Cowok itu memang cukup tampan dengan tubuh yang bagus tapi entah mengapa aku sama sekali tidak tertarik untuk bercinta dengannya. Padahal ketika malam itu ia tidur dikamarku seringkali ia mengajakku bercinta. Aku hanya memeluknya dan sesekali menciumnya karena ia tidur satu ranjang denganku padahal masih ada ranjang lain dalam kamarku tetapi ia menolaknya. Ia sangat ingin tidur dalam pelukanku.

Mungkin karena dihatiku hanya ada Reno dan karena memang sudah sifatku yang tidak mau menduakan siapapun yang aku cintai maka aku tidak mau bercinta dengan orang lain meskipun aku sempat terangsang oleh cumbuan cowok itu.
Semula Reno tidak percaya kalau kami aku dan cowok itu tidak terlibat hubungan seks meskipun aku telah berusaha menjelaskannya sampai-sampai aku harus mengucapkan kata sumpah baru ia percaya meskipun ia ucapkan kata percaya itu dengan tersenyum curiga.

Dalam hatiku aku merasa senang ia mencurigaiku seperti itu, itu berarti ia memang memiliki perasaan yang sama terhadapku. Meski ia tidak pernah mau jujur mengakuinya.
Selesai menikmati makan malam kamipun pergi ke sebuah hotel untuk menghabiskan malam itu bersama-sama (setelah sebelumnya sangat sulit untuk membujuknya meski ia mau menginap bersamaku dengan perjanjian tidak boleh terjadi apapun antara kami, dan akupun terpaksa menyanggupinya).
Begitu didalam kamar kami langsung rebahan sambil menonton TV dan tetap dalam keadaan pakaian yang utuh. Kami berbincang-bincang banyak hal termasuk cerita tentang cowok terakhir yang hadir dalam hidup Reno.
Ada perasaan tidak suka dan cemburu serta minder manakala ia menceritakan cowok yang bernama Ryan itu. Dari ceritanya terdengar Ryan adalan cowok yang melebihi segala-galanya dariku.

"Kenapa diam saja mendengar ceritaku..?" tanyanya ketika ia mendapatiku hanya terdiam menatap langit-langit.
"Tidak.. kelihatannya Ryan adalah cowok yang ideal dan sempurna.. kenapa kau menolaknya..?" tanyaku sambil menatapnya.
"Mungkin benar ia memiliki segala-galanya.. uang.. mobil.. dan juga perhatian yang sangat besar padaku.. tetapi.. entahlah.. aku tidak bisa menerimanya.." katanya sambil menatap televisi.
"Apa mungkin kau tidak pernah melakukan apapun dengannya..?" tanyaku perlahan tanpa menoleh padanya.
"Kamu tidak percaya sama aku..? Demi Tuhan.. kami tidak pernah melakukan apapun.. kami memang sering tidur bersama dalam satu kamar.. tapi tidak terjadi apapun.. " katanya sedikit keras. Ia menatapku tajam seolah ingin menyakinkanku atas perkataannya.
"Suatu malam.. kami tidur bersama dalam satu kamar.. dia diranjang dan aku dibawah.. saat aku tertidur.. ia menciumiku dan berusaha untuk mencumbuku hingga aku terbangun.. saat itu.. aku kaget dan emosi naik.. langsung aku pukul wajahnya dan juga tubuhnya.." ia terdiam sejenak.
"Aku maki dirinya dengan kasar.. kukeluarkan foto dan kartu namanya dari dalam dompetku serta merobek dan membuangnya didepan matanya.. aku tidak peduli dengan permohonan maaf yang ia ucapkan.. saat itu juga aku meninggalkan kamarnya dengan hati yang sangat kecewa.. ia telah mengingkari janjinya untuk sekedar berteman dekat tanpa adanya seks antara kami.." ia menatapku tajam hingga membuat jantungku semakin berdebar. Ia kembali merebahkan kepalanya diatas bantal.
"Keesokan harinya.. aku kembalikan semua pakaian dan barang-barang yang pernah ia berikan padaku.. aku hanya menyisakan satu stel pakaian yang aku kenakan kemarin saat malam minggu waktu ketemu sama kamu.." katanya mengakhiri ceritanya. Ia masih menatapku meski aku berusaha untuk tidak mempedulikannya. Aku hanya terdiam. Ada rasa sakit dan cemburu dalam hatiku.

