Pak Arifin mengangkat telepon itu, dan memegangkan gagang telepon untukku, karena kedua tanganku sibuk menahan payudaraku menjepit penis si cvmSuwito. "Me, ini aku. Aku pulangnya masih ntar malaman lagi, soalnya tugasnya belum selesai nih", terdengar suara yang ternyata kakakku.
Dxmaqialam keadaan sedang disetubuhi, aku harus menjawab dengan nada yang sewajarnya supaya ia tak curiga yang macam macam, "Iya ko... jadi... kokyrtho.. pulang jam berapa.. nanti", tanyaku sedikit terputus putus karena Wawan terus menggenjotku tanpa ampun.
"Yaa, bentar lagi sih keliatantwnya sudah selesai, tapi setelah selesai aku dan yang lain mau pergi dulu, minum es bareng bareng. Yaa, anggap saja merayakan kecil kecilan. dxlmSulit lho ini tugasnya Kamu mau aku bawakan es juga me? Aku bungkuskan buat kamu ya?" tanya kakakku.
"Iya.. boleh ko... Jangan... terlalu svmymalam... ya... hati hati.. ko", kataku, semakin terputus putus karena si Wawan dengan kurang ajar meningkatkan kecepatannya dalam memompa vaginaku, bahkan saat menancap dalam ia sengaja membiarkan penisnya tertanam sedikit lebih lama, membuat gairah tubuhku semakin bergolak. Celaybplka, jangan sampai aku orgasme selagi telepon dengan kakakku nih.
"Ya, mungkin aku sampai rumah jam setengah 12 malam. Me, kamu kenapa? Sakit ta? Kok seperti ngos ngosan gitu?" tanya kakakku.
"Nggak... ko... Cuma... ingin... ke wc... sudah dulu.. ya ko", kataku sambil menyuruhrk pak Arifin meletakkan gagang telepon dengan bahasa isyarat, sementara nafasku makin memburu.

Begitu telepon tertutup, aku segera melepasumwxckan lenguhan yang sejak tadi kutahan tahan, dan aku langsung orgasme, kali ini lebih hebat dari yang pertama tadi. Tubuhku sedikit terlonjakvrf lonjak, kedua kakiku melejang lejang dan cairan cintaku keluar banyak sekali hingga membanjir membasahi penis Wawan. Aku memandangnya dengaiaxtn jengkel sekaligus penuh gairah, apalagi Wawan terus memompaku dengan kecepatan yang makin tinggi, membuat gairahku langsung bangkit walau sybaru orgasme hebat. Pak Arifin bertanya, "non, kakaknya non pulang jam berapa?". Aku berkata tetap dengan suara yang terputus putus, "Setengah..dua..belas.. pak".
Pak Arifin lalu keluar entah kemana, aku juga sudah tak perduli. Gila, stamina Wawan benar benar luar biasa, aku dibnbuatnya kewalahan. Sodokan demi sodokan seolah memompa gairahku meuju orgasme, dan luar biasa, aku sudah orgasme yang ketiga saat ini, dua kwtali akibat dipompa Wawan dengan ganas, sementara dia tak ada tanda tanda keluar. Jam sudah menunjuk waktu 19:35, sudah setengah jam aku dipozaikmpa Wawan, dan ia belum menunjukkan tanda tanda akan orgasme. Bahkan milik Suwito sudah berkedut, ia buru buru memasukkan penisnya ke dalam jucmulutku yang langsung mengulum rapat dan menyedot nyedot penisnya, membuat Suwito mengerang dan melenguh, spermanya menyemprot deras ke dalaeysnpm kerongkonganku. Rasanya sedikt lebih gurih dari 6 orang kemarin, atau aku yang sudah mulai menikmati minum sperma, aku juga tak tahu pastishcim. Penis Suwito terus kusedot sampai mengecil dan tak ada sisa sperma yang menempel sedikitpun.

