Jakarta, Jakarta, Jakarta. 86.400 detik atau 1.440 menit atau 24 jam sehari, 7 hari seminggu 30 hari sebulan, jantung Jakarta berdegup tak pernah henti. Asap mobil menyesaki atau sinar lampu mobil berseliweran menyilaukan mata memenuhi panjang jalan-jalan Jakarta. Hiruk pikuk manusianya, hingar bingar peristiwanya menjadi wujud pesona ibukota Republik Indonesia yang ber-rakyat 250 juta ini.
Di tengah-tengah gegap gembitanya 12 juta penduduk Jakarta, gegap gembita pula sudut-sudut jalan, pojok-pojok diskotik, relung-relung mall, taram temaramnya kafe atau taman-taman di kala hari bergerak malam. Atau di tengah bisik desah berlantaikan tikar plastik di tepian kali Malang, atau di balik semak taman-taman kota atau di motel-motel atau hotel-hotel 'kresek' yang menebar di seantero Jakarta. Mereka itulah para 'pria pecinta pria'. Mereka pria yang mencari pria dan pria yang dicari pria.
Mereka memiliki 'konvensi' sendiri dalam hidup masyarakatnya. Mereka sejenis dan saling berasyik masyuk, saling memberikan dan menerima puncak syahwat. Mereka melepas liar dahaganya akan belaian 'cinta sejenis'. Orang istilahkan 'gay'. Terjemahan harfiahnya adalah 'bersenang-senang'. Ya, memang ini bicara tentang bersenang-senang.
Dan bagi aku yang terlarut dalam sebagian dari mereka, Jakarta-lah sorga bagiku. Aku atau mereka datang dari segala segmen. Baik segmen geografi, demografi ataupun psikografi. Itu macam segmen naik turun, tinggi rendah dan kanan kiri depan belakang. Terkadang teraduk-aduk. Yang atas turun ke bawah, yang bawah naik ke atas. Yang jangkung nyari si gemuk. Yang putih nyari hitam, Yang priyayi nyari kuli, yang kuli melahap priyayi. Yang tua menerkam yang muda yang muda menikmati yang tua dan seterusnya dan seterusnya.
Aku, demikian juga lainnya bisa diburu ataupun memburu. Dan terus terang aku merasakan nikmat pada keduanya. Nikmat betapa dalam jeratan dia. Nikmat aku berhasil menundukkannya setelah sebelumnya menendang perutku. Nikmat dikalahkan ataupun mengalahkan. Kami adalah sejenis predator sekaligus korban. Kami saling memangsa atau dimangsa.
Demikianlah pada hari Selasa bulan September saat istirahat makan siang. Aku mencari makan di 'Happy Times' Sogo tahunamrin tempat yang paling prestise di Jakarta. Saat memasuki gedung aku langsung tertumbuk seseorang dengan tampang Timor Leste. Aku sudah rasakan getarannya. Kami biasanya sudah memiliki naluri untuk itu. Dia memandang aku dan aku memandangnya. Dia melepas senyum, aku mengembalikannya. Kami lantas ngobrol.
Rupanya dia adalah akuntan dari Biro Dagang di jalan Tanah Abang. Obet, begitu aku memanggilnya. Kami langsung akrab dan sepakat untuk makan siang bersama. Karena masih berurusan dengan kewajiban, kami janji untuk jumpa nanti sore di tempat yang sama, Sogo tahunamrin, jam 5 sore sepulang kantor.
Sore itu kami memilih meninggalkan parkir mobil kami di Sogo. Kami menuju motel Cempaka Putih dengan taksi. Sopir taksi tahu tanpa banyak tanya. Aku yakin dia tahu segalanya. Begitu sampaia di sasaran tanpa ragu dia berbelok masuk kecelah halaman Cempaka Motel yang setengah tersembunyi.
Sungguh surprise bagiku. Obet benar-benar pria idaman bagiku. Aku langsung ingin menikmatinya sesaat dia melepas kemejanya. Dada coklat penuh bulu dan otot itu memberikan aku puncak fantasi seksualku. Aku sangat keranjingan dengan ketiak penuh bulu, kontol gede yang dibaluti otot dan sperma kental panas muncrat-muncrat di mulutku. Semuanya kudapatkan dari Obet..
Ternyata demikian pula Obet. Dia telah begitu lama mendambakan ketemu orang China macam aku. Dia pengin merasakan menjilati pantatku yang 'kuning langsat' macam batu jade. Dan dia terpenuhi pula bisa ngentot pantat batu jadeku ini.
Hari pertama perjumpaan ini kami lampiaskan seluruh obsesi kami. Kamar sempit Cempaka Motel ini riuh dengan desah, rintih dan jeritan-jeritan nikmat dari kedua mulut kami. Kami sempat beberapa kali mengulang kenikmatan birahi kami. Entah berapa kali kontol Obet menyemburkan spermanya ke mulutku maupun mulut pantatku.
Dalam obrolan menjelang menonggalkan motel aku dan Obet sepakat bahwa tidak terbiasa dan tidak suka terikat. Kita hanya jumpa saat saling butuh. Sampai kini, sudah sekitar 3 bulan sejak jumpa, kalau lagi sepi, kutelpon dia dan bisa ketemu di mana saja sesuai selera.
