Sehari setelah acara di pantai itulah Bahar datang memenuhi janjinya untuk menetap bersamaku di rumah pondokan. Rumah pondokan ini kukontrak selama setahun. Letaknya di bukit tidak jauh dari pelabuhan. Dari atas sini pemandangan pantai dan laut terlihat lebih indah. Aku dan Bahar sering duduk berdua di beranda menikmati pemandangan itu, apalagi pada sore hari sepulang kerja. Senang rasanya dapat teman serumah.
Bahar memang orang yang baik. Dia sangat membantu sekali. Pekerjaan rumah apapun kami lakukan bersama-sama atau bergantian. Dari membersihkan rumah, mengisi air tawar untuk kamar mandi, mencuci pakaian bahkan memasak. Tentunya kami melakukan semua itu dengan kualitas sebatas yang dapat dilakukan oleh laki-laki pada umumnya.
Pokoknya dia sudah kuanggap sebagai saudaraku saja. Atau mungkin lebih dari itu? Sebagai sepasang kekasih? Aku memang tidak pernah memperlakukan Bahar sebagai orang yang kupekerjakan, meskipun status dia memang membantuku selama ekspedisi ini, sebagai fasilitator, merangkap asisten, merangkap pemandu dan merangkap kekasih.
Tidak setiap hari kami dapat bertemu. Karena jadwal kami yang kadang-kadang berbeda. Aku memang memberi keleluasaan padanya untuk tetap bekerja di luar secara freelance. Karena kegiatanku sendiri tidak selalu memerlukan bantuannya. Rata-rata dalam seminggu kami dapat bertemu di rumah tiga atau empat hari.
Hari-hari itulah biasanya kami habiskan dengan berbagai kegiatan bersama, belanja, nongkrong di teras menikmati pemandangan laut di bawah sana, dan tentu saja kami selalu menyempatkan diri untuk bermain cinta. Di mana saja. Kadang di ruang tamu, di kamar mandi, di gudang, bahkan pernah di balik semak-semak di halaman belakang.
Sore itu aku pulang agak cepat tapi tidak sempat mampir ke pasar ikan, karena sudah kesiangan. Sudah dua hari ini Bahar tidak pulang ke rumah. Dia sedang mendapat order mengantar kapal ke pulau lain. Rencananya besok dia baru kembali.
Sesampai di depan rumah aku agak tertegun karena lampu di ruang tamu sudah menyala. Tampaknya Bahar sudah datang. Di atas meja beranda kulihat segelas minuman kesukaannya yang tinggal setengah. Mungkin dia habis duduk-duduk santai di situ. Aku langsung masuk ke dalam dan memanggil namanya. Tidak ada sahutan. Aku lalu ke belakang dan menjumpai dia sedang di kamar mandi. Telanjang bulat.
"Hei Mas Har! Baru datang..?" teriaknya sambil menggosoki tubuhnya dengan sabun.
"Katanya baru besok Abang mau pulang..?" kataku menanyakan sambil mendekat dan bersandar di kusen pintu kamar mandi.
Senang rasanya memandangi tubuh telanjangnya yang basah dan penuh dengan busa sabun.
"Kenapa? Nggak suka aku pulang lebih awal?" sahutnya sambil tertawa.
"Bukan begitu. Aku sih suka-suka aja. Surprise gitu."
"Ayo gabung..!" ajaknya sambil merentangkan kedua tangannya yang berlumuran busa sabun.
"Sebentar dong..!" jawabku sambil memberi kode bahwa bajuku harus dilepas dulu.
Aku lalu ke dalam sebentar, melepas pakaian dan kemudian dengan bertelanjang bulat langsung menuju kamar mandi bergabung dengannya. Kami langsung berciuman karena dua hari tidak jumpa. Diguyurkannya air ke tubuhku sampai merata. Segar rasanya. Bahar lalu memandikan aku seperti anak kecil. Kemudian gantian aku yang memandikan dia. Menyabuni dan menggosok seluruh tubuhnya.
Ketika aku tengah sibuk menyabuni bahunya, tangan Bahar mulai memegang-megang daerah perut dan dadaku.
"Hhmm..," ujarnya sambil bergumam mengagumi tubuhku.
Aku tidak menggubris komentarnya. Tanganku terus saja sibuk memandikannya.
