Malam itu Mas Yudi menginap di kos Yuda, memastikan bahwa tempat kos itu memang seperti apa yang dibayangkannya. Satu per satu penghuni kos berkenalan pada Mas Yudi dan Yuda. Ivan berasal dari Aceh. Kulitnya putih dan tidak terlalu tinggi. Mungkin tingginya sekitar 168 cm. Tubuhnya langsing berotot. Katanya dia turunan Arab, pantas saja tubuhnya ramai dengan bulu-bulu halus. Pada wajahnya terlihat jelas bekas cukuran. Saat ini ia duduk di Semester lima Fakultas Ekonomi.
Ali, asal Magelang. Sawo matang, lebih tinggi dari Ivan dan langsing. Hidungnya mancung bagus mirip Keanu Reeves. Anaknya suka tersenyum, memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih. Sama dengan Ivan, Ali juga kuliah di semester lima Fakultas Ekonomi.
Darwin, asal Palembang. Kulitnya putih dan matanya sipit mirip turunan Cina. Tubuhnya paling kekar diantara mereka. Kekerannya itu dapat terlihat jelas karena Darwin suka memakai kaos yang berukuran ngepas pada tubuhnya. Sepertinya anak satu ini rajin olah tubuh. Tubuhnya kokoh dan tingginya sama dengan Yuda. Saat ini ia masih duduk di semester tiga Fakultas Teknik Arsitektur.
Stefanus, asal Ambon. Kulitnya hitam manis. Wajahnya ganteng sekali. Bulu matanya lentik. Dia ini yang penghuni baru. Darwin yang mengajaknya pindah ke kos ini. Mereka memang sama-sama kuliah di semester tiga Fakultas Teknik Arsitektur. Meskipun tidak sekekar Darwin, namun Stefanus punya tubuh yang oke juga.
Kesimpulan Mas Yudi setelah menginap malam itu adalah teman-teman kos Yuda baik-baik. Tak ada yang menunjukkan prilaku bermasalah. Tak ada narkoba disitu, merokok saja mereka juga tidak. Sex bebas juga sepertinya tidak, meskipun cowok-cowok itu sering menerima tamu cewek-cewek cantik, maklum saja, soalnya mereka kan ganteng-ganteng wajar banyak cewek yang suka, namun mereka menerima tamu-tamu cewek itu hanya terbatas hingga teras depan saja. Tak ada satupun tamu cewek mereka yang diajak duduk di ruang tamu, apalagi sampai ngamar.
Akhirnya Mas Yudi merasa tak perlu berlama-lama menemani Yuda di kos barunya itu. Keramahan penghuni kos Pondok Jejaka memang membuat Yuda dan Mas Yudi dapat cepat bergaul dengan mereka. Karena itu Mas Yudi tak merasa kuatir Yuda kesulitan bergaul dengan mereka. Apalagi Yuda dan juga Mas Yudi punya bakat untuk cepat bergaul dengan orang lain. Meskipun Yuda kurang sreg dengan kos itu, ia bisa menyembunyikan hal itu sehingga tidak mengganggu komunikasinya dengan penghuni kos yang lain.
Setelah membereskan segala urusan Yuda akhirnya Mas Yudi memutuskan untuk kembali ke Bandung keesokan sorenya. Sebelumnya ia sempat membawa Yuda ke Glodok dan membelikan adik bungsunya itu televisi, radio tape dan seperangkat komputer.
"Sepeda motor gue gimana dong Mas?" tanya Yuda pada kakak tertuanya itu. Papanya sudah mentransferkan untuknya uang pembelian sepeda motor itu.
"Entar sepeda motor kamu beli sendiri deh. Kamu bisa ajak teman-teman kamu disini untuk nolongin nyarinya, mereka kan sudah paham Jakarta. Lagian kamu kan sudah cocok bergaul sama mereka," tanggap Mas Yudi. Dengan diantarkan sampai ke pintu gerbang seluruh penghuni Pondok Jejaka, Mas Yudi berangkat ke Bandung sendirian dengan mengendarai mobil sedannya.
Perkuliahan baru akan mulai minggu depan. Karenanya kegiatan penghuni kos Pondok Jejaka lebih banyak diisi dengan hanya menonton acara televisi di rumah. Seluruh tayangan dari berbagai stasiun televisi ditonton oleh cowok-cowok itu. Saking seringnya menonton acara televisi, Yuda sampai hapal jadual acara di televisi yang selama ini tak diketahuinya. Waktu di Makassar cowok ganteng ini memang sangat jarang menonton acara televisi. Lebih sering kegiatannya diisi dengan belajar atau bawa ceweknya jalan-jalan.
