Langit malam ini terlihat sangat indah. Banyak bintang bertaburan. Seorang pemuda tengah berdiri di depan jendela berkaca besar apartemennya, memandang jauh pada hamparan pemandangan di bawahnya. Semua terlihat sangat kecil dan imut-imut. Orang, kendaraan, rumah-rumah, toko.. semuanya.
Nicky, begitu dia biasa disapa, tersenyum sendiri. Lengkapnya dia bernama Nicholas James. Seorang pemuda berusia 23 tahun 11 Oktober yang lalu, berbintang Libra tentunya. Keturunan Irlandia dengan perawakan kecil, 170 cm dan berat ideal. Wajahnya yang innocent takkan pernah bosan untuk terus ditatap. Dia memiliki sepasang mata biru bening dihiasi bulu mata berwarna coklat yang lebat dan alis tertata rapi di atas matanya. Hidungnya agak tinggi namun tidak berlebihan seperti bule umumnya. Wajahnya mungil dengan tulang rahang yang sempit, membuat wajahnya sangat imut dan innocent. Bibirnya juga sangat menarik, kecil dan merah segar.
Nicky anti rokok. Dia bisa batuk hebat kalau mencium asap rokok. Itulah mengapa giginya yang kecil-kecil selalu putih tidak kusam dan napasnya harum. Bila tertawa, gingsulnya akan terlihat dengan manisnya. Kulitnya seputih susu. Bersih sekali dengan sedikit bulu-bulu coklat halus di tangannya. Keseluruhan penampilannya sangat terawat dan gaya berpakaiannya sangat menarik. Bila dia mau menjadi seorang model, maka dia akan lulus semua syarat-syarat untuk menjadi model tersebut dengan mudah saja. Tapi Nicky tidak tertarik dengan kehidupan itu, meski sempat membintangi beberapa iklan TV untuk produk terkenal dan sedikit photo untuk busana pria di majalah ternama.
Bel pintu berbunyi. Nicky tersentak dari keterasyikkannya menikmati pemandangan dari balik kaca itu, lalu bergegas menuju pintu, setelah sebelumnya merapikan pakaiannya yang memang sudah rapi dan mengusap rambut pirangnya yang dipotong cepak ala Robie Kyne.
Ada Cesco di sana. Berdiri di depan pintu. Sangat gagah dan tampan. Nicky merasakan debar dadanya berpacu kencang. Ah, bukankah sudah tiga tahun ini mereka bersama, tetapi mengapa Nicky selalu merasa gugup bila harus berhadapan dengan 'Patung Yunani' ini.
Francesco, pemuda keturunan Italia, wajar kalau sangat tampan. Usianya tiga tahun di atas Nicky. Lucunya mereka sama-sama berbintang Libra, karena tanggal lahir dan bulan yang berdekatan. Posturnya sangat atletis, 184 cm dengan berat ideal. Tentu saja karena dia seorang bintang lapangan sepakbola dimana sebagai seorang kapten telah berhasil membawa klubnya menjuarai beberapa kali liga bergengsi di negeri ini dan ikut dalam tim negaranya ke Piala Dunia.
Cesco adalah salah satu orang terpopuler dalam jajaran selebritis di sini. Banyak wartawan yang mencoba menjadikannya berita. Untunglah hubungannya dengan Nicky selama ini masih terjaga dengan baik sekali. Mereka memang harus selalu berhati-hati dan waspada.
Cesco tersenyum, memandangnya dalam dengan sepasang mata hazelnya yang sangat indah dan selalu menyorot tajam. Nicky tidak kuasa untuk tidak segera membenamkan tubuhnya ke dada bidang pemuda itu. Cesco melingkarkan tangannya yang kuat dan kokoh untuk memeluk erat tubuh Nicky. Nicky mendongakkan wajah memandang wajah dengan rahang persegi yang kokoh milik Cesco yang kini hanya beberapa senti darinya.
Cesco mendaratkan bibirnya lembut di dahi Nicky dan menciumnya dengan penuh sayang. Lalu berpindah ke hidungnya dan berlanjut ke bibir merah Nicky. Nicky menyambutnya dengan semangat. Cesco melumat dengan penuh perasaan, hingga beberapa kali terdengar bunyi decakan. Menggigit lidah Nicky, mengisap bibir atas dan bawah Nicky bergantian. Cesco takkan mau berhenti bila Nicky tidak segera menjauhkan wajahnya.
