Aku meluncurkan mobil ke arah Cempaka Putih. Begitu masuk ke mobil Pak Badrun langsung merabai. Meremas, merogoh dan akhirnya menurunkan kancing celanaku. Dia elusi kontolku. Dia ingin menunduk untuk mencium namun buncit perutnya mengganjal. Terpaksa dia bersabar.
Motel Cempaka Putih nampak lengang. Banyak kamar kosong. Aku minta VIP Room. Memang sudah seharusnya aku mesti men-service Pak Badrun. Dalam ketegangan oleh hasrat birahiku, aku tetap 'concern' dan berharap agar Pak Badrun benar-benar memenuhi harapanku.
Tak ayal lagi. Begitu masuk kamar dan aku mengunci pintu Pak Badrun langsum menerkamku. Diciuminya pipiku, bibirku, kupingku, jidatku kemudian turun ke leher, bahu dada sambil tangannya melepasi kancing-kancing kemejaku. Aku menikmati kepasifanku selaku 'mangsa' yang masuk perangkap 'predator'. Aku hanya merespon. Saat lidahnya menyusur ke mulutku aku menjilat dan menyedotinya. Saat dia melepasi kemejaku aku juga melepasi kemejanya. Saat dia mulai menggigiti dadaku dan mengisep-isep puting susuku aku meraih kepala botaknya dan mengelusi untuk mendongkrak liar libidonya. Saat dia menggigiti lembah ketiakku aku menjerit kecil dan mendesah. Kutunjukkan pada Pak Badrun bahwa apa yang dia lakukan padaku sungguh memberikan nikmat syahwat yang dahsyat untukku.
Pak Badrun benar-benar melahap tubuhku. Setelah akhirnya aku berbugil ria dia balik tubuhku untuk tengkurap. Dia kembali mulai mengendus dan menciumi arah belakang tubuhku. Dia jilat tengkukku. Kemudian turun untuk menciu dan menggigiti kedua belikatku. Waadduuhh.. Sunguh ganas nafsu Pak Barun. Dan sangat nikmatnya menjadi orang yang dikalahkan sebagai mangsa macam sekarang ini. Aku hanya mengerang, mendesah merintih atau berteriak kecil mengikuti alur nafsu birahinya Pak Badrun.
Ketika ciumannya bergerak membelah celah bokongku aku tak mampu menahan diriku lagi. Bakaran birahi yang menyala dalam darahku mengobarkan hasrat syahwatku tanpa bendung. Aku ingin Pak Badrun lebih 'memakan' aku lagi. Aku ingin dia menelan aku bulat-bulat. Aku bergerak menungging dengan pantat yang kuangkat tinggi. Celah pantatku terbuka dan lubang duburku menjemput lumatan bibir Pak Badrun. Dan itu seketika. Kurasakan sapuan macam amplas lidahnya pada bibir analku. Pak Badrun dengan rakusnya menciumi dan menyedot lubang taiku.
Aku merasakan betapa Pak Badrun benar-benar terbakar nafsunya. Puas menjilati pantatku dia merangsek kembali ke atas. Dengan memeluk erat tubuhku dia pagut kudukku. Tanpa kusadari ternyata Pak Badrun telah sepenuhnya bugil. Aku merasakan gesekkan kulit dada dan perutnya yang berbulu lebat menggelitiki seluruh tubuh belakangku yang sama-sama berbugil. Aku merasakan kasar dan rumabi bulunya menyapu permukaan kulitku. Adduuhh.. Pak Badruunn.. Kamu sungguh macam orang yang sering aku khayalkan. Berbugil dan berasyik masyuk dengan lelaki berkulit gelap dan bulu lebat, dengan perutnya yang buncit. Merasakan bau keringatnya, merasakan gesekkan gatal bulu-bulu dada dan perutnya. Sedotan bibir tebalnya.
Dengan mendengus-dengus laiknya macan lapar atas mangsanya dia melepaskan gigitan pada leherku. Kemudian dia lumat-lumat anak rambut pada leher dan belakang kupingku. Aku sungguh 'bergidik'. Saraf-saraf birahiku bergolak membakar darah syahwatku. Namun aku sebatas menunggu. Dalam posisi menunggu ini yang aku buat adalah respon harmonis atas alur hasrat birahi Pak Badrun. Yang kunikmati dari posisi ini adalah aku nggak tahu apa yang akan dilakukan Pak Badrun berikutnya. Sungguh, aku sangat menikmati posisi menungguku ini.
