Ketika aku menyentuh pinggiran kolam, ternyata Pak Gunawan sudah sampai duluan dan sudah duduk melepas lelah di bagian tepinya. Salah satu kakinya masih berada di air dan yang satunya lagi diangkat ke atas tepian kolam, sehingga posisi duduknya agak mekangkang. Sebuah pemandangan yang menakjubkan untuk dinikmati.
Dari bagian tepi kolam aku bisa dengan jelas melihat pemandangan yang mengejutkan itu. Garis batang kemaluan Pak Gunawan jadi tampak jelas menonjol di balik celananya yang basah. Tampak juga bulu-bulu keriting yang tumbuh di sekujur pahanya bagian dalam.
"Capek Dik?" tanyanya dengan nafas ngos-ngosan.
"Lumayan" kataku tak kalah ngos-ngosan, karena tarikan nafasku terganggu oleh detak jantungku yang makin tak karuan menghadapi pemandangan yang terpampang persis di depan wajahku itu.
Pak Gunawan lalu menarik nafas panjang sambil menyeka rambutnya yang basah ke belakang.
"Aaagghh.." terdengar dia membuang nafas panjang.
Lalu pelan-pelan, ia merebahkan punggungnya ke lantai di pinggir kolam, sementara kedua kakinya kini dijuntaikan masuk ke dalam air. Kini, dengan posisi rebahan seperti itu, tonjolan kemaluan Pak Gunawan makin terlihat jelas. Dan aku dengan leluasa dapat menikmatinya tanpa takut ketahuan karena posisi Pak Gunawan tak memungkinkannya untuk melihatku ke bawah.
Punyaku sendiri sudah tegang dari tadi. Makanya aku sengaja tidak segera naik ke tepi kolam. Di samping takut ketahuan, aku juga tak mau melewatkan pemandangan yang menggairahkan yang ada di depanku saat ini.
"Dik Har..," sapaannya tiba-tiba mengejutkan konsentrasiku.
"Ya Pak?" jawabku
"Saya duluan ke kamar bilas ya"
"O, silakan Pak. Nanti saya menyusul"
Dia lalu bangkit dari rebahannya, mengambil handuk dan peralatan mandinya, terus masuk ke kamar bilas yang ada di sudut area kolam renang ini. Aku sendiri masih berusaha menenangkan 'adik kecil'ku yang masih tegang di bawah air.
Ketika aku naik ke tepi kolam dan duduk sebentar di situ, pikiranku dipenuhi oleh bayangan tubuh Pak Gunawan. Haruskah aku tertarik padanya? Akankah semua ini hanya berhenti pada ketertarikan saja dan tak terjadi apa-apa? Bertepuk sebelah tangan?
"Hei..!" tiba-tiba kepala Pak Gunawan nongol dari balik pintu kamar bilas dan tangannya memberiku isyarat untuk segera menyusulnya.
Aku agak kaget juga mendengar teriakannya. Segera kusambar handukku dan dengan sedikit mengendap-endap aku masuk ke kamar bilas, takut sekaligus berharap bisa menjumpai sebuah pemandangan yang menggairahkan. Tapi, lagi-lagi aku terlalu berharap. Pak Gunawan tidak sedang telanjang. Celana renangnya masih utuh melekat.
"Dik Har nggak bawa sabun untuk berbilas ya? Pakai saja punya saya" katanya sambil menyodorkan kotak peralatan mandinya. Aku baru sadar, kok aku bisa lupa bawa peralatan mandi. Mungkin sudah lama tidak renang di kolam seperti ini.
"Pak Gun sudah selesai berbilasnya?" tanyaku
"Beluum.." katanya sambil tertawa,"Sudahlah, gabung saja dengan saya di sini"
Semula aku agak kikuk. Tapi melihat Pak Gunawan dengan santainya membilas tubuhnya di bawah shower, aku pun lalu mengambil tempat di salah satu shower yang ada di situ.
"Kalau pas lagi ada program pendidikan, biasanya banyak siswa yang berenang di sini. Maklum, orang kelautan kan harus bisa renang" Pak Gun bercerita di sela-sela acara berbilasnya.
"Rame dong Pak" kataku menanggapi
"O ya, apalagi kalau sedang ada di kamar bilas ini"
"Kenapa?"
"Biasa, namanya juga anak muda. Acara berbilas bisa jadi acara kontes burung" kata Pak Gun sambil terus menggosoki tubuhnya dengan busa sabun.
"Jadi, mereka pada telanjang?" aku penasaran
"Ya, nggak semua. Tergantung orangnya. Ada yang cuek. Ada juga yang malu-malu"
"Pak Gun sendiri ikutan kontes juga"
"Nggak lah ya" katanya sambil tertawa,"Saya hanya mengawasi mereka dari luar. Jadi cuma bisa mendengar suara ribut dan tawa mereka yang rame itu"
"Kalau Pak Gun ikut, pasti menang ya Pak" candaku sambil sengaja melihat ke arah selangkangannya.