"Kita mau pergi kan, Honey?" Nicky mengingatkan dengan lembut, sembari tangannya membelai rambut coklat tebal Cesco yang bergelombang dan gondrong setengkuknya.
Rambut Cesco sangat indah, akan berkilau bila tertimpa cahaya matahari. Dulunya rambut Cesco pendek, tapi dia kemudian membiarkan rambutnya itu panjang hingga seperti sekarang. Alasannya malas datang ke salon untuk gunting rambut.
Cesco memang jantan sekali. Dia tidak suka segala macam yang 'ribet' urusan penampilan atau mode yang sedang ngetrend. Di lapangan, Cesco sangat temperamental, hingga sering diganjar wasit kartu kuning. Hobinya kebut-kebutan dengan mobilnya di jalan raya membuahkan hasil beberapa kali SIM-nya ditahan oleh polisi. Cesco sanggup untuk cuek saja datang ke acara-acara formil dengan jeans belel atau jaket lusuh, kalau Nicky tidak cepat-cepat menahannya dan membetulkan penampilannya.
Cesso mengangguk. Matanya masih menyiratkan kerinduan yang mendalam pada Nicky. Yah, sudah lebih dua minggu ini mereka tidak bertemu.
Tidak lama audi silver milik Cesco membelah jalan yang ditimpa kemilau lampu hias jalan yang meriah. Selama di dalam mobil ini Cesco hampir tidak mengeluarkan suara. Dia hanya diam saja, mendengarkan Nicky yang tengah bercerita penuh semangat. Ada yang tengah meresahkan hati Cesco. Yah, saat ini Cesco sedang kalut, gelisah, bagaimana harus memulai mengatakan sesuatu yang pasti akan mengubah hubungannya dengan orang yang sangat dicintainya ini.
Nicky merasa heran Cesco menghentikan mobilnya tiba-tiba di pinggir jalan yang sepi dan gelap.
"Ada apa Cesco?"
"Ada yang ingin kusampaikan, Nicole.." kepala di sebelahnya menunduk dalam.
Cesco selalu memanggilnya dengan sapaan Nicole. Dan hanya Cesco yang menyapa seperti itu. Nicky merasa dadanya berdebar-debar.
Cesco mengangkat wajahnya, lalu memandang Nicky lama sekali, hingga Nicky merasa jengah.
"Cesco, ada apa sebenarnya..? Katakanlah..! Aku siap mendengarkan.." Nicky bertanya lagi seraya mengusap sisi wajah Cesco.
Cesco memegang tangan yang membelai wajahnya dan meremasnya. Merasakan halusnya kulit tangan tersebut. Cesco membawanya ke bibirnya dan menciumi tangan Nicky. Nicky masih menunggu kalimat apa yang bakal keluar dari bibir Cesco, apa yang ingin disampaikannya.
Tapi Cesco tidak kunjung berkata apa-apa. 'Patung Yunani' itu malah mendekat kepada Nicky. Tangannya meraih kedua bahu Nicky, dan Cesco mengulum bibir Nicky. Nicky membiarkan, mungkin dia belum puas saat di apartemen tadi. Cesco melancarkan jurus-jurus ciuman mautnya. Hisapan-hisapannya pada bibir Nicky membangkitkan gairah Nicky yang tadi still cool. Nicky membalas ciuman Cesco. Cesco semakin bergairah mengisap, menyedot, melumat bibir dan lidah yang segar dan harum yang sangat digilainya itu. Bibir dan lidah seperti ini tidak pernah dijumpainya pada pacar-pacarnya yang wanita.
Bibir Nicky seperti bibir bayi, masih belum terkontaminasi. Napas keduanya memburu. Kini ciuman Cesco pindah ke samping kiri dan kanan leher Nicky. Cesco menghisap diiringi gigitan-gigitan kecil, hingga meninggalkan bekas merah pada kulit leher Nicky yang halus dan bersih. Cesco menciumi leher itu sambil menghirup aroma parfum bercampur keringat Nicky yang segar dan harum, aroma yang membuatnya mabuk kepayang. Nicky mendesah menikmatinya.