Penilaian Yuda pada cowok-cowok, teman-teman barunya di kos itu sama dengan Mas Yudi. Baik-baik dan tidak melakukan hal-hal aneh. VCD player saja tak ada disitu. Sepertinya cowok-cowok itu tak pernah nyetel film deh. Sesekali Ivan dan Darwin yang punya mobil, mengajak mereka jalan-jalan malam. Nongkrong sambil makan malam di luar, ramai-ramai. Lumayan juga buat menghilangkan kebosanan Yuda ngedekem seharian di kos.
Namun dua hari setelah kepergian Mas Yudi, Yuda mulai melihat keanehan pada diri teman-teman kosnya itu. Yuda jadi bingung dan penilaiannya mulai berubah. Tempat kos itu tidak memiliki kamar mandi di dalam kamar tidur. Kamar mandi terdapat di bagian belakang rumah, dekat dapur. Jumlahnya dua. Satu kamar mandi kecil untuk buang hajat dan satu lagi kamar mandi yang berukuran besar, ukurannya tiga kali tiga meter, biasanya digunakan untuk mandi.
Berkaitan dengan kamar mandi inilah keanehan yang dirasakan Yuda pada teman-temannya itu. Saat akan pergi ke kamar mandi, cowok-cowok itu dengan cuek melenggang dari dalam kamar tidurnya hanya menggenakan cawat doang. Tubuh-tubuh atletis mereka santai saja melintas melalui ruang tengah tempat anak-anak yang lain nonton televisi. Yuda benar-benar kaget saat pertama kali melihat kebiasaan mereka itu. Meskipun waktu di Makassar dulu ia sering melihat cowok hanya menggenakan cawat doang, namun itu hanya ada di kolam renang. Kalau melihat cowok berkancut di rumah, Yuda belum pernah. Dan ia merasa janggal dengan itu.
Cowok yang pertama kali dilihatnya seperti itu adalah Darwin. Dengan santai ia melintas memamerkan tubuh kekar berototnya yang hanya ditutupi celana dalam doang itu. Malah di samping televisi dengan menumpukkan tangannya pada dinding, ia berhenti cukup lama menayakan acara apa yang sedang ditonton. Bulu-bulu halus ketiaknya yang lebat itu dipamerkannya pada para pirsawan.
"Ngapain Win?" tanya Yuda waktu itu.
Ia merasa risih melihat Darwin berpose santai seperti itu.
"Mau mandi Yud," jawab Darwin cuek.
"Kok"
"Santai aja. Cowok semua juga kan," jawabnya enteng.
Yang laen hanya tertawa-tawa. Malah Ali nyeletuk santai,
"Gede juga Win," katanya.
Setelah Darwin beres mandi dan keluar hanya dengan handuk doang. Giliran Ivan yang dengan santai melepaskan seluruh busananya di depan anak-anak. Diapun kemudian berjalan santai menuju kamar mandi dengan celana dalam mungilnya. Yuda tambah bingung. Pikirnya itu hanya kebiasaan Darwin seorang. Akhirnya satu per satu teman-temannya berbuat seperti itu. Yuda hanya bisa melotot bingung melihat mereka.
Sejak hari itu, akhirnya Yuda mulai terbiasa dengan kebiasaan mandi penghuni kos Pondok Jejaka. Malah kinipun dia juga ikutan cuek aja pake cawat doang menuju kamar mandi. Hanya yang masih belum dapat dimaklumi oleh Yuda adalah kesukaan teman-teman barunya itu yang lain. Yaitu mandi bareng-bareng di kamar mandi besar. Yuda sampai melongo di depan pintu kamar mandi besar yang tidak mereka tutup pintunya itu saat melihat keempat teman barunya sedang asyik mandi bareng, berebut air dibawah shower sambil tertawa-tawa dan membanding-bandingkan ukuran penis masing-masing.
Tentu saja Ivan yang turunan Arab menjadi jawara dalam acara itu. Penisnya yang masih tidur aja sudah segede terong plus dihiasi jembut halus lebat keriting itu, dipamerkannya pada teman-temannya.
"Penis begini nih yang bisa bikin cewek enggak bisa nafas," katanya sambil tertawa bangga.
Yuda baru sadar kalau sedang melongo melihat mereka saat tiba-tiba Stefanus, si Ambon memanggilnya untuk bergabung bersama mereka. Serta merta ditolaknya ajakan itu, segera Yuda meninggalkan mereka menuju ruang tengah pura-pura menonton televisi. Namun pikirannya melayang pada kelakuan teman-temannya itu juga pada penis keempat teman-temannya itu yang punya ukuran lebih besar dari rata-rata, tak jauh berbeda dari penisnya sendiri.