"Ukuran saya sih sedang-sedang saja kok" katanya sambil memegangi lalu mengelus-elus sendiri tonjolan di bagian depan celana renangnya. Dalam pandanganku, sepertinya Pak Gun mempunyai ukuran penis yang cukup besar, meskipun aku belum pernah melihatnya.
"Kayaknya punya Dik Har lebih gede dari punya saya.." katanya gantian melihat ke bagian depan celanaku.
Terus terang, dalam kondisi begini, apalagi waktu melihat Pak Gun mengelus-elus miliknya tadi, sulit bagiku untuk menahan rangsangan yang timbul. Meskipun belum sepenuhnya tegang, namun celana renangku yang basah tak mampu menyembunyikan milikku yang mulai membesar. Padahal aku sudah berusaha menutupinya dengan membuat busa sabun sebanyak-banyaknya di sekitar daerah selangkanganku.
Sementara itu kulihat milik Pak Gun tampaknya tak bereaksi apa-apa. Ukurannya tak menunjukkan perubahan yang berarti. Barangkali sebagai instruktur di mess ini, ia sudah terbiasa menghadapi hal-hal begini, bahkan mungkin lebih dari itu, sebagaimana ceritanya tentang siswa yang melakukan 'kontes burung' tadi.
Kulihat ia masih asyik menyabuni badannya dengan sabun dan air berulang-ulang. Dan sekarang ia tampak sibuk menyabuni bagian perutnya yang membuncit itu, lalu, tiba-tiba tangannya turun ke bawah menelusup masuk ke celana renangnya dan kemudian dengan cueknya menyabuni daerah itu. Celana renangnya tampak sedikit tersingkap oleh gerakan tangannya, dan sekilas aku bisa melihat sebagian batang kemaluannya dan bulu-bulu hitam yang ada di sekitarnya.
"Kenapa Dik?" tanya Pak Gun sambil ketawa, mengagetkan pandanganku.
"Nggak. Kayaknya Pak Gun asyik banget mandinya" kataku agak terbata mengomentari caranya menyabun.
"He.. He.. He.." dia hanya tertawa menanggapi komentarku sambil terus dengan santainya menggosok-gosok daerah itu.
Coba aku yang melakukan, pikiran nakalku mulai bicara. Rasanya aku tak kuat lagi digoda seperti ini. Oh, tiba-tiba terlintas wajah Bahar. Forgive me..
"Sudah belum berbilasnya, Dik?" pertanyaan Pak Gun mengagetkanku. Tampaknya ia sudah hampir selesai.
"Belum Pak. Sebentar lagi"
"Oke, saya tungguin"
Aku segera menyabuni bagian tubuhku yang belum kubilas. Lalu tanpa kuduga sama sekali, Pak Gun tanpa rasa sungkan tiba-tiba melepas celana renangnya. Sehingga kini bisa kulihat dengan jelas alat vitalnya yang menggantung tanpa penutup apapun.
Urat-urat di batangnnya tampak jelas menyembul dan bagian kepala kemaluannya membulat besar seperti bentuk jambu air. Rambut di sekitar daerah itu cukup lebat meskipun dalam kondisi basah kuyup. Pak Gun sama sekali tak berusaha menutupi semua kepolosan itu.
Tangannya kemudian malah dengan santainya mulai mengeringkan daerah itu dengan handuk. Cuek saja. Seolah sengaja membiarkan aku memperhatikan segala gerak-geriknya. Dan ketika tangan Pak Gun tengah mengeringkan bagian atas tubuhnya, gerakannya menyebabkan batang kemaluannya berayun-ayun bagai lonceng.
"Sorry ya Dik Har" Pak Gun mencoba permaklumanku atas ketelanjangannya itu. Aku hanya bisa nyengir menghadapi sikapnya yang makin terbuka.
".. Wah, ternyata, punya Pak Gun memang gede ukurannya.." aku mencoba mengomentari apa yang aku lihat.
Pak Gunawan ketawa lalu memegang kemaluannya dan mencoba mengamatinya sendiri.
"Masa sih?" katanya seolah tak percaya. Matanya lalu beralih ke arahku.
"Punya Dik Har kayaknya lebih gede. Coba.." katanya seolah menyuruhku.
Kini gantian aku yang mencoba memegang bagian depan celanaku dan mengelusnya seolah sedang mengukur besarnya.