Ciuman Cesco yang maut itu dengan liar berpindah ke dada Nicky. Dengan gairah yang menggebu dibukanya resleting jaket berbahan lembut itu. Cesco tidak ingin melepas jaket tersebut dari tubuh Nicky, jadi dia hanya membuka reseltingnya saja. Nicky juga membalas dengan membuka kancing kemeja kotak-kotak Cesco dengan tetap meinggalkan kemeja tersebut di tubuh atletis itu. Bulu-bulu yang lebat pada dada Cesco yang sangat bidang itu segera menyeruak tatkala Nicky membuka kancing itu.
Cesco membenamkan wajahnya ke dada putih bersih Nicky, menikmati kedua puting merah jambu milik Nicky yang sangat menggoda. Nicky mengerang seraya meremas punggung Cesco lewat kedua tangannya yang dimasukkan ke balik kemeja Cesco yang masih melekat. Cesco bergantian menghisap dan mengemut kedua puting susu itu. Menggigit-gigitnya hingga Nicky menggelinjang keasyikan dan semakin kuat meremas punggung Cesco dengan jari-jarinya.
Puas bermain di sekitar puting, Cesco beralih memainkan daerah sekitar perut Nicky yang rata. Mencongkel lubang pusar yang bersih dengan lidahnya. Menghisap-hisap kulit di sekitar perut itu hingga berbekas merah. Tangan Cesco dengan lihai memasuki daerah terlarang Nicky. Penis Nicky sudah ereksi. Cesco meremas-remas batang penis itu hingga suara erangan Nicky menjadi semakin tidak beraturan. Tangan Cesco cepat membuka resleting celana hitam Nicky dan memasukkan tangannya ke balik celana dalam kekasihnya.
Kini tangan Cesco sukses menyentuh langsung organ vital Nicky yang menjadi favorit Cesco itu. Cesco merasakan bulu-bulu lurus yang pasti berwarna coklat (dalam gelap pasti tidak nampak, tapi dia kan sering melihatnya kemarin-kemarin sih..) di sekeliling penis yang sedang digenggamnya itu terasa bagai rumput Jepang yang halus mengelilingi jari-jarinya.
Kemudian dengan gesit tangan Cesco berpindah lagi, kali ini berusaha merogoh lubang anus Nicky. Agak susah karena Nicky kan dalam posisi duduk. Tapi Cesco gigih berusaha. Nicky membantunya dengan sedikit mengangkat pantatnya. Kakinya dibukanya lebar, agak susah untuk selebar mungkin karena terhalang ruangan dalam mobil yang sangat sempit. Kedua tangannya bertumpu pada bahu kekar Cesco.
Cesco melepaskan celana panjang dan celana dalam Nicky hingga sebatas dengkul. Diamatinya sesaat penis Nicky yang berdiri tegak itu. Sedetik kemudian kepalanya menunduk, dan penis itu masuk ke mulutnya, sementara satu jarinya mencungkil dan mempermainkan lubang anus Nicky sambil sesekali meremas pantat mungil Nicky yang padat berisi.
Nicky menggigit bibirnya merasakan kenikmatan yang tiada tara itu. Tangan Nicky meremas-remas rambut di kepala Cesco yang sedang menikmati penisnya. Tidak lama tubuh Nicky menegang, penisnya membesar. Cesco tidak melepaskan penis itu dari mulutnya. Dan seperti yang sering dilakukannya bila mereka bercinta, sperma Nicky yang muncrat keluar segera tertampung di mulut Cesco dan ditelan dengan sukses olehnya.
Nicky merosot lemas, tapi dengan sigap Cesco menangkap tubuhnya dan membawa dalam dekapannya yang hangat. Cesco merasakan deru napas kekasihnya yang masih tersisa itu membelai kupingnya. Cesco menciumi belakang kuping Nicky dengan sayang, kemudian beralih menatap wajah innocent yang penuh peluh itu dan mengecup dahinya lama. Cesco mebersihkan bulir-bulir keringat dari wajah Nicky. Nicky juga mengusap wajah Cesco yang berkeringat, mengelap sisa-sisa sperma yang masih menempel di sudut-sudut bibir cowok itu.