*****
[Cinta Kilat]
Kebelet di Maruzen
Aku jumpa 'Irgi' di Blok M. Habis cari buku di Maruzen, saat turun ke parkir area aku iseng turun ke basemen lihat komputer shop. Aku memang sedang kebelet butuh, nih. Libidoku mendesak untuk cari sasaran. Sambil jalan kontolku sudang terus ngaceng berat hingga terpaksa tanganku terus dalam kantong celanaku untuk menahan tonjolannya tidak nampak di tengah banyak orang.
Di konter elektronik seorang anak lelaki sangat tampan, kutaksir sekitar 19 tahunan, sedang membayar belanja sesuatu. Aku tak bisa mengelak untuk terus mengamati dengan penuh khayal seksual. Posturnya mirip Irgi yang pembawa acara Indonesian Idol. Jangkung, mungin sekitar 180 cm, dan sangat enak dipandangan mataku dengan celana jeans-nya yang ketat itu. Pantat 'Irgi' ini sangat mempesona hasratku. Alngkah nikmatnya bisa menenggelamkan hidung dan lidahku di sana.
Nampak tungkai pahanya demikian panjang. Sangat nikmat apabila bisa melatakan lidah dan meninggalkan bekas sedotan bibir di sebentang pori-pori betis, paha hingga keselangkangannya. Liur di lidahku sudah tak bisa kubendung. Bagaimana dayaku..? Dalam bengong dan lamunanku aku terkejut saat dia berbalik. Ternyata dia tahu aku mengamatinya.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" Kurang asem. Tentu saja aku gugup setengah mati. Semuanya tak kuduga.
"Eehh..... Ngg.. Gakk," sambil aku berbalik untuk cepat menghindar. Namun,
"Mas, Mas. Tunggu" Aku rem lengkahku.
"Boleh tanya, ya? Tempat peralatan pesta kebun di mana? Saya dengar katanya di sini ada toko yang menjual alat-alat lengkap pesta kebun. Macam panggangan B'beque dan sebagainya, gitu?" tanyanya.
Aku berkesempatan kembali untuk menikmati ketampanannya. Melihat dia bicara, mengamati bibirnya, aku semakin terpesona. Rasanya aku akan sangat bahagia seandainya dia mau meludahi mulutku.
"Oohh... yaa.. Aku juga suka melihat-lihat di sana. Yookk.. Sama-sama saja. Kalau nggak salah di lantai 5," kami seiring. Saat bersentuhan di eskalator, rasanya aku disengat listrik. Kurasakan basah keringatnya di ruang AC yang sejuk ini. Sepintas aku meliriknya. Mungkinkah dia juga gugup macam aku kini?
Begitu menginjak lantai 5,
"Aku pengin kencing dulu. Sudah kebelet banget, nih"
Aahh.. Bukankah ini kebiasaan para gay yang ingin Cek dan Recek kondisi seseorang yang diminatinya. Aku membebek di belakangnya. Aku sudah jatuh cinta pada tampang Irgi ini. Betapa seksinya anak ini. Dadanya, pinggulnya, jangkungnya..
Ruang toilet pria di Maruzen sepi. Dan benarlah. Ternyata kami cepet cocok dan saling merespon. Sambil saling melihati kemaluan temannya pada saat kencing ini kami bertumbuk pandang. Aku sudah ahlinya. Kutarik alis mataku ke atas dan dijawabnya dengan cara yang sama. Suara yang menyusul berikutnya adalah,
"Mas mau ngisep?" dalam bisikkan 'jassy' yang singkat dan penuh energi. Ya nggak mungkin kutolak, dong.
"Dimana?" jawabku. Dia hanya mengerlingkan matanya ke arah WC.
Oohh.. Aku tahu. Cinta kilat. Rupanya ini yang dia maksud 'sudah kebelet banget' tadi. Dan dia sudah bergerak sebelum aku mengiyakannya. Sebelum mengikutinya aku menunggu sesaat untuk memastikan tak ada orang lain yang memperhatikan kami.
Dia sudah mulai membuka kancing celananya saat aku masuk. Sesudah mengunci pintu aku langsung duduk di kloset dan dia juga langsung mengasongkan kontolnya ke mulutku yang telah siap mengulum dan mengisep-isepnya. Kontolnya nggak sunat. Tidak begitu besar, normal sebagai ukuran Asia. Namun kontol itu sangat tegang sehingga kepalanya berkilatan. Saat menyentuh bibirku langsung rasa asin precumnya menerpa lidahku.
Dia raih kepalaku dan memaju mundurkan menjemputi kontolnya. Aku setengah merangkul pinggulnya yang juga sedikit bergoyang. Tangan-tanganku menegelusi dan meremasi wilayah pinggul dan bokong seksi itu. Aroma prafum pria masa kini merebak dalam setiap tarikan nafasku. Hasratku semakin meninggi. Ingin benar aku mengelusi kontolku yang juga telah demikian mendesak-desak celanaku.
Sementara dalam nikmat yang nampak melandanya kontol 'Irgi' ini semakin keras dan sangat kaku. Kurasakan dalam mulutku, kepala penisnya begitu membonggol. Aku rasa tak lama lagi dia pasti memuncratkan air maninya. Namun dia mau yang lain,
"Aku nggak mau keluar dulu. Mau nggak kamu ngentot pantatku?" sambil berbalik setengah nungging dengan kedua tangannya yang bertumpu pada dinding WC.
"Kamu jilat-jilat dulu lubangnya. N'tar aku pasti nafsu banget"
Bersambung . . . . .