Dengan cepat dia menemukan arah sumber suara lirih itu, yang ternyata berasal dari sudut kamar mandi yang paling ujung. Tempat itu memang tertutup oleh deretan panjang lemari baju sehingga tidak sempat diamatinya tadi. Apalagi, terdapat deretan bilik kamar mandi yang menyekat posisi sudut yang agak remang-remang karena tidak kebagian sinar matahari yang menembus melalui jendela di atas bilik kamar mandi. Sambil berjingkat, Johan berlahan mengendap menuju sudut ruang ganti itu. Semakin dekat, suara-suara itu makin jelas nadanya.

Ternyata suara itu berupa desahan dan erangan-erangan bernada erotis! Nada itu membuatnya semakin penasaran, dan jantungnya berdegup keras. Setelah berada di balik lemari yang menutupi sudut itu, Johan menjadi semakin yakin bahwa desahan itu ternyata berasal dari mulut dua cowok! Melalui celah lemari tersebut, Johan pun mengintip untuk mengetahui siapa yang sebenarnya sedang mendesah-desah itu.

Astaga! Ternyata dua cowok itu adalah Iwan dan Tomi! Dua cowok idola Johan itu ternyata sedang berdiri saling berhadapan dengan sangat rapat. Sementara mulut mereka sedang asik saling berciuman dengan sangat panas, sementara tangan mereka masing-masing sedang saling meremas dan mengocok penis mitranya. Wah.. pandangan itu tentu saja membuat Johan kaget bukan main. Matanya membelalak, dan mulutnya nyaris menjerit karena kaget. Untungnya Johan dapat mengendalikan dirinya, sehingga tidak melepas jeritan itu. Jantung Johan berdegup makin cepat dan keras, menyaksikan pemandangan erotis yang belum pernah dilihatnya, tetapi hanya ada dalam khayalannya. Ternyata khayalan Johan selama ini tidaklah salah. Dua cowok idolanya itu ternyata juga cowok gay, seperti dirinya. Bahkan kenyataannya justru jauh melebihi khayalannya selama ini, sebab, dua cowok gay itu ternyata sudah saling mencumbu!

Menyaksikan pandangan itu, sejenak terbersit rasa cemburu yang membakar hati Johan. Maklum, Johan cemburu karena tidak dapat turut merasakan kenikmatan seks yang tengah diamatinya dengan matanya yang terus membelalak itu. Johan semakin gemas dan kesal, ketika telinganya mendengar erangan-erangan erotis dari bibir Iwan yang sedang dihisap dengan penuh nafsu oleh Tommy.

"Oh.. yeah.. aukh, nikmat sekali pijitan tanganmu Tom" desah Iwan ketika merasakan jemari tangan Tomi yang sedang memijit dan meremas penisnya yang sudah ngaceng total itu. Desahan itu makin keras dan penuh gairah, ketika Tomi mulai mengocok dengan pelan penis itu.
"Ah.. Wan.. uh, kontolmu sungguh kenyal dan keras, menggairahkan sekali" gumam Tomi yang sibuk menjilati leher dan dada Iwan.

Menyaksikan pandangan yang menggairahkan itu, membuat Johan makin penasaran dan keasikan sendiri. Rasa cemburu tadi sudah hilang, digantikan oleh perasaan nafsu yang membara. Kontol Johan mulai ngaceng meminta perhatian dirinya. Kontol itu terasa sesak berada dalam sekapan celana renangnya ketat itu dan meronta ingin lepas dan bebas darinya. Tangan kanan Johan pun segera menurunkan celana renang itu hingga sebatas paha, sehingga kontolnya kini sudah berdiri dengan gagah bebas dari sekapan celana renangnya. Itu memudahkan tangan kanan Johan untuk mulai mengocok kontolnya sendiri.