Kemudian Cesco mengecup bibir Nicky yang terbuka karena napasnya yang terengah-engah. Cesco mengecup agak lama beberapa kali bibir Nicky hingga dia puas. Beberapa saat mereka hanya saling berpelukan erat dalam diam, karena Cesco belum mau melepaskan tubuh Nicky yang ditempelnya rapat. Cesco akhirnya merenggangkan pelukannya, kemudian dilepasnya. Nicky meraih celana dalam dan celana panjangnya yang turun hingga lutut tadi, lalu memasangnya kembali di hadapan Cesco yang memperhatikannya.
Cesco membantu memasang resleting jaket Nicky. Tangannya membelai tubuh Nicky yang sudah berselimut jaket kembali itu dengan sayang. Nicky memasang kembali kancing kemeja Cesco.Cesco memandang Nicky lagi agak lama, hingga Nicky terheran-heran. Cowok tampan ini tidak pernah berbuat seperti ini sebelumnya. Cesco kembali meraih tubuh Nicky dan mendekapnya erat. Nicky semakin heran kenapa Cesco bersikap begini, seolah sangat takut kehilangan dirinya.
"Cesco, what's wrong..?" tanya Nicky pelan dan lembut. Cesco tetap diam.
"Kamu bilang tadi mau ngomong sesuatu. Katakanlah, Cesco.." desak Nicky lagi.
Cesco melepaskan pelukannya. Dia kembali ke posisi duduknya, kepalanya bergerak memandang ke luar jendela, menghindari tatapan Nicky.
"Nicole, kamu tahu kan.. kalo aku akan segera menikah.." akhirnya keluar juga kata-kata dari bibirnya. Cesco berpaling dan kini menatap Nicky lekat.
Nicky terdiam. Ah, dia memang sadar, bahwa Cesco bukanlah seorang gay. Tiga tahun lalu saat mereka bertemu, Cesco sudah punya pacar wanita bernama Maria, seorang artis terkenal. Dan tidak lama lagi dia akan menikahi pacarnya itu. Jauh-jauh hari Nicky memang sudah mengatakan padanya bahwa dia tidak akan menghalangi kodrat Cesco sebagai seorang lelaki sejati. Malah Nicky yang mendorong Cesco untuk segera menikah. Meski hati kecil Nicky menolaknya dan merasa tersakiti.
"Tentu saja, Cesco.." Nicky tersenyum, merasa itu berita lama.
"Kamu pasti ingat akan janjiku yang tetap akan mencintaimu meski aku nanti telah menikah dan punya anak. Aku akan selalu membagi waktu untuk kita berdua. Janji hatiku yang kukatakan padamu bahwa seandainya aku menikahi Maria, maka itu berarti aku menikahimu juga.. dan bila aku punya anak, itu berarti anak kita juga.."
Nicky masih ingat janji manis itu semua, dan dia mengangguk.
Cesco menghembuskan napas keras. Terlihat wajahnya sangat galau. Tangannya yang kokoh memainkan kemudi dengan gelisah. Jarang Nicky melihatnya segelisah ini. Cesco adalah sosok sejati yang keras dan tegas. Dia biasanya selalu menghadapi segala persoalan dengan tenang.
"Aku mencabut kata-kataku tersebut. Maafkan aku Nicole. Aku ingin kita mengakhiri saja hubungan kita mulai saat ini."Bagaikan sesuatu yang mengangkat dan mencampakkannya ke jurang yang paling dalam, tak berdasar. Nicky terpana. Apa dia tidak salah dengar? Hening menyelimuti sekeliling mereka kembali. Nicky berusaha keras menetralisir hatinya yang tiba-tiba remuk.
"Aku tidak ingin membiarkan rasa ini semakin kuat menyelimutiku. Perasaan yang membuat aku tidak bisa hidup tanpa dirimu, membiarkanmu terus-terusan mengelilingi hari-hariku. Aku bukan gay, Nicole. Aku harus menghentikan mulai saat ini sebelum aku benar-benar terperangkap dan tidak bisa keluar lagi," tegas suara itu mengiris-iris hati Nicky.
