Cesco sekarang berada beberapa meter dari sosok yang masih menikmati pemandangan danau itu. Sosok itu mengenakan sweater cukup tebal (karena cuaca yang dingin), celana jeans dan kepala yang tertutup topi wol. Cesco tidak tertarik padanya, cowok gagah itu hanya menikmati pemandangan danau di hadapannya, dan berharap sosok itu segera pergi agar dia dapat segera duduk di bangku tersebut.
Sosok itu akhirnya berdiri dan berbalik ke arah Cesco. Tampaknya ingin kembali. Dan bagai tersengat halilintar, Cesco terpaku di tempatnya tatkala matanya bersirobok dengan mata biru bening milik cowok itu. Cowok tersebut juga tidak kalah kaget dan terpaku diam di tempatnya. Seluruh tubuh Cesco terasa tegang dan tenggorokannya terasa tercekik.
"Nicole! Kamu.. Nicole?!" tidak percaya seolah mimpi rasanya Cesco.
Yah, cowok tersebut memang Nicky. Nicky yang sore itu merasa kangen ingin bernostalgia ke taman tersebut, mengenang saat-saat indahnya dengan Cesco dulu. Saat duduk tadi dia iseng-iseng berdoa agar dipertemukan kembali dengan cowok gagah-nya. Tapi Nicky benar-benar tidak menyangka doanya terkabul secepat ini. Cesco benar-benar nyata berdiri di hadapannya. Sesaat mereka hanya saling terpana dan bengong.
"Cesco.." bisik Nicky tidak percaya.
Cesco berjalan mendekatinya, perlahan.. hingga akhirnya dekat sekali di hadapannya. Nicky mengangkat tangannya yang menggeletar dan meraba dada Cesco yang terbungkus jaket kulit hitam, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini nyata. Cesco sebenarnya ingin merenggut tubuh mungil itu dan menenggelamkan ke dalam pelukannya, tapi mendadak ada beberapa orang anak kecil yang mengerumuninya dan meminta tanda tangan. Mereka segera tersadar sedang berada di tempat umum.
"Hai.. apa kabar, Ces?" sapa Nicky gugup setelah anak-anak kecil itu berlalu. Suaranya terdengar asing dan kaku.
Cesco tidak menjawab, hanya mata tajamnya tidak berkedip menelusuri wajah manis Nicky dengan segenap perasaan rindu mendalam. Takjub.
"Nicole.. aku tak menyangka kita akan bertemu kembali. Di tempat yang penuh kenangan manis ini. Ternyata Tuhan mendengar doaku.." sahut Cesco penuh haru.
Tangannya digenggam erat di balik saku jaketnya, agar tidak lepas kendali untuk meraih tubuh bekas kekasihnya itu.
"Tuhan juga mendengar doaku.." balas Nicky sambil tersenyum.
Mereka saling berdiri kembali dalam diam. Langit sudah kelam, lampu-lampu taman bersinar indah.
"Kamu tinggal di kota ini kembali, Nicole?" tanya Cesco pelan. Suaranya terdengar basah.
"Aku.. yah, bisa dikatakan begitu.." sahut Nicky terbata.
"Dan kamu juga tidak jadi pindah ke Spanyol, Cesco. Why..?" Nicky balik bertanya.
"Aku tidak bisa meninggalkan kota ini. Entahlah, hatiku berat untuk pergi dari sini.." jawab Cesco perlahan. Mereka terdiam lagi.
"Nicole.. maukah kamu ikut denganku?" tanya Cesco kemudian.
"Kemana?"
"Ke suatu tempat yang pasti tak kan kamu lupa.."
"Baiklah."
Audi Cesco bergerak meninggalkan taman itu. Kali ini Cesco tidak sendiri, karena ada Nicky yang menemaninya. Yah, Nicole.. belahan jiwanya telah kembali.
Di dalam mobil mereka masih saling bersikap kaku. Nicky masih gugup dengan kehadiran Cesco yang tiba-tiba. Sementara Cesco merasa agak kecewa karena Nicky tampak begitu kaku, padahal hatinya ingin meledak karena dapat bertemu kembali dengan sosok yang digilainya itu. Nicky bengong saat Audi Cesco berhenti di depan apartemennya yang dulu. Dengan pandangan tidak mengerti dia menoleh pada Cesco. Cesco hanya tertawa manis.
"Ini apartemenmu kan, Nicole. Aku telah merawatnya dengan sangat baik setelah kau tinggalkan begitu saja. Barang-barangnya masih utuh tuh. Periksa aja," papar Cesco seraya keluar dari mobilnya.
"Kupikir sudah kamu jual.." kata Nicky seraya mengikuti langkah panjang Cesco memasuki gedung apartemen tersebut.
"Ini milikmu, Nicole. Aku tidak berhak menjualnya," sanggah Cesco sambil memicit angka 15 pada pada knop lift. Nicky terdiam.
"Lagipula terlalu banyak kenangan kita berdua dalam apartemen ini kan, Nicole.."
