan kutinggalkan pula celana dalamnya.
Rupanya kami memiliki keinginan yang sama. Saling melihat lawan selingkuhnya tetap menggunakan pakaian dalamnya. Tentunya ini merupakan salah satu konsep seni dalam bercinta. Dengan meneruskan bermain di lantai, Rendi merebahkan dirinya dan menarik tubuhku menindih tubuhnya. Kami kembali berpagut. Tetapi tak terlalu lama.

Kini aku mulai melaksanakan impianku. Bibirku kulepas dari bibirnya. Dengan terus mencium dan menjilati mulutku dan kemudian merambat ke dagunya, yang terasa kasar di bibir dan lidahku dikarenakan bulu-bulu dagunya yang habis dicukur, terus merambat, merambah lehernya. Tercium aromanya yang semerbak. Kusedot lehernya hingga Rendi menggelinjang dan mendesah.

Dengan tanganku masih memeluk kedua lengannya dan kemudian turun ke arah ketiak dan dadanya, bibir dan lidahku terus meluncur ke bukit gempal dadanya. Aku sangat menikmati saat lidahku menjilat yang kemudian diseling dengan bibirku yang menyedot untuk menyerap rasa asin keringat tubuh Rendi. Saat aku menjilat puting-putingnya, tangan Rendi mengelus rambutku. Dengan cara itu bangkitlah rasa saling sayang antara aku dengan Rendi. Sesekali tangan Rendi menyibakkan rambut panjangku agar tidak mengganggu kenikmatanku dalam menggigit dan menyedot kedua putingnya itu.

Dari dada, bibir dan lidahku menyisir ke samping kanan kemudian kiri. Sasaranku kini adalah menjilati dan membuat kuyup ketiak Rendi yang nampak ditumbuhi bulu-bulu yang membuatnya nampak sangat seksi. Dan saat hidungku sempat tenggelam dalam lembah ketiaknya, aku rasakan betapa nikmat sedapnya ketiak lelaki ini. Aku menggoyangkan pantatku.
Kemudian setelah memuaskan diriku dengan ketiak Rendi, bibir dan lidahku merambah perutnya. Kujilat dan kusedot pusarnya. Kujilati seluruh permukaan perutnya. Kegelian yang nikmat pasti telah menyerang Rendi. Dia mendesah dan mengaduh, dan badannya menggeliat-geliat menahan perasan geli.

Turun dari pusarnya aku menemui bulu-bulu yang semakin turun semakin merimbun. Tidak ada semilipun yang terlewat dari bibir dan lidahku. Kembali aku beringsut untuk memposisikan tubuhku agar tepat mengarah ke selangkangannya.
Dan saat sampai di sana, aku benamkan seluruh wajahku. Aku ciumi celana dalamnya yang telah menampakkan tonjolan kontolnya yang besar dan panjang. Disini aku menggigit dan mengisapnya hingga ludahku membasahi celana dalamnya.
Sungguh nikmat bau selangkangan Rendi. Dengan celana dalamnya yang belum dibuka, aku mendekatkan mukaku ke tempat luar biasa itu. Tangan Rendi terus mengelus kepala dan rambutku. Dan sesekali menyibakkan rambut panjangku agar tidak menggangu kenikmatan birahiku dan tentu saja demi kenikmatan dia sendiri juga.

Bersambung . . . .