Tetapi, ketika sedang asik menyaksikan pemandangan itu sambil mengocok penisnya, tiba-tiba Johan terkejut oleh jeritan lirih dan erotis dari mulut Iwan. Rupanya, Iwan terpaksa menjerit erotis karena bibir dan lidah Tomi semakin nakal menjilati puting buah dadanya, serta kemudian mengisap dengan ganas buah dadanya kiri kanan secara bergantian. Jilatan dan hisapan itu membuat tubuh Iwan menggelinjang dan meliuk-liuk menahan kenikmatan yang sedang mengaliri sekujur tubuhnya. Jeritan-jeritan lirih dari mulut Iwan kemudian mulai reda diganti oleh desahan nafas dan mulutnya yang terdengar sangat jelas. Perubahan itu terjadi ketika mulut Tomi tidak lagi menjilati dan mengulum buah dadanya, karena mulut itu ternyata sudah bergerak turun ke arah perut dan terus ke bawah hingga sampai ke selangkangan Iwan, di mana pada selangkangan itu terdapat sebatang penis 16 Cm yang sudah ereksi dengan sangat keras dan ujungnya mulai dibasahi oleh pre cum yang bening dan kental.

Dengan penuh perasaan, Tomi mulai menjulurkan lidahnya, dan kemudian segera menjilati ujung penis Iwan untuk mencicipi cairan bening yang meleleh dari lubang penis itu. Ketika ujung lidah Tomi menyentuh kepala penis itu, Iwan langsung mengerang keenakan penuh nada erotis. Sentuhan lidah Tomi dengan kepala penisnya yang besar itu mengalirkan sejuta kenikmatan pada dirinya. Tak lama kemudian, Iwan makin keras mengerang dan mendesah ketika mulut Tomi sudah mengulum tigaperempat bagian batang penisnya. Dan kuluman itu sempat membuat Johan kaget lagi, karena ia melihat Tomi tampak sangat ahli dan seperti sudah berpengalaman menghisap dan mengulum penis. Betapa tidak, dengan lincah, mulut Tomi bergerak maju mundur dengan irama yang konstan sehingga penis Iwan tampak keluar masuk mulutnya dengan lancar. Sembari bergerak maju mundur, tampak mulut itu juga menghisap-hisap penis Iwan. Sementara tangan kanannya bergerak mengocok sisa batang penis Iwan yang tak tertampung dalam rongga mulutnya.

Sedangkan tangan kirinya sekali sekali meremas-remas pantat Iwan yang putih montok, dan sesekali meremas dua buah zakar Iwan yang menggelantung ranum di pangkal penisnya. Semua adegan seks yang sangat erotis dan menggairahkan tak lepas dari pengamatan mata Johan. Ia tampak sangat menikmati pertunjukan seks gratis itu dengan penuh perasaan. Sekitar lima menit Johan mengintip adegan panas itu, hingga ia merasa benar-benar tak dapat lagi mengendalikan dirinya. Mulutnya pun mulai ikut mendesah-desah dengan nada erotis, menikmati kocokan tangannya sendiri pada penisnya yang juga sudah mulai basah pada ujungnya. Johan semakin bernafsu ketika ia mendengar desahan dan rintihan penuh nikmat dari mulut Iwan yang sedang dimabuk kenikmatan birahi itu. Badan Iwan yang ramping dan seksi tampak meliuk-liuk erotis mengimbangi kenikmatan yang menjalari tubuhnya.

"Oh.. akh.. yeah.. hes.. aahh.. Tom, mulutmu sungguh hangat.. akh.. teruskan Tom, teruskan, akh.. rasanya aku hampir keluar, akh nikmat sekali Tom" desah Iwan tiada hentinya.

Dan desahan Iwan itu bukannya dibalas oleh Tomi yang sedang sibuk mengulum kontol jantan itu. Tetapi justru dibalas oleh desahan dan erangan dari mulut Johan yang sedang mengintip. Dan akibatnya memang fatal. Johan terlalu jauh menikmati adegan itu, sehingga dia tidak sadar desahannya juga maki keras, sehingga terdengar oleh Iwan maupun Tomi yang sedang asik dengan adegan seks mereka. Begitu mendengar suara orang lain di ruang ganti itu, dengan cepat Iwan dan Tomi segera menghentikan aksi seks mereka. Dengan reflek pula, mereka segera sibuk menaikkan kembali celana renang mereka masing-masing yang sebelumnya sempat diturunkan hingga sebatas lutut. Sementara Johan juga tak kalah sibuknya, begitu menyadari kehadirannya telah diketahui dua sobatnya itu, Johan pun segera menghentikan kegiatan onaninya, dan segera memasukkan kembali penisnya yang masih ngaceng itu ke dalam celana renang mininya, sehingga tampak bagian kepala penisnya yang merah segar itu menyembul dari celana renangnya.