".. Ehhmm.. Sebenarnya, punya saya lagi 'gini'.." tanganku mencoba membentuk simbol bahwa aku sedang ereksi. Rasanya aku tak perlu lagi malu-malu di depan Pak Gun. Toh, ia juga sedang telanjang di hadapanku.
"Wah, kalau banding-bandingan begini, akhirnya kita jadi kontes burung nih.." kata Pak Gun sambil ketawa.
"Pak Gun.. Mau lihat punya saya..?" aku mencoba untuk berani menawarkan
"Boleh juga. Biar adil.." katanya sambil mendekatiku.
Aku lalu melepas celana renangku dan dalam sekejap batang kemaluanku sudah mencuat. Pak Gun sudah berada di depanku. Dadaku rasanya mau meledak, sampai-sampai harus kutarik nafasku dalam-dalam.
Kulihat Pak Gun takjub memandangi milikku yang sedang dalam posisi meradang itu.
"Boleh..?" tanyanya sambil tangannya terulur dan mencoba menggenggam milikku.
Aku menahan nafas ketika mulai merasakan sentuhan tangan Pak Gun pada bagian tubuhku yang paling sensitif itu. Terasa otot milikku itu makin membesar dalam genggamannya.
"Ini sih bukan gede lagi, tapi ukuran kuda!" komentarnya sambil sedikit memberi remasan. Aku menggeliat. Geli.
Tanpa diminta, aku pun lalu menggenggam milik Pak Gun dan mencoba meremas-remasnya. Semula ia agak tersentak dengan gerakan tanganku yang tiba-tiba itu. Namun kemudian membiarkan perbuatanku.
"Biar adil, punya Pak Gun juga harus dibangunkan.." kataku seolah memberi alasan perbuatanku. Kami lalu tertawa bersama.
Sore itu warna langit mulai teduh dan warna lembayung mulai muncul membayang merah. Di kamar bilas ini pun kurasakan suasananya makin memerah, makin memanas. Karena acara berbilas ini akhirnya telah berkembang jauh.
Tangan kami akhirnya saling asyik meremas satu sama lain. Dalam genggamanku, milik Pak Gun terasa hangat dan kenyal. Meskipun sudah berumur, otot itu masih terasa padat dan kencang. Bagian kepalanya mempunyai ukuran di atas rata-rata. Dan bentuknya bagus mirip jambu air. Bulat lonjong dan mengkilat.
"Kok, belum bangun Pak?" tanyaku merasakan milik Pak Gun yang hanya bereaksi membesar saja.
"Maklum. Perlu perjuangan.." katanya sambil masih terus meremasi milikku dan menjaganya agar tak menjadi kendur.
Perlu perjuangan? Oke! Kini kubuat gerakanku tidak lagi meremas. Kuganti dengan mengocok.
"Coba pakai sabun" dia menganjurkan aku untuk berbuat lebih jauh.
Maka sejenak aku melepas kocokanku dan membuat busa sabun sebanyak-banyaknya di telapak tanganku. Lalu kulumurkan ke sepanjang batang kemaluannya. Dan tanganku kemudian mulai melakukan gerakan mengocok lagi. Kulihat Pak Gunawan tersenyum melihat ulahku.
Tiba-tiba tangannya meraih sebagian busa sabun yang meleleh di tanganku, lalu mengoleskannya pada batang kemaluanku. Dan memilin-milinnya. Tanpa sadar aku melenguh kenikmatan. Kembali Pak Gun tersenyum melihat reaksiku.
Busa sabun itu telah mempercepat reaksi kami. Sesaat kemudian milik Pak Gun jadi membesar dan semakin mengencang. Milikku yang sudah keras pun makin menghangat dan tampak makin meradang. Tapi kami tampaknya tak berniat untuk mengakhiri acara saling merangsang ini.
Tadinya, kita memang 'berniat' hanya kontes burung saja. Saling membandingkan ukuran masing-masing. Dan kini kedua 'burung' itu sudah siap untuk dibandingkan. Jadi, apakah cukup sampai di sini saja?
"Mau diteruskan..?" Pak Gun mencandaiku.
Entahlah, nyatanya tangan kami masih saling meremas. Mata kami sesekali saling bertatapan dan sesekali melihat ke bawah seolah ingin membandingkan ukuran satu sama lain. Milik Pak Gun sedikit di bawah ukuranku. Tapi bagian kepalanya lebih besar dari milikku. Kami masih sempat bercanda ketika membandingkan kedua benda bulat panjang itu.
"Punya Dik Har keras sekali.." komentarnya sambil membuat pijitan agak keras.
"Punya Bapak bentuknya bagus.." balasku
"Batangmu pejal.." tangannya mengurut sepanjang batang kemaluanku. Aku bergidik kegelian.
"Helm Pak Gun gede.." kupegang dan kuremas-remas pelan kepala kemaluannya yang bulat membesar itu. Gantian ia menggelinjang.
