Sementara cuaca memang benar-benar tidak bersahabat sama Nicky. Angin mulai menderu-deru kencang. Dingin menggigit ke tulang sumsum Nicky. Dia sebenarnya ingin jalan lebih cepat lagi, tapi seluruh selangkangannya terasa sakit sekali.
"Nicole.."
Nicky berbalik dengan wajah merah. Tatapannya berapi-api. Panggilan Nicole terdengar begitu menyakitkan sekaligus memuakkan terdengar di telinganya.
Cesco tertegun melihat wajah Nicky yang merah dan matanya yang berkaca-kaca, tapi langkahnya tidak surut mendekati cowok keras kepala tersebut.
"Maafkan aku, Nicole. Sungguh, maafkanlah aku. Aku tak bermaksud menyakiti hatimu. Kamu punya arti tersendiri dalam hidupku selama ini, Honey.." raut penyesalan tampak jelas pada wajah tampan itu, sementara tangannya yang kokoh ingin meraih bahu Nicky, tapi cowok itu segera menepis.
Nicole membuang muka, menyembunyikan lelehan air matanya yang menyembul tanpa izin. Cesco tidak pandai berkata-kata puitis atau sentimentil, tapi yang baru diucapkannya itu adalah benar-benar dari hatinya. Makanya Nicky jadi semakin terluka.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Cesco. Kumohon jangan panggil aku dengan nama itu lagi, rasanya sangat menyakitkan. Nah, sekarang pergilah.." pinta Nicky pilu, tanpa mau menatap wajah Cesco.
Cesco terdiam agak lama. Nicky tahu dia pasti sedang menatap lekat dirinya yang sedang membelakanginya saat ini dengan tatapan yang Nicky takkan dapat menebaknya.
"Aku tidak bisa melepasmu di tengah cuaca seperti ini.." lirih suara Cesco. Suaranya terdengar basah.
"Kau harus tegas dengan sikapmu untuk mengakhiri hubungan kita, Cesco" Nicky kemudian berbalik, menantang tatapan mata hazel Cesco yang menatapnya lekat.
Cesco masih menatap lekat Nicky begitu tajam dan dalam, seolah menembus hingga ke lubuk hati Nicky yang paling dalam, dengan pandangan yang sulit diartikan.
Hujan mulai lebat. Nicky berbalik dan berlari. Cesco mengejar Nicky dengan mudah. Ditariknya tangan cowok itu dengan kasar hingga Nicky berhenti.
"Jangan memaksaku bersikap kasar, Nicole. Pokoknya kamu harus pulang dengan aku. Titik!" bentak Cesco tegas.
"Leave me alone. Lepaskan tanganku, Cesco! Lepaskan kataku!" Nicky meronta-ronta.
Dia sangat benci pada Cesco yang masih menunjukkan keperduliannya, karena itu membuat hati Nicky menjadi semakin tersakiti. Cesco tidak perduli. Tangan Nicky yang sebelah digenggam kuat oleh tangannya. Cesco menyeret Nicky kembali ke Audi-nya. Hujan beserta petir terdengar begitu mengerikan. Badan mereka basah kuyup.
Cesco membuka pintu mobilnya dan menolak Nicky hingga terbanting ke kursi. Dihempasnya pintu mobil kuat-kuat, lalu dia pun masuk dan buru-buru melarikan Audi-nya, takut kalau jalan pelan-pelan Nicky akan melompat keluar. Ternyata memang sangat jauh dari pusat kota. Nicky menggigil kedinginan, sambil tidak sanggup membayangkan seandainya Cesco benar-benar meninggalkannya sendirian di jalan tadi.
Di dalam mobil yang melaju kencang itu tidak ada yang berminat memulai percakapan. Nicky apalagi. Dia merasa sangat lelah, sedih, sakit fisik, sakit hati, kesal, terluka dan sebagainya. Badannya terasa sangat sakit sekali, terlebih ketika Cesco menyeretnya tadi. Sementara Cesco terdengar menghela napas berkali-kali, tampaknya tengah bergulat dengan pikirannya sendiri. Sesekali dia meningkatkan volume penghangat suhu ruangan setelah melirik Nicky yang menggigil dengan gigi gemerutuk.
Akhirnya mereka sampai di halaman depan apartemen Nicky. Sebenarnya Cesco yang membelikan untuknya, sedang dia tidak pernah memintanya. Nicky merasa sangat enggan untuk tinggal di sana lagi setelah apa yang terjadi kini. Yah, bukankah dia dan Cesco tidak ada hubungan apa-apa lagi.
