Kesibukan Tomi dan pekikan lirih mulut Johan sama sekali tak mengganggu aktivitas mulut Iwan yang kini sudah sampai pada bagian bawah perut Johan. Lidah Iwan sibuk menjilati setiap bagian perut dan pinggang Johan yang basah disirami oleh siraman air hangat dari kran shower. Mulut Iwan semakin asik dan liar bergerak menyusuri setiap sentimeter kulit mulus tubuh Johan, hingga akhirnya mulut itu sampai pada batang kontol Johan yang sedang dikocok tangan kanan Tomi.
Dengan cepat, mulut itu melahap kepala kontol Johan dan dengan liar menghisap-hisap dengan kuat, sampai membuat mulut Johan makin keras memekik dan mengerang karena menahan beribu kenikmatan yang baru kali ini dinikmatinya itu. Kuluman mulut Iwan kini sudah tidak lagi terbatas pada kepala penis Johan, tetapi sepertiga bagian batang penis itu juga sudah tenggelam dalam sekapan hangat mulut Iwan. Kepala Iwan pun bergerak maju mundur sepanjang batang penis itu, sehingga otomatis memberikan kocokan penuh nikmat pada Johan. Pada saat yang sama tangan kanan Tomi masih mengocok sisa batang penis Johan yang tak tertampung dalam mulut Iwan.
Penasaran dengan keasikan Iwan bermain pada batang kontol Johan, dan setelah puas bermain dengan dua puting susu Johan, mulut Tomi segera menyusul bergerak ke arah penis ngaceng itu. Tomi segera berjongkok di samping Iwan, dan langsung mengarahkan mulutnya ke arah buah zakar Johan. Dengan cepat mulutnya telah melahap dua buah zakar yang menggelantung dengan ranum itu. Bergantian mulut Tomi menghisap-hisap satu persatu buah zakar Johan. Hisapan mulut Tomi pada buah zakarnya yang dikombinasi dengan hisapan mulut Iwan pada penisnya, membuat Johan semakin keenakan. Matanya tampak terpejam rapat dan mulutnya semakin keras mendesah dan mengerang kenikmatan.
Kemudian mulut Tomi dan Iwan bergantian saling mengisap penis Johan, seperti dua anak kecil saling bergantian menghisap es lilin kegemaran mereka. Ketika mulut Tomi menghisap batang penis itu, mulut Iwan dengan sukarela berpindah menghisap dua buah zakar Johan, dan begitu seterusnya terjadi selama sekitar 5 menit. Sementara dua kekasihnya sama-sama sibuk memberikan kenikmatan pada dirinya, Johan hanya bisa mendesah dengan mengerang keenakan, dan tubuhnya terus menggeliat-geliat erotis. Puas bermain pada batang penis Johan, mulut Iwan pun pindah ke pantat Johan.
Untuk beberapa saat, mulut Iwan dengan gemas menggigit-gigit pantat mulus dan seksi milik Johan. Kemudian, kedua tangan Iwan menguakkan belahan pantat seksi itu, sehingga tampaklah mulut anus Johan yang masih perawan dan tertutup rapat. Dengan penuh perasaan, Iwan mengarahkan mulutnya ke arah rekahan pantat itu, dan menjulurkan lidahnya ke arah bibir anus yang merah perawan itu.
Mulut Johan terpekik keras, ketika ujung lidah Iwan menyentuh tepat bagian tengah mulut anusnya. Sentuhan lidah basah pada mulut anusnya menghadirkan sensasi kenikmatan yang sungguh nikmat dan belum pernah terbayangkannya selama ini. Daerah yang sensitif dengan rangsangan itu dengan cepat disapu dan dijilati oleh mulut Iwan, sehingga membuat Johan terus terpekik lirih menahan rasa geli campur nikmat yang belum pernah dibayangkannya itu. Johan makin keras mengerang dan memekik ketika mulut Iwan semakin ganas menjilati dan menghisap mulut anusnya yang masih perawan itu. Dan badan Johan tiba-tiba menggelinjang dan menghentak lembut ketika ia merasakan ada kenikmatan yang lebih hebat menjalari tubuhnya melalui anusnya.