"Tegap, proporsional, bulunya nggak terlalu lebat seperti punyaku," komentarnya.
Dia memang sering bilang bahwa badannya besar seperti kuli. Padahal di mataku tubuh Bahar yang kekar dan penuh bulu itu sangat sexy. Aku sendiri memang punya tubuh yang cukup besar tapi bulu tubuhku hanya tumbuh di sekitar perut dan pusar ke bawah. Sedangkan bulu dadaku tidak selebat miliknya.
Tiba-tiba kurasakan tangannya mulai merayap ke selangkanganku dan menyabuni daerah itu. Mulai nih, pikirku. Semula aku diam saja melihat kelakuannya itu. Tapi makin lama gerakan tangannya makin usil dan nakal. Beberapa kali aku berusaha menyingkirkan tangannya dari daerah itu. Tapi bukan Bahar namanya kalau langsung menyerah. Biasanya semakin dilarang malah semakin tertantang.
Bandel juga nih orang.., umpatku dalam hati. Tanganku yang sedari tadi sibuk menggosok bagian atas tubuhnya, segera kualihkan ke arah pangkal pahanya, membalas. Langsung kuremaskan busa sabun di tanganku ke otot pejalnya yang sudah mulai membesar itu. Kuremas dan terus kuremas. Ia pura-pura meringis kesakitan. Aku tidak perduli.
"Pelan dong Mas..!" rengeknya manja.
"Siapa yang mulai..?" sahutku pura-pura kesal sambil kulakukan remasan yang agak kuat di kantung kemaluannya yang tebal dan mengeras itu. Ia mengerang. Keenakan.
"Ya udah, di situ saja.." rengeknya.
Banyak maunya nih orang, pikirku. Tapi kuturuti juga kemauannya.
Kini kedua bola kecilnya gantian kupijit-pijit dan kugelitik dengan kelima jari tanganku. Daerah itu penuh dengan bulu keriting yang agak kasar, tapi busa sabun yang licin memperlancar tanganku untuk melakukan gerakan-gerakan nakal dengan lebih leluasa. Dan Bahar kini mulai mendesis-desis.
Matanya memerah sayu menatapku. Genggaman tangannya pada batang kemaluanku sudah agak mengendur. Tampaknya ia lebih berkonsentrasi menikmati rangsangan yang tengah kulakukan. Kedua tangannya kini mulai memegangi kedua bahuku. Sedangkan kedua pahanya beberapa kali sempat meregang-regang, entah karena kegelian atau karena ingin memberi keleluasaan padaku untuk berbuat lebih jauh, atau barangkali karena kedua-duanya.
Kuulurkan jari-jariku menuju daerah di bawah kantung zakarnya. Di sana kutemukan sebuah celah yang terjepit di antara lipatan pangkal paha dan pantatnya. Wilayah itu juga penuh dengan bulu, tapi tidak sebanyak dan sekasar di daerah buah zakarnya. Kucoba menelusuri lipatan yang kutemukan dengan jari-jariku.
"Pake jari tengah, Mas..!" tiba-tiba Bahar mendesah.
Good idea! Ia menuntunku untuk melakukan rangsangan di bagian tubuhnya yang memang jarang 'kukunjungi' itu. Bahar tampaknya menyenangi permainan yang kulakukan. Berkali-kali matanya terpejam untuk kemudian terbuka lagi tapi dengan pandangan yang sayu dan meminta.
Tangannya yang semula masih bertenger di bahuku, kini mulai merosot ke bawah. Mengurut bongkahan dadaku, menelusur ke perut, ke pusarku, menggelitik sebentar di bagian bawah yang penuh bulu dan lalu bertenger di pangkal kemaluanku yang sudah menegang tegak. Ia mulai mengurut dan memijit-mijit di sana, tanpa busa sabun, tapi justru lebih terasa gesekannya.
Akhirnya acara mandi itu menjadi acara yang lebih seru. Suara napas kami saling beradu menggema di dinding kamar mandi. Tidak ada lagi suara lain. Hening tapi hikmat. Hikmat tapi nikmat. Kenikmatan yang sudah dua hari ini tertunda.
Kami masih saling meremas dan melakukan gerakan memijat dan mengurut. Batang kemaluanku yang gede itu terasa menghangat dalam genggaman tangannya. Gerakan tangannya sengaja dilakukan secara bervariasi. Dari mengocok, meremas, memijit kemudian mengocok lagi dengan gerakan kadang lembut kadang kuat.