Nicky membuka pintunya perlahan, tapi dia masih duduk di kursi, karena badannya sakit sekali.
"Kamu masih ingat kita sering bertengkar seperti ini kan, Nicole.."
Nicky terkejut mendengar suara Cesco yang tiba-tiba itu. Dengan heran ditatapnya wajah Cesco. Cowok itu tengah memandangnya dengan mata bersinar sayang. Bibirnya tampak tersenyum. Nicky menunduk.
Mereka memang suka bertengkar pada hal-hal sepele. Biasanya Nicky akan ngambek pada Cesco, meski itu seringnya bukan salah Cesco. Nicky merasa Cesco tidak pernah mau mengalah padanya, padahal Nicky kan lebih muda. Dan Cesco sering mengutuknya dengan sebutan keras kepala dan childish. Yah, Nicky memang suka keras kepala dan bersikap childish bila sudah berdebat dengan Cesco. Tapi mereka tidak kan pernah lama saling marahan. Biasanya Cesco yang mengalah, karena dia tidak tahan buat lama-lama marahan sama Nicky. Dan kalau mengingat itu mereka akan tertawa geli, sambil saling ngeledek tingkah masing-masing yang kekanakan itu.
Nicky merasa hatinya ngilu. Kenangan itu sangat indah, tapi kini sudah berakhir.
"Ya, aku akan selalu ingat itu. Tapi semua itu sudah berakhir kan, Cesco? Kamu nggak perlu pusing lagi ngadepin aku yang suka ngambek dan keras kepala ini.." ucap Nicky lirih. Cesco terdiam.
"Terima kasih atas hari-hari yang telah kita lalui selama tiga tahun ini, Cesco. Aku senang dan turut bahagia atas pernikahanmu dan kehidupanmu selanjutnya. Oya, semoga kamu segera punya anak lelaki, biar ada Cesco junior, yang juga jago maen bola kayak daddy-nya," Nicky tersenyum.
Dia sudah dapat menetralisir hatinya.
Dia masih sangat mencintai Cesco, dan tidak membenci cowok itu. Keputusan yang diambil Cesco adalah tepat. Cowok itu tidak boleh bersamanya terus-terusan. Dia sayang Cesco, dan harus membiarkan cowok itu dengan kehidupan normalnya sebagai lelaki. Biarlah cinta ini dipendamnya sendiri bersama kenangan-kenangan manis yang telah mereka lalui selama ini.
Cesco masih tidak bereaksi. Tetap diam.
"Aku akan meninggalkan kota ini, Cesco.."
"Kamu mau pergi?" Cesco tidak dapat menyembunyikan kagetnya. Terlihat wajahnya menegang.
"Ya, itu caraku untuk membantu melupakan hubungan kita," sahut Nicky sambil berusaha tersenyum lembut, meski hatinya miris. Cesco tidak bersuara.
"Goodbye, Cesco.." bisiknya sambil menyentuh tangan Cesco yang memegang tongkat persneling.
Terasa dingin sekali. Cowok tampan itu tidak menyahut. Dia hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik rambut coklatnya yang bergelombang.
*****
Satu tahun sudah perpisahannya dengan Cesco yang akan selalu ada di lubuk hatinya. Nicky menghibur dirinya dengan mengikuti tour keliling Asia. Dalam perjalanan tersebut Nicky bertemu seorang cowok yang kemudian menjadi teman dekatnya. Robert nama cowok itu. Seorang pemuda warga negara Amerika dengan kulit hitam legam, bibir tebal dan rambut keriting. Jauh bila dibandingkan si ganteng Denzel Washington atau Will Smith.
Wajahnya biasa saja, kalau tidak mau dikatakan jelek. Tubuhnya saja yang lumayan atletis. Dia pakai kacamata tebal minus 7 dengan model kuno. Selera pakaiannya juga kuno. Berbanding 360 derajat dengan Nicky yang fasionable. Sekali ini selera Nicky memang benar-benar kacau. Pembaca mungkin tidak rela Nicky harus berpasangan dengan cowok ini, tapi itulah yang terjadi. Cowok itu memang seorang gay, dengan usia yang sebaya dengan Cesco dulu.
