Malam itu, Bapak membawa mangsa lagi, yah syarat yang ketiga, laki-laki yang harus kusodomi. Kang Maman, penjual es yang tinggal beberapa rumah dari rumah kami. Laki-laki tersebut diajak Bapak minum dan takut pulang karena bininya bisa marah besar melihatnya dalam keadaan begitu.
Karena badannya merasa panas akibat alkohol, Kang Maman hanya memakai kolor saja berbaring di lantai, saat aku datang dan melihatnya, gairahku muncul dan meremas-remas kontolnya yang besar dan panjang di atas rata-rata tersebut. Kang Maman tersenyum melihat kelakuanku..
"Teruskan Jok", ucapnya sambil tersenyum, saat aku merogoh lobang pantatnya, akhh.. Sudah lebar dan aku mengurungkan niatku, untuk syarat yang lainnya ucapku pelan. Aku tidak ingin nyawaku melayang dan menjadi budak setan, padahal aku belum menikmati hasil pemujaan setan tersebut dengan menyodomi laki-laki yang sudah tidak perawan lagi.
Korban berikutnya, si Doni, anak Bu Ijah yang masih sekolah SMP tersebut, dengan mudah aku sodomi buritnya yang masih perawan.
"Enakk.. Enakk.. Enakk", desahku.
Kalau tidak karena syarat yang diajukan setan bulu tersebut, aku ingin menyodomi si Doni ini beberapa kali, sayang sekali yah, pantat si doni sedang kenyal-kenyalnya, wah, siall. Aku hanya bisa sodomi sekali untuk satu laki-laki yang masih perawan buritnya dan itu juga terbatas hanya sampai dua kali memuntahkan air mani, itu dilakukan untuk 7 orang laki-laki, syarat pertama.
Mencari korban ternyata susah-susah gampang, 4 orang korban yang harus aku dapatkan, dan dengan bantuan Mak Muna aku bisa mendapatkannya, mungkinkah? Bapak terus membantuku mencari korban selanjutnya, dan dengan alasan tertentu Bapak menceritakan kepada Mak Munah yang sekaligus kekasih Bapak yang seorang tukang pijat di lokasi tersebut.
Mak Munah menyerahkan kepadaku laki-laki yang bertubuh besar untuk kupijitkan, tentu saja ada yang setuju dan ada yang tidak, alasan Mak Munah jari-jarinya tidak akan terasa kalo dia yang memijit badan laki-laki tersebut. Seperti malam itu, Bang Tony bersedia aku pijit punggungnya saja, setelah itu dia minta Mak Munah untuk memijit tubuh yang lainnya.
Badan Bang Tony memang besar, padat dan berisi, dengan otot yang tidak begitu kencang. Jari-jariku mulai bermain memijit-mijit punggungnya, perlahan aku singkap handuk yang menutupi pantatnya, akhh.. aku tergiur melihat pantatnya yang putih, mulus tersebut dan dengan perlahan kubuka celana pendekku dan menaiki tubuhnya yang besar, laki-laki tersebut meronta awalnya namun kupaksa untuk menghunjam buritnya dengan kontolku, dan dia tak berkutik lagi, hingga aku memulai permainanku, menekan pantatku agar batang kontolku lebih masuk lebih dalam lagi ke lobang pantatnya, pipi, leher, punggung Bang Tony aku jilati, bibirnya aku lumat, kunikmati, kucumbu dengan sepuasnya, kumisnya yang tebal aku jilati hingga basah, sambil terus memutar-mutar pantatku, menggerak-gerakan ke atas dan ke bawah, menyodok lobang pantatnya dengan batang kontolku yang keras, yah semakin keras nampaknya dari biasanya.
"Croott.. Croott.. Croott..", air mani pertamaku keluar dan aku melanjutkannya lagi untuk mengeluarkan cairan maniku untuk kedua kalinya.
Bapak mengajak ngobrol Mak Munah, sehingga perempuan tersebut tidak begitu mengkhawatirkan pasiennya.
Puas.. Puass.. Dengan tubuh berkeringat, korban ke empat telah aku dapatkan.
Pagi itu aku tidak menarik becak, Bapak yang mengambil alih karena akan mengantar Mak Munah ke pasar, sengaja aku bangun siang, tapi jam sembilan saja sudah sangat panas di dalam rumah, membuatku terbangun, membuka jendela dan.. Dan aku terpana yah, tepatnya bernafsu melihat Adi, anak Kang Maman yang sedang bermain, anak kecil berusia 4 tahun aku rasa, hitam manis, akhh.. Aku bernafsu pagi ini melihat anak tersebut dan memanggilnya. Dengan santainya anak tersebut menghamiriku..
"Apa Oom?", tanyanya dengan suara yang belum fasih betul.
"Sini, Oom, kasih permen", ucapku dan langsung menangkap Adi dari jendela dan memasukannya ke dalam rumah, menutup jendela dan menguncinya lagi.
Adi aku peluk dalam pangkuanku, memberinya permen lolipop. Anak tersebut menikmatinya, dan tidak susah bagiku untuk menyodomi lobang pantatnya. Celana pendeknya aku singkapkan sampai ke pangkal paha sementara aku sudah mengeluarkan kontolku dari belahan samping celana pendekku. Adi hanya diam saat batang kontolku masuk ke dalam lobang pantatnya yang menjadi koyak karena kontolku, aku mengayun-ayunkan tubuhnya ke atas dan ke bawah, anak tersebut menjadi senang dan tertawa, akhh.. enaknya, aku menikmatinya, hingga lama kemudian air maniku menyemprot ke dalam lobang pantatnya. Untuk kenikmatanku yang kedua, aku minta Adi mengisap batang totongku bergantian dengan isapan permennya.