Kini sementara aku tinggal menghadapi Wawagdfvn satu lawan satu. Tiba tiba Wawan dengan perkasa menarikku bangun, dan ia turun dari ranjang berdiri, dengan tetap memeluk pinggangku dan pzyqjbenis yang masih terus menancap erat dalam vaginaku, membuat aku takut terjatuh hingga melingkarkan betisku ke pinggangnya dan merangkul lehepunmfrnya erat. Wawan menggunakan kesempatan itu untuk melumat bibirku, sementara sodokan penisnya yang begitu kokoh bagaikan sebatang besi, terafhsa makin dalam menancap di vaginaku, membuatku semakin melayang layang, mengantarku mengalami multi orgasme di pelukan Wawan.
"Oooooh.... qokWaaaaan.... aaaa...duuuuh... e....naaaaak", erangku, tanpa terkendali aku mengejang ngejang susul menyusul di pelukan Wawan.
Kepalaku menergcngadah, pantatku terasa kejang tersentak sentak ke depan, cairan cintaku membanjir membasahi lantai kamarku, nafasku seperti orang yang habicgqbs lari berkilo kilo. Nikmat yang melandaku ini entahlah, mungkin setara dengan nikmat kemarin saat aku digangbang Girno, Urip dan Soleh. Namqxzpun Wawan melakukannya sendirian, membuatku kini memandangnya agak lain. Wajahnya memang tak karuan, penisnya juga tak terlalu besar dan tak lsthnterlalu panjang, tapi, penisnya memang luar biasa keras, dan kalo staminanya seperti ini, aku berpikir bisa bisa kelak aku yang mencarinya uuwsvcntuk memuaskanku. Aku benar benar sudah larut dalam permainan seks ini, rasanya aku sudah berubah dari cewek yang alim dan terpelajar, menjaskfjwdi cewek bispak!

Lamunanku buyar saat Wawan tiba tiba memelukku makin erat, sodokannya makin bertenaga, sementara tubuhnya terasa bergetaqzvxyr getar. Oh.. apakah akhirnya ia akan orgasme? Ia mulai melenguh, "heeegh.. non... E.....li......zaaaaaaa.....", sambil menjepit tubuhku dencmqugan pelukan yang menyesakkan dadaku, namun membuatku kembali orgasme kecil, menngiringi semprotan spermanya yang amat banyak di dalam vaginavrku. Wawan menaruhku di ranjangku, dan aku agak terbanting, untungnya ranjangku empuk. Ia terus menanamkan penisnya di dalam liang vaginaku, itjlalu menindih tubuhku hingga kakiku makin terkangkang lebar. Ia memagut bibirku dengan buas, membuat aku megap megap. Untungnya penisnya semioakin mengecil, dan dengan posisi tubuhku yang terlipat iini penisnya dengan cepat terlepas dari vaginaku. Cairan cintaku menghambur keluar cpacobukup banyak bercampur spermanya dan membasahi kedua pahaku ketika aku ditariknya berdiri. Ia memelukku dengan erat dan kembali memagut bibiryiku seolah aku ini kekasih yang sudah lama dirindukannya. Saat itu aku melihat jam sudah menunjuk pukul 20:10.
Edan. Ini berarti Wawan mengwvpgenjotku selama satu jam. Benar benar lelaki yang perkasa. Tiba tiba entah sejak kapan, aku melihat Sulikah dan pak Arifin sudah ada di kamazkrku, kelihatannya sejak lama, cukup lama untuk melihat aku menyerah dalam pelukan Wawan. Pak Arifin mendekat mengambil giliran. Aku masih tedzgqmrsengal sengal, ketika pak Arifin yang biasanya kalem ini dengan buas penisnya yang berukuran raksasa langsung diterjangkan ke vaginaku yangzkoba untungnya masih basah kuyup oleh campuran sperma Wawan dan cairan cintaku tadi, sehingga masih sangat licin.