Sebenarnya Nicky tidak menganggapnya lebih dari seorang sahabat, tapi Robert merasa begitu. Mendapatkan Nicky adalah anugrah terindahnya. Dan selama ini Nicky selalu menurut saja diajaknya tinggal bersamanya. Robert bekerja sebagai seorang jurnalis majalah olahraga di kota tempat Cesco dan Nicky tinggal dulu. Nicky mau kembali ke kota itu karena isu yang mengatakan bahwa Cesco akan segera pindah ke Spanyol karena dibeli oleh klub terhebat di negara tersebut. Dan saat bertanya ke Robert, memang 90 % isu itu benar Cesco bakal pindah ke sana. Nicky pun lega.
Apartemen Robert sangat jauh dari nyaman bila dibandingin dengan apartemen mewah pemberian Cesco dulu yang sudah ditinggalkannya. Tapi cukuplah itu bagi Nicky. Robert seorang yang hangat dan perhatian. Kesannya jadi agak kebapakan. Tapi Nicky oke saja, karena dia memang suka dimanja. Meski hati kecilnya belum dapat melupakan sosok indah 'patung yunani'-nya. Robert tidak pernah tahu tentang Cesco karena Nicky tidak mau membeberkan rahasianya yang satu ini kepada siapapun.
Sejak pengakuan Cesco untuk memutuskan hubungan malam itu setahun yang lalu, adalah saat terakhir pertemuannya dengan cowok itu. Sejak saat itu Cesco tidak pernah menemuinya atau menghubunginya lagi. Pernikahan Cesco diliput cukup hebat oleh media massa, dan Nicky hanya menyaksikannya dari TV dengan sedih. 'Patung Yunani'-nya sangat gagah sekali dengan jas pengantin, didampingi istrinya Maria yang bergaun putih bersih, sangat cantik. Nicky merasa bahagia saat melihat pasangan serasi itu berciuman dan saling berikrar dalam upacara yang sangat sakral itu. Yah, dia bahagia atas Cesco.
Kini Cesco sudah punya seorang anak lelaki dan karirnya dalam dunia sepakbola semakin gemilang saja. Nicky merasa semakin bahagia. Meski lubuk hatinya agak terluka, karena kerinduannya yang mendalam terhadap Cesco dan batinnya yang bertanya-tanya apakah Cesco mengalami kerinduan yang serupa sepertinya. Tapi ah, sudahlah.. Cesco adalah bagian masa lalu. Kini dia telah melangkah menuju kehidupan yang baru.
Robert mencintainya segenap jiwa raga. Tapi Nicky tidak mencintainya. Nicky hanya ingin bersahabat dengannya. Hatinya telah tertambat pada Cesco. Sulit untuk memulai mencintai sosok lain. Hal ini membuat Robert kecewa dan kesal. Tapi Robert memang harus bersabar. Sebenarnya Robert sangat memuja, juga bernafsu pada Nicky. Ya, sangat. Tapi hingga saat ini dia masih belum dapat mencicipi tubuh bagus itu. Robert tidak memungkiri bahwa keseluruhan fisik cowok itu sangat perfect. Itulah mengapa Nicky kalau pakai pakaian apa saja terlihat menarik, pikir Robert. Ditambah, kulit bulenya tidak seperti umumnya, halus dan bersih. Dia disamping tipe pembersih dan rapi, juga sangat memperhatikan penampilan.. meski tidak harus berlagak seperti banci yang sangat dibenci Robert.
Robert ingin sekali mengunyah bibir tipis yang segar merah milik Nicky. Membayangkan itu saja penis Robert dapat ereksi. Tapi Nicky tidak pernah memberinya kesempatan. Nicky selalu menghindar bila Robert menunjukkan gelagat merayu ke sana. Semakin hari semakin susah menyembunyikan perasaan dan hasrat ini, batin Robert. Yah, dia memang selalu, tanpa disadari Nicky, memperhatikan cowok itu.. tepatnya mengintip. Dari mulai ganti pakaian hingga mandi. Dia tidak dapat menahan hasratnya saat melihat Nicky berendam sambil tertidur di bath-up, ingin menerkam bagai singa kelaparan.
Pernah suatu kali Robert nekat masuk ke kamar mandi dan membuka tirai mandi, dimana Nicky sedang mandi di bawah shower. Kontan cowok itu kaget bukan kepalang, dan lucunya.. berusaha menutupi bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Robert pura-pura malu dan berdalih lupa kalau di dalam sedang ada orang, dan berlalu dari situ.