"Ini, permen, manis lho, coba deh", ucapku meyakinkan, menyodorkan batang kontolku ke depannya. Anak tersebut tertawa dengan mulut lebar dan giginya yang belum lengkap tersebut, dan berselingan dengan mengisap permen, kontolku pun dia isap-isap sampai menembak ke dalam mulutnya.
"Acin, acinn, Oom", ucapnya.
Aku tersenyum, tertawa pelan, akhh.. Lama juga aku membekap Adi, ternyata Bini Kang Maman sudah sejak tadi mencari anaknya tersebut, akhh.. Syukur tidak ketahuan ucapku pelan.
"Ma, Ma.. Adi di kasih permen dengan Oom Oko, maksudnya Oom Joko"
Akhh.. Mudah-mudahan tidak ketahuan bahwa aku memberi Adi 'permen' kontolku, akhh.. Sangat beresiko sekalii.
Korban yang lainnya, aku dapatkan dari tempat pijitan Mak Munah lagi, ada perubahan dalam diriku, akhh.. kontolku semakin panjang dan besar saja nampaknya dari ukuran semula, aku bisa melihat perubahan ini, yah.. Yah, bertambah panjang dan besar, apa karena menyodomi si Adi yah, makanya kontolku menjadi berubah begini.
Sasaran berikutnya dan terakhir untuk syarat pertama, Dodi adiknya Doni, remaja yang baru SMP tersebut yang pernah aku sodomi. Dodi masih SD, aku mengajaknya untuk mampir ke rumah saat dia baru pulang sekolah, dan anak tersebut menerima undanganku dengan alasan minum Jus. Aku membelikannya Jus Jeruk, yah, anak tersebut nampaknya senang menerimanya. Aku menyarankan agar dia membuka baju sekolahnya agar tidak kotor, Dodi setuju dan melakukannya.
"Celananya juga dong, khan kasihan Mama nanti nyucinya susah", ucapku.
"Ah, malu Om, Dodi tidak pake kolor"
"Akh.. Om saja tidak malu", ucapku membuka celana pendekku, hingga telanjang bulat di hadapan Dodi.
Anak tersebut tertawa melihat kontolku yang panjang kewer.. Kewer, aku membuatnya semakin lucu dengan menggoyang-goyangkan tubuhku ke kanan dan ke kiri hingga batang kontolku mengikuti arah gerakanku, aku tersenyum dan ikut tertawa melihat anak tersebut.
"Ayo, masa Dodi malu", ucapku merayunya dan akhirnya Dodi membuka celananya.
Pantatnya yang kenyal, kencang membuat aku semakin bernafsu. Pantat Dodi kuremas, remas.. Akhh.. Padatnya. Tubuh anak tersebut aku tarik dan meletakkannya di atas pangkuanku, dan aku mulai bereaksi, menyodomi pantatnya dengan pelan dan lembut agar anak tersebut tidak kesakitan, mengajaknya cerita tentang sekolah dan lain-lainnya.
Aku menghempas-hempaskan tubuhnya ke atas dan ke bawah dengan begitu kontolku masuk dan keluar, sehingga aku menikmatinya, karena kegelian yang amat sangat, maniku belum juga mau keluar. Aku membaringkan tubuh Dodi dengan menyerong ke samping, dan dari arah belakangnya aku terus menyodok-nyodok buritnya yang memang betul-betul sempit dan sekal.. Enak.. Enak.., akhirnya.. Aku membenamkan air maniku ke dalam lobang pantat Dodi.. Anak tersebut hanya diam, kalem, menikmati sedotan Jus Jeruk yang aku berikan.
Tubuh Dodi kembali aku tarik dan Kami duduk bersebelahan, aku merapatkan badanku ke tubuhnya.
"Eh, Oom punya permen"
"Bagi dong", ucap Dodi polos.
"Ini..", ucapku yang lagi meremas-remas kontol.
"Akh, Oom bohong"
"Lha.. Kok bohong", ucapku.
"Itu bukan permen, tapi burung, Dodi juga ada", ucap Anak tersebut dengan polos dan santainya.
"Tidak, salah itu, ini permen, kalo Dodi Isap, jadi manis", ucapku meyakinkan anak kecil tersebut.
Dodi menatapku dan seperti isyarat bahwa dia tidak mengerti aku pun menganggukan kepala.
"Coba deh, kalo Om bohong nanti Dodi Om kasih 10.000 deh"
Anak tersebut menjadi penasaran atau karena uang dan mau mencoba rasa kontolku.
"Akhh, asinn", ucapnya lagi.
"Om bohong, mana 10 ribunya", tagihnya padaku.
"Tidak, Om tidak bohong, nanti akan keluar manisnya setelah cairan putih"
"Ahh, tidak, bohong.. Bohong, Dodi mau 10.000-nya", tagih anak itu lagi.
Aku mengambil uang 10000 ribu dan meletakkannya ke lantai, sedikit jauh dari tempatnya.
"Nih, uang 10.000 ribunya, tapi Om tidak bohong, kalo Oom benar uang itu jadi milik Oom lagi", ucapku.

Bersambung . . . . . .