Sementara ujung jari tengahku yang sudah mulai jauh bergerak kadang-kadang kuselingi dengan meremas kedua bulatan di selangkangannya yang penuh bulu itu, lalu menelusup kembali masuk ke sela-sela belahan pantatnya dan kembali bermain-main di situ. Mulutnya terus mendesis-desis menikmati permainanku. Napasku pun mulai memburu merasakan gerakan tangan dia yang liar tapi berirama.
Dia kini tidak hanya mengerjai milikku yang sudah sangat tegang itu. Tangannya yang satu lagi mulai merayap ke dadaku dan mempermainkan puting susuku, kali ini dengan menggunakan air sabun. Jari-jarinya kadang memilin, meremas dan sesekali mencubit putingku, sehingga membuatku menggelinjang kegelian.
Selama ini bila sedang bermain seks, kami memang paling senang saling mempermainkan puting susu. Entah dengan dihisap atau dipilin-pilin dengan ujung jari. Bila Bahar sudah menghisap puting susuku, ia seperti tak mau lepas. Seperti anak kecil sedang menetek karena kehausan. Aku sendiri senang diperlakukan seperti itu. Adegan di kamar mandi ini pun mulai memasuki tahap hisap-menghisap.
Sebelumnya Bahar membasuhkan air ke tubuhku sehingga bersih dari busa sabun. Lalu masih dalam posisi berdiri, ia mulai memeluk dan menghisap putingku. Lumat dan ganas. Aku sampai agak kewalahan. Sementara jari tanganku di bawah terus beraksi menusuk-nusuk celah pantatnya yang terasa mulai licin. Kadang-kadang Bahar mengerutkan otot-otot yang ada di celah itu sehingga membuat jari tengahku terjebak di sana. Bila sudah begitu, aku hanya dapat melakukan gerakan mengulir-ulir saja.
Permainan ini akhirnya kami selesaikan karena kami sama-sama tidak kuat lagi menahan puncak rangsangan yang ada. Bahar mulai mendekap tubuhku kuat-kuat. Kami lalu saling berpelukan, saling menggeser dan mendesak-desakkan kemaluan kami sampai akhirnya cairan sperma saling muncrat dan meleleh di sekitar perut dan selangkangan kami berdua.
"Oohh..!" hampir bersamaan Bahar dan aku mendesah kepuasan sambil terus mempererat pelukan.
Untuk beberapa saat kami terus berdekapan sambil berciuman. Ah..! Nikmat sekali rasanya mandi seperti ini.
"Makanya, kalau aku pulang lebih cepat jangan curiga dulu dong," katanya sambil menciumi pipiku.
"Siapa yang curiga?" balasku masih terengah-engah.
"Tadi..," sahutnya.
"Lho, aku kan cuma surprise aja. Habis tau-tau Abang udah di kamar mandi. Kirain lagi mandi basah," candaku.
"Tadi aku iseng-iseng memancing Mas, siapa tahu mau mandi bareng. Soalnya udah kangen banget..," katanya menjelaskan sambil tangannya bergerak ke arah bak mandi. "Nah, kalau sekarang baru mandi basah."
Tiba-tiba Bahar sudah mengambil gayung dan menyiramkan air ke sekujur tubuhku. Aku sempat gelagapan dan berteriak-teriak. Bahar tertawa keras-keras. Akhirnya kami saling mengguyurkan air ke tubuh masing-masing. Mandi bersama. Kali ini benar-benar mandi. Tidak pakai acara remas-remasan.
Demikianlah, sampai saat ini sudah ada sekitar tiga bulan aku tinggal bersama Bahar. Tentu saja hubungan kami menjadi semakin dekat. Memang kadang-kadang ada ribut-ribut kecil dengan dia, tapi lebih banyak menyangkut perasaan kami saja dan biasanya dapat kami selesaikan dengan baik. Bahkan tidak jarang keributan kami berujung dengan kemesraan di atas ranjang. Kegiatan survey-ku di daerah Sangir masih memerlukan waktu yang cukup lama. Berarti aku juga masih punya banyak waktu untuk menikmati itu semua bersama Bahar.
Tamat