Robert semakin kesal karena akhir-akhir ini Nicky memang mulai tampak menjaga aktivitas seputar ganti pakaian dan mandi dari Robert. Dia selalu mengunci pintu kamarnya kalau melakukan hal itu. Nicky dan Robert memang tidak tidur satu kamar. Nicky lah yang meminta begitu. Terkadang Robert sangat geram dan terdorong oleh hasratnya, rasanya ingin memaksa atau memperkosa saja Nicky. Tapi dia masih dapat mengandalkan akal jernihnya untuk tetap menahan diri. Robert takut Nicky malah akan pergi dari sisinya untuk selamanya bila dia memaksakan keinginannya.
Akhirnya Robert hanya dapat melampiaskan keinginannya dengan masturbasi sambil membayangkan wajah dan tubuh Nicky yang menggoda. Yah, Robert memang harus menunggu dan bersabar. Yang membuat Robert semakin kesal dan cemburu, Nicky sangat antusias dengan segala berita seputar Francesco, bintang sepakbola yang sangat terpopuler itu. Meski Robert maklum, Nicky seperti orang lain, mungkin ngefans cowok ganteng itu.
"Kalau dia mengajak kamu main sex, kamu pasti oke aja kan?" tanya Robert sinis suatu hari tatkala melihat Nicky tidak berkedip memelototi poster Francesco dari majalah olahraga terbaru tempat dia kerja.
Nicky hanya terdiam dengan wajah merah saat itu. Tapi yang membuat Robert heran adalah ketika Nicky mendengar berita terakhir tentang gagalnya kepindahan Francesco ke Spanyol. Pemain itu lebih suka di klubnya yang lama dan ternyata telah memperbaharui kontrak dengan klub tersebut.
Nicky tampak begitu gelisah dan bingung. Tapi tidak ada yang dapat Robert korek dari mulutnya tentang mengapa dia bersikap seperti itu. Nicky tidak pernah mau memberitahukan kenapa.
*****
Cesco menyusuri jalan raya dengan Audi-nya. Dia sangat sayang dengan kendaraannya yang satu ini, dan akan dipakainya bila dia sedang bepergian sendiri, tidak dengan keluarganya. Karena Audi ini menjadi saksi bisu atas hubungannya yang manis dengan Nicky. Ah, Nicole.. dimanakah belahan hatinya itu sekarang.
Sebenarnya hatinya hancur tatkala memutuskan untuk berpisah dengan Nicole. Dia sadar, cowok manis itu telah menjadi bagian dari kehidupannya. Dia tidak ingin melepaskan Nicole. Tapi Cesco tidak kuasa. Egonya yang tinggi sebagai lelaki memaksanya untuk kembali pada jalan yang normal, dan memang itu telah dilakukannya. Dia telah berhasil berdiri pada kepribadian ganda. Satu sisi dia sukses menampilkan diri sebagai lelaki normal dengan karir cemerlang. Tapi di sisi lain Cesco merana dan tidak bahagia. Hatinya meraung memanggil nama Nicole. Sosok itu selalu muncul membayangi sisi hatinya. Menari-nari disetiap sel kalbunya.
Semakin hari Cesco merasakan kesesakan yang teramat sangat. Wajah innocent, perhatian, tatapan polos dan penuh cinta, cara bicara yang bersemangat dengan suara serak basahnya yang menggemaskan, senyum cerah yang menampakkan giginya yang lucu tidak beraturan, tawanya yang lepas, jalan yang ringan, tidurnya yang bagai bayi. Kerinduan yang dalam memuncak ingin bertemu dengan kekasihnya itu. Cesco hanya dapat berdoa suatu saat akan dipertemukan kembali oleh Nicole.
Tanpa ada rencana sebelumnya, Cesco mendadak menghentikan Audi-nya ke sebuah taman di pinggir danau. Di tempat ini dulunya Cesco sering menemui Nicole pada awal-awal kencan mereka. Cesco ingin mengenang kembali. Cesco berjalan lambat-lambat menikmati angin semilir dari pepohonan dan udara segar di sekelilingnya. Matahari sudah mulai tenggelam, terlihat sangat indah warna keemasan di langit sana. Beberapa orang mulai beranjak dari taman tersebut untuk kembali.
Cesco mengawasi sebuah bangku dari kejauhan di mana dulu Nicole sering menunggunya. Bangku itu menghadap ke danau yang indah. Cesco melihat seorang cowok duduk di sana, memunggunginya, tampak sedang menikmati pemandangan danau yang romantis. Cesco berjalan mendekat, sambil tersenyum dan berfantasi andai dia adalah Nicole.
Bersambung . . . .