Anak satu ini emang gila sex. Jadi kalau sudah dipancing bicara soal itu maka dia akan semangat banget.

"Penasaran ya,"

"Iya.. "

"Hehehe. Sabar ya Indra. Eh, ngomong-ngomong kamu punya penyakit dalam enggak?"

"Penyakit dalam? enggak ada Mas. Saya sehat luar dalam,"

"Korengan enggak lo,"

"Kalian ada-ada aja,"

"Bawa surat keterangan dokter?"

"Enggak ada Mas. Kan enggak ada disuruh bawa. Saya cuman bawa piagam dan sertifikat prestasi olah raga doang,"

"Kamu harusnya kreatif dong. Meski enggak disuruh, harusnya bawa. Soalnya kan itu bukti otentik mengenai keterangan kamu sehat atau enggak. Siapa tahu diperlukan. Ternyata sekarang diperlukan kan?" kata Adriansyah.

"Terus gimana dong Mas?"

"Kamu harus buktiin dong kalau kamu emang benar sehat luar dalam,"

"Kalian bisa lihat kan tubuh saya enggak ada koreng atau sejenisnya. Kalian lihat deh," Indra mengangkat kaosnya ke atas menunjukkan perut dan dadanya yang putih bersih. Juga mengangkat celananya menunjukkan pahanya yang berotot itu benar-benar putih bersih. Enggak ada bekas koreng. Adrianysah dan Daniel serius memandangi.

"Itu kan luarnya doang, dalemnya gimana. Kita harus buktikan kamu itu emang sehat luar dalem. Kalau enggak kita enggak bisa ngelulusin," Daniel ngomong berwibawa.

Indra mengkeret. Ia enggak mau enggak lulus seleksi hanya karena hal sepele doang.

"Kalau gitu nanti saya urus surat keterangannya Mas,"

"Kita perlunya sekarang,"

"Saya benar-benar enggak ngerti harus gimana Mas. Sekarang terserah Kalian berdua aja gimana caranya,"

"Kalau kita periksa mau? Gini-gini kita pernah jadi anggota PMR, jadi ngerti kesehatan tubuh manusia," terang Adriansyah.

"Terserah Kalian aja," Indra pasrah.

"Oke kalau gitu. Bawa steteskop Niel?"

"Bawa dong. Ada di tas," Daniel beringsut mengambil steteskop ditas ransel yang dibawanya. Indra bingung anak teknik kok bawa-bawa steteskop, kayak dokter aja, fikirnya.

"Kenapa? Bingung ngelihat Daniel bawa ginian. Ini namanya mengantisipasi orang-orang kayak kamu," terang Adriansyah menjawab tanda tanya Indra.

Jawaban ini membuat Indra nyengir malu, Adriansyah ternyata bisa menebak fikirannya.

"Sekarang buka baju biar diperiksa kesehatan kamu," kata Adriansyah.

"Berdiri disitu," Indra berdiri lalu melepaskan kaosnya. Kemudian tegak menunggu.

"Celananya juga," kata Daniel.

"Celana?" Indra meyakinkan.

Ia memandang Daniel dan Adriansyah bergantian.

"Iya celananya juga. Celana dalam juga. Sepatu sama kaos kaki enggak usah," sahut Adriansyah.

"Telanjang maksudnya?"

"Yup,"

"Buat apa?"

"Siapa tahu elo ambeyen,"

"Enggaklah Mas. Saya enggak ambeyen,"

"Makanya buka semua. Kalau emang enggak ambeyen ngapain takut,"

"Bukan takut.. Tapi.. "

"Malu? Ada-ada aja. Sama-sama cowok juga kok mesti malu. Atau kami perlu telanjang juga sekalian supaya kamu enggak malu?"

"Enggak usah Mas," Indra segera melepaskan seluruh pakaiannya. Kini tubuhnya yang kekar telanjang bulat dihadapan Adriansyah dan Daniel.

"Suka fitness ya Ndra?" tanya Daniel.