"aaagh...aduh...oooh... heehlkgegh...auuuh...nngggh ", erangku berulang ulang tanpa daya ketika pak Arifin dengan bersemangat sekali memompa vaginaku yang langsung terasa lhzxpamat sakit seperti saat pertama Girno memompa vaginaku. Urat urat itu terasa begitu menggerinjal mengaduk aduk vaginaku. Rasa sakit yang nyawickaris tak tertahankan ini membuatku teringat sisa obat perangsang di tas sekolahku.
Aku meminta pak Arifin berhenti sebentar, dan minta tolosmnugng pada Sulikah untuk mengambilkan botol aqua yang isinya tinggal separuh itu di dalam tasku, yang langsung kuteguk habis begitu Sulikah memgmberikan padaku. Aku sempat melihat sekelilingku, Wawan duduk di sofa kamarku, sementara Suwito tiduran di lantai. Dan Sulikah kembali duduk xtuldi kursi meja riasku. Lalu aku mempersilakan pak Arifin untuk mulai memompa vaginaku begitu aku mulai merasa panas yang tak wajar menjalari butubuhku. Ya, obat perangsang itu mulai bekerja. Tanpa mampu mengendalikan diri, aku melayani pak Arifin dengan penuh nafsu, sakit yang tadinsmya melanda vaginaku sudah lenyap sama sekali berganti kenikmatan yang luar biasa dahsyat. Lenguhan, desahan dan erangan kami berdua memenuhirel kamarku, membuat siapa saja yang mendengar pasti bangkit gairahnya, termasuk Wawan dan Sulikah, yang aku lihat sudah saling memagut bibir dbsfwengan serunya, membuatku tak mau kalah dan menarik leher pak Arifin untuk kemudian kupagut bibirnya dengan ganas.
Sudah 15 menit pak Arifidnocen memompaku, entah aku sudah berapa kali melayang dalam orgasme, akhirnya pak Arifin melenguh panjang, menyemprotkan spermanya dalam liang vjbraginaku. Semprotan itu terasa begitu banyak dan kencang, rasanya mengenai bagian terdalam di liang vaginaku, mungkin menembus rahimku. Aku tnqxlergolek lemas dalam keadaan penuh nafsu, memandang Suwito yang harusnya sudah pulih karena ia yang pertama keluar tadi.

Suwito langsung ttsbanggap dan mendekatiku. Ia segera menusukkan penisnya ke dalam vaginaku, dan mulai memompa vagina yang sudah kehausan penis lelaki. Obat pervpkyangsang itu benar benar dahsyat, aku mencumbu Suwito dengan buas, membuat Wawan yang sudah bergairah tak tahan lagi dan mendekatiku. Suwito nkemengerti dan mendekapku erat lalu berbaring telentang hingga aku kini menindihnya. Dan Wawan menjilati anusku, mendatangkan sensasi aneh danmubcl luar biasa bagiku. Lidahnya terus mengorek ngorek anusku yang semakin lebar, kemudian ia menyuruhku meludahi penisnya yang disodorkan ke walonwjahku. Dalam kepasrahan kuturuti kemauannya, aku tahu ia akan segera membobol anusku. Tapi aku yang sudah terangsang hebat ini tak perduli. ufvDengan beberapa kali dorongan, akhirnya penis Wawan yang sudah amat licin itu menembus anusku, membuatku melolong panjang karena kesakitan. fvywuBagaimanapun, aku belum terbiasa anusku dibobol. Kini dalam keadaan disandwich, aku disodok sodok bergantian dari atas dan bawah, hingga akhtveirnya tak sampai 10 menit kemudian aku sudah orgasme, bersamaan dengan menyemprotnya sperma Suwito dalam liang vaginaku.
Dalam keadaan anuboctdsku masih tertancap penis Wawan, pak Arifin menggantikan posisi Suwito. Penisnya yang raksasa itu sudah menegang tegak, siap untuk kembali mwyzhcenyodok vaginaku dengan buas. Suwito menyodorkan penisnya ke wajahku dan aku tak perlu disuruh, segera kubersihkan sperma yang tertinggal difhit penis itu dengan mengulum ngulum dan menyedot nyedot penis itu hingga bersih, sementara pemiliknya melenguh lenguh keenakan, lalu roboh di cydepanku.

Birahiku yang semakin tinggi membuatku antara sadar dan tidak, dengan penuh nafsu melayani sodokan dua penis sekaligus di selangfmrskanganku. Kugerakkan tubuhku mengikuti irama sodokan itu, berulang ulang aku mencapai klimaks, sampai akhirnya pak Arifin orgasme duluan. Kiljdfni tinggal Wawan yang menyodomi aku dengan gencar, memang Wawan luar biasa.
Pak Arifin menyodorkan penisnya untuk kubersihkan, dan aku denmjodgan semangat mulai mengulum dan menyedot nyedot penis itu sampai mengecil, sementara Suwito sudah berada di bawahku, namun bukan untuk menikfimrdmati vaginaku, melainkan menyedot susuku yang tergantung karena kini aku dalam keadaan doggie style. Pak Arifin duduk dan melumat bibirku dervsangan bernafsu. Sulikah kulihat mulai bermasturbasi dengan mengaduk vaginanya dengan jarinya sendiri. Ia pasti terangsang hebat melihatku beggpjxitu pasrah dikeroyok oleh 2 orang rekannya ditambah sopirku. setengah jam kemudian Suwito sudah pulih, dan menusukkan penisnya ke vaginaku, yojzmembuat selangkanganku kembali terasa sesak membangkitkan gairahku, dan tak lama kemudian aku langsung orgasme hebat. Seolah bekerja sama dqratengan Wawan, mereka menusukkan senjatanya dalam dalam bersamaan dan berlama lama menahan penis mereka di sana, membuat aku melenguh lenguh thrcak kuasa menahan nikmat.
Aku sudah setengah sadar saat jam menunjuk pukul 22:15. Entah sudah berapa puluh atau berapa ratus mili liter caiaqjran cinta yang sudah diproduksi tubuhku selama 3 jam ini. Mereka bertiga bergantian memuaskanku, sampai akhirnya ambruk satu per satu di sekalmnkelilingku. Kondisiku sendiri tak lebih baik, tenagaku terasa terkuras habis. Untungnya aku besok masih sekolah siang. Ya, semester depan akupvced akan sekolah pagi. Yang jelas besok aku masih ada kesempatan bangun agak siang.