Setelah merapikan posisi penis mereka yang masih setengah ngaceng dalam celana renang, mereka pun segera bergerak mencari asal suara desahan orang ketiga dalam ruangan itu. Maka giliran Tomi dan Iwan yang terkejut bukan main, ketika mendapati bahwa orang ketiga itu adalah sahabat mereka sendiri, Johan. Mulut mereka ternganga lebar dan wajah mereka pun pucat pasi seperti melihat hantu di siang bolong. Mereka bertiga pun sempat berdiri mematung dengan posisi saling berhadapan dan sama-sama tidak tahu harus bicara apa. Untungnya, Johan yang lebih dulu bisa menguasai diri, segera memecah kebekuan suasana.

"Nah! Haa! Kalian sedang ngapain aja dari tadi di sini?" tanya Johan sembari senyum-senyum jahil.
"Eng.. gak, gak ada apa-apa kok. Kami.. kami kan sedang ganti pakaian" jawab Iwan tergagap.
"I.. iya.. Jo, gak ngapa-ngapain kok" timpal Tomi cepat berusaha meyakinkan Johan yang masih tetap tersenyum-senyum nakal.
"Akh.. udah deh kalian gak usah nutup-nutupi. Aku lihat sendiri kok semuanya. Apa yang kalian lakukan barusan.." Belum sempat Johan menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Iwan memotongnya,
"Bener Jo, sumpah aku dan Tomi gak ada apa-apa."
"Ah kalian ini sudah ketangkap basah lagi asik oral seks masih juga gak ngaku. Aku lihat sendiri, kamu sedang sibuk menghisap kontol."

Lagi-lagi Johan belum selesai dengan kalimatnya, tiba-tiba pintu ruang ganti terbuka dengan keras, dan langsung terdengar suara galak pelatih renang.

"Hoi kalian bertiga sedang apa disitu? Kalian sudah terlambat 20 menit masih saja asik ngobrol! Cepat ke kolam renang!" seru pelatih dengan galaknya.

Tak ayal, ketiga ABG gay itu pun tidak berani membantah. Untuk sementara, mereka melupakan masalah di antara mereka, dan segera berlari menuju kolam renang. Tetapi, gara-gara keterlambatan itu, mereka pun harus menerima ganjaran berupa hukuman renang tambahan 10 kali bolak-balik sepanjang kolam renang. Dan hukuman itu harus mereka lakukan setelah pelajaran renang itu usai.

Tak terasa, sudah hampir dua jam mereka mengikuti latihan renang, dan tepat pukul 17:00 latihan itu pun usai saat pelatih meniupkan peluit panjang dan memerintahkan semua peserta untuk naik dan berganti pakaian. "Kalian bertiga tetap di kolam, dan segera laksanakan hukuman kalian" perintah pelatih tetap dengan nada galak, sembari menunjuk Johan, Tomi, dan Iwan.

Sementara semua teman mereka sedang berganti pakaian, tiga ABG gay itu pun masih sibuk berkutat menyelesaikan hukuman mereka, dengan diawasi oleh seorang teman cewek mereka yang kebetulan tidak dapat mengikuti latihan karena sedang menstruasi. Begitu, putaran kesepuluh mereka selesaikan, dengan cepat Iwan dan Tomi mendekati Johan.

"Jo, kamu harus janji pada kami ya" ujar Iwan dengan nafas terengah-engah karena kelelahan.
"Janji apaan?" tanya Johan dengan wajah kebingungan.
"Iya, kamu harus berjanji merahasiakan dan tidak menceritakan ke orang lain apa yang kamu lihat tadi" sahut Tomi dengan cepat, juga dengan nafas terengah-engah.

Bersambung . . . . .