Ternyata Iwan sudah bertindak semakin jauh, dengan mulai menyusupkan jari telunjuk kanannya ke dalam liang anus Johan. Telunjuk yang sudah dibasahi ludah itu, ternyata masih menemui kesulitan untuk menembus keperawanan anus Johan. Tetapi dengan sabar dan lembut diiringi dengan sentuhan-sentuhan rangsangan penuh nikmat oleh lidahnya pada daerah sekitar anus Johan, membuat Iwan berhasil menyusupkan telunjuknya memecah keperawanan anus Johan. Johan sendiri tampak tidak menolak penetrasi pada tubuhnya itu, karena bersamaan dengan gerakan telunjuk Iwan yang menembus kepekatan anusnya, ia merasakan adanya gesekan kenikmatan yang sangat hebat.
Johan pun semakin jauh merasakan kenikmatan arus kenikmatan seks yang baru pertama kali dirasakannya itu. Sementara Iwan sibuk dengan pantat Johan, Tomi terus asik bermain mengulum dan menghisap batang penis Johan. Mereka bertiga pun sekitar 5 menit sama-sama tenggelam dengan kesibukan dan kenikmatan seks itu. Setelah berhasil menyusupkan telunjuknya pada anus Johan, mulut Iwan kini kembali ke buah zakar Johan. Sambil menghisap buah zakar Johan, tangan kanan Iwan sibuk mengocok kontol Tomi yang sempat lemas karena terlalu lama tidak mendapat sentuhan birahi. Dengan cepat kontol Tomi langsung mengacung keras dalam genggaman tangan Iwan, sehingga mempermudah Iwan untuk mengocoknya. Sedangkan Tomi yang masih sibuk menghisap dan mengulum batang penis Johan, juga masih sempat membalas memberikan kenikmatan pada Iwan, dengan jalan mengocok penis Iwan yang sudah lebih dulu ngaceng itu.
Beberapa kali Iwan dan Tomi yang sedang asik bermain di daerah selangkangan Johan dikejutkan oleh pekikan dan erangan panjang serta gelinjangan tubuh Johan. Johan beberapa kali terpekik kenikmatan ketika telunjuk Iwan yang masih berada dalam sekapan kehangatan anusnya tanpa sengaja sempat menyentuh dan menekan prostatnya. Mengetahui telunjuknya menyentuh prostat Johan, Iwan makin keras menekan telunjuknya pada prostat itu, sehingga membuat Johan makin keenakan. Sentuhan-sentuhan erotis pada prostat itu, membuat Johan semakin jauh melambung dalam surga kenikmatan duniawi, dan dengan sendirinya mempercepat proses menuju orgasmenya.
"Oughh.. aahh.. nikmat sekali permainan kalian. Akh.. akh.. ough.. Enak.. Teruskan Wan, nikmat sekali jarimu di pantatku" desahan dan erangan serta ocehan mulut Johan membuat Iwan dan Tomi semakin bersemangat memberikan kenikmatan pada tubuh kekasih mereka.
"Tom.. terus hisap akh enak hangat mulutmu.. Akh ouh Tom, aku hampir keluar Tom" rintih Johan ketika ia merasakan pejunya telah terkumpul semua pada kepala penisnya, dan siap untuk disemburkan dengan deras.
Dan benar, hanya berselang satu menit setelah mengatakan hal itu, tubuh Johan tiba-tiba bergetar hebat dan langsung mengejang. Disertai erangan panjang dan desahan nafas penuh kenikmatan, Johan berhasil mencapai orgasmenya yang pertama kali melalui hubungan seks yang sesungguhnya bersama dua kekasihnya. Bersamaan dengan itu, dari celah pada ujung kontolnya yang sedang dihisap Tomi menyemburkan air maninya dengan deras dan cepat. Air mani itu dengan kuat menyembur ke dalam rongga mulut Tomi. Dengan cepat pula, Tomi langsug menelan semburan peju yang pertama itu, dan tanpa henti terus menghisap-hisap ujung penis Johan. Hisapan itu membuat Johan merasa geli, tetapi rasa geli itu justru membuat kenikmatan orgasme yang dirasakannya semakin hebat lagi. Puncak kenikmatan yang dirasakan Johan ternyata berlangsung cukup lama. Sudah lima kali spermanya menyembur dari celah kontolnya, dan semuanya langsung tertampung pada mulut Tomi untuk kemudian langsung ditelan dengan penuh perasaan oleh Tomi.