Tiba-tiba Reno melingkarkan tangannya ketubuhku. Ia menatapku tajam lalu tersenyum saat pandangan mata kami bertemu. Ada gemuruh didadaku. Gemuruh yang begitu besar hingga aku takut ia akan dapat mendengarnya.

"Kenapa masih terdiam..? masih tidak percaya..? kamu marah..? cemburu.. nih..?!" katanya sambil tersenyum menggodaku, jemarinya memainkan ujung hidungku hingga aku tertawa karena kegelian.
Aku mendorong tubuhnya kesamping dan memukulnya dengan bantal. Kami tertawa bersama. Sakit hati dan kecemburuan yang aku rasakan sedikit mencair oleh candanya.
"Sudahlah.. sudah malam.. tidurlah.. kamu kan harus bekerja besok.." kataku. Lalu aku bangkit dan membuka kaosku dan kembali merebahkan tubuhku diranjang. Aku menyuruhnya untuk membuka bajunya agar tidak kusut dipakai besok pagi. Semula ia menolaknya tapi selanjutnya iapun mengikuti anjuranku.
Aku menggeser tubuhku keranjangnya (kamar kami double bed yang kemudian kami satukan), aku memeluknya dan mencium pipinya. Ia marah dan mendorong tubuhku.
"Apa-apaan sih.. kamu kan punya ranjang sendiri.. ingat janjimu..!" katanya dengan serius.
"Aku hanya ingin memelukmu.. ini malam terakhirku di Jambi.. malam terakhir aku bisa bersama dan menatapmu untuk terakhir kali.. aku tidak tahu kapan hal ini akan terulang.." kataku perlahan sambil kembali memeluknya, dan kali ini ia membiarkan aku memeluk tubuhnya dari belakang.
"Kenapa kamu tidak menerima ajakan Aldi untuk bercinta malam itu.. itu kan bagus.. atau cowok yang itu juga.. (ada satu cowok lagi sesama tamu hotel yang juga sangat dekat sama aku dan seringkali berada dalam kamarku cowok tampan dan aku juga menyukainya yang sayangnya ia bukan gay) daripada kamu susah-susah ngejar aku.." katanya tiba-tiba.
"Lagian Aldi kan selebriti disini.. ganteng.. dan terkenal pula.." katanya kemudian membuat telingaku risih.
"Kamu ini ngomong apa sih..? memangnya aku bisa semudah itu bercinta dengan orang..?" kataku.
"Dan lagi.. apa iya kamu ngga ngapa-ngapain sama dia..?" tanyanya bernada serius.
"Kamu ini jahat banget sih ngomongnya.. pokoknya sumpah.. nggak terjadi kayak gitu.. kamu nih nakal ya..!" kataku sambil mencubit dan menggelitiknya serta memukulnya dengan bantal. Ia berteriak kegelian dan membalas memukulku dengan bantal sampai kami kecapaian.
Mata kami saling bertatapan dan ketika aku berusaha untuk mencium bibirnya ia memalingkan wajahnya. Aku hanya terdiam dan kembali memeluknya dengan erat untuk beberapa saat.
"Aku paling tidak suka kalau tidur sama orang lain yang membelakangiku.." kataku kemudian. Tidak berapa lama kemudian iapun menelentangkan tubuhnya dan tetap membiarkan aku memeluknya. Kini aku bisa dengan leluasa menatap wajah tampannya yang sangat mirip dengan Jonathan artis pendukung sinetron 'Siapa Takut Jatuh Cinta'.

Karena tahu aku terus menatapnya maka ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku hanya bisa memeluknya dan spontanitas aku menyanyikan lagunya Audy yang berjudul 'satu jam saja'. Ia membuka matanya dan menatapku.