"Rutin Mas. Seminggu dua kali,"

"Pantes. Renang juga ya?"

"Iya,"

"Otot lengan, dada, dan perut kamu terbentuk bagus jadinya," kata Adriansyah.

Dengan santai ia meremas otot-otot Indra, membuat cowok ini merasa risih. Adriansyah menempelkan steteskop di dada bidang Indra. Ia mendengarkan dengan serius degup jantung pemuda itu. Berdiri telanjang dihadapan dua cowok seperti itu membuat Indra deg-degan. Jantungnya berdegup kencang.

"Kok degupannya keras banget Ndra. Jangan gugup dong," kata Adriansyah.

Indra nyengir. Stetoskop berpindah-pindah tempat. Dari dada kiri ke kanan. Ke perut dan sebagainya. Indra bingung kok meriksanya begitu sih? Fikirnya. Adriansyah menghentikan pemeriksaan steteskopnya.

"Ada yang perlu diperiksa lagi Niel?" tanyanya.

Daniel mengangguk, ia berdiri di belakang Indra. Jemarinya mengelus punggung pemuda itu. Kemudian turun kebawah ke pinggang dan buah pantat Indra.

"Kamu bungkuk deh. Nungging," kata Daniel.

"Untuk apa Mas?"

"Saya mau periksa kamu ambeyen atau enggak?" jawab Daniel.

Indra akhirnya nurut. Ia membungkukkan badan dan melebarkan pahanya. Daniel jongkok di belakang Indra. Membuka buah pantat Indra dengan santai. Indra menunggu apa yang dilakukan Daniel. Ia jadi inget ketika ikutan tes masuk SMU Taruna Nusantara. Dulu diapun diginiin untuk tes pemeriksaan ambeyen. Jemari Daniel tiba-tiba menyusup ke celah pantatnya. Indra memejamkan matanya. Rasanya perih.

"Seret Ndra, tolong ambilin baby oil itu deh," kata Daniel.

Akhirnya Indra tahu apa guna baby oil yang sejak tadi diletakkan dekat tempat duduk Adriansyah dan Daniel. Adriansyah segera melemparkan botol baby oil itu pada Daniel. Cowok Ambon itu segera melumuri jari tengahnya dengan cairan baby oil itu. Kemudian jari itu dimasukkannya lagi ke celah lobang pantat Indra. Jari itu menusuk ke dalam. Indra membiarkan saja.

Namun apa yang dilakukan Daniel kemudian membuat Indra terhenyak. Jari tengah Daniel bergerak-gerak, mengaduk-aduk lobang pantatnya. Indra merinding. Rasanya geli-geli enak. Jari tengah Daniel bergerak maju mundur di celah lobang pantat Indra. Menimbulkan gesekan yang membuat Indra keenakan. Ia memejamkan matanya. Bibir bawahnya digigitnya.

"Kenapa Ndra? Enak ya?" tiba-tiba Adriansyah sudah berbisik di telinganya. Bibir cowok ganteng itu dirasakannya menyentuh daun telinganya.

"He eh," Indra menyahut lirih.

Wajahnya merah. Ia ketangkap basah menikmati sodokan jari Daniel itu.

"Pemeriksaannya sudah selesai, kamu bebas ambeyen Ndra. Jarinya mau dikeluarin atau tetap didalam aja?" tanya Daniel dari belakang.

"Biarin didalem aja Mas," kata Indra pelan.

"Ya sudah kalau gitu," Daniel melanjutkan sodokan jarinya. Keluar masuk lobang pantat Indra. Sensasi yang ditimbulkan membuat Indra terangsang. Tanpa disadarinya penisnya membesar.

"Penis kamu kok ngaceng sih Ndra?" tanya Adriansyah.

Tiba-tiba tangannya sudah menggenggam penis Indra yang gemuk dan panjang. Tangan itu licin. Rupanya Adriansyah melumuri tangannya dengan baby oil. Perlahan tangan Adriansyah meremas-remas lembut batang penis Indra.