Aku lalu mencoba menggenggam kantung pelirnya yang sedari tadi kubiarkan saja. Bagian itu terasa padat dan berkulit tebal. Kedua 'telor'nya lebih besar dari milikku. Ketika aku mencoba meremasnya, Pak Gun spontan menarik pantatnya ke belakang. Rupanya ia kegelian. Namun aku terus berusaha mempertahankan genggamanku di bagian itu. Pak Gun lalu berusaha membalas meremas buah pelirku juga. Aku menghindar. Tapi hanya pura-pura. Dan kubiarkan tangannya menggenggam dan meremasi kantung kemaluanku itu. Tanpa sadar, kami tertawa seperti dua anak kecil tengah bercanda.
"Ssst Pak.. Gimana nanti kalau ketahuan orang.." tiba-tiba rasa was-wasku muncul
Pak Gun hanya menatapku kocak sambil menahan suara ketawanya yang biasanya lepas itu,"Mau segera diselesaikan apa?" tanyanya kemudian
"Pak Gun sendiri gimana?" aku balik bertanya. Dan ia mengangguk.
"Kita keluarkan bersama ya.." lanjutnya masih dengan nada kebapakan sambil mempergencar gerakan tangannya.
Langit di atas sedang dalam puncak warna merahnya sebelum menuju malam. Satu dua lampu mess sudah mulai dinyalakan. Kamar bilas itu untuk beberapa saat menjadi sepi. Hanya terdengar suara kocokan tangan kami yang diselingi desahan tertahan yang keluar dari mulut kami berdua. Beberapa kali kudengar Pak Gun mendesis seperti tengah menahan sesuatu. Matanya memicing terus ke arahku dalam pandangan yang sulit aku mengerti. Keringat mulai membasahi kening kami berdua. Mulut Pak Gun sebentar mendengus, sebentar menguncup mendesis. Aku sendiri hanya bisa meringis dan menahan nafas beberapa kali.
Ketika erangan yang keluar dari mulutnya makin meracau, kupercepat gerakan tanganku di bawah sana. Tangan kiri Pak Gun sampai memegangi bahuku seperti butuh penyangga, sementara tangan kanannya tetap aktif bekerja di bawah. Semenit kemudian ia menjerit tertahan dan muncratlah cairan hangat miliknya membasahi perutku. Spontan tangannya mendekap tubuhku erat-erat dan membenamkan kepalanya di sela bahu dan leherku. Pantatnya bergerak tak karuan, menyentak-nyentak ke depan menekan pinggul dan daerah sekitar kemaluanku.
Aku mengimbangi gerakan orgasmenya itu dengan memeluk pinggangnya yang gempal itu dan membuat gerakan sedemikian rupa sehingga batang kemaluan kami saling menggosok. Air mani Pak Gun membuat gerakan itu jadi licin dan menimbulkan rasa geli yang nikmat.
Akhirnya aku pun mencapai orgasme dalam pelukan Pak Gun yang kini gantian menopang tubuhku agar tak limbung karena ledakan puncak birahi. Tiba-tiba nafsuku memicu kenekatanku untuk mencari-cari bibir Pak Gunawan. Dan ia membiarkan aku menciumnya lumat-lumat. Ah! Kumisnya terasa bermain-main di lubang hidungku. Aku tak peduli. Aku terus melumat bibirnya sambil merasakan kenikmatan orgasme yang tengah menjalar ke sekujur tubuhku. Tak kusangka Pak Gun membalas ciumanku dengan hangat. Lidah kami saling menjulur dan berpilin-pilin. Oh My God! akhirnya, aku berhasil mencium laki-laki ini. Dia ternyata 'the great kisser' dan tampak sekali kalau sudah berpengalaman. Aku sangat menikmati semua respon yang ia berikan untuk menambah kenikmatan orgasmeku. Ia memperlakukanku dengan cara yang matang dan kebapakan, membuat puncak birahiku jadi terasa total.
Dan senja merah pun makin meredup. Mendekati malam.
Kami masih berpelukan dan sesekali badan kami bergetar oleh sisa kenikmatan yang belum sepenuhnya reda. Beberapa saat kemudian Pak Gun membisikiku sesuatu, tapi aku tak menangkap apa yang disampaikan. Ia lalu mencium pipiku dan menarikku ke bawah shower dan langsung membuka kran. Aku kaget ketika tiba-tiba air sudah menyemprot tubuh kami berdua.
O, kini aku baru faham apa yang dibisikkannya tadi. Tampaknya acara berbilas harus kami lakukan sekali lagi. Tapi kali ini betul-betul cuma berbilas saja. Karena di luar senja sudah mulai merambat menjadi malam..
Tamat