Dada Nicky berdebar keras. Ah, tentu saja. Cesco dan dirinya selalu bermesraan di sana. Menjalani kehidupan layaknya suami istri. Dan apartemennya adalah saksi cinta dan keseharian mereka. Memang tidak ada yang berubah di apartemennya. Semuanya tampak rapi dan bersih. Nicky jadi tersenyum sendiri, membayangkan tempat tinggalnya bersama Robert yang sekarang. Tiba-tiba dia merasa tidak ingin keluar lagi dari sini.
Nicky berbalik dan mendapatkan Cesco tengah berdiri menatapnya lekat dengan tatapan tajam menembus jantung kalbu. Jantung Nicky berdebar kencang. Tiba-tiba Cesco meraih tubuh itu dan menenggelamkannya ke dalam pelukannya. Hidungnya segera menghirup wangi tubuh Nicky yang fresh, wangi yang sangat disukainya dan telah lama dirindukannya karena kepergian cowok itu.
"Maafkan aku, Nicole.." bibir Cesco terbata, berusaha menetralisir hatinya yang penuh haru.
"Nicole, selama ini aku sangat menderita karena telah kehilangan dirimu. Aku tidak bisa memungkiri hatiku yang sangat mencintaimu lebih dari segalanya. Aku memang pengecut tidak mau jujur mengakui perasaanku. Maafkanlah aku.." perlahan Cesco mengungkapkan isi hatinya.
Nicole tidak dapat menyembunyikan perasaannya, matanya sudah basah oleh air mata. Yah dia pun menderita selama ini.
Cesco mengulum bibir merah Nicky. Perlahan. Menghisapnya dengan penuh perasaan. Lama. Menggigit lidah basah itu lembut. Nicky menikmatinya. Wangi tubuh khas Cesco yang mengelilinginya adalah keharuman maskulin yang sangat digilainya. Oh, sudah berapa lama dia tidak merasakan ini. Sangat lama. Dan dia hanya melakukannya bersama Cesco.
Ciuman Cesco semakin menggelora. Dia bagai kesetanan menciumi bibir Nicky, menyedot lidah kenyal dan harum itu kuat.. hingga Nicky agak kesakitan. Tapi dia membiarkan saja. Ciuman Cesco turun ke leher, menyedot setiap inci kulit halus dan bersih itu hingga berbekas merah. Nicky mendesah dan membiarkan Cesco bersikap sangat agresif terhadap tubuhnya.
Sambil terus menciumi, tangan Cesco menarik sweater Nicky ke atas. Sekejap sweater itu tercampak ke lantai. Bibir Cesco liar menelusuri setiap lekuk tubuh Nicky. Menghisap dan menjilati kedua puting merah jambu lembut itu dengan lihai, kemudian dengan nakalnya pindah pada ketiak Nicky yang telah tercukur licin, kanan dan kiri. Nicky memejamkan mata sambil meringis kegelian, karena dia memang sensitive pada ketiaknya.
Setelah menciumi dengan gerakan erotis pada bagian perut, kini Cesco meraih resleting celana Nicky dan membukanya. Ia berlutut dan melahap penis Nicky yang tegak. Nicky mengerang menikmati hisapan Cesco yang sangat berpengalaman itu pada penisnya.
Nicky yang telah bugil berdiri sambil kedua tangannya berpegangan pada pinggir meja dan sofa, mengimbangi sodokan kepala Cesco yang sangat bernafsu menghisap penisnya. Cesco terus menghisap dan menjilati penis Nicky, mengulum kepala penis hingga penisnya yang tadi putih bersih menjadi mengkilat dan merah, sementara tangan Cesco liar bergerak meremas kedua belah pantat Nicky yang padat berisi. Dua jarinya masuk menggali ke lubang anus Nicky yang agak sempit karena sudah setahun tidak pernah dimasuki penis Cesco.
Beberapa saat kemudian sperma kental milik Nicky melesat keluar dan tumpah ke mulut Cesco yang masih mengulum penisnya. Nicky merasa sangat puas. Cesco cepat berdiri, lalu membuka seluruh pakaiannya. Kini Nicky dapat menyaksikan tubuh gagah 'patung yunaninya' dalam keadaan bugil. Penisnya yang sangat besar tampak berdiri dengan gagahnya. Cesco meraih tubuh Nicky, lalu tangannya meraih pantat Nicky dan jarinya masuk kembali ke anus Nicky.
Cesco tampak ragu-ragu mau memasukkan penisnya ke anus yang sempit itu. Satu-satunya kendala dalam hubungan sex mereka adalah ukuran anus Nicky yang tidak sesuai untuk penis Cesco yang superbesar itu. Padahal Cesco baru puas kalo sudah analsex.
"Tidak apa-apa, Cesco. Masukkan saja.." pinta Nicky di tengah deru napasnya.