"Ahh.. " tanpa sadar Indra mengerang. Tangan Adriansyah semakin nakal. Kini mulai bergerak seperti mengocok dengan lembut.

"Enak Ndra?" tanya Adriansyah lagi.

"He eh,"

"Mau yang lebih enak Ndra?" tanya Daniel.

"Mau mas. Mau," seminggu tak 'bercinta' dengan Dini membuat Indra tak bisa menguasai nafsunya.

Ia membiarkan saja dua laki-laki tampan dan jantan itu mengerjai daerah sekitar selangkangannya. Mulut Daniel dirasakan Indra menyentuh kulit buah pantatnya. Sesaat kemudian dari mulut itu keluar lidah Daniel. Lidah itu mulai melakukan jilatan-jilatan di sekitar pantat Indra.

"Ahh.. " Indra kembali mengerang.

Matanya dipejamkannya kuat-kuat. Tanpa disadarinya Adriansyah rupanya sudah jongkok dihadapannya. Tiba-tiba Indra merasakan kepala penisnya dikulum. Seperti kuluman Reny atau Dini. Indra menggelihat. Rasanya kepalanya ringan. Tubuhnya seperti melayang. Ia sangat keenakan merasakan kuluman dan jilatan di daerah vitalnya. Lidah Daniel menyapu celah pantat, hingga buah pelernya yang menggantung.

Sementara mulut Adriansyah mengulum kepala penisnya sambil menyapukan lidahnya di dalam mulut. Indra mengerang. Sekian lama Indra terbius oleh permainan mulut kedua laki-laki gagah itu. Ia terhanyut. Ia lupa bahwa yang melakukan itu adalah laki-laki sama sepertinya. Namun pada satu waktu tertentu ia tersadar. Akal sehat menguasainya kembali.

"Astaga! Ini gila!" seru Indra tiba-tiba.

Ia melepaskan dirinya dari kedua laki-laki itu. Ia menjauh dari keduanya.

"Kalian.. Mengapa kalian melakukannya padaku.. Tak kusangka kalian gay," katanya dengan ekspresi yang campur baur.

Penuh birahi dan bingung dengan apa yang terjadi. Adriansyah dan Daniel berdiri tegak menatap Indra.

"Apa maksud kamu Ndra?" tanya Adriansyah.

"Kalian homo. Kalian dua laki-laki homo. Aku tak mau diperlakukan seperti itu,"

"Kamu ada-ada saja. Bukankah tadi kami melakukannya atas permintaanmu,"

"Aku tadi khilaf. Tak sadar,"

"Jangan berdalih. Kamu tidak dalam keadaan mabuk Ndra. Kamu menikmatinya, akui sajalah," kata Daniel tegas.

"Aku.. Aku.. Tak mengertii.. Aku tidak mau jadi homo seperti kalian," Indra bingung.

Adriansyah dan Daniel mendekat. Memegang tubuh Indra erat.

"Tak usah bingung Ndra. Mari kami jelaskan. Duduklah dulu," ajak Adriansyah.

Indra mengikuti meskipun bingung.

"Kamu salah persepsi tentang kami berdua," kata Daniel.

"Salah persepsi bagaimana? Kalian jelas-jelas gay. Aak kalian mau ngemut penis dan jilat pantatku?"

"Kamu kurang memahami sex Ndra. Makanya banyak-banyak baca buku tentang sex. Bukan berarti karena kami ngemut penis kamu terus kami jadi homo," kata Adriansyah.

"Jadi apa namanya?"

"Entahlah. Yang pasti kami hanya bermaksud mengajarkan kamu melakukan sex dan dapat berejakulasi di dalam tanpa perlu takut hamil"

"Maksud kalian anal sex?"

"Begitulah kira-kira,"

"Dengan sejenis?"

"Ya,"

"Itu gay sex namanya,"

"Terserah kamu menyebutnya apa. Yang pasti meskipun kita melakukannya namun tidak mengurangi rasa suka kita pada cewek Ndra," kata Daniel.