Sambil menghisap penis yang tengah menyemburkan sperma segar dan hangat itu, mata Tomi tak lepas menatap semua reaksi dan gerakan yang terjadi. Reaksi erotis yang terjadi pada tubuh Johan itu membuat Tomi semakin bernafsu menghisap kontol Johan, dan tanpa sadar Tomi makin memperkuat hisapan-hisapannya, sehingga sperma Johan makin deras muncrat ke dalam mulutnya. Bersamaan dengan itu, tanpa sadar pula, Tomi makin mempercepat kocokan tangannya pada penis Iwan yang membuat Iwan semakin keras mendesah dan mengerang, sehingga melupakan hisapan dan jilatannya pada dua buah zakar Johan. Tomi baru tersadar dari keasikkannya menikmati puncak orgasme yang terjadi pada tubuh Johan, ketika Iwan dengan terengah-engah setengah mendesah memintanya untuk memberikan kontol Johan padanya.
"Tom.. Please.. Gantian dong ngemut kontol Johan. Aku kan juga ingin menikmati peju perjakanya Johan, please.." ujar Iwan dengan memelas.
"Oke Say.. sekarang giliranmu" ujar Tomi singkat sembari dengan tangan kanannya yang masih mengocok batang kontol Johan yang sedang berdenyut untuk kembali memuntahkan lahar spermanya yang ketujuh.
Dengan cepat mulut Iwan segera melahap kontol itu. Tetapi belum sempat kepala kontol itu masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba dari celahnya sudah terjadi semburan ketujuh sperma Johan. Alhasil sebagian sperma itu muncrat di luar mulut Iwan, dan mendarat di bibir dan pipi Iwan. Johan sungguh jantan, kendati sudah enam kali mucrat dalam mulut Tomi, tetapi pada semburan ketujuh, sperma itu masih sanggup muncrat dengan keras dan deras. Demikian pula pada semburan kedelapan hingga sebelas, masih saja muncrat dengan deras dalam mulut Iwan. Setiap tetes peju itu dengan penuh perasaan ditampung dalam mulut Iwan dan sebagian langsung ditelan dengan penuh nikmat oleh Iwan. Sementara mulutnya sibuk menghisap kontol Johan, jari telunjuk kanannya tetap sibuk menekan-nekan prostat Johan, sehingga makin lengkaplah puncak kenikmatan yang dirasakan Johan.
Sementara Iwan sedang sibuk mengulum dan menghisap penis Johan, serta menelan peju segar itu, mulut Tomi sudah pindah pada mulut Johan. Mereka sudah kembali asik berciuman dengan penuh gairah. Tetapi ciuman itu lebih panas lagi, karena saat dua bibir mereka menyatu, Tomi sempat memberikan sebagian peju Johan yang belum ditelannya. Tomi sengaja menyisakan sedikit peju Johan untuk diberikan kepada Johan, agar Johan dapat menikmati kesegaran rasa pejunya sendiri. Dan dengan penuh nikmat pula, Johan menghisap pejunya sendiri dari dalam mulut Tomi. Sambil menghisap lidah Tomi, pejunya juga turut terhisap. Sambil menikmati pejunya, Johan masih terus merasakan kenikmatan orgasmenya yang belum selesai, sejalan dengan terus terjadinya ejakulasi sperma pada penisnya yang sedang dihisap oleh Iwan.
Setelah pejunya habis dihisapnya dari mulut Tomi, giliran Iwan menyodorkan mulutnya yang berisi sisa peju Johan yang sengaja disisakannya untuk Johan. Dengan cepat, mulut Johan pindah mengulum dan menghisap lidah Iwan, yang otomatis terhisap pula pejunya sendiri yang ada dalam mulut itu. Kesegaran pejunya kembali terasa, ketika mulutnya menghisap kuat lidah Iwan.
Bersambung . . . .