Hari itu malam minggu. Keempat teman barunya semuanya ngilang dari kos. Kata mereka ngapel ke tempat cewek masing-masing. Ditinggal sendiri, Yuda kemudian menelpon Reny ke Makassar. Dari pada belum punya cewek di Jakarta, mendingan manfaatin yang ada aja dulu, batinnya. Bosan menelpon akhirnya Yuda pergi tidur ke kamarnya. Hampir pukul sebelas malam, tiba-tiba ia dibangunkan oleh Ali. Karena lupa mengunci pintu kamarnya, Ali bisa masuk ke kamar Yuda.
"Kok sudah tidur sih. Malam minggu nih. Ayo ke ruang tengah. Anak-anak bawa film bagus tuh buat di tonton," ajak Fajar.
Ogah-ogahan Yuda mengikuti langkah Fajar. Di ruang tengah dilihatnya teman-temannya sudah ngumpul di depan layar televisi. Yuda melotot melihat apa yang mereka tonton. Ternyata teman-temannya itu sedang nonton film porno. Di layar televisi terpampang adegan seorang cewek cantik sedang dientot oleh dua cowok berpenis besar sekaligus. Satu melalui vagina dan satu melalui lobang pantat.
Di atas karpet di dekat teman-temannya itu berserakan kemasan kepingan vCD porno berbagai judul dengan jumlah yang tak sedikit. Setidaknya ada dua puluh kemasan.
"Dapet vCD player dari mana nih?" tanya Yuda bingung.
"Anak-anak kan pada punya televisi dan vCD player masing-masing di kamar Yud. Cuman kan lebih enak nonton bareng-bareng di ruang tengah daripada nonton sendiri di kamar. Jadi dibawa kemari deh playernya Darwin," jawab Ivan.
"Dapet film darimana? sampai banyak begini lagi" tanya Yuda lagi.
Satu persatu judul yang tertara pada kemasan vCD itu dibacanya. Ngelihat dari gambarnya kayaknya vCDnya oke-oke deh. Dan sepertinya temanya seragam. Orgy. Dengan jumlah cowok lebih banyak daripada ceweknya.
"Gimana sih Yud. Masak cowok enggak punya film ginian. Kita punya semua. Elo ada enggak?" ini Ali yang ngomong.
"Mana ada. Tinggal di Makassar semua dong. Masak gue bawa kemari," jawab Yuda.
"Kalau elo mau nyari, entar kita ajak ke Glodok deh. Disana banyak," sambung Darwin. Eh ternyata Darwin pake kaca mata.
"Kalau nonton ginian harus pake kaca mata Yud. Biar jelas kelihatannya. Gue kan sudah minus setengah," jawab Darwin menanggapi komentar Yuda karena baru mengetahui kalau cowok ganteng yang punya tubuh kekar atletis itu ternyata memakai kaca mata.
Tampang Darwin jadi kayak Clark Kent deh. Ganteng, atletis, dan berkaca mata. Rambut pendeknya yang model belah samping itu membuatnya semakin mirip dengan Clark Kent. Yuda pun kemudian ikut larut pada tontonan porno itu. Anak satu ini emang sudah punya bakat doyan nonton gituan sejak dari SLTP. Dapat tontonan bagus kayak begini tentu saja tak dilewatkannya. Volume suara televisi yang cukup besar, memperdengarkan erangan dan desahan aktor dan aktris porno yang sedang 'bercinta' itu, tentu saja menambah cepat bangkitnya birahi penonton. Yuda saja berulangkali membetulkan posisi duduknya. Penisnya yang ngaceng keras terasa mendesak di selangkangannya.
Usai film pertama, mereka langsung nyambung lagi dengan film berikutnya. Film kedua ini bercerita tentang dua orang cewek yang dikerjai delapan cowok di sebuah bengkel mobil. Kedua cewek itu datang ke bengkel dengan tujuan untuk mereparasi mobil yang mereka bawa. Ternyata disana mereka harus melayani nafsu binal kedelapan montir ganteng dan kekar-kekar itu.
Yuda merasa sangat terangsang melihat cewek-cewek itu dientot ramai-ramai oleh kedelapan cowok itu. Penisnya yang sudah mengeras sangat ingin untuk segera mengeluarkan sperma. Biasanya sambil nonton film porno di kamarnya di Makassar, Yuda ngocok. Tapi kali ini tentu saja tak mungkin. Untuk pura-pura ke kamar atau kamar mandi buat ngocok tentu saja dia merasa malu. Dilihatnya keempat teman barunya itu santai-santai saja melihat adegan mesum di layar televisi.
Bersambung . . . .