"Aku tidak ingin malam ini berakhir.. kalau saja aku bisa menghentikan waktu.. aku ingin kita terus seperti ini.. sampai kapanpun.. aku tidak tahu bagaimana kujalani hari-hariku nantinya di Jakarta tanpamu.." kataku perlahan sambil terus menatapnya.
"Kau mau menunda kepulanganmu ke Jakarta barang dua hari lagi..?" tanyanya tiba-tiba dan diluar dugaanku.
"Tidak bisa.. aku sudah tidak bisa menunda kepulanganku.. aku sudah tidak punya alasan lagi.. perusahaan sangat membutuhkanku.. dua hari yang lalu tugasku sudah selesai.. tetapi aku belum bisa berpisah sama kamu.. aku.. rasanya aku tidak sanggup berpisah sama kamu.." kataku perlahan.
"Kenapa kamu menyukai aku.. apa yang kamu suka dari aku..?" tanyanya dengan suara perlahan hampir tidak terdengar.
"Semuanya.. semua yang ada padamu.. aku.. mencintaimu Ren.. " kataku pelan dan terbata-bata. Tiba-tiba dia mendorong tubuhku dari pelukannya.
"Huh.. gombal.. apa memang semua orang Jakarta seperti itu.. bilang cinta pada orang yang baru dikenal.. paling-paling juga mau cari enaknya saja.. udah dapet.. ya udah.. lupa.. " katanya mencibir.
"Terserah apa katamu.. tapi aku mengatakan yang sebenarnya.. " kataku berusaha menyakinkannya. Kutatap matanya tanpa berkedip lalu aku beranikan untuk mencium keningnya dengan lembut. Ia hanya terdiam dan memejamkan matanya.
"Tidurlah Ren.. aku tidak ingin tidur.. aku takut waktu akan berlalu dengan cepat kalau aku tertidur..!" kataku sambil mempererat pelukanku ditubuhnya.
Reno memejamkan matanya dan membiarkan aku sesekali mencium pipinya yang halus.

Pikiranku melayang jauh. Aku tahu sat itu banyak orang yang datang ke hotel tempatku menginap untuk sekedar berkunjung dan mengucapkan selamat jalan padaku. Tapi aku tidak peduli, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

Ada rasa sesal telah bertemu dan jatuh cinta pada Reno. Ada rasa bersalah telah menyeretnya dalam kehidupan lain yang mungkin belum begitu dikenal olehnya. Aku berusaha menduga-duga apakah ia juga memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Tapi aku merasa yakin kalau iapun memiliki perasaan yang sama hanya saja ia tidak mau mengakuinya dengan jujur.

Aku tak berhenti menatap wajahnya dan juga ketiaknya yang ditumbuhi bulu yang cukup lebat. Sebuah pemandangan yang sangat indah. Warna bulu yang hitam mengkilat itu sangat kontras dengan warna kulit tubuhnya yang putih bersih.

Mataku terus menelanjangi tubuhnya hingga ke dadanya yang bidang tertutup singlet putih dan terus hingga kebawah dan berhenti diselangkangannya yang terlihat menonjol. Aku tahu dibalik celana itu tersembunyi sesuatu yang indah dan menggairahkan. Dan aku mulai terangsang karenanya. Aku memeluknya semakin erat. Kemudian mataku terus menatanya dan semakin ke bawah sepasang betis (celananya digulung hingga betis) yang indah dan putih mulus dengan dihiasi bulu-bulu lembut. Sangat erotis.

Aku semakin terangsang. Tanpa sadar aku mendesah dan semakin mempererat pelukanku. Aku tatap wajahnya dengan mata yang terpejam. Aku bereusaha merengkuh tubuhnya hingga wajahnya berhadapan dengan wajahku. Birahi yang telah membakar tubuhku terasa semakin menggelora. Nafasku mulai memburu. Dengan perlahan aku memberanikan diri untuk mencium pipinya dan kemudian bibirnya yang indah.

Aku hanya berani mengecupnya tanpa berani berbuat lebih. Sementara tanganku mulai liar menyelusup dibalik singletnya dan menelusuri dadanya yang bidang hingga perutnya yang rata. Tak ketinggalan pula kedua puting susunya aku mainkan dengan jari-jariku.

Aku semakin terbakar birahi. Nafasku semakin memburu. Aku kembali mencium bibirnya dan sedikit mengulumnya. Aku sudah tidak mempedulikan ketakutanku kalau-kalau ia akan marah karenanya. Dan diluar dugaan ia hanya terdiam meski juga tidak membalas ciumanku.

Saat itu aku berpikir kalau ia sudah tertidur, lalu untuk memastikannya aku coba untuk memanggil namanya. Dan ketika ia kupanggil ia hanya menjawab kata 'ya' dengan suara parau. Maka kutahu ia telah terangsang dengan apa yang aku lakukan.

"Kamu belum tidur..?" tanyaku disela-sela nafasku yang memburu karena nafsu yang bergejolak. Aku hanya ingin memastikan apakah ia tahu kalau aku telah mencumbunya sedemikian rupa.

Bersambung..