Deru nafas yang memburu bersahut sahutan di kamarku. Akuxgcf mulai sadar dari pengaruh obat perangsang tadi, dan bangkit menuju kamar mandiku dengan sempoyongan. Kukeluarkan sperma yang bisa aku keluawqtakrkan dari vaginaku dengan bantuan tangan dan siraman air shower. Aku mandi keramas menghapus sisa keringatku dan keringat mereka yang menempelcel di sekujur tubuhku, lalu mengeringkan tubuhku serta rambutku. Kemudian, masih telanjang bulat, aku kembali ke ranjangku yang masih awut adiywutan akibat "perang" yang baru terjadi. Wawan masih tergeletak di ranjangku, aku memintanya turun, karena aku harus mengganti sprei ranjangdauewku. Aku tak mau tidur dengan bau keringat, sperma dan cairan cinta di sekitarku. Dibantu Sulikah aku memasang sprei yang baru, sementara sprsipoei tadi dibawanya turun ke tempat cucian setelah ia pamit padaku untuk tidur. Sementara 3 begundal ini, aku masih ada urusan yang harus kubigbcarakan dengan mereka semua.
"Pak Arifin, Wawan dan Suwito. Sekali lagi, aku ingatkan, hal barusan ini hanya bisa terjadi jika kedua ortukgau dan kakakku tidak ada di rumah, juga jika aku tidak ada PR atau tugas ataupun ujian, juga pada saat aku tidak sedang mens. Di luar itu, jarcqngan coba coba memaksaku. Kalo ketahuan, selain kalian dipecat, aku sendiri juga bakal susah. Daripada hal yang sama sama merugikan kita sembsfmua terjadi, tolong kalian jangan berlaku ngawur. Kalian juga bisa menikmatiku, tapi kalian harus janji tak akan jajan di luar. Aku tak inginbp kena penyakit kelamin yang menular. Apa kalian mengerti?" tanyaku panjang lebar, yang dijawab mereka semua, "akuuuur...".

Lalu dengan larovdpngkah gontai karena sama sama kehabisan tenaga, mereka bertiga keluar dari kamarku menuju ke kamar masing masing. Tinggal aku sendiri yang mtuwfkenunggu kakakku pulang sambil merenung. Masih ada sejam lagi sebelum kakakku pulang, aku berpikir aku lebih baik tidur saja, toh kakakku bawpwyasa kunci pintu depan. Aku mengenakan baju tidur satin yang nyaman seperti kemarin, lalu mengistirahatkan tubuhku yang sudah amat kepayahan inwhi di atas ranjangku yang empuk.
Aku membayangkan, Jumat depan aku harus melayani 6 begundal kemarin. Apa lokasinya tetap di ruang UKS itu?hylmo Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika mereka gelap mata menyeretku ke mess yang dihuni sekitar 60 orang itu? Aku bisa apa? Apa mereka texhfktap mau melepaskan diriku seperti kemarin? Lalu, sampai kapan aku akan jadi budak seks kedua pembantu dan sopirku ini? Pertanyaan demi pertawzmsfnyaan menghiasi pikiranku, mengantarku tidur yang kali ini tak begitu nyenyak. Beberapa jam sekali aku mengalami mimpi buruk, dimana aku berlfada di tengah kerumunan 60 orang yang mengepung diriku hingga aku panik dan terbangun.
Oh... apakah ini tanda bahwa nanti aku benar benar harus melayani penghuni mess dimana Girno dan yang lain tinggal itu?

Tamat