Dan kini hampir kupastikan kontol Pak Badrun telah tidak sabar untuk menembusi lubang duburku. Kepalanya terasa terus menggosok dan mendesaki gerbangnya. Aku mesti melicinkan jalannya. Ini ternyata juga sebagian dari prinsip bisnis. Aku tahu, posisi 'leader' berada di tangan Pak Badrun. Aku mesti 'support'. Akhirnya aku ambil inisiatip. Aku lumuri lubang anusku dengan ludahku untuk membuat pintu anal menjadi licin.
Terus terang hasratku juga sudah mendorong aku untuk bisa selekasnya menikmati tembusan kontol Pak Badrun pada lubang pantatku. Dan kini sesudah lumuran ludahku dengan menyosorkan pantatku aku menjemput agar selekasnya kontol Pak Badrun amblas tertelan duburku. Dan inilah akhirnya. Tangan kokoh Pak Badrun membetot rambutku dan menghela tubuhku bak kuda tunggangnya. Hal itu dia lakukan menyertai amblasnya kontolnya ke haribaan duburku. Bless..
"Dduuhh.. Ampuunn.. Pak Badruunn.. Ampuunn..." desah dan rintihku.
Mendengar desah dan rintihku itu Pak Badrun seperti bensin kena api, hasrat birahinya langsung melonjak. Dengan nafasnya yang terdengar ngas-ngos seperti lokomotip diesel dia genjoti pantatku dengan cepatnya. Dia tak peduli apa tangisku. Dia tak peduli betapa dinding pantatku seakan hendak robek-robek dibuatnya. Kontolnya meyodok-nyodok hingga jauh ke dalam analku.
"Ampuunn Pak Baruunn..." aku menyerah kesakitan. Inilah risiko dari buruan dalam genggaman pemangsa. Pak Badrun melampiaskan seluruh gelora nafsunya pada pantatku.
Saat puncaknya hendak lewat, dimana kehendak birahi telah menyentuhi semua saraf-saraf libido tubuhnya, sambil meremas pedih daging-daging punggung belikatku Pak Badrun berteriak keras namun tetap tertahan,
"Ooaarrcchh.. Dik Ronii.. Enhak bangeett.. Enhaakk bangett..." suara itu mengingatkan aku akan gorilla yang berhasil melumpuhkan lawannya di hutan Tarzan.
Kedutan-kedutan besar aku rasakan pada lubang analku. Kontol Pak Barun mengangguk-angguk menyemprotkan sperma yanga aku rasakan sangat panasnya. Entah berapa banyaknya.
Usai itu dia langsung rubuh ke ranjang. Keringatnya nampak mengucur deras. Nafasnya tersengal panjang. Dia berusaha menangkap sebanyak oksigen yang bisa dihirupnya. Udara AC dalam kamar sempit ini rasanya tak cukup untuk kami berdua.
Demi proyek masa depanku hari itu aku melayani Pak Badrun hingga larut malam. Dia puas-puaskan dirinya dengan menjilati seluruh tubuhku. Dia tinggalkan cupang-cupanya di dadaku, punggungku, leherku, perutku, pahaku, di seputar lubang pantatku. Entah dimana lagi lainnya. Dan entah bagaimana nanti aku mesti mem-pertanggung-jawab-kan pada istriku, pada sekretarisku. Entahlah.
Sebelum berpisah,
"Begini Dik Roni, besok saya tunggu disini lagi deh. Sekalian bawa draft MOU-nya. Nanti saya teken di sini. OK?" Yaa.. Itulah risiko bisnis. Setidaknya aku selalu memiliki harapan.
Dan yang jelas sudah untung memang Pak Badrun. Dan pasti akan untung lagi besok saat aku membawakan draft MOU itu.