Lama dia tidak dapat berkata apa-apa, karena tidak tahu harus berkata apa. Lidahnya kelu, air matanya mau tumpah, tapi Nicky berusaha keras menahannya agar tidak jatuh di hadapan 'Patung Yunani' yang tengah melukai hatinya saat ini.
"Kenapa baru sekarang kau katakan itu Cesco. Setelah tiga tahun hubungan kita.." akhirnya dapat juga Nicky bersuara, nyaris tercekik.
"Aku harap kamu mengerti, Nicole.."
Lama hening menyelimuti mereka. Cesco telah melukai hatinya dengan teramat dalam.
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, Cesco. Aku menghargai keputusanmu," akhirnya pelan Nicky bersuara.
Hatinya hancur berkeping-keping. Yah, dia sangat mencintai Cesco, tapi di lain sisi juga tidak ingin cowok tersebut menjadi gay sepertinya. Biarlah Cesco kembali ke dunianya yang normal, menikah dalam kebahagiaan dan punya anak sebagai keturunannya.
"Aku akan pergi dari kehidupanmu..," Nicky menghapus air matanya dengan tangannya yang terasa dingin seperti es.
Tegar, ditolehkannya kepala. Menatap Cesco. Cowok itu masih tidak ingin menoleh ke arah Nicky. Nicky tahu, mata hazel itu tidak kan dapat membohongi perasaannya.
"Goodbye.." Nicky membuka pintu mobil dan segera keluar.
Tiba-tiba saja seluruh badannya terasa sangat sakit dan berdenyut. Sakit karena diremas-remas oleh Cesco saat bercinta tadi. Hmh, kini kenikmatan yang dirasakan tadi menguap entah kemana.
Cesco tampak sangat terkejut, tidak menyangka Nicky akan keluar.
"Nicole, wait! Kamu mau kemana?" Cesco turut keluar dari mobilnya dengan bingung.
"Please, Cesco. Jangan panggil aku dengan nama itu lagi," pinta Nicky saat Cesco mendekatinya.
Cesco tampak terkejut, "Why?"
"Hubungan kita sudah berakhir kan? Panggillah aku dengan nama yang sama seperti orang lain memanggilku," ucap Nicky perlahan.
Cesco terpana. Nicky membuang muka.. berusaha menahan air matanya yang mau jatuh lagi. Tidak menyangka hubungan yang manis selama ini akan berakhir begini.
"Aku antar ya?"
"Sudahlah, Cesco. Aku bisa pulang sendiri," tolak Nicky sambil berharap ada taksi iseng lewat di jalan gelap ini untuk mencari penumpang.
Saat ini dia benar-benar tidak ingin berdekatan dengan Cesco.
"Nicole.. maksudku Nicky.." suara Cesco terdengar aneh saat menyebut nama itu, karena selama ini dia tidak pernah memanggil dengan nama Nicky.
Udara sangat dingin. Hujan mulai turun rintik-rintik. Nicky mengutuk cuaca yang tidak bersahabat. Bagaimana mau pulang nih kalau hujan.
"Jalan ini jauh dari pusat kota, kamu tau kan? Tidak akan ada taksi yang lewat hingga besok pagi. Marilah aku antar," bujuk Cesco lagi dengan lembut.
Nicky sedikit demi sedikit menjauhi Cesco dan Audi-nya hingga beberapa meter.
Cesco mengunci Audi-nya dengan alarm, lalu mengikuti Nicky yang berjalan selangkah demi selangkah. Hujan mulai tambah lebat rintiknya.
"Nicole! Kamu jangan sinting! Kamu mau kemana sih? Kamu jalan ratusan meter juga nggak akan dapat taksi," omel Cesco dengan suara tinggi. Cowok itu kelihatannya mulai marah.
"Bukan urusanmu! Sudah kubilang jangan panggil aku dengan nama itu lagi. Sudah, pulang sana!" perintah Nicky ketus.
Dia kesal karena Cesco terus mengikutinya padahal dia sedang ingin sendiri saja untuk merenungi nasibnya yang malang saat ini.
Bersambung . . . .