"Maksud kalian?"

"Kami sudah sering melakukannya berdua. Tak ada komitmen. Tak ada cinta. Hanya memuaskan birahi saja. Dan yang terpenting tidak mengganggu hubungan cinta dengan cewek kami masing-masing,"

"Kalian.. Sering melakukannya?"

"Ya.. Mengapa? Ada yang aneh?"

"Kalian gila,"

"Terserah apa katamu," Adriansyah tak berkata-kata lagi.

Ia memandang ke arah Indra dengan tatapan tajam. Indra grogi akan pandangan itu. Ia membuang muka. Perlahan-lahan Adriansyah melepaskan pakaiannya diikuti oleh Daniel. Kedua cowok itu kini telanjang bulat dihadapan Indra, hanya sepatu dan kaos kaki saja yang tidak mereka lepas.

Keduanya kemudian merapat. Lalu berpelukan erat dilanjutkan dengan saling melumat bibir. Penuh nafsu dan buas. Jemari mereka saling meraba ke semua lekuk-lekuk tubuh mereka yang berotot kencang. Indra merinding melihatnya. Kembali ia membuang muka.

"Gila. Aku mau keluar dari sini," kata Indra.

Ia melangkah ke arah pintu. Diputarnya gerendel pintu namun terkunci. Ia teringat bahwa kunci itu disimpan di kantong celana Daniel. Indra mengarahkan pandangannya ke arah Adriansyah dan Daniel kembali. Mencari-cari celana Daniel yang tadi terserak setelah dilepaskan oleh cowok Ambon itu.

Mau tak mau ia kembali menatap Adriansyah dan Daniel yang aih terus beraksi. Malah semakin vulgar. Mulut Adriansyah sibuk melumat puting susu Daniel yang kecoklatan, membuat cowok Ambon itu menggelinjang-gelinjang. Adriansyah semakin liar, ia melanjutkan lumatan bibirnya ke ketiak Daniel yang penuh bulu. Tanpa risih dan jijik mulut Adriansyah menyelomoti ketiak teman satu clubnya itu. Indra terhenyak. Tak pernah dibayangkannya hal seperti ini. Menonton pergumulan cabul dua laki-laki jantan. Melihat pemandangan baru ini membuatnya lupa mencari kunci pintu.

Pandangannya tak lepas melihat apa yang dikerjakan oleh dua mahasiswa teknik seniornya itu. Adriansyah kemudian menungging seperti anjing, tangan dan kakinya digunakan sebagai tumpuan. Daniel berjalan ke belakang Adriansyah. Juga menungging, wajahnya tepat di buah pantat Adriansyah yang putih dan montok. Lidah Daniel kemudian sibuk menjilat-jilat pantat dan penis Adriansyah. Penis Adriansyah yang gemuk dan panjang ditarik Daniel ke belakang untuk memudahkannya mengulum dengan penuh kenikmatan. Seperti anak kecil mengulum permen. Keduanya benar-benar penuh gairah birahi. Mereka tak memperdulikan lagi keberadaan Indra. Warna kulit mereka yang hitam dan putih terlihat sangat kontras. Puas dengan kulum mengulum penis dalam posisi nungging keduanya melanjutkan ke posisi selanjutnya.

Adriansyah dan Daniel berbaring di lantai. Penis Adriansyah masih di mulut Daniel. Adriansyah kemudian memutar tubuhnya. Mulutnya mencari-cari penis Daniel. Setelah ketemu penis yang gemuk dan panjang berwarna gelap itu langsung dikulumnya. Indra bingung. Melihat percumbuan cabul dua mahasiswa itu membuatnya terangsang. Penisnya mengeras. Akal sehatnya hilang sudah. Tangannya mengambil botol baby oil, lalu melumuri isinya ke telapak tangannya. Duduk mengangkang di lantai dikocoknya penisnya sendiri sambil mempelototi percumbuan Adriansyah dan Daniel.

Bersambung . . . .