*****
[Halte Kencan]
Di balik perdu Monas
Sekitar jam 5 sore sepulang kantor aku senang ber-iseng ria di sepanjang jalan yang kulalui. Aku istilahkan 'tonda'. Itu istilah nelayan yang memancing ikan dengan cara melepas dan menarik umpan di belakang perahunya sementara perahunya terus melaju. Siapa tahu aku juga dapat 'ikan' sepanjang aku melaju dengan motorku.
Biasanya pada waktu pulang kerja ini halte-halte dipenuhi orang-orang yang menunggu kendaraan pulang. Namun diantara mereka juga tidak sedikit yang menunggu macam umpan 'tonda' yang aku lepas ini. Dalam hal begini aku maupun mereka punya bahasa dan trik khas yang saling bersambut. Tunggu saja..
Saat aku melewati halte depan Sarinah tahunamrin kulihat kerumunan orang menunggu. Aku sedikit bikin pelan jalan motorku sambil mataku jelalatan ke arah kerumunan itu. Dan kena! Tuh dia, seorang pemuda. Dia telah melempar angkatan alisnya dan melambai. Dan aku menjawab dengan melambai pula. Mengendorkan gas, menepi dan menunggu pemuda itu menyusulku.
Layaknya seorang sahabat, sekitar 5 s/d 10 detik kami berbasa-basi ngobrol. Kemudian dia naik ke boncengan dan aku kembali meluncur.
"Kemana Dik?" tanyaku dari balik helmku.
"Terserah Mas," jawabnya.
Hari masih terang. Untuk parkir dan berasyik masyuk di taman-taman kota masih belum bisa dilakukan. Sebaiknya aku ajak makan atau minum dulu di deretan tukang makanan di pinggir jalan Sabang. Dia, si pemuda itu, belakangan dia mengenalkan namanya Anto, setuju saja usulan makan minumku. Selama di warung kaki lima itu kami saling mengakrabkan dengan cara saling raba atau genggam. Aku yakin kemaluannya cukup gede. Biasanya lelaki berpostur macam dia, kerempeng dan jangkung, menyimpan kemaluan gede dan panjang.
Sekitar jam 18.30 hari telah gelap. Lampu jalanan benderang di mana-mana. Aku bersama Anto meluncur ke Monas. Dengan motor aku bisa masuk hingga ke rerimbunan tanaman perdu di dekat patung Diponegoro. Dibalik lampu di belakang perdu itu sungguh cukup gelap dan tanpa ada orang yang bisa melihatinya. Dalam hari gelap, jarak 20 m sudah tidak lagi nampak apa yang jelas sedang terjadi. Kami duduk di bak taman batu dan langsung saling meraba dan meremasi. Kontolku sudah sangat ngaceng, demikian pula kontol Anto. Ternyata benar, kontol Anto gede dan panjang. Aku sangat bernafsu untuk kontol macam begini.
"Boleh diisep ya?" pertanyaanku berlagak pilon.
"Boleehh..." kudengar suaranya bergetar.
Ah, ternyata giginya juga gemelutuk. Pasti Anto sangat berberahi namun tertahan. Kurasakan dadanya gemetar. Aku mulai perosotkan kancing zip-nya hingga nampak celana dalamnya yang berwarna terang. Aku mengelesotkan diriku ke lantai untuk menyongsong selangkangannya. Aku menciumi celana dalam dan sekitar paha serta selangkangannya itu. Aroma kelekakian Anto sungguh membuat syahwatku terdongkrak.
"Maass.. Enaakk.. Banggeett..." katanya sambil tak sabar dia angkat pantatnya untuk menarik lepas celana dalamnya. Anto pengin aku selekasnya menciumi kontolnya.
"Dduuhh.. Mmaass..." dia menjambak rambutku saat mulutku mulai mengulum kepalanya yang bulat berkilatan itu. Mulutku penuh disesakinya. Rasa asin menebar dalam rongga mulutku. Aku langsung tenggelam dalam nikmatnya mengulum-ulum kontol gede Anto.
"Teruss.. Mmaass..." dia sedikit mengangkat pantatnya agar aku lebih mudah menelan dan menjilati batang kontolnya itu. Dan ketika suhu birahinya panas dan meledak dia renggut kembali kepalaku dan mekannya agar aku menelan lebih dalam.
Bersambung . . . . .