Perlahan Cesco memasukkan penisnya. Nicky meringis kesakitan. Cesco tidak sampai hati dan hanya memasukkan sedikit saja bagian penisnya ke dalam anus itu.
Mereka kemudian jatuh kelelahan ke lantai yang dihampari ambal tebal Nicky memandang Cesco bahagia. Cowok itu lekat memandang Nicky. Mengusap keringat yang menempel di wajah innocent itu dengan penuh cinta. Lalu puas mendaratkan dengan lembut bibirnya untuk mencium setiap inci wajah manis Nicky.
"Aku tidak bisa hidup tanpamu, Sayang," bisik Cesco lembut, sambil mengecup hidung Nicky.
Tubuh Nicky tenggelam dalam pelukan tubuhnya yang kekar dan sangat rapat. Nicky membelai punggung dan wajah Cesco yang sedang berada di atas tubuhnya itu, hingga Cesco terlelap di dada putih Nicky.
*****
Cesco terbangun dan kaget saat mendapatkan Nicky tidak ada di sisinya. Cepat dia bangkit dan berkeliaran dalam keadaan bugil mencari Nicky dengan bingung. Ternyata Nicky tengah berada di dapur, mengaduk kopi. Cesco menghembuskan napas lega.
"Mau kopi?" tanya Nicole dengan suara agak manja, persisi seperti yang dilakukannya dulu-dulu.. tatkala mereka masih bersama.
Cesco tertegun, ada binar di matanya. Cepat cowok handsome itu mengangguk. Dengan sigap Nicky mengambil mug kesayangan Cesco, menuangkan kopi ke dalamnya lalu memberikannya pada Cesco. Cesco meraih pinggang Nicky dan mendudukkan tubuh itu di pangkuannya. Nicky tertawa. Cesco meminum kopinya dengan bahagia.
"Nicole. Kenapa anusmu menjadi begitu sempit? Kamu tidak pernah berhubungan selama ini, ya?"
Nicole tersipu-sipu menggeleng.
"Ah, bahagianya aku memiliki dirimu yang begitu setia.." puji Cesco tulus seraya mencium tengkuk Nicky dengan sayang. Nicole menunduk.
Pagi itu Cesco dengan manja meminta Nicky memandikannya di bawah shower. Mereka pun saling memandikan. Tapi lagi-lagi Cesco yang berperan sebagai si agresif. Puas menikmati dan membelai seluruh tubuh Nicky di bawah guyuran shower, Cesco meminta Nicky untuk membiarkannya mengulang lagi memasukkan penisnya ke anus Nicky yang dulu sempat gagal.
Cesco menyabuni banyak-banyak lubang pantat itu, lalu mendorong penis besarnya ke dalam. Nicky menggigit bibir menahan sakit, meski Cesco melakukannya dengan hati-hati sekali. Lumayan berhasil, meski tidak seluruh penis Cesco sukses tenggelam ke dalam lubang tersebut. Cesco dengan lembut bertanya apa Nicky sudah merasa nyaman dan tidak sakit lagi. Nicky mengiyakan. Barulah Cesco mulai membuat gerakan mendorong dan turun naik, dibantu Nicky yang juga mendorong pantatnya ke arah Cesco. Tidak lama sperma Cesco tumpah dan memenuhi lubang sempit itu. Keduanya merasa terpuaskan. Perlahan dan hati-hati sekali Cesco menarik kembali penisnya.
Selesai mandi mereka berjalan ke arah kamar sambil masih berciuman. Cesco tidak puas-puasnya mencium bibir tipis merah Nicky itu. Pada saat Nicky ingin mengenakan celana, Cesco menahannya. Ditolaknya tubuh Nicky dengan lembut ke atas bed. Nicky dengan heran menurut. Cesco merenggangkan kaki Nicky selebar mungkin.
"Ada apa sih, Cesco?" tanya Nicky terheran-heran.
"Aku mau lihat anus kamu terluka tidak? Kamu ngerasa sakit tidak?" tanya Cesco dengan nada khawatir.
"Nggak apa-apa tuh. Aku nggak ngerasa sakit kok," Tapi Cesco tak percaya.
Dengan teliti diperhatikannya lubang anus yang merah menggoda itu. Ditelusurinya dengan jarinya dengan pelan dan lembut. Setelah yakin memang tidak terluka, hanya agak meradang memerah saja, barulah Cesco meraih sebuah cream pelembab lalu mengoleskan tebal-tebal ke sekeliling lubang anus itu, juga kelipatan pantat Nicky yang bulat padat. Nicky bahagia merasakan perhatian Cesco yang masih tidak berubah padanya, masih seperti dulu.
Satu hari itu mereka terus berada terus berada diapartemen tersebut. Serasa bulan madu saja. Nicky lupa pada apartemen lamanya. Pada Robert yang menunggunya dengan cemas. Yah, karena kini dia telah berjumpa kembali dengan Cesco dan merasa bahagia dengan kembalinya cinta yang diberikan cowok gagah itu